Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | sembilanbelas



"Gar, please. Maafin gue...," lirih Cinthya.


Gara berdecak tak suka. "Baru nyadar?" Ketusnya lalu membuang muka. Ia malas melihat Cinthya lama-lama. Bukannya apa-apa, ia sudah terlanjur sakit hati gara-gara gadis ini.


Ah, seandainya ia bisa memutar mundur waktu. Ia tak kan mau mengajak Airin untuk taruhan. Kalau akhirnya, niat gadis itu adalah untuk memisahkan Airin dan Akib dengan alasan sedongkol itu. Akib juga salah karena termakan ucapan Cinthya. Ia juga salah karena mengajak gadis itu taruhan. Airin juga salah karena mempermainkan Akib. Tapi tetap saja Gara paling menyalahkan Akib. Lelaki itu sama sekali tak peka akan perasaannya sendiri.


"Gaar! Gaaar!"


"Gue bilang enggak ya enggak! Lo pikir gampang buang rasa sakit hati?" Ketusnya kesal.


Ia berjalan menuju mobilnya lalu menggas kencang menuju sekolah. Sepagi ini pikirannya sudah penat gara-gara kehadiran gadis ini.


Cinta?


Jangan ditanya. Rasanya hanya benci saja yang hadir.


♡_♡


Tubuh Akib langsung menegak saat mendapati Airin tiba di depan sekolahnya. Lelaki itu hanya bisa diam menatapnya sampai kemudian gadis itu menghampirinya. Jagan tanya bagaimana perasaannya saat ini, ia senang tentu saja.


Semalam berkali-kali teleponnya tak diangkat. Namun ia tetap bersyukur karena nomornya masih aktif. Sampai hampir tengah malam, ia mengiriminya pesan. Isinya sederhana. Hanya menanyakan apakah Airin sudah tidur atau belum. Tapi baru setengah jam kemudian dibalas Airin. Ia senang bukan main. Berkali-kali ia mengucek matanya--memastikan benar tidaknya itu pesan dari Airin.


"Nanti pulang sekolah ketemu di parkiran ya?" tanya Akib--agak grogi. Lelaki itu mengerling--melihat reaksi Airin.


"Bukannya mau ngomong sekarang?" Tanya gadis itu.


Akib berdeham. Ia sengaja mengulur-ulur waktu agar bisa bertemu Airin lagi. Berbicara lagi. Kalau perlu jalan berdua.


"Cuma setengah jam, gak bakal cukup." Alibi Akib sambil melirik jam tangannya.


Airin mendesah frustasi. Bukannya apa-apa. Ia tak nyaman berjalan berdampingan dengan Akib seperti ini. "Ya udah. Intinya aja," bujuknya.


Tapi Akib tak kan luluh. Lelaki itu masih kekeuh. "Gue tunggu di parkiran nanti," ujarnya lalu meninggalkan Airin yang mencebik bibirnya.


Ia kira akan diantar ke depan kelas. Aih, masih ngarep juga ternyata. Ia melirik punggung Akib yang bergerak menjauh, baru melangkah lagi, ia terpaku--menatap Cinthya yang menatap sedih padanya.


"Bisa bicara sebentar?" Tanya gadis itu.


Airin bimbang. Di satu sisi ia ingin kabur. Tapi kabur itu perilaku pengecut. Ia tak suka. Namun ia juga tak ingin mendengar apapun dari mulut Cinthya. Ia ingat terakhir kali bicara dengan gadis ini. Bagaimana lirihnya gadis itu memohon padanya untuk melepaskan Akib!


♡_♡


Cristine menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal. Ia bingung kenapa Airin jadi lebih pendiam dari pada biasanya. Gadis itu bahkan tak menggubris candaan garingnya tadi. Pun segala macam jurus sudah dikeluarkannya, tapi tak mempan. Ia seolah tenggelam dalam dunianya sendiri.


"Dia ngomong apa sama lo?"


Gara yang tiba-tiba muncul langsung mencekal lengan gadis itu. Airin tak suka. Matanya menajam--menatap Gara yang tak kalah berang darinya.


"BILANG KE GUE DIA NGOMONG APA SAMA LO?!" teriaknya frustasi.


Airin menatapnya. Kali ini matanya berkaca-kaca. Dalam sekejab saja ia sudah jadi pusat perhatian kantin. Gadis itu perlahan menarik tangannya namun tak kuasa saat Gara masih mencokolnya--tak ingin melepaskannya.


"Gar, please lepas." Lirihnya berusaha melepaskan. Gara malah menggeleng.


"Bilang sama gue!" Teriaknya lagi--kali ini lebih rendah.


Airin menggeleng. Ia tak suka dipaksa dan cowok ini melakukannya. Oke, dia memang sahabat Airin tapi bukan berarti bisa memaksanya sekehendak hati kan? Cristine saja tak pernah ia izinkan mengorek-orek kehidupan pribadinya dengan pemaksaan. Karena Cristine tahu--saat tak mampu lagi menyimpannya sendiri--saat itu lah Airin berdiri rapuh dan menceritakan semuanya.


PLAAAAKK


Kesal. Marah. Emosi.


Puncaknya, ia lepas kendali. Anak-anak di kantin terperangah melihatnya. Kejadian itu sontak menarik perhatian mereka semua. Terlanjur malu, Airin bangkit dari kursi lalu berjalan keluar kantin. Ia tutup telinganya. Lebih baik pura-pura tuli dari pada mendengar gemuruh kantin memberinya tepuk tangan. Atau mencemoohnya dengan makian.


Oh God.


Baru saja beberapa langkah keluar, matanya bersitatap dengan Akib dan Cinthya yang berjalan berdampingan.


♡_♡