Mascheraviele

Mascheraviele
Mascheraviele | empat



Tiba-tiba saja ia menepuk setirnya kuat-kuat. Rasanya tak rela melihat gadis itu dekat dengan lelaki selain dirinya.


♡~♡


Sementara itu Airin malah asyik terkikik bersama Bayu. Ia sengaja minta diturunkan di tepi jalan untuk kemudian dijemput Bayu. Jika Bayu langsung menjemputnya di rumah, ia bisa pastikan Bayu akan disuruh pergi secara halus entah oleh Maminya atau Kak Fadlan. Yang jelas, kedua orang yang ia sayangi itu takkan mudah percaya pada orang asing. 


"Ah iya, gue hampir lupa, Rin." Ucap Bayu setelah puas tertawa karena lelucon yang ia buat sendiri untuk merayu Airin. "Sepulang sekolah kemaren gue udah omongin ke Kak Cinthya, nanti kita ketemu sama dia habis pelajaran tambahan di sekolah."


Tiba-tiba saja perasaan tak enak melandanya. "Oh....," hanya itu respon Airin saking speechless-nya. 


"Gue sebenarnya gak enak sih minta tolong ke dia. Lo tahu sendiri kan dia pacaran sama siapa? Gue agak segan sama pacarnya." 


Airin mengangguk-angguk dengan hati tak nyaman. Ia memalingkan wajahnya ke arah luar. "Kenapa bisa segan gitu?" Tanyanya tanpa sedikit pun menutupi rasa penasarannya. 


"Waktu SMP kan gue pernah deket sama Kak Cinthya terus cowoknya dia ngamuk deh ke gue," cerita Bayu lalu terkikik geli karena ingat masa lalunya. 


Airin menanggapinya dengan malas. Hatinya terasa panas sekali mendengar kicauan Bayu. Ternyata, benar kata Akib saat mereka putus dulu. Laki-laki itu hanya menjadikan ia sebagai pelariannya. Tak pernah tulus mencintainya. Dan mengingat itu entah kenapa membuat emosinya ingin meledak sekarang. Marah pada diri sendiri yang bodoh dan lugu. Sampai tak bisa membedakan mana yang benar-benar mencintainya atau yang pura-pura mencintainya. 


"Lo pernah suka sama dia?" Tanya Airin--mengabaikan panas hatinya yang sudah membara kini. 


"Dulu sih. Yah...lo liat deh, cewek cakep gitu, cowok mana yang gak suka?" 


Dan kalimat itu membuat Airin bagai didorong terjun dari tepi jurang ke dalam lautan. Rasanya jleb banget. Namun ia juga tak menyangkal. Kakak kelasnya itu memang cantik. Jadi wajar saja kalau banyak yang suka dan bahkan tergila-gila seperti mantannya. Oh.... what the hell?! Kenapa harus selalu tertuju pada Akib diujungnya?


"Ya sih," jawab Airin seadanya. Ia sudah sangat enggan untuk menyambung pembicaraan ini dengan Bayu.


Bayu yang menyadari keterdiaman Airin tersenyum tipis. "Lo juga cantik kok, Rin." Puji Bayu dengan tulus yang spontan saja membuat pipi Airin memerah. 


"Hanya saja untuk dijadiin pacar lo gak cocok." Lanjut lelaki itu lalu membelokkan setirnya menuju gerbang sekolah. "Cewek baik-baik kayak lo cocoknya langsung dinikahin bukan dipacarin," tambahnya. 


Dan tak lama kemudian mobilnya berhenti setelah mencari parkiran yang masih kosong. Airin menoleh pada Bayu yang menatapnya dengan senyum manis. 


"Denger kata gue, kalo ada cowok yang ngajak lo pacaran, lo jangan pernah mau. Lo tahu kan kalau pacaran itu mendekati zinah. Dan lo juga pasti tahu zinah itu kalo dilakuin, dosanya besar." Ceramah Bayu yang membuat Airin terkikik geli. Bukan pada kata-kata Bayu tetapi mimik wajah Bayu yang lucu saat menyampaikan kultum singkat itu. "Heh! Dibilangin abang malah ketawa!" Cibir lelaki itu.


