Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | lima



Sumpah deh, Cris. Tuh orang ngeselin banget! Apa coba maksudnya nabrak pintu mobil Bayu?" Ujarnya frustasi saat tak mampu lagi menahan emosi. 


Sejak insiden tabrakan itu, ia langsung duduk di kelas dan menunggu Cristine datang. Namun sahabatnya itu malah telat datang dan ia harus puasa untuk menahan mulutnya agar tak bersuara. Karena kalau tidak, ia tak yakin akan bisa mengendalikan diri saat pelajaran sedang berlangsung. 


"Padahal jelas-jelas loh parkirannya luas. Kenapa harus disamping mobil Bayu?" Cercanya lagi.


Cristine menatapnya dengan datar--tanpa semangat. Gadis itu masih sebal pada Airin karena kemarin Airin tak sedikit pun mau bercerita padanya. Dan hari ini.....seperti bukan Airin. Airin yang ia kenal selalu bersikap tenang apapun yang terjadi. Dan kini....yang menjadi korban adalah Bayu. Akib sebagai tersangka dan ia sebagai saksi. Kenapa ia yang berkoar-koar seolah ia korban dan secara tak langsung ia menginginkan Cristine untuk berada di pihaknya. Ada apa dengan Airin yang ia kenal?


"Heran deh gue sama dia. Mana tadi pagi innocent banget tuh muka. Seolah-olah dia gak salah," gadis itu masih mencibir.


Cristine menghela nafasnya. "Udah puas?" 


Airin agak terkaget saat menerima respon sahabatnya yang terkesan agak dingin. Dan ia hanya membeku saat Cristine mulai mencecarnya.


"Kenapa lo yang sewot padahal mobil Bayu korbannya? Lo gak kenapa-napa kan? Lagian juga kayaknya Bayu nyantai-nyantai aja," cibir gadis itu.


Cristine menikmati raut wajah Airin yang mulai kelabakan. Gadis itu nampak berpikir. Ia membenarkan ucapan sahabatnya. Kenapa ia yang sewot? Toh ia tak kenapa-napa. 


"Uh-oh," respon itu membuat satu kesimpulan di otak Cristine dan selanjutnya ia terbahak-bahak melihat wajah merah padam milik Airin.


"Lo ngarep dia cemburu terus dengan sengaja nabrak pintu mobil Bayu? Iya? Itu kan maksud dan tujuan lo cerita ke gue?"


"HAH?"teriaknya spontan lalu menggeleng kuat-kuat. "Gak lah! Ngapain!" Lanjutnya lalu mengibaskan wajahnya yang kepanasan sekarang. Wajahnya semakin merah padam dan itu membuat Cristine semakin yakin akan argumennya.


Cristine terkikik geli."Lo gak usah mikir macem-macem deh," ancam Airin namun tak berhasil karena sahabatnya malah makin terkekeh. 


"Ap-apaan!" 


"Ngaku gak lo?" Ancam Cristine namun gadis itu tetap menggelengkan  kepalanya. Cristine terkikik lalu melancarkan aksinya. Ia menggelitiki pinggang Airin sampai gadis itu menyerah meminta ampun.


♡_♡


"Akiiib!" Seru Cinthya. 


Gadis itu mengangkat tangannya ke atas untuk menarik perhatian pemuda yang baru saja memasuki kantin. Sedangkan pemuda yang baru masuk itu rasanya ingin keluar lagi kalau saja teman-teman Cinthya tak ikut meneriakkinya. Akhirnya dengan pasrah ia melangkah menuju Cinthya yang sedang makan bersama teman-temannya.


"Kenapa?" Tanyanya dengan datar. Tampak malas sekali.


"Pulang nanti temenin aku yuk?"


"Ngapain?" 


"Bayu ngajak aku ketemuan di cafe." Jelasnya dengan senyum menggoda berharap Akib akan marah karena ia mau saja diajak lelaki lain untuk bertemu. Namun harapan tinggal harapan. Pemuda itu malah menganggukkan kepalanya dan tak perduli akan shock yang baru dialami gadis yang berstatus pacarnya. Status? Ya hanya status.


like komen and vote


♡_♡