
"Kib....," panggil gadis itu. Ia berusaha menggapai lengan Akib yang berjalan di depannya. "Honey please...," panggilnya lagi yang membuat Akib menghentikan langkahnya.
Lelaki itu membiarkan Cinthya meraih tangannya. Kini gadis itu berada di depannya--menatap dalam ke matanya. "Jangan dengerin omongan apapun dari mulut Gara." Ucapnya lalu mengelus punggung tangan Akib. "Kamu....hhhh," ia menghentikan ucapannya. Lalu menundukkan wajah seraya menarik nafas. "Gara....dia mencintaiku." Lirihnya yang seketika membuat Akib menatapnya. Mata lelaki itu mengerjab-erjab penuh tanya. Bukan apa-apa. Karena selama ini yang ia tahu Gara mencintai Airin bukan Cinthya. Atau....gadis ini sedang membual?
"Aku serius," ucapnya saat menangkap ekspresi kebingungan milik Akib. "Aku menolaknya makanya.....dia jadi begitu membencimu." Terangnya yang memang sesuai kenyataan.
Gara memang mencintainya. Mereka masih saudara meski tali penghubungnya cukup jauh. Sejak kecil Gara menyimpan perasaan itu padanya. Namun dimata Cinthya, Gara itu adiknya. Ia tak pernah sekali pun menatap Gara seperti ia menatap Akib. Baginya Gara tak lebih dari anak kecil karena sifat kekanakannya. Tapi anak kecil itu kini berubah menjadi sosok gangster yang menyeramkan. Patah hati pada Cinthya yang tak bisa menerimanya, ia terobsesi untuk terus berusaha mendapatkan gadis itu. Tapi sekuat apapun usaha yang ia lakukan, nyatanya Cinthya tak bisa diraihnya.
"Kamu jangan dengerin apapun ucapan dia. Cuma bikin capek aja. See honey?"
Akib hanya diam--masih sulit menerima fakta yang menurutnya sangat aneh.
♡_♡
Airin baru saja akan bersorak kalau saja ia tak melihat ada tamu di rumahnya. Gadis itu mengatupkan mulutnya lalu membungkukkan badan.
"Rin, salamin dulu nih temen Mami." Suruh Mami sambil memggelengkan kepala. Gadis itu tersenyum kecut tapi memghampiri juga. "Ini yang paling bungsu dulu, Jeng."
Wanita paruh baya--tamu Mami mengangguk-angguk. "Udah gede ya? Terakhir ketemu masih kecil banget." Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Airin. Airin hanya tersenyum bingung.
"Ini Tante Rika, Rin. Mamanya Faiz--temen kakak kamu." Terang Mami.
"Airin kelas berapa?" Tanya Tante Rika--heboh.
Airin mengembangkan senyumnya. "Kelas sebelas Tante."
"Anak Tante yang paling bungsu juga SMA loh tapi udah kelas dua belas dia. Bentar lagi mau UN," tutur Tante Rika.
Lagi-lagi Airin mengangguk bodoh. Ia terjebak dalam pembicaraan tidak penting ini. Sementara itu di luar sana, Fadlan sibuk mencari selembar foto. Ia berencana men-scan foto itu untuk disimpannya di dalam laptop. Tapi sedari tadi dicari, tak ketemu. Ia ingat-ingat lagi dimana ia menyimpan.
"Lan! Kesini dulu!" Teriak Maminya dari teras rumah.
Ia mendesah karena tak menemukan foto itu. Dengan malas ia beranjak lalu menghampiri Maminya. "Apa kabar, Lan?" Seru Tante Rika saat melihat kemunculannya.
Laki-laki itu tersenyum lalu menyalami waniat paruh baya itu. "Alhamdulillah baik, Tante." Ucapnya.
"Masih membujang aja? Kapan nikahnya?"
Aih, nikah lagi. Gerutunya dalam hati. Akhir-akhir ini kalau bertemu teman Papi atau Maminya ia selalu ditanya hal yang sama. Kapan nikah? Owh. Dikiranya nikah itu gampang?
Ia meringis sebelum menjawab pertanyaan Tante Rika. Tapi keburu dipotong Maminya. "Nanti juga pasti nikah, Jeng." Potong Maminya. Jujur saja beliau kasihan pada anaknya yang satu ini. Fadlan tersenyum masam.