Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | delapanbelas



Tante Rika bersegera pamit meninggalkan tiga orang itu. Setelah mobil menjauh, Airin menarik lengan Maminya. Ia menyeret wanita paruh baya itu menuju sofa di ruang keluarga. "Mi, liat deh." Ucapnya sambil memperlihatkan sebuah foto pada Maminya.


Awalnya keningnya berkerut-kerut. Tapi lama kelamaan kerutannya menghilang berganti senyum lebar. Ia mengambil alih foto itu lalu terkekeh kecil. "Cantik," puji Mami.


Airin tak kalah senang melihatnya. Ia mengeluarkan ponsel lalu memotretnya berkali-kali. Kemudian keduanya terkekeh bersama. "Lan, kok ceweknya gak pernah dibawa ke rumah sih?" Tanya Mami saat Fadlan muncul dengan wajah frustasi. Ia mencari foto yang kini bertengger di tangan Mami.


"Cewek apaan?" Tanya lelaki itu dengan bingung. Dahinya mengerut-erut lucu.


Airin terkikik. "Ini yang ada di foto ini," unjuk Mami sambil melambaikan ke udara.


Mata Fadlan membelalak. Lelaki itu langsung mendelik tajam pada Airin yang kini sudah bersiaga di belakang Maminya--meminta perlindungan diri. Dengan langkah pasti Fadlan berjalan mendekat. Mami tergelak saat lelaki itu mencoba menangkap adiknya. Dengan gesit Airin mengelak sambil memeluk pinggang Maminya dengan erat. Kekanakan memang. Tapi momen seperti ini jarang-jarang bisa terjadi.


♡_♡


Akib galau. Lelaki itu tak minat lagi mengerjakan tugasnya. Matanya malah menyalang ke arah tembok di depannya. Inginnya sih menatap foto Airin. Tapi sayang ia tak punya. Sekali pun ia tidak pernah berfoto bersama Airin atau meminta foto gadis itu.


Kalau dipikir-pikir, hubungan mereka dulu begitu kaku dan dingin. Tak ada hangat-hangatnya. Dulu saja ia sering marah-marah tak jelas pada gadis itu. Kini ia baru mengerti apa arti kemarahan itu. Ia cemburu setiap Airin dekat dengan lelaki lain. Bahkan sampai kini.


Ia sadar betul akan perasaannya kini. Tapi ia harus bagaimana? Tadi saja ia meminta untuk bicara, gadis itu tak mau. Mungkin terlampau patah hati. Memikirkan itu malah membuatnya semakin pesimis.


Dua bulan lagi ia akan UN. Kalau ditunda-tunda kapan lagi ia bisa bicara dengan Airin? Tapi kalau memikirkan ucapan Gara tadi....


Rasanya ia ingin menjedotkan kepalanya ke tembok. Ia ingat betul apa yang diucapkannya dulu. Kejam memang dan kini.....ia ingin menarik ucapan itu?


Cih. Menjilat ludah sendiri--tak ada dalam kamus hidupnya. Tapi masalahnya ini demi Airin. Seseorang yang baru ia sadari berharganya arti kehadirannya.


Diam-diam ia menghela nafas. Diambilnya ponsel lalu memutar-mutar di atas meja. Kira-kira nomornya masih aktif gak ya?


Akib termenung sebentar. Setelah menimbang-nimbang, didialnya nomor Airin. Kegugupan langsung melandanya padahal orangnya tak ada di sekitarnya. Ia heran kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan Airin serasa membuat jantungnya lepas kendali?


♡_♡


Fadlan menebar senyumnya. Sayang? Jangan ditanya. Ia satu-satunya gadis yang lari maraton setiap pagi, siang, sore bahkan malam di dalam otak dan hati Fadlan. Wajahnya selalu terlintas dimana pun. Terkadang seolah melayang-layang diudara saat Fadlan menatap langit. Aneh. Tapi itu yang ia rasa.


"Kalo kakak jawab gak, kamu percaya?" Tantangnya.


Airin malah terkekeh lalu memeluk lengan kakaknya. Mereka berdua menghabiskan malam di teras rumah. Duduk berhimpitan, seolah daratan di bumi ini hanya sofa sempit di teras rumah itu. "Apa sih yang bikin kakak sayang sama dia?" Oreknya. Jujur saja, kisah kasih kakaknya ini paling menarik tingkat kepenasarannya.


Fadlan nampak berpikir. Cantik? Cewek cantik sih banyak. Cerdas? Cewek cerdas juga dimana-mana. Anggun? Kebanyakan cewek sih anggun. Keibuan? Itu sudah nalurinya cewek. Lalu apa?


Fadlan memutar otaknya tapi tak menemukan jawaban. Yang justru terpikirkan olehnya hanya satu hal. Karena gadis itu. Karena ia satu-satunya. Tak ada yang lain lagi. Jadi ketika ditanya alasannya dengan mantap ia mengatakan, "karena dia Marissa Az-Zahra dan bukan yang lain."


Airin tertegun mendengar jawaban kakaknya. Ia mendongak mencari kejujuran disana. Mata kakaknya seolah-seolah sedang tersenyum. Airin hanya bisa mengembangkan senyumnya. Ia tahu betapa kakaknya tulus mencintai gadis itu.


"Kakak bakal tetap sayang sekali pun euhm....misalnya nih dia pernah nyakitin kakak?"


Jleb banget. Kalau kasusnya Fadlan sih bukan disakiti tapi ditolak yang ujung-ujungnya juga bikin sakit juga.


"Kamu curhat sama kakak?" Ledek Fadlan.


Airin manyun seketika. Ternyata kakaknya ini cerdas sekali. Ah, bukannya sudah dari dulu ya?


Fadlan terkekeh melihat bibir adiknya maju beberapa senti. Ia merangkul bahunya erat. "Dengar, perasaan suka, cinta atau sayang itu lumrah. Tapi ada batasannya." Fadlan menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Misalnya untuk remaja kayak kamu. Merasakan perasaan itu boleh-boleh aja. Tapi harus ingat, kamu masih remaja, masih sekolah. Masih ada hal yang lebih penting dari pada mengurus sesuatu yang belum waktunya. Mengerti?"


Airin menghela nafasnya. Ia mengangguk lemah. "Jadi perasaan itu tidak dilarang tapi tidak sekarang. Karena sekarang tugas kamu itu belajar, banggain kakak, banggain Mami dan Papi. So, kakak harap kamu gak pacaran dulu. Kamu tahu sendiri kan gimana keruhnya pergaulan anak jaman sekarang? Bahkan banyak yang hamil di luar nikah. Itu karena apa coba? Karena mereka gak bisa menjaga perasaan mereka. Alhasil terbawa nafsu lalu menyesal seumur hidup. Kamu gak mau kan kayak gitu?"


Airin menggeleng. Ia paham cara berpikir kakaknya. Diam-diam ia mengagumi kakaknya ini. Kali ini ia semakin mantap.


♡_♡