
"Lo pulang bareng gue atau gimana?" Tanya Bayu usai keluar dari ruang Pak Puji.
Ternyata, Pak Puji hanya menanyakan sejauh mana perkembangan proposal mereka. Sejauh ini proposal memang sudah dibuat tapi masih banyak kesalahan disana-sini. Jadi mereka masih membutuhkan bantuan Cinthya. Masalahnya, Airin malas berurusan dengan gadis itu. Yah, siapa sih yang tak malas berurusan sama pacar mantannya?
"Lo duluan aja. Kayaknya Mang Didi udah jemput deh." Ucapnya lalu menguap ria.
Bayu menepuk kepalanya--geli melihat mulut Airin yang menganga saat menguap tadi. Gadis itu malah mengucek-ucek matanya. Entah kenapa, ia mengantuk sekali.
"Oke! Gue duluan!" Pamitnya yang hanya diangguki Airin.
Gadis itu berjalan ogah-ogahan menuju pintu gerbang. Namun saat kesadarannya pulih, ia langsung membuka tas punggungnya dan mencari-cari sesuatu.
"******! ******! ****** gue!" Makinya sambil menepuk jidat berkali-kali.
Buku catatan sejarahnya tak ada!
Ia mengingat-ingat. Usai mengedit proposal di Ruang OSIS tadi, ia memang mengeluarkan buku itu dengan tujuan melanjutkan ringkasan buku paket sejarah sebanyak enam bab. Deadline pengumpulannya besok.
"******!" Makinya sekali lagi saat ingat kejadian tadi.
Jangan bilang sama dia! Oh, God!
Nestapa sekali nasibnya. Bel pulang sekolah khusus anak kelas 12 berbunyi.
Pas banget! Serunya dalam hati. Tapi....
Ia mendadak ciut. Giginya menggigit bibir bawahnya. Begini nih kalau lagi gugup pastinya.
Hatinya meragu. Haruskah? Haruskah?
Tapi kalau tak ditanya, bisa patah tangannya semalaman nulis ringkasan sebanyak enam bab tentang sejarah pula!
Akhirnya, mau tak mau ia berjalan juga. Baru beberapa meter saja matanya sudah menangkap sosok Akib yang sednag berjalan menuju parkiran. Lelaki itu berjalan santai tanpa menyadari sosok gadis di belakangnya. Airin berjalan takut-takut. Terkadang ia maju lalu mundur. Maju lagi. Lalu mundur lagi. Sampai saat Akib masuk ke dalam mobilnya lalu hendak menutup pintu, barulah ia panik.
Gadis itu berlari terbirit-birit tanpa berpikir lagi. Ia ngos-ngosan saat berhasil menahan pintu mobil Akib yang akan ditutup.
Akib?
Tentu saja kaget dan tak menyangka Airin akan menghampirinya. Ini kesempatannya, gumamnya.
Ia memasang wajah datar dan wajah pura-pura tak tahu apapun. Padahal jelas-jelas ia sudah mengikik di dalam hatinya.
"Eung..... kak tadi buku gue dikemanain yah?" Ujarnya gugup.
Jantungnya sudah melompat-lompat kesana kemari. Airin sampai takut Akib mendengar degup jantungnya. Namun satu hal yang ia tidak tahu, Akib tak jauh beda darinya. Sama-sama gugup dan menahan kegugupan itu.
Belum sempat Akib menjawab, Airin sudah menepuk jidatnya. Bego! Makinya dalam hati. Jangan bilang ketinggalan di RO! Serunya lagi lalu menatap tak enak pada Akib karena sudah mencegatnya. "Eung...kak. Maaf. Gak jadi," tuturnya lalu melompat pergi.
♡_♡
Terkunci.
Sial! Pekiknya lalu ia berlari tak beraturan menuju rumah Pak Yono--penjaga sekolahnya.
Sampai disana, diketuk-ketuknya pintu kuat-kuat sambil meneriakkan nama 'Pak Yono'. Terdengar suara pintu berderit karena ketukannya yang kuat. Ia meringis sendiri saat menyadari tangannya memerah. Pak Yono muncul dari samping rumah dengan tergopoh-gopoh.
"Eung... itu, Pak. Saya mau pinjam kunci RO. Mau ngambil barang ketinggalan." Ucapnya dengan muka tak enak karena berlaku tak sopan.
Pak Yono menggelengkan kepala namun memberikan kuncinya juga. Airin segera melompat-lompat menuju RO. Dari kejauhan, Akib menelengkan kepalanya. Ia takjub akan perilaku Airin yang kekanakan--hal pertama yang dilihatnya. Karena selama ini, Airin selalu jaga image tiap berada di sekitarnya.
Gadis itu menungging ke sana kemari mencari bukunya yang jatuh di lantai. Kali-kali buku itu terperosok ke bawah meja atau kursi. Tapi sayang, ia tak menemukan apapun. Baru kemudian ia beranjak dan berbalik lalu tersungkur kanget saat melihat sosok Akib berdiri santai di ambang pintu dengan kedua tangan di dalam saku celana. Sejak awal melihat perilaku abnormal Airin, Akib puas-puas menahan tawanya.
"Ngapain?" Tanyanya dengan lagak tak bersahabat.
Airin menddadak gagap--hal pertama yang muncul setiap bertemu Akib. Karena lelaki itu seperti membius semua sel-sel tubuhnya untuk berkhianat.
"Nyari buku gue," lirihnya.
Akib mengangguk-angguk. Airin mengerutkan keningnya. Detik selanjutnya, rasanya Airin menendang pantat lelaki itu. Udah? Gitu doang? Serunya sedih saat melihat lelaki itu berjalan menjauh dengan gaya sok cool yang memang cool.
Airin mencebik bibirnya--kesal. Dikirannya Akib akan membantunya. Tapi ternyata....aish. Dihentakkan kakinya lalu ia berjalan keluar. Mengunci Ruang OSIS dan pergi mengembalikan kunci itu. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Karena Bu Sri tak mengenal toleransi dalam tugas dan ujian.
♡_♡
Airin menghela nafas kesal. Tentu saja ia masih kesal karena tak menemukan bukunya. Ia bingung sendiri. Apa dibuang oleh petugas kebersihan?
Ia menggeleng. Ia bisa merasakan lantai tadi masih berdebu saat jatuh tersungkur karena kaget akan kehadiran Akib. Ia berjalan ogah-ogahan ke pintu gerbang. Namun ia nyaris terpekik saat ada mobil yang menahannya.
Itu. Akib. Lelaki itu menghadang jalannya.
Sial! Pekiknya dalam hati. Yang jadi masalah adalah kenapa Akib harus menyetir dalam keadaan tampan seperti itu?
Ia memijit-mijit dahinya--pusing akan sikapnya yang aneh dan mudah berubah kalau bertemu lelaki ini. Sementara itu, Akib malah membuka jendela mobilnya.
"Buku lo," tuturnya datar sambil menyodorkan buku berwarna pink salem dan ornamen bunga-bunga.
Mata Airin langsung membulat sementara Akib menahan tawanya yang sudah akan meledak. Baru saja Airin akan mengambil buku itu, Akib sudah melesat dengan mobilnya.
Kampreeeeeet!
♡_♡