Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | enam



"Kok kamu gitu sih?" Tanya gadis itu. Tangannya mencekal pergelangan tangan Akib. Tak ingin membiarkan lelaki itu pergi. "Gak cemburu emangnya?" Tanya suara itu dengan manja yang entah kenapa membuat Akib ingin muntah saat itu juga. 


"Ngapain lah. Toh kamu pacar aku sekarang," ungkap Akib lalu mengibas tangannya untuk melepas cekalan tangan Cinthya. Gadis itu meleleh seketika. Sorak sorai suara sahabatnya membuat senyumnya semakin lebar. 


Kali ini ia yakin jika Akib masih mencintainya seperti dulu. Sementara itu sang pemuda yang baru saja keluar dari kantin langsung menyusul satu-satunya sahabat yang ia punya. Namanya Dennis. 


"Minumnya mana?" Tanya lelaki yang sedang memainkan bola basket ditangannya. Akib memasang wajah datar lalu duduk di samping Dennis. Sahabatnya itu menoleh padanya dengan tatapan bertanya. 


"Kenapa lagi?" Tanyanya sambil menaik turunkan alis tebal nan hitam di wajahnya. 


Yang ditanya hanya menghela nafas lalu memejamkan mata. Ia lelah. Sangat lelah. Bukan fisiknya tetapi batinnya. Ia baru tahu jika sakit batin itu lebih banyak menguras tenaga dan pikiran daripada sakit fisik.


"Kalau menurut gue, mending lo lepasin dia. Terus lo kejar cinta lo," saran Dennis. 


Akib mendengus kasar mendengarnya. Berbicara itu sangatlah mudah. Tapi melakukannya? Sangat sulit. Ia yakin sekali jika Airin benci sebenci-bencinya pada dirinya. 


"Buang gengsi lo jauh-jauh." Tambah Dennis lagi. Lelaki itu masih sibuk memainkan bola basketnya. 


"Seandainya gue bisa," gumam Akib dengan lemah. 


Dennis menatapnya dengan miris.


♡_♡


Kalau saja bukan karena proposal sialan dan acara pelepasan yang sok berkepentingan itu, Airin malas sekali menampilkan wajah di hadapan musuhnya. Haah....baginya kakak kelas yang menjadi kembang di sekolahnya ini adalah nenek lampir penghisap kebahagiaan. Kebahagiaannya dengan Akib?


Eih? Apa benar? Apa benar Akib bahagia dengannya? Ia mendengus memikirkan hal yang diluar logika dan pikiran itu. Kejadian saat putus terulang lagi diotaknya. Dan itu mengingatkannya jika ia hanyalah pelarian. Dan gadis di depannya inilah sumber kebahagian Akib. Bukan dirinya.


"Udah lama kalian?" Tanya Cinthya saat ia telah duduk di hadapan Airin dan Bayu. Airin memasang senyum palsu sementara Bayu justru sebaliknya. Lelaki itu tersenyum lebar dan tulus sekali.


"Santai aja, Kak. Justru kita yang gak enak karena ganggu waktu belajar, Kakak." Ucap Bayu dengan sopan yang entah kenapa membuat Airin ingin muntah saat itu juga. Bisa tidak lelaki di sebelahnya ini tidak merayu wanita sehari saja?


♡_♡


Gara. 


Lelaki itu melangkah dengan pelan. Tangan kanannya menyampirkan kemeja sekolah di bahu. Sementara tangan kirinya memegang tas sekolahnya. Satu jam setelah bel pulang, lelaki itu memutuskan untuk bermain basket sendirian di lapangan basket sekolah. Tak ada gadis yang menemaninya hari ini. Karena ia tahu Airin pasti sedang bersama Bayu. Namun ia tak tahu jika gadis itu juga bersama Cinthya. Sampai ponselnya berdering. 


Ia hampir saja mengabaikannya kalau saja bukan Tante Cantika yang meneleponnya. 


"Ya, Tan?" Tanyanya sambil menjepitkan ponsel diantara telinga dan bahunya. Sementara tangannya sibuk membuka pintu mobil. "Enggak. Setahu Gara hari ini gak ada les tambahan di sekolah." 


Laki-laki mengernyit keningnya. "Yaudah. Gara cari dulu di sekolah." Ujarnya lalu menutup percakapan. 


Usai meletakkan ponsel sembarangan di saku, ia menutup pintu mobilnya kuat-kuat. Kesal karena gadis itu hanya bisa menyusahkannya. Giliran bahagia ia malah dilupakan. Kurang menyedihkan apa ia yang dijadikan sebagai pahlawan terlupakan? Atau mungkin pepatah 'habis manis sepah dibuang' lebih cocok untuk menggambarkannya?


Kalau saja ia tak punya hati dan perasaan, ia takkan mungkin mau mencari gadis itu sekarang. Kalau saja ia tak punya hati dan perasaan mungkin akan lebih baik. Karena ia tak perlu merasakan sakitnya hati dan perasaan ketika dicampakkan lalu ditinggal pergi. 


Ia baru saja berjalan beberapa langkah menjauhi mobilnya, saat sosok lain muncul di hadapannya dengan kondisi acak-acakkan. Sosok yang menjadi sumber perampas kebahagiaannya. Siapa lagi kalau bukan mantan ketua OSIS, Bintang Akib Fahlevi.


"Acin mana?" Tanya Gara dengan mulut tajamnya. Belum lagi tatapan tajamnya yang membuat siapa pun terbius. Terbius karena mata itu indah sekali. Tapi tidak bagi sosok di depannya ini. Yang ada ia benci setengah mati.


Sosok di depannya mendengus lalu memasang tampang mengejek. "Lo kira gue asistennya yang harus tahu kemana dia pergi?" 


Gara tersenyum tipis. Meski nampak emosi namun ia cukup bisa menahan diri. "Lo kan pacarnya. Masa gak tahu?" Tanyanya dengan maksud untuk menyadarkan sosok di depannya akan keputusan yang diambilnya. Dan membuatnya semakin tampak melebarkan senyum saat sosok itu mengepalkan tangan. Emosinya terpancing.


"Mau lo apa?"


Gara terkekeh mendengar kalimat bernada ancaman itu. Ia mengendikkan bahu dengan santai. Namun baru saja akan membalas ucapan Akib, ponselnya kembali berdering. Ia mengernyit saat menjumpai nama Airin di layarnya.


♡_♡