
Sial! Sesalnya dalam hati.
Seharusnya tadi ia tak perlu jalan memutar untuk ke kelas kalau dampaknya bakal begini. Seharusnya semalam ia tak perlu ge-er lebih banyak gara-gara cowok itu. Yang akhirnya malah membuatnya sesak di pagi yang sejuk ini. Kalau sudah begini, ia ingin dipindahkan sekolah saja biar tak bertemu dua orang itu. Akib dan Cinthya yang dimatanya sedang bermesraan sepagi ini.
Kampreet! Desisnya lagi lalu menundukkan kepala.
Udah tahu lagi jalan berdua, masih aja dipelototin. Maki hati kecilnya yang keki saat Airin menundukkan kepala setelah melihat tangan Akib menggemgam tangan Cinthya.
Panas. Panas. Panas.
Ia berlari semrautan. Nafasnya terengah-engah. Gara memincingkan mata saat melihatnya berlari tak beraturan seperti habis dikejar setan.
Ia kira saat Akib mengikuti mereka kemarin dan cerita Gara, Akib benar-benar mencintainya tapi dugaannya salah. Salah total.
"Gimana? Jadi gak?" Tanya lelaki itu.
Ia menanyakan kabar dua hari yang lalu. Menanyakan kesediaan Airin untuk menyadarkan Akib lewat permainan mereka. Sayangnya, hati Airin makin hancur saat ini. Ia sudah tak berminat lagi. Toh percuma, pikirnya. Apalagi saat kejadian tadi terlintas dikepalanya. Harapan itu sudah tak ada. Ia benar-benar hanya pelarian bagi seorang Akib. Sesak itu kembali menerpanya.
"Ogah! Ngapain! Gak penting!" Cercanya yang tiba-tiba emosi.
Gara malah bengong melihat sikapnya yang aneh sepagi itu. Baru saja akan menyusul, Gara langsung tersadar kemana langkah Airin. Toilet cewek. Ia tak mungkin masuk ke dalam kan?
♡_♡
Heboh.
Semarak suara anak-anak seangkatannya. Pagi ini ada perlombaan tak direncanakan antara kelasnya dengan kelas Akib hanya gara-gara jam olahraga yang berbarengan. Ia sebenarnya tak berminat berada di pinggir lapangan ini apalagi saat tahu Akib ikut main disana. Kalau bukan karena ucapan Cristine yang melekit hatinya itu mungkin ia sudah duduk tenang di kantin.
"Katanya udah gak suka. Kalo gak suka, biasa aja dong."
Gitu kata Cristine yang telak-telak menyundul hatinya. Ia gengsi dong kalau harus pergi. Nanti Cristine malah besar kepala karena ia pergi. Jadi, meski yah...gerah juga mau tak mau dia duduk bersama cewek-cewek lain. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri karena matanya tak bisa beralih dari Akib yang sibuk mengejar bola. Astaga, kenapa lelaki itu harus tampan disela-sela keringatnya?
Airin menggeleng, tak habis pikir. Sel-sel tubuhnya kompak berkhianat setiap ia membuang muka ke arah lain.
Sayangnya Airin gak tahu kalau Akib memantaunya sekali-sekali. Lelaki itu tersenyum senang saat melihat Airin betah duduk di pinggir lapangan sana. Ia semakin semangat mendribel bola dan membawanya ke ring.
Setiap bola yang masuk ke ring olehnya, teman-temannya berteriak heboh. Apalagi yang cewek. Bahkan beberapa adik kelasnya--dari kelas Airin-- malah terang-terangan mendukungnya. Ia terkekeh dalam hati setiap tak sengaja melihat Airin sedang cemberut. Entah apa yang membuat gadis itu betah duduk disana. Apa karena dirinya? Ah, kalau begini Akib tak ingin permainan ini cepat berakhir. Ia masih ingin melihat Airin dan baru ia sadari kalau kehadiran Airin lah yang dibutuhkannya kini.
"Kib! Tangkap bolanya dong!" Seru Kiki--teman sekelasnya.
Ia mendongak dan mengerjab kaget. Ia melamun tadi. Cepat-cepat disusulnya adik kelasnya yang membawa bola. Sebisa mungkin direbutnya dan ......hap!
Three point.
Sorak-sorai makin terdengar. Ia tersenyum lebar karena berhasil melakukan lemparan itu. Bel waktu istirahat berdering tapi permainan mereka tetap lanjut. Sesekali main basket disela-sela padatnya jadwal mereka karena akan menghadapi UN tak apalah.
Priiiiiiiiiiiittt
Pluit Pak Yaka terdengar. Guru olahraga yang satu itu membubarkan pertandingan. Akib berlari ke pinggir lapangan, ia mengatur nafasnya yang masih tersengal. Tak lama kemudian muncul Cinthya dengan gerombolannya. Gadis itu langsung menghampirinya dan menyeka keringatnya lalu menyodorkan minuman ke arahnya. Berhubung haus, ia ambil saja minuman itu lalu meminumnya tanpa risih saat Cinthya sibuk membersihkan keringatnya. Usai minum, ia letakkan botol kosong itu di bangku sementara ia berbalik badan. Matanya mencari sosok Airin di seberang sana tapi tak ada. Gadis itu sudah tak ada. Akib mandesah kecewa.
Sementara itu, Airin malah mengutuk-ngutuk Cristine di dalam hatinya. Seharusnya ia pergi sejak awal. Karena ujung-ujungnya pasti begini nih, patah hati. Akib malah dibelai-belai gitu sama pacarnya. Ia malah dibelai-belai setan lalu dibuat panas. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil mendongakkan wajah ke atas. Itu upayanya setiap air matanya akan jatuh. Aish, kenapa ia cengeng sekali sih?
Diam-diam Cristine malah puas melihat reaksi Airin yang menunjukkan reaksi positif. Positif masih cinta maksudnya. Kalau gak, mana mungkin gadis itu berjalan serampangan ke kantin lalu minum es jeruk sampai tandas. Pasti gerah, ucap Cristine dalam hati.
Tapi ia juga kasihan sih. Apalagi saat melihat adegan tadi. Meskipun senang karena praduganya benar tapi ia juga merasa bersalah karena harus melihat kejadian tadi. Kalau begini, Cristine tak tega memancing Airin lagi. Ia tahu benar bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu. Gak enak banget.
♡_♡
Sementara itu, dibalik kantin Gara malah keki banget. Ia meminum air mineralnya lalu menendang botol itu ke tempat sampah. Tak ia perdulikan beberapa orang yang menatapnya kesal karena air dari botolnya muncrat kemana-mana. Yang ia perdulikan, itu tuh. Cowok termunafik yang pernah ia kenal. Lalu si cewek picik!
Sial! Makinya saat ia mencoba menendang kaleng di depannya namun isinya malah muncrat ke arah wajahnya.
♡_♡