
Keinna bingung harus menjawab apa, Roya yang di berdiri tegak dengan tangan yang terlipat di dada sedang mengintrogasi matanya meneliti dari atas hingga bawah.
"Kau kenapa pakaian begini mau menggoda tuan Xavier!" Bentak Roya membuat Keinna tersentak kaget.
"Enggak kok tadi tuan Xavier suruh pilih hadiah untuk Kak Roya ini hadiah nya"
Keinna menyerahkan satu bag berisi baju untuk Roya membuat sudut bibir Roya terangkat.
"Terus kau kenapa pakai baju mewah begini hah?"
"Tuan Xavier tidak ingin malu karena pakaianku jadi aku disuruh pakai ini kan aku jelek" Ujar Keinna terpaksa membuat senyum puas terpapar jelas di wajah Roya.
"Tuh kamu sadar diri"
"Hehe iya"
Roya mengambil barang yang di berikan kepadanya namun iris mata Roya tak henti mengamati beberapa tas yang masih tersisa ditangan Keinna.
"Ini? Buat siapa? Kok masih ada sisa bukan buat aku"
"OOO ini yang murah kak punya kakak yang paling mahal kata tuan Xavier itu khusus untuk kakak"
"Ohh begitu okelah"
Roya pergi sambil bersenandung membuat Keinna mampu bernafas lega jika tidak ribuan pertanyaan akan muncul kembali melalui mulut Roya.
"Kak Tara kak Kisi aku punya baju nih" Panggil Keinna melalui depan kamar kedua temannya itu.
Tara dan kisi memunculkan Kepala dari balik pintu melihat Keinna membawa banyak baju lantas menarik Keinna masuk. Lampu di matikan hanya ada cahaya remang-remang dari lilin.
"Hah kenapa ini?" Heran Keinna melihat sekeliling.
"Kau tau Keinna setelah kau pergi Roya langsung berlari ke dalam kamar mengunci pintu"
Suana seakan horor dengan suara Tara yang berbisik ditambah hujan deras beserta suara petir yang menggelegar dari luar seketika bulu kuduk Keinna berdiri.
"Aku mencoba mendengar dari luar pintu kamar Roya, aku mendengar suara tangisan lalu berubah menjadi tawa yang keras sampai aku dapat mendengarnya padahal kamar kita kedap suara"
"Terus kak Tara gimana lanjutannya?"
"Aku panggil kisi ikut dengerin"
"Iya aku denger lagi ada suara ******* tapi cuman suara cewek aja" Sambung kisi.
"Hah *******? Terus kak terus" Keinna semangkin bersemangat mendengarkan.
"Kami berdua ngerasa merinding jadi ngejauh, tiba-tiba aja Roya keluar terus senyum itu serem banget"
Buakk... Jendela dari kamar Tara terbuka karna hembusan angin lilin tadi mati membuat Keinna, Tara dan Kisi saling memandang satu sama lain.
"Aaa!!"
Teriak mereka bertiga lalu berlari keluar kamar, suara teriakan itu sampai terdengar di telinga Xavier membuat Xavier bingung ada apa dengan pelayannya, Xavier memutuskan naik keatas.
"Ada apa?" Tanya Xavier yang melihat Keinna dan dua lainnya menunduk seakan sudah di marahi oleh Roya yang berada di depan mereka.
"Mereka mencari keributan tuan, jadi saya memberi tahu mereka untuk tidak menggangu anda" Ujar Roya bangga.
Xavier melihat kearah Keinna yang kini tengah diam.
"Ada apa kenapa teriak?"
"Mereka mencari perhatian mu tuan jadi teriak-teriak" Jawab Roya.
"Aku tidak bertanya padamu aku bertanya pada dia" tunjuk Xavier dengan melihat ke arah Keinna.
"Kenapa kalian berteriak?"
"Pe..petir" Ujar Keinna takut jika Xavier akan memarahi dirinya.
Xavier hampir tertawa gadis di depannya ini takut pada petir usianya bukan lagi 10 tahun dia sudah 17 tahun namun masih takut petir. Namun Xavier hanya menampilkan wajah datarnya.
