Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | sepuluh



"Suami kamu tuh yang ini," sindir Fahri agar istrinya sadar.


Fifa terkekeh geli sambil menepuk lengan suaminya. Ia juga tahu. Tapi kan yang menjadi kakaknya Airin ya si Fadlan ini. Sementara sahabatnya sendiri sedang duduk di pelaminan.


"Paling lagi sama anak temennya Papi. Si Gara," tutur Fadlan.


Lalu ia menangkap Faiz dalam penglihatannya. Tangannya melambai membalas lambaian tangan Faiz.


Sahabat lamanya itu berjalan mendekat dan saat dekat, ia segera memeluknya sambil beberapa kali menepuk bahu Faiz.


"Apa kabar lo?" Tanyanya saat melepas pelukan dan Faiz beralih memeluk Fahri.


Faiz terkekeh. "Alhamdulillah, baik. Lo gimana? Kapan nikah? Gue denger-denger lo dilangkahi dua orang tahun ini," kalimat Faiz itu sukses membuat Fifa dan Fahri terkikik puas.


Fadlan di-bully lagi. Sementara yang di-bully juga ikut terkikik. Ia tak tahu harus berkomentar apa mengenai nasibnya tahun ini.


"Lama gak ketemu selera humor lo naik dikit," puji Fahri. Faiz malah cengengesan. Itu bukan pujian melainkan sindiran.


"Sara mana?" Tanya Fadlan yang heran karena Faiz terlihat sendiri.


Faiz terkekeh lalu memperkenalkan laki-laki yang dibawanya pergi hari ini. "Dia ada urusan. Jadi sebagai gantinya gue bawa adek gue. Masih inget kan?"


Fadlan dan Fahri saling melirik lalu keduanya tertawa sementara Akib memasang muka bodoh karena tak mengerti padahal ia yang sedang  ditertawakan.


"Ini yang bikin lo gagal jadi anak tunggal kan?" Tanya Fahri usai tertawa. Faiz terkikik sambil menganggukkan kepalanya. Ia membenarkan ucapan Fahri.


"Kib, kenalin nih ini Fadlan dan yang ini Fahri."


Akib tersenyum tipis. Ia mengangkat tangannya saat Fadlan mengulurkan tangan ke arahnya. "Akib, Bang." Ucapnya dan cukup menyentak kesadaran Fadlan. Ia merasa nama itu tak asing.


"Udah kuliah, Kib?" Tanya Fahri.


"Belum Bang. Tahun depan insya Allah. Sekarang masih kelas 12 SMA." Jawabnya dengan sopan.


Diam-diam ia memerhatikan bola mata Fadlan  yang sama persis dengan bola mata milik Airin. Cokelat bening.


"SMA mana?" Seru Fahri dengan bersemangat.


Akib yang baru saja akan membuka mulut mendadak mengatupkan mulutnya lagi saat Fadlan memanggil sosok yang ia perhatikan sejak tadi. Ia terdiam saat sosok itu mendekati mereka bersama sosok laki-laki lain.


"Oh. Kalo ini kenal kok Bang. Dia anak OSIS." Tutur Akib dengan dingin tanpa melihat Airin sama sekali.


Sementara Gara sudah geram melihat tingkah lakunya. Bisa gak sih pura-pura gak kenal aja? Begitu teriaknya--frustasi. Ia kasihan pada Airin yang diabaikan.


Fadlan menangkap fenomena agak janggal itu disaat yang lain nampak biasa. Otaknya dengan keras bekerja dan menemukan jawaban dari ketidakasingan mendengar nama Akib. Kini ia benar-benar yakin.


"Kamu kenal sama Akib, Gar?" Sosor Fadlan. Airin dan Gara sama-sama mengangkat sebelah alisnya. Kenapa jadi Gara yang ditanya?


Gara berdeham lalu mengangguk saja. Ia malas berkoar-koar soal lelaki yang menjadi musuh bebuyutannya.


Fadlan mengangguk-ngangguk. Insting-nya mengatakan jika ada yang tak beres pada tiga anak ini. Namun ia juga tak mau ambil pusing. Cukup kehidupan asmaranya yang menyedihkan saja membuatnya pusing. Tak usah mengurusi kehidupan cinta adiknya.


"Jadi kalian satu sekolah?" Fahri malah nampak tertarik. "Kapan-kapan boleh dong jemput Airin ke rumah buat berangkat bareng." Tambahnya yang sontak saja membuat Akib dan Airin langsung terbatuk-batuk. Padahal tak ada makanan atau minuman apapun yang membuat mereka tersedak. Fadlan menahan senyumnya diam-diam.


"Bang! Jatah antar-jemput Airin kan jatahnya Gara," sungut Gara tak terima yang menyulut tawa pada empat orang dewasa itu.


Fahri mengangguk-angguk kepalanya seraya mengacak rambut Gara. "Gue lupa. Lo kan supirnya!"


"Hahahahahahaha!"


Kampreeeet, maki Gara dalam hati.


♡_♡


"Yang tadi ya, Rin?" Celetuk Fadlan.


Gadis itu mengernyit tak mengerti. Ia menoleh pada abangnya yang mengipas-ipas tubuhnya yang gerah usai acara resepsi pernikahan Aisha-Wira selesai.


"Mantan," seloroh Fadlan setengah meledek. Ia terpingkal-pingkal saat melihat wajah masam milik Airin.


"Malesin ih," gumamnya lalu memilih naik menuju kamarnya. Ia sudah ingin melepas kebaya ini sejak tadi siang.


Fadlan menggelengkan kepalanya. Akib. Ganteng sih. Wajar saja kalau adiknya tak bisa menolak pesona lelaki itu. Namun seperti ada hal yang aneh saat ia menatap tiga pasang bola mata itu. Mata Airin, Gara dan Akib. Masing-masing menyimpan hal terpendam yang membuat sikap penasaran Fadlan naik. Tapi kemudian ia tepis jauh-jauh. Kenapa ia harus mengurus hal-hal tak penting seperti itu?


Toh adiknya saja tak begitu perduli kan? Atau hanya berpura-pura tak peduli?


♡_♡