Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | enam belas



Melihat Airin yang tak merespon kehadirannya sama sekali, Akib tak kehabisan akal. Ia membaringkan tubuhnya lalu meringis-ringis lirih. Matanya sesekali mengintip Airin. Namun masih sama--gadis itu acuh!


"Hem! Obat sakit kepala dimana ya?" Tanyanya--upaya mencari perhatian.


Airin tetap fokus pada ponselnya tapi tak urung menjawab. Mukanya terlihat datar padahal seperti biasa, jantungnya sedang maraton. Ia tak kan lupa jika organ tubuhnya akan berkhianat setiap di dekat lelaki ini. "Di kotak obat," jawabnya ketus.


Akib terkekeh dalam diamnya. Ia baru sadar satu hal lagi. Gadis ini terlihat lucu dengan gaya bicaranya yang ketus. "Bisa tolong ambilin?" Pintanya.


Aih, kapan lagi bisa dimanjain Airin? Terlintas pertanyaan segeli itu membuatnya merinding sendiri.


"Punya tangan? Punya kaki? Bisa dong ambil sendiri," lagi. Gadis itu menjawab ketus tapi kali ini sikapnya lebih jutek.


Akib mengelus dadanya--sabar. "Tapi kepala gue pusing nih," alibinya.


Hening.


Airin tak merespon sama sekali. Ia malah terkikik saat menbaca bbm-an dari Cristine. Jelasnya, Cristine memaki-makinya karena tak ikut dihukum seperti mereka. Seperti biasa--pelajaran matematika memang selalu memakan korban di setiap harinya.


Akib langsung merengut--sadar kalau diabaikan. Tapi jangan kira ia akan menyerah. Tidak!


Ia bangkit dari ranjang di sebelah Airin lalu berpura-pura terhuyung-huyung. Namun kepalanya sukses terbentur besi ranjang. Airin yang melihat itu langsung kaget dan refleks menarik lengannya. Lalu membantunya untuk kembali berbaring. Akib tersenyum puas!


Airin berdecak namun tak urung mengambilkan obat. Setelah itu, ia ambil air di pojok ruang kesehatan setelahnya ia bawa menuju Akib. Tangannya gemetar sendiri saat memberikan gelas dan obat itu pada Akib. Akib berdeham sebelum menelan tandas obat sakit kepala. Ia berdoa saja semoga tak sakit kepala beneran. Lalu menenggak habis air yang dibawa Airin. Lega tapi masih belum berhasil.


Ditahannya lengan Airin saat gadis itu hendak berbalik. "Bisa ngomong sebentar?" Tanyanya lembut. Matanya menghunus tajam ke dalam mata Airin yang mencoba berkilah.


Ia ingin pergi tapi tak sanggup. Namun ia juga tak bisa membiarkan dirinya sendiri tenggelam dalam lubang gelap ini. Lubang gelap bersama cinta yang dibawanya untuk Akib. Lubang gelap yang ingin ia tutup karena tak mau terperosok lagi. Cukuplah sekali seumur hidup, ia tak mau melakukannya lagi.


"Maaf," ucapnya. Ia tak bisa.


Ditepisnya lengan Akib dengan pelan namun lelaki itu malah semakin menggemgamnya kuat. "Please," mohon lelaki itu.


Airin gamang. Tatapan Akib itu jika ia tahu artinya, menyiratkan kerinduan. Rindu ingin melakukan semuanya dari awal lagi? Eh? Benarkah?


"Ehem!"


Airin tergagap. Ia langsung berbalik. Matanya membulat saat menjumpai kakaknya sudah berdiri di ambang pintu. Matilah ia!


"Katanya mau pulang?" Sindir Fadlan--telak-telak.


Cepat-cepat ditepisnya tangan Akib lalu mengambil tas dengan terburu-buru. Sementara Fadlan menahan geli. Kisah kasih di sekolah, gumamnya. Namun sayangnya ia tak pernah merasakan itu. Dulu ia terlalu sibuk belajar dan tak sempat memperhatikan perempuan. Kini sekalinya ia memperhatikan perempuan, dunianya yang lain seolah menghilang.


Dibalik kepergian Airin, Akib lah yang paling menderita. Ia menghibur dirinya sendiri--sadar jika Airin sudah tak ingin bicara dengannya lagi. Tapi wajar kan bagaimana mengingat ia memutuskan hubungan mereka dulu?


