
Akib bersiul-siul sepagi ini. Sampai di sekolah, ia keluar dari mobil sambil menenteng tas dan buku milik Airin. Sebenarnya kemarin ingin ia kembalikan buku itu, tapi rasanya terlalu cepat. Lagi pula ia bingung harus mengajak Airin bicara dari mana. Rasa pesimis itu memang menyerangnya sejak semalam. Tapi tiap mengenang kejadian kemarin, ia rasanya ditarik kembali. Airin cukup meresponnya.
Pagi-pagi ini ia sudah berdiri di dekat kelas Airin seperti satpam. Beberapa adik kelas terheran-heran akan kemunculannya disini. Bukan apa-apa, bagi mereka aneh saja. Tapi Akib tampak cuek dan tidak peduli. Ia malah sibuk menghentakkan kaki sambil melirik ke kanan ke kiri mencari sosok Airin.
"Ngapain lo?" Sergah Gara.
Lelaki itu menggosok-gosok hidungnya yang tak gatal. Ia berkacak pinggang melihat kemunculan Akib pagi ini. Malas merusak mood-nya yang sudah baik pagi ini, ia memilih menyingkir. Dari pada berdebat tak jelas dengan Gara--si lelaki cebol.
♡_♡
Beberapa kali Airin menguap di sela-sela sarapan paginya. Fadlan dan Mami menatapnya prihatin. Semalaman mereka menemani Airin begadang mengerjakan tugas meringkas sejarah sebanyak enam bab di buku paket. Mami bahkan tak berhenti mengomelinya karena baru akan dikumpul, baru mengerjakan tugas. Tapi gadis itu tentu saja mengelak. Ia berdalih jika sudah hampir seleaai mengerjakannya namun catatan itu hilang. Tapi belaannya tak menolong sama sekali. Mami malah makin mengomeli sikap cerobohnya dan pikunnya itu. Airin hanya bisa menarik nafas. Ia kesal dan gondok pada Akib yang melarikan bukunya. Akhirnya yang menjadi korban lain adalah Fadlan. Sesekali lelaki itu membantu Airin menyalin ringkasan meski yah....tulisannya tidak membantu sama sekali. Tapi apa boleh buat. Waktu sempit dan syukur-syukur ada yang mau membantu. Kini ia hanya bisa berdoa kepada Allah agar Bu Sri tidak menambahinya tugas atau memberi hukuman.
"Sarapannya dihabisin!" Titah Maminya saat melihatnya tak nafsu makan.
Pagi ini ia tak mandi karena kata Mami, tidak baik mandi kalau semalaman tidak tidur. Alhasil, ia bau-bau begini pergi ke sekolah. Lagi pula tak ada yang tahu ini.
Ia berdeham dan makan dengan malas. Fadlan meliriknya sekilas. Ia juga tak mandi ke rumah sakit pagi ini gara-gara adiknya. Tapi ia bisa tidur di rumah sakit nanti setelah bicara sebentar dengan Fahri. Yang ia khawatirkan justru Airin. Takut staminanya tak fit. Kurang tidur bisa membuat kinerja otak menurun dan tubuh tiada berenergi.
Usai makan, Airin langsung berpamitan. Ia bisa pastikan di perjalanan nanti ia akan tidur. Belum lagi di sekolah, astaga. Ia tak yakin bisa menahan kantuknya hari ini.
Ia bergumam tak jelas saat Mang Didi membangunkannya. Sesekali ia menepis tangan Mang Didi yang menarik lengannya. Baru setelah keningnya dijentikkan, ia bangun meski bersungut-sungut. Sementara Mang Didi malah terkekeh.
Airin turun dari mobil tanpa semangat sama sekali. Jalannya amburadul dan sesekali menguap. Kalau bukan karena Akib sialan itu, ia pasti takkan selemas ini. Jujur saja, tidak tidur semalamam ditambah tak mandi pagi itu membuatnya lemas minta ampun.
Ia nyaris terpekik saat tiba-tiba ada tangan dan buku yang terarah kepadanya sepagi ini. Itu tangan Akib dan bukunya.
Kampreeet! Teriaknya frustasi. Dari kemaren kek! Makinya.
Ia mendelik tajam sementara Akib mengulum senyum dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Cool sih tapi Airin sedang tidak ingin memujinya sekarang. Mood-nya sedang tak bagus.
Gadis itu dengan serampangan mengambil buku itu dari Akib. Ia injak kuat-kuat kaki lelaki itu lalu ia kabur. Mampus! Makinya tanpa menoleh lagi.