Keinna yang lain bernafas lega namun harimau di depannya menatap tajam mereka seakan bisa mengeluarkan taring dari mulutnya.
"Kalian bukan lagi anak kecil untuk apa berteriak seperti itu!" Bentak Roya, membuat mereka bertiga kembali tunduk.
"Maaf kak Roya"
"Heh untung saja tuan Xavier tidak marah, dasar kurang kerjaan" Roya masuk kamar membanting pintu membuat Keinna dan yang lain kaget.
"Huhh"
"Idihh bukan dia juga bos nya kenapa dia yang marah-marah tuan Xavier aja gak marah" Kisi merepet tidak jelas.
"Udah kak biarin aja"
"Kesel banget sama dia bukan nyonya juga"
"Ehhh aku tadi bawa baju yuk lihat dulu"
Mereka masuk kedalam mengobrak-abrik tas yang Keinna bawa berisi baju dan make up mereka sangat senang.
"Keinna baju yang kamu pakai ini cantik banget loh"
"Tuan Xavier baik banget ke kamu Keinna pasti gaun ini harganya mahal banget yaa" Kisi memegang baju Keinna dengan pandangan kagum.
"Cantik yaa" Keinna berputar-putar memperlihatkan dirinya membuat kisi dan Tara tertawa.
"Keinna cuman kamu loh pembantu yang paling di naikin tuan Xavier"
"Ahhh paling tuan Xavier iseng"
"Gak mungkin deh Keinna soalnya pembantu diajak jalan biasanya tuan Xavier ngajak artis model ataupun anak-anak para pengusaha gitu"
"Udah ahh ngapain dipikirin mending ini liat banyak yang cantik-cantik"
Mereka saling berebutan baju tertawa bersama, Keinna mengira bahwa dia tidak akan tertawa lagi atau pun tersenyum namun dugaannya salah dia memiliki teman baik walaupun dia hanya seorang pembantu sekarang tapi dia memilik teman tulus tanpa memandang harta ataupun dari keluarga mana asalnya, teman yang sederhana dan apa adanya.
"Kok jadi laper yaa" Ujar Keinna merasa perutnya berbunyi.
"Iya sama jadi kepingin mie nih"
"Iya apalagi ini hujan-hujan enak banget kayanya yang pedes gitu"
Mereka bertiga saling lihat satu sama lain memandang penuh arti, lalu saling melemparkan senyuman.
"Masak dong Kisi"
"Hah kok aku Tar ini Keinna tuh"
"Aduh aku capek banget kak Tara dong yang masak"
Setelah perebutan yang panjang mie juga belum jadi.
"Yaudah gini aja biar adil kita suit yang kalah dia yang masak"
"Oke siapa takut"
Mereka saling suit dimenangkan oleh Tara lalu dimenangkan kisi, dan terpaksa Keinna yang memasak mie itu. Keinna pergi ke bawah ke dapur pembantu tanpa sengaja melihat Xavier yang sedang menggulung lengan bajunya bersiap-siap pergi. Keinna heran kemana pergi hujan begitu deras apalagi suara petir yang menggelegar disana.
Keinna melihat ke arah luar jendela melihat Xavier melajukan mobilnya. Keinna heran apakah tidak bisa ditunda. Tapi Keinna lebih memilih tidak memikirkannya dia lebih fokus membuat mie mengganjal perutnya yang lapar.
Makanan selesai Keinna membawanya kelantai atas, dia melewati kamar Roya, Keinna cukup penasaran dengan perkataan dari Tara dan Kisi apakah benar yang mereka katakan. Keinna menempelkan kupingnya di pintu Roya tidak ada satu suara pun yang terdengar, Keinna memutuskan kembali ke kamar Tara menikmati mie yang dibuatnya.
"Ehh tadi aku liat tuan Xavier pergi buru-buru padahal hujan"
"Mungkin urusan kantor mendadak Uda biasa gitu"
"Iya dulu juga tuan Xavier pulang juga 2-3 hari jadi ngerasa rumah sendiri disini kerja juga bebas"