Ia berdecak. Namun lagi-lagi emosi menguasai hatinya dan ia lupa belajar untuk itu. Ia juga benci saat tahu Airin menjadikannya bahan taruhan. Dan demi apapun, ia bimbang sekarang.


♡_♡


Lelaki itu menginjak kuat puntung rokoknya tepat di depan Akib yang kini terpaku melihatnya.


"Lo gak lupa kan kalo lo sendiri yang bilang buat ngasih Airin ke gue?" 


Brengsek! Makinya dalam hati. Kuat-kuat Akib meremas tasnya. Takut tas itu melayang ke wajah Gara. Matanya melayang tajam. Tersinggung? Jangan ditanya. Sekarang ia bahkan merasa jika Gara seolah menamparnya.


"Lo gak bakal jilat ludah lo sendiri kan?" Lagi. Lelaki itu memancing emosi Akib.


Jangan kira ia tak tahu kalau Akib mulai menyadari perasaannya. Ia tahu. Karena mata Akib selalu mencari keberadaan Airin dimana pun. Apalagi kejadian tadi pagi. Seorang Akib tak mungkin repot-repot menunggu di dekat kelasnya hanya demi sebuah buku. Buku milik Airin. Pun seorang Akib tak mungkin repot-repot ingin memberikannya langsung. Selama ini--selama Akib dan Airin pacaran--lelaki itu terlalu cuek. Bahkan terkadang ia tak perduli akan kehadiran Airin. Tapi kini?


Gara berdecih. Ia hanya mencoba mengingatkan Akib untuk tak menjilat ludahnya sendiri. Ia juga hanya mencoba mengingatkan gadis yang berdiri si belakang Akib kalau cinta itu tak bisa dipaksakan. Namun Gara salah. Gadis itu malah salah mengerti. Ia malah mengira Gara belum bisa mengikhlaskannya untuk Akib.


Dan sialnya, Gara tak berniat meluruskan kekeliruan itu. Ia malah pergi begitu saja meninggalkan Akib diam dalam pergolakan batinnya yang membuncah. Ia seolah baru sadar telah bertindak bodoh beberapa hari ini.


♡_♡


"Tadi gak ngapa-ngapain kan?" Selidik Fadlan.


Airin terkekeh. Ia tahu maksud dari pertanyaan kakaknya. Tapi ia enggan membahasnya. Jujur saja, ia senang saat Akib mengatakan ingin mengajaknya bicara namun ia tak mau terlalu berharap.


"Dia ngajakkin balikan?" Tanya Fadlan setengah menggoda.


Airin tersenyum masam. Boro-boro, pikirnya. Sekarang saja Akib sudah punya pacar. Mengingat itu, ia sakit hati sendiri. Patah hati lagi. Lagi patah hati. Memang yah yang namanya mengidap pengakit yang berhubungan dengan hati itu memang tak enak. Begini salah. Begitu salah. Serba salah.


"Dia udah punya pacar kali kak."


Fadlan langsung menoleh namun ia tak percaya. "Masa?" Godanya sambil mengacak-acak rambut Airin. Gadis itu terkekeh.


Airin berdeham--malas melanjutkan obrolan yang lagi-lagi menyangkut Akib. "Kak, haus." Rengeknya manja.


Fadlan terkekeh. "Ambil aja di dashbor."


Kebiasaan kakaknya. Kakaknya yang satu ini gemar sekali menyimpan makanan dan minuman di dalam dashbor. Benar saja, ada beberapa bungkus makanan ringan di dalamnya. Tak lupa juga sebotol minuman. Namun yang paling menarik hatinya adalah secarik kertas putih yang tebal. Diambilnya, lalu dibaliknya kertas itu. Mulutnya sempat menganga sebentar sebelum melirik Fadlan. Ia fokuskan penglihatannya.


Tampak kakaknya dengan jeans putih dan kemeja dengan lengan yang digulung sampai siku. Wajahnya tersenyum. Ia disana tak sendiri. Ada seorang gadis cantik berbalut dress kebaya dengan warna kuning emas dan kerudung dengan warna yang lebih muda. Tubuhnya dibalut lagi dengan baju toga berwarna hitam dan ada bagian biru di bagian leher ber cap almamater kampus. Lengkap pula dengan topi toga dan bunga yang digemgamnya. Cantik dan serasi sekali dengan kakaknya.


Airin melirik lagi kakaknya--memastikan kalau kakaknya takkan melihat ia menyimpan foto itu di saku roknya. 


Oh jadi ini gadis yang dibilang Kak Aisha.


♡_♡