Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | tujuh



Hell banget! Maki Airin dalam hati. 


Bayu malah lebih senang mengantar Cinthya dari pada dirinya. 


Pergi sama siapa, pulang sama siapa. Dumelnya masih belum puas.


Ia menendang-nendang kaleng bekas di depannya. Lalu mengeluarkan ponsel. Di dompet uangnya tinggal goceng lagi. Mau naik apa ia pulang ke rumah? 


Aha!


Gara!


Supir gratisnya selain Mang Didi.


♡_♡


"Lo dimana?" Tanya Gara.


Ponselnya sudah nangkring di telinga sementara Akib masih terpaku menatapnya. Meski tak begitu jelas namun Akib yakin jika itu suaranya Airin.


"Yaudah. Gue jemput. Lo tunggu disana. Terus Bayu?"


Akib menajamkan pendengarannya namun sayangnya ia tak menangkap apapun selain suara samar-samar milik Airin. Lelaki itu langsung memasuki mobilnya dan satu rencana melintas di kepalanya.


Dia....harus ngikutin kemana perginya Gara. Maka dengan cepat ia ikut menaikki mobilnya lalu menggas. Setidaknya meski nanti tak bisa berbuat apa-apa, ia harus memastikan Airin baik-baik saja. Haah...ada apa dengannya sebenarnya?


Ia memerhatikan sekeliling. Dari arahnya, ia tahu Gara akan kemana. Entah kenapa ia terpikir pada kafe yang akan dikunjungi Acin hari ini. Tapi....


Memori tadi berputar ulang. Acin bilang akan bertemu Bayu di kafe itu lalu Airin datang bersama Bayu pagi tadi. Ada apa sebenarnya?


Hatinya menerka-nerka namun saat akan tiba di depan kafe ia menyembunyikan mobilnya di antara mobil lain lalu ikut melangkah.


Sementara itu Gara yang merasa diikuti hanya tersenyum tipis. Bukannya tak tahu tapi ia hanya terlalu tahu. Bukti nyata ada di depan matanya. Ia menarik senyumnya. Sepertinya ia akan membuat Akib benar-benar menyesal setelah ini.


"Airin!" Serunya dengan kencang. Ia sengaja.


Airin menoleh lalu melambaikan tangannya. Gadis itu menunggu mobilnya berhenti tepat di depannya.


"Cepet banget sih?" Keluhnya. Ia takjub karena tak sampai sepuluh menit Gara sudah muncul.


Lelaki itu malah mengacak-acak rambutnya yang membuat ia melotot dan kesal seketika. "Tuh kan Gar! Aiisssh!" Desisnya lalu mencoba memperbaiki tatanan rambutnya tapi dihancurkan lagi oleh Gara.


"Buruan naik!" Suruh lelaki itu. 


Airin berjalan memutar sambil menggerutu kesal. "Awas lo ya!" Ancamnya setelah menutup pintu mobil dengan kencang. Gara mencak-mencak dibuatnya.


"Baek-baek nutupnya," ucapnya tak terima mobilnya diperlakukan kasar. Airin malah cuek bebek sambil membuang meka ke jendela. Matanya melotot saat tak sengaja melihat sosok Akib yang sedang juga melihat kearahnya. Lelaki itu nampak kaget lalu menutup kaca mobil dan segera berlalu. Airin menerka-nerka apa yang terjadi.


"Lo mau main game lagi gak kayak dulu?" Tanya Gara. 


Airin menoleh sambil memincingkan mata. Jangan bilang Gara tahu kalau ada Akib tadi! 


♡_♡


"Dari mana aja?" Tanya Fadlan saat menjumpai Airin yang baru memasuki rumah.


Laki-laki itu menyedekapkan tangannya sambil menatap tajam adiknya. "Tadi ngerjain proposal bareng temen," jawab gadis itu dengan lembut. Lalu berlari kecil menaikki tangga. Ia sudah sampai di depan kamarnya dan kaget saat ada yang menepuk bahunya. Saat ia menoleh ternyata Fadlan.


"Apalagi, Kak?" Tanyanya setengah merengek. Ia lelah dan ingin istirahat tapi kakaknya ini mengganggu sekali.


"Kakak mau ngomong sesuatu boleh?" Tanya Fadlan.


Airin mengangguk saja lalu membuka pintu kamarnya. Gadis itu meletakkan tasnya sembarangan yang mengundang Fadlan mencibir kelakuannya. "Anak gadis kok malas sih," cibir Fadlan.


Mau tak mau Airih menghela nafas lalu mengambil tasnya dan meletakkan di tempat semestinya. Kalau saja Aisha yang menasehatinya seperti itu, pasti akan dibalikkan kata-katanya. Karena dibanding ia, masih Aisha lah yang lebih malas.


"Kakak mau ngomong apaan?" Tagihnya tak sabar. Seluruh tubuhnya sudah minta diguyur air dingin.


"Siapa laki-laki yang pernah pacaran sama kamu?"


Airin tergagap saat akan membuka mulut. Ia mengatupkan mulutnya lagi. Kakaknya tahu dari mana? Matilah ia!


"Jawab kakak!" Tegas Fadlan.


Airin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu menarik nafas pasrah. "Kakak kelas Airin," jawabnya.


"11 atau 12? Namanya siapa?" Runtut Fadlan masih belum puas akan jawaban Airin.


Airin mendesis dan membuat Fadlan terkekeh kecil. Ia tahu adiknya itu malu sekaligus kesal. Laki-laki itu dengan lembut mengelus kepala Airin. "Siapa?" Tanya Fadlan lagi. Kali ini lebih lembut.


Gadis itu menunduk. "Akib. Dia kelas 12. Lagian Airin udah gak pacaran lagi sama dia," ungkapnya.


Fadlan mengangguk-angguk. Masih enggan melepas tangannya dari kepala Airin. "Kalau kakak bilang jangan pacaran dulu sebelum lulus kuliah, kamu mau nurutin kemauan kakak?"


Airin mendongak dan menatap mata tajam kakaknya yang nampak serius. Ia bingung harus menjawab apa karena takut tak bisa memenuhi permintaan kakaknya itu.


"Kakak hanya takut kamu dipermainkan laki-laki. Dengar! Tak semua laki-laki itu baik seperti kakak," tutur Fadlan yang narsis diujungnya membuat Airin tergelak seketika.


"Iya emang! Cuma kakak doang yang masih bujangan umur segini!" Cercanya yang membuat Fadlan ingin mengetuk kepala adiknya seketika. Airin terkikik puas.


"Airin janji gak bakal pacaran sampe lulus kuliah tapi..... kak Fadlan harus janji juga buat nikah sebelum Airin lulus kuliah." Seru Airin dengan semangat lalu tertawa terpingkal-pingkal.


"Issh! Gak sampe kamu lulus kuliah juga kakak pasti udah nikah!" Seru Fadlan tak mau kalah saat melihat wajah adiknya yang meremehkannya.


"Yakiin?" Goda Airin sambil mengedip-edipkan matanya.


Fadlan tergelak sambil mengacak-acak rambut Airin.


♡_♡