Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | tiga



alu menghembuskan nafas. "Pacaran?"


Aisha mengangguk sekilas tapi saat tersadar akan sesuatu gadis itu menggeleng. "Kemarin-kemarin sih iya, Mi. Tapi sekarang udah enggak kok." 


Mami mengangguk-anggukkan kepalanya lalu memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Beliau mulai khawatir pada Airin. 


"Sama siapa?"


Fadlan ikut menoleh pada Aisha saat Mami bertanya hal itu. Ia juga tak tahu siapa laki-laki yang dipacari adik kecilnya itu. 


"Eung....," gadis itu nampak berpikir tapi tetap saja ia lupa namanya. "Yang Aisha tahu sih itu loh.....siapa tuh sahabatnya Kakak?" Ucapnya dengan gembira menyambut kernyitan dahi Maminya.



"Faiz?" Tebak Fadlan dan benar saja, Aisha mengangguk cepat. Karena yang Fadlan tahu, sahabatnya hanya Fahri, Faiz, Wira dan Regan. Jika Fahri sangat tidak memungkinkan menilik keluarganya yang taat sekali pada aturan Illahi mengenai pergaulan perempuan dan laki-laki. Wira? Wira saja anak tunggal jadi di diskualifikasi. Lalu Regan? Sepupunya yang satu itu tak punya saudara laki-laki.


"Adiknya Faiz yah?" Tanya Mami.


Aisha mengangguk-angguk. Ia mengingatnya karena pernah bertemu sekali dengan mantan pacar Airin yang wajahnya mirip sekali dengan Faiz. 


"Kalo keluarganya Faiz sih Mami percaya," lanjut Mami. Beliau tahu benar bagaimana keluarga Faiz. Mama Faiz juga sahabatnya di kalangan wanita sosialita. Dan ia tahu mereka adalah keluarga baik-baik.


Lalu fokus kedua anaknya beralih pada Maminya.


"Tapi tetep aja, Mi. Fadlan gak setuju. Gimana pun kan Airin masih kecil. Dari pada pacaran gak jelas mending juga belajar yang rajin."


"Iya sih. Tapi sekarang aja udah putus kan?"


Aisha mengangguk. Fadlan juga demikian. 


"Asal jangan sampai terdengar Papi aja ya," pesan Mami lalu membawa piring bekas makanannya ke dapur. 


"Iya, Mi. Nanti Fadlan coba ngomong sama Airin untuk gak pacaran lagi."


Aisha ikut mengangguk walau dalam hati ia cemas. Ia tahu bagaimana perasaan ABG seperti Airin yang sedang diterpa masa merah muda. Masa-masanya jatuh cinta pada lawan jenis.


♡~♡


Entah angin apa yang membawanya ke tempat ini. Mungkin jika biasanya, ia menunggu di lapangan bola--tak jauh dari rumah Airin namun pagi ini, ia dan mobilnya berada di jalan raya dekat gerbang masuk kompleks perumahan mewah dimana rumah Airin salah satunya. Sudah dua hari ini ia memantau gadis itu dan sejauh ini, gadis itu aman-aman saja. Jelas saja aman karena gadis itu pasti diantar sopirnya untuk ke sekolah. Termasuk pagi ini. Ia segera menancap gas saat melihat mobil Airin keluar dari gerbang kompleks dan berbelok ke arah kanan. Ia mengikutinya dengan jarak beberapa mobil di belakang. Kalau sama persis di belakang tentu saja bodoh namanya. Airin pasti mengenali mobilnya. 


Namun pagi ini tidak lancar seperti biasanya. Tiba-tiba saja di pertengahan jalan, mobil Airin menepi di pinggir jalan dan itu membuat Akib ikut menepi pula namun agak jauh di depannya. Ia melirik dari kaca spion, apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu keluar dari mobil tampak tenang-tenang saja, membuat Akib bertanya-tanya. Hingga kemudian mobil jazz putih terparkir tepat di depan mobil Airin. Sebelah alisnya terangkat saat melihat Airin segera masuk ke dalam mobil itu. 


Jantungnya berdentam keras. Kemana Airin? Dengan siapa? Tiba-tiba rasa cemas melandanya. Tanpa tunggu lebih lama lagi, Akib menekan kencang pedal gasnya.


Jalan demi jalan dilalui dan sejauh ini tak ada yang mencurigakan. Ia tahu benar jika mobil itu bukan milik Gara. Setahunya, mobil Gara jauh lebih mahal dari mobil itu. Tapi tidak menutup kemungkinan kan, jika itu mobilnya Gara? 


Namun entah kenapa, hatinya menyeru jika itu bukan Gara. Atau....ia saja yang tak tahu jika Airin punya banyak lelaki lain yang ada di dekatnya? 


Kepalanya menggeleng cepat. Ia sangat mengenal Airin. Hampir satu tahun mereka pacaran, tak sekali pun ia terlihat bersama laki-laki. Ah....tapi ia juga lupa jika Airin kerap bersama Gara dan sering pula menumpahkan perhatiannya pada Gara. Tapi ia tahu pasti jika Airin hanya menganggap Gara sebagai teman dan tidak lebih dari itu. Tapi.....hei.... apa ia lupa? Dulu kan Airin sudah memilikinya jadi tak perlu lelaki lain namun sekarang..... Airin sendiri?