
Ada apa" Tanya Xavier yang datang menghampiri perdebatan
"Xavier pecat pembantu ini yaa" Kesi bergelayut manja di lengan Xavier wajah memelas seakan dia yang ditindas.
"Kesi ingat apa yang kukatakan padamu" Satu perkataan berhasil membuat kesi bungkam mata Xavier yang kelam mampu membuat siapa pun takut.
Kesi tidak menyangka bahwa Xavier lebih memilih pembantu ini dari pada orang yang menemani dia tidur dan memuaskan hasrat nya.
Roya berpikir coba saja kalau dia yang menjawab Kesi pasti dirinya yang akan dibela tuan Xavier.
Xavier pergi dengan membawa Kesi namun dia hanya memakai Kesi sekali saja, Xavier tidak pernah berpacaran dengan wanita mana pun, wanita hanya teman tidur baginya.
Setelah ngantar Kesi mata Xavier berubah seperti iblis yang akan menghabisi mangsanya.
***
DORRRR!!
satu peluru pistol berhasil mengenai seorang pria yang diduga berani melawan.
"Selanjutnya kau"
Pria yang menyaksikan temannya sudah tertembak tubuhnya bergetar hebat, pria yang di depannya sungguh berdarah dingin dia adalah Xavier Mark Herison.
Xavier menyeringai mendapati lawannya menunduk takut. Xavier mengarahkan pistol ke kepala salah satu anggotanya yang ternyata penghianat.
"Owhh tunggu kau dalang dari semua ini kan? Aku dengar kau punya seorang putri" Tangan kanan Xavier dan beberapa anggota lainnya membawa putri dari penghianat itu yang tengah ketakutan wajahnya pucat, melihat manusia di tembak di depan matanya, matanya ikut membulat saat melihat ayahnya yang tengah babak belur.
"AYAHH!!" Pekik gadis itu menangis.
"kau lihat putrimu menangis untuk sepertimu apakah kau pantas dipangg ayah?" Xavier menggoreskan pisau ke pipi penghianat itu membuat putrinya semangkin menjerit ketakutan.
"Lepaskan ayahku!!" Tangisnya.
"Ah berisik sekali, kalian gilir gadis itu!" Perintah Xavier pada bawahannya. Gadis itu memberontak karena beberapa pria kini dengan pandangan nafsu mendekat ke arahnya.
"Jangan ku mohon lepaskan putriku! Kumohon terserah kau mau berbuat apa padaku, tapi lepaskan dia!" Pria itu tunduk memohon berlutut di bawah kaki Xavier.
"OOO kau harusnya tau siapa aku, tapi kau malah berani berhianat"
Benar dia adalah Xavier mafia yang terkenal dengan kekejamannya, dia adalah penguasa di negara ini tidak ada yang berani melawannya, berkhianat kepada Xavier berarti bosan hidup.
Selain ketua mafia Blackwolf dia juga seorang pemimpin perusahaan Herison, tidak ada yang tahu asal-usul keluarganya semua tertutup dengan rapat. Kekayaan dan kekuasaan membuatnya dihormati banyak orang.
"Kau sadar itu perbuatan mu, bawa putrinya"
Anggota Xavier membawa gadis itu pergi, Xavier tidak peduli walaupun gadis itu berteriak ataupun menangis dia tidak akan melepaskan penghianat ini.
Xavier menyeringai cukup menyeramkan, mata kelamnya menatap tajam penghianat, penghianat itu semangkin takut hingga menangis
benar saja Xavier menarik pelatuk pistol itu hingga suara tembakan berbunyi.
"Selanjutnya jika ada yang berani berhianat akan bernasib sama dengannya" Ujar Xavier dengan nada tegas kepada bawahan yang menyaksikan pembunuhan itu. Bawahannya yang lain tentu saja tidak berani. Mereka bungkam melihat Xavier yang pergi meninggalkan mayat itu begitu saja.
Xavier mencuci tangannya. Sebenarnya dia tidak benar-benar menyuruh bawahannya menggilir gadis itu, dia mengerti gadis itu tidak bersalah. Namun gadis itu diancam jika berani membuka suara dia akan bernasib sama dengan ayahnya.
Xavier meninggalkan markasnya kembali kerumah mengendarai mobil berkelas miliknya.
Xavier kembali melihat kepala pelayannya Roya, namun matanya mengincar sesuatu yang lain yaitu Keinna pelayan kecilnya, yang sedang melihat ke arah akuarium besar melihat ikan-ikan yang berenang kesana kemari dengan wajah yang