
Keinna diam lalu mengangguk apa lagi yang diharapkan nya menjadi pembantu pun akan dilaksanakan.
"Baiklah besok aku akan menghubungi orang yang menawarkan pekerjaan, untuk malam ini kita tidur bersama" Ujar Cindy tersenyum menggenggam tangan Keinna. Cukup berat untuk Keinna tersenyum sekarang.
Pagi dimulai di sini, tepat didepan rumah megah yang terlihat orang yang memilikinya pasti sangat kaya rumah Keinna bahkan tidak ada apa-apanya dengan rumah ini, dengan meneguk ludah susah payah Keinna memencet bel rumah itu. Seorang kepala pelayan membuka pintu melihat Keinna gadis yang cukup belia.
"Jadi kau yang akan menjadi pelayan baru disini?" Ujar kepala pelayan yang masih muda itu.
"Iya"
"Masuk lah"
Keinna masuk melihat dalam rumah itu, sangat mewah semua barang tertata dan tersusun rapi.
"Ada beberapa peraturan disini pertama kamar tuan hanya aku yang boleh membersihkan nya, kedua tuan tidak suka orang banyak bicara, ketiga jangan menggoda tuan muda karna tampang mu itu tidak akan berguna"
Keinna merasa ucapan pelayan itu begitu menusuk Keinna, Keinna tidak merasa bahwa dia akan menggoda tuan yang di maksud.
"Namaku Roya kepala pelayan, nama tuan kita Xavier Mark herison kau pasti pernah mendengar nama itu. Tuan jarang pulang, di dalam rumah ini hanya ada 4 pelayan termasuk kau, kau sepertinya cukup muda berapa usia mu?"
Dania berpikir Xavier sepertinya pernah dengar.
"17 tahun"
"17 masih sangat muda, ku harap kau tidak bermalas-malasan disini"
"Baik"
Roya menyerahkan baju pelayan, baju pelayan berwarna hitam putih seperti di sebuah film kebanyakan, cuman ini menggunakan rok cukup panjang.
keinna mengganti baju memulai awal dengan membersihkan tangga. Ini lah dia sekarang bukan lagi seorang tuan putri yang tidur santai di rumah, atau berbelanja keluar. Ia harus menjadi seorang pelayan seperti sekarang. Keinna masih kaku awalnya namun tiba-tiba saja dia menjadi biasa rumah ini sangat luas memerlukan banyak tenaga untuk mengerjakannya.
Hingga malam pekerjaan selesai bel rumah berbunyi. Saat Keinna ingin membuka pintu, namun Roya dengan sigap langsung berlari ke pintu itu dengan sigap.
"Tuan sudah pulang" Ujar Roya tersenyum, namun atasannya itu tidak menyahuti hanya merasa lelah.
Keinna melihat ke arah tuan yang dimaksud dia tercengang ternyata itu adalah Xavier Mark Herison, pendiri dari perusahaan Herison merupakan jajaran perusahaan sukses, Keinna sungguh tidak menyangka Xavier adalah bosnya dia pernah mendengar rumor bahwa Xavier adalah mafia namun rumor itu tidak bisa di buktikan.
Usia yang muda 28 tahun dia mampu membuat perusahaannya tidak bisa dikalahkan siapa pun, mendapatkan beberapa rumor berkencan dengan artis bahkan model. Mempunyai kulit putih berdarah campuran dengan tinggi 185 cm membuatnya terlihat sangat tampan.
Wanita mana yang tidak tergila-gila dengan pria tampan kaya raya, wanita mengerubunginya bagaikan laron.
Tanpa sengaja pandangan Keinna dan Xavier bertemu, Keinna langsung menunduk pura-pura mengelap pegangan tangga.
Mata Xavier menyipit melihat Keinna.
"Siapa gadis kecil itu?" Tanya Xavier kepada Roya.
"Dia pelayan baru tuan dia memang masih kecil usianya 17 tahun.
Xavier melihat wanita lekat itu rambut yang digulung menampilkan leher belakang, kulit putih mulus, tubuh yang bagus tidak terlalu tinggi atau pun pendek, rambut hitam panjang, dan usia dimana baru mencapai kedewasaan, Xavier berpikir saat pandangan mereka bertemu gadis itu menunduk apakah dia pemalu? tiba-tiba saja sudut bibir Xavier terangkat.