Airin hampir saja tersedak mendengar gurauan 'abang' yang ditutur oleh Bayu. 


"Sejak kapan lo jadi abang gue?" Cibir Airin usai menghentikan tawanya. Gadis itu mengenakan tas sandangnya lalu berdalih membuka sabuk pengaman. 


"Tadi lah. Dan mulai sekarang lo harus panggil gue abang. Karena kalau gak....gue gak mau nemenin lo ke Kak Cinthya!" Ancam Bayu dengan sorot mata lucu yang membuat Airin sebal setengah mati.


Bayu hanya mengendikkan bahu sambil terkekeh kecil lalu membuka pintu mobilnya. 


BRAAAAKKKK


Suara dentuman keras membuat Airin terlonjak dari bangkunya lalu segera keluar dan terpaku saat menyadari apa yang sedang terjadi. 


Pintu mobil Bayu ditabrak oleh mobil yang sangat ia kenal. Dan itu... mobil milik mantannya. Ia sempat ternganga lalu berjalan pelan menuju Bayu yang masih mematung dengan posisi duduk di bangku. Lelaki itu baru saja mengeluarkan sebelah kakinya dan untuknya, ia tak apa-apa tapi pintu mobilnya cukup tergoyah karena ditabrak dengan kuat. Airin memicingkan matanya saat sosok innocent penabrak pintu mobil keluar. 


"Aduh! Kena ya?" ucapnya dengan sorot panik dan cemas dibuat-buat. Airin mencibir dalam hati akan kelakuan Akib yang agak abnormal pagi ini. Entah kenapa ia menangkap jika Akib menabrak itu dengan sengaja. 


Bayu segera beranjak dari bangkunya dan menatap penuh prihatin pada mobil barunya yang baru saja ia dapatkan seminggu yang lalu. "Eung....gak apa-apa deh Kak." Ucap Bayu dengan pelan. Ia tak enak saat tahu Akib lah yang menabrak. Kalau saja orang lain, ia sudah pasti meminta diganti. 


"Gak bisa gitu dong, Bay! Pintunya kan rusak!" Sungut Airin--tak terima. Gadis itu berjalan maju menuju pintu mobil Bayu yang masih terbuka lebar lalu mencoba menutup pintu itu. Dan benar saja saat diperhatikan.... posisi pintunya sudah miring. Sehingga untuk ditutup saja harus diangkat sedikit. 


Akib mendengus saat melihat gadis itu malah membela Bayu. "Yaudah... nanti gue ganti, Bay. Lo hubungin aja bengkel buat perbaikin ini pintu dan pembayarannya gue yang urus." 


Airin menghela nafas dan menggelengkan kepalanya dengan menatap tak percaya pada Bayu yang mengiyakan saja ucapan Akib. Airin jengkel setengah mati pada lelaki yang kini malah sudah berjalan jauh dari mereka. 


"Sombong banget sih! Minta maaf aja kagak!" Cibirnya agak keras. Ia sengaja melakukannya agar terdengar oleh Akib. Lalu gadis itu menoleh pada Bayu yang masih menatap pintu mobilnya dengan nanar.


"Udahlah, Rin. Gak usah diperpanjang." Ucapnya mengalah lalu menarik lengan gadis itu untuk meninggalkan area parkiran.


"Tapi gak bisa gitu dong, gimana pun juga dia yang salah. Dan orang yang salah itu wajib minta maaf." Sindirnya lagi dengan volume agak keras. Ia sengaja agar Akib mendengarnya. Dan kesengajaannya itu tanpa sadar membuat Akib mengepalkan kedua tangannya. Menahan agar tak meluapkan emosinya yang naik sampai ke ubun-ubun. Sepertinya ia salah telah menabrak pintu mobil Bayu hanya untuk melampiaskan rasa cemburunya. 


Eh...cemburu?


Rasanya ia ingin menjedotkan kepalanya ke dinding saat ini juga.


"Gue udah maafin kok."


"Aiish!" Dengus Airin sambil mengacak rambutnya dengan frustasi. Bayu sampai terkekeh melihat ulahnya yang kekanakan.


like komen and vote


♡_♡