Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | duabelas



"Gar! Gara!"


Gara memalingkan wajah--pura-pura tak mendengar. Ia berjalan menuju mobilnya. Bodo amat sama yang memanggilnya.


"Gaar! Please! Lo masih marah?"


Cih! 


Masih nanya?! Teriaknya dalam hati. Ia menghentikan langkah tepat di samping mobilnya. Matanya tajam menatap Cinthya dari radius dua meter. Gadis itu berjalan mendekatinya. Ia membuka pintu mobil lalu hendak membantingnya, sayangnya Cinthya menahan. 


Cewek ini maunya apa sih?


Keki. Ia biarkan saja Cinthya menahan pintunya sementara tangannya menghidupkan mesin mobil lalu.....


Bluuuuuusss


Ditinggalnya Cinthya yang menatap nanar di belakang sana. Setelah menjauh, baru ia menutup pintu mobilnya dan nyaris saja menabrak Cristine yang sedang berjalan menuju gerbang. Gadis itu berteriak histeris lalu memaki-makinya sambil menunjuk-nunjuknya. Ia menahan emosinya sejenak. Ditariknya nafas dalam lalu menginjak gas dengan kuat. Paling-paling besok ia dianiaya Cristine dari jam masuk sampai jam pulang sekolah.


♡_♡


"Apaan sih lo?! Gaje!" Ledek Airin lalu memukul kepala Bayu dengan buku.


Bayu terkekeh. Puas melihat wajah bete Airin. Lelaki itu menepisnya dengan tangan. Alhasil bukuya melayang ke arah pintu ruang OSIS dan....


Bruuuuk


Terpental setelah mendarat di jidat Akib lalu tergeletak di lantai.


******! Maki Airin dalam hati. Ia langsung memalingkan wajah sementara Bayu sama tak enaknya. Kenapa harus kepala Akib yang terkena lemparan buku itu?


Akib menahan emosinya yang tiba-tiba membuncah. Dengan santainya ia mengambil buku itu. Buku tulis atas nama Airin. Ia tersenyum miring lalu menatap sepasang manusia di depannya. "Sejak kapan RO jadi tempat ajang pacaran?" Sindirnya--pedas.


Airin dan Bayu sama-sama mengatupkan mulut. Dalam hati, Airin memaki-maki Bayu yang tiba-tiba jadi pengecut.


Dalam hati Airin menyumpah-nyumpah Bayu. Kalau laki-laki itu tak menepisnya, bukunya pasti tak kan melayang ke kepala Akib. Aish!


"Maaf, kak." Akhirnya Bayu buka suara.


Akib masih menahan emosinya. Masih dengan tangan yang dilipat di depan dada sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Lo yang lempar?" Tanyanya pada Bayu.


Laki-laki itu langsung mengangguk karena tak tega melimpahkan kesalahan pada Airin. Dalam hati, Airin menarik semua ucapan pengecut untuk Bayu.


"Lo berdua dipanggil Pak Puji di ruangannya." Tutur Akib yang lalu menghilang dari pandangan keduanya.


Airin dan Bayu saling memandang penuh tanya. Ada apa?


♡_♡


Akib tersenyum-senyum saat balik ke kelas. Dennis menatapnya penuh tanya tapi tak bersuara. Lelaki itu sibuk menyalin catatan milik Ria. Sementara Akib malah mengambil duduk di sebelahnya sambil bersiul-siul. Ditangannya, masih ada buku catatan milik Airin. Dengan ini, setidaknya ia bisa mengajak ngobrol gadis itu. Itu pun kalau gadis itu mau. Mengingat yah....pertemuan terakhir mereka sangatlah buruk.


"Buku siapa?" Tanya Dennis saat sadar sedari tadi Akib memainkan buku. Ia sempat melihat sekilas sampulnya yang berwarna pink salem dan ornamen bunga-bunga. Itu tak mungkin punya Akib kan?


Akib berdeham lalu mengarahkan mulutnya ke telinga kanan Dennis. Lelaki itu bergidik setelahnya. "Mau tau aja," ucapnya dengan nada sensual.


Demi apapun! Rasanya Dennis ingin pindah tempat duduk sekarang juga. Sementara Akib malah terkikik puas hingga deheman di ambang pintu membuatnya terdiam.


Guru matematika mereka yang galak masuk kelas. Akib segera menyimpan buku itu ke dalam tas. Sebagai gantinya, ia mengeluarkan buku paket dan catatan matematika miliknya.


Buku ini ibarat tiket masa depan untuknya.


♡_♡