Sementara Akib meloncat-loncat dengan sebelah kakinya karena sakit. Injakannya supeeer sekali. Akib meringis sambil berjalan pincang ke kelas. Gagal total rencananya untuk mengajak Airin bicara berdua.
♡_♡
Akib bertanya-tanya kenapa sejak istirahat pertama sampai istirahat kedua ini ia tak menemukan Airin dimana pun. Ia malah lebih sering tak sengaja berpapasan dengan Gara. Lelaki cebol--begitu ia menyematkan panggilan untuk Gara. Tapi memang benar kok, tinggi Gara sama dengan Airin yang tingginya hanya 160 cm. Untuk ukuran lelaki, tinggi seperti itu tentulah pendek.
Lelaki itu malah berdeham lalu menandaskan minumannya. Ia beranjak dari bangkunya namun baru juga berbalik, Cinthya muncul dengan penuh senyum manis. Ia menghela nafas. Gadis ini pasti ingin menanyakan kenapa sms dan telponnya semalam ia abaikan.
"Kamu kemana aja?"
Nah kan. Nah kan.
Malas. Akib malah berjalan meninggalkannya begitu saja. Dennis sudah berlagak mau muntah mendengar ucapan manja milik Cinthya. Kenapa sih cewek-cewek malah nyeremin banget kalau berlagak manja kayak gitu? Gak bisa apa mereka bersikap biasa aja? Desahnya dalam hati.
"Kib! Pleasee! Kalau ada masalah, ngomong sama aku!" Paksanya yang ternyata menguntit langkah Akib.
Beberapa kali Akib menepis lengannya yang ditarik Cinthya. Lelaki itu ogah menghentikan langkahnya.
Cristine yang sedang berjalan ke arah mereka langsung menyembunyikan diri saat melihat keduanya melangkah. Ia hendak ke toilet untuk mengambil air.
"Akiiib!" Teriak gadis itu frustasi saat Akib malah pergi meniggalkannya dengan langkah cepat.
Cristine mematut-matut penampilannya takut dikira nguping. Ia keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari menuju toilet. Ditengadahkannya air di dalam botol parfum kosong yang selalu ia bawa. Fungsinya untuk menyemprot wajah tapi berhubung isinya tandas, ia isi saja dengan air. Toh sama saja kan? Sama-sama mengandung oksigen.
Ia segera berjalan menuju kelas. Matanya terpaku saat melihat Akib melirik-lirik ke arah kelasnya. Mencari Airin kah? Wah wah. Kalau benar, ini kabar besar!
Ia berjalan, berpura-pura tak melihat Akib. Sayangnya Akib tak kan bisa melihat Airin. Gadis itu malah molor di bangku paling belakang dengan kaki menjuntai. Sejak jam pertama tadi dia sudah molor, untungnya tak satu pun gurunya yang sadar. Tapi setelah istirahat ini, Cristine tak bisa membiarkan Airin tertidir nyenyak. Masalahnya jam berikut adalah jam Bu Ratna. Wanita itu tak pernah lupa mengabsen muridnya. Kalau Airin terlihat ngantuk-ngantukan seperti ini, bisa-bisa ia dijemur sepanjang hari besok. Maka sebagai sahabat yang baik, Cristine tak kan tega membiarkannya dihukum.
Disemprot-semprotnya wajah Airin. Gadis itu berdeham lalu menggeliat ke samping untuk menghindari air serangan Cristine. Tak ada kemajuan, Cristine semakin ganas menyemprot wajahnya. Gadis itu menggeliat ke kiri. Belum juga berhasil, Cristine menyemprot lagi. Dan....
BUUKKK
Ia malah jatuh ke lantai dengan suara berdebam keras. Anak-anak di kelas puas terkikik saat sadar siapa yang jatuh. Airin langsung didera rasa pusing. Belum lagi rasa panas di hidungnya. Ia beranjak bangun dengan hidungnya yang merah dan....berdarah.
Tak jadi mengikik, Cristine malah berteriak pada teman-teman sekelasnya untuk membopong Airin ke ruang kesehatan. Gadis itu shock karena kelakuannya malah membuat musibah baru untuk Airin.
Gara yang baru balik dari kantin dengan sebungkus plastik di tangan langsung berlari menuju teman-teman sekelasnya saat melihat keramaian. Dari jauh saja ia bisa melihat kalau yang dibopong adalah Airin. Sebab Cristine yang paling panik saat itu.
Ia turut membantu membawa Airin ke ruang kesehatan sementara Akib tersenyum masam pada diri sendiri karena tak bisa membantu apapun.
♡_♡