Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | duapuluh



Bukannya ia tak tahu dan menutup mata kala mata Akib sudah tak tertuju padanya. Ia tahu namun hanya diam saja. Diam dan memerhatikan. Meski tak suka berdiam diri, kali ini ia lakukan.


Awalnya ia tak merasa khawatir saat tahu Airin menerima Akib hanya karena taruhan. Tapi belakangan ia mulai gelisah. Pasalnya, ia sering menangkap basah mata Airin menatap Akib walau hanya sekejab saja. Atau sebaliknya. Akib memang di sampingnya tapi jiwanya tertuju pada gadis itu. Ia sadar dan tahu apa artinya. Maka saat ia sadar Akib juga memiliki arti tatapan yang sama pada Airin, ia menjadi takut. Takut kehilangan Akib kedua kalinya.


Jujur saja, dulu ia melakukan hal yang bodoh. Berselingkuh dengan lelaki lain hanya untuk menguji cinta Akib padanya--yang seharusnya tak perlu ia ragukan lagi. Namun yang namanya wanita, tak pernah puas sebelum melihat laki-laki itu mengaku dengan ucapan bukan hanya dengan tindakan. Berhasil memang membuat emosi Akib menggelegak tapi ia seharusnya tahu, Akib bukan orang yang bisa mengendalikan diri dikala emosi. Ia bukan pula lelaki yang mudah menjaga lisannya jika sudah emosi.


Hari itu, kata putus keluar dari mulut Akib dan lelaki itu tak pernah menoleh lagi. Oke mereka putus. Setahun kemudian, mereka dipertemukan kembali di sekolah yang sama. Akib belum berubah--masih mencintainya tapi lelaki itu memilih bergeming. Menyimpan rasanya dalam-dalam hingga tak kuat lagi saat semakin seringnya Cinthya dijemput lelaki lain--Gara.


Lalu datang perempuan polos dan lugu terkadang lucu. Hari pertama bertemu, baginya biasa saja. Tapi siapa sangka hari-hari berikutnya menjadi hari yang luar biasa tanpa ia sadari. Berkat cinta yang terpendam dan benci yang menggelora, atas nama penyembuhan hati, ia menjalin hubungan dengan gadis sebagai upaya pelarian. Ya, pelarian. Nyatanya pun tak jauh berbeda. Kini hatinya benar-benar dilarikan gadis itu.


Namun saat semuanya terkuak, tak ada lagi yang indah. Semua langit rasanya gelap dan gemuruh dimana-mana. Hari itu adalah hari dimana berakhirnya hubungan mereka dengan mengenaskan. Disaat kedua hati mulai bergerak untuk benar-benar memulainya dengan benar. Namun keduanya sama. Sama-sama terlambat.


Pun hari ini. Disaat mata itu tertangkap matanya. Kemudian membiusnya perlahan. Ia memang bergerak tapi ditahan lengan gadis di sampingnya.


♡_♡


"Lo tahu maksud gue kan?"


"Akhir-akhir ini kita sering berantem karena lo. Akib ngajak lo ngomong supaya gue berhenti cemburu sama lo. Asal lo tahu, gue gak suka Akib ngajak lo ngomong. Jadi sebelum dia ngomong sama lo, lebih baik gue duluan yang ngomong."


"Gue tahu lebih enak ngomong cewek sama cewek dari pada cowok sama cewek. Karena gue gak tega kalo ternyata lo sakit hati atas omongan Akib."


Kampreeet! Airin memakinya diri sendiri.


Seharusnya ia memang tak boleh besar kepala dulu soal pesan Akib semalam atau.ajakan bicara lelaki itu pagi tadi kalau jadinya akan begini. Mengenaskan.


"Rin," gadis itu memanggilnya.


Tidak. Ia bukan Cinthya yang menjadi pemeran nenek lampir dalam kabaret putri salju. Ia seorang peri tanpa sayap. Cristine--gadis yang tak pernah bertanya dan selalu setia menunggu ceritanya.


"Gue tahu. Mungkin selama bersahabat sama gue, gue banyak bikin lo kesel." Ujarnya dengan air mata tertahan di pelupuk mata. "Tapi.... please. Gue...gue bukan orang yang tega biarin sahabat gue sendirian ngerasain sakitnya." Lanjutnya kali ini mulai terisak.


Dirangkulnya bahu Airin. Gadis itu menangis dalam diamnya. "Seenggaknya lo bagi ke gue, biar gue tahu gimana sakitnya."