"Tuan apakah mau segelas kopi?" Tanya Roya menyadarkan Xavier yang sedang memperhatikan Keinna.
"Baik tuan"
Xavier duduk disebuah sofa menyesap kopi yang baru saja di buat, Roya begitu terpesona melihat Xavier yang duduk santai membaca buku. Roya curi-curi pandang saat mengantarkan sebuah Snack pengganjal perut.
Keinna menyusun beberapa bajunya di kamar pembantu yang cukup luas untuk seorang pembantu, melelahkan di hari pertamanya bekerja mungkin karna dia belum terbiasa mengerjakan ini semua. Keinna menggantung sebuah foto pernikahan ayahnya dan ibunya, Keinna memandangi foto itu dia harus tegar tidak bisa terus terperangkap dalam kesedihan.
Keinna sudah berkenalan dengan 2 pembantu lainnya Kisi dan Tara, mereka cukup ramah kepada Keinna namun hal yang selalu dibicarakan 2 pembantu itu adalah betapa hebatnya tuan rumah ini Xavier. Namun tampak berbeda dengan Roya yang seakan memusuhinya.
Pagi hari berlangsung Keinna langsung cekatan membuat sarapan untuk tuan Xavier yang sebentar lagi akan turun untuk sarapan.
Xavier turun baru saja Keinna ingin mengantar Roya sudah terlebih dahulu mengambil piring dari tangan Keinna.
"Biar aku saja" Ujar Roya berjalan dengan anggun sambil meletakan nampah berisi makanan dan minuman.
"Kalau urusan tuan Xavier, biarkan Roya saja dia akan marah jika ada yang mendekati tuan selain dirinya"
Ujar kisi memegang bahu Keinna.
"Iya Roya hanya kepala pelayan namun bertindak layaknya nyonya rumah, dia tidak segan memecat siapa pun yang berani mendekati tuan Xavier" Sambung Tara yang mendengar percakapan mereka
"Bukannya yang berhak memecat itu tuan Xavier?"
"Tuan Xavier menyerahkan urusan rumah kepada Roya, jadi Roya bertindak seenaknya"
"Oh biarlah lagian sepertinya Roya tidak menyukaiku" Ujar Keinna mengelap meja di depannya.
"Hal seperti itu wajar terjadi, kau sangat cantik jadi Roya tidak suka padamu pembantu yang juga cantik semua di musuhinya, Terlihat dari wajahmu kau seperti anak orang kaya Keinna " Tara memperhatikan Keinna dari atas hingga bawah.
"Ahhh tidak aku hanya orang biasa" Ujar Keinna canggung dan tidak menceritakan asal usul keluarganya.
"Sudah-sudah yuk lanjut nanti Tiga bisa marah dia marah seperti singa" Ujar kisi membuat Keinna dan Tara tertawa.
"Ada apa" Tanya Roya dengan suara lantangnya, mengejutkan ketiga orang disana mereka hanya bisa menggeleng tunduk lalu kembali mengerjakan urusan masing-masing kembali membersihkan seluruh ruangan.
Xavier pergi bekerja. Itu diperhatikan oleh Keinna yang menyemprot bunga pandangan mereka bertemu namun dengan cepat Keinna kembali pura-pura fokus pada tanaman.
"Tuan Xavier pulang setiap hari?" Tanya Keinna yang sedang menyemprot tanaman bunga kepada Tara yang sibuk memotong dedaunan.
"Tidak. Tuan jarang pulang padahal aku ingin memandang wajah tampannya setiap saat"
"Haha ada-ada saja kau mengidamkan bos mu sendiri"
"Emangnya kamu tidak Keinna"
"Tidak" Ujar Keinna membuat Tara tercengang kaget ada orang yang tidak mengagumi tuan Xavier.
"Hah Keinna kau masih manusia" Ujar Tara yang memegang kening Keinna.
"Ya manusia dong" Ujar Tara cemberut terlihat seperti anak kecil.
Tara berusia 23 tahun baru kali ini melihat seorang pelayan bekerja di rumah tuan Xavier baru berusia 17 tahun masih sangat belia. Mungkin saja Ada hal sulit yang baru saja dilalui Keinna.