Ia menggeleng frustasi. Karena hampir dua tahun mengenal Airin, ia baru benar-benar mengerti Airin itu setahun belakang. Kalau Airin tak suka membagi kesedihannya pada orang lain. Apapun ia nikmati sendiri. Ia tak suka itu.


Airin mendongak. Matanya menangkap redup mata Cristine. Ia telah berulang kali menyakiti sahabatnya ini--tanpa ia sadari. Tapi asal Cristine tahu aja, ia memang belum sepenuhnya percaya. Pengkhianatan Linda--sepupu jauhnya membuatnya banyak belajar untuk tak membagi semua yang ia rasa. Ia tak mau kejadian dulu terulang lagi. Kejadian dimana aib dan kisahnya dikonsumsi satu sekolah. Rasa malu saja tak cukup untuk menggambarkannya. Semua lebih dari sekadar malu.


Tapi saat melihat matanya--mata Cristine. Airin sadar kalau gadis ini gadis yang tulus. Karena memang bersahabat dengannya tak kan terasa mudah. Ia bukan tipe orang yang akan peduli pada perasaan orang lain. Ia hanya akan peduli pada perasaannya sendiri. Egois memang tapi itu pun karena ia terbiasa melakukannya sendiri. Karena selama ini yang ia tahu, sahabat itu tempat menyebar aib dan rahasia.


Namun sekali lagi ia sadar. Kini kata sahabat adalah tempatnya membagi semua rasa apa yang ia punya.


♡_♡


"Brengsek lo berdua!" Hunus Gara dengan mulut tajamnya.


Akib dan Cinthya sama-sama menoleh. Wajahnya sama-sama datar. Itu malah membuat Gara ingin menghajar keduanya. Tanpa ba-bi-bu, tanpa kendali hanya dengan emosi, Gara menghajar Akib tanpa ampun.


Ia tak perduli pada teriak heboh dan teriak lerai dari kiri, kanan, depan dan belakang. Yang ia pedulikan hanyalah orang di depannya ini. Cowok dan cewek yang menurutnya sama brengseknya.


Akib tak tahu jelas apa masalahnya. Ia juga tak tahu kenapa Gara bisa semarah ini. Ia tak ada urusan dengan lelaki cebol ini. Namun ia kalah telak hari ini. Apalagi saat salah seorang dari mereka berteriak histeris.


Airin. Gadis itu dengan garang mencengkeram baju Gara lalu melarikannya jauh. Jauh agar Akib tak bisa menggapainya lagi.


♡_♡


"Lo apa-apaan sih?" Tanyanya--kasar. Matanya menyalang seperti preman pasar mendapat mangsa.


Gara justru memandangnya dengan sinis. Ia melepaskan tangannya dari gadis itu. "Masih bisa lo tanya di kala hati lo muram gitu? Lo boleh bohong sama yang lain tapi gak di depan gue, Rin!" Teriaknya--marah. Airin kalau tak dipaksa, takkan mau bicara.


"Gar...," lirihnya lemah. Kali ini ia memilih mengalah. "Apapun yang terjadi, biarlah terjadi. Kalau emang harus gue yang patah hati gak apa-apa. Tapi patah hati ini yang bakal selalu ngingetin diri gue buat bangkit, Gar." Lanjutnya lalu menghela nafas lemah.


Gara tak tahu harus bersikap bagaimana. Kemarahannya tiba-tiba lenyap karena kepasrahan Airin. "Gue tahu lo sayang sama gue seperti gue sayang sama lo sebagai sahabat. Lo perduli sama gue sedangkan gue terlihat acuh pada diri gue sendiri." Tuturnya yang kali ini diakhiri dengan senyuman. "Lo gak usah ngurusin perasaan gue, Gar."


Airin tersenyum tipis lalu mengajak lelaki itu duduk di bangku panjang di taman belakang sekolah. Gara mengikutinya dengan patuh. "Kata Kakak, patah hati itu cara terampuh untuk kita belajar bangkit kembali. Berdiri tegak dan lebih kuat dari sebelumnya." Tuturnya dan Gara seperti ditampar lewat kata-kata itu.


Ia berulang kali disakiti Cinthya dan dipermainkan wanita itu namun tak sekalipun ia belajar. Yang ia tahu adalah menyalahkan Cinthya dan Akib. Cinthya yang tak bisa menerimanya dan Akib yang mencintai wanita itu. Tak bisa menerima kenyataan--itulah sosok dibalik kegarangan Gara selama ini.


♡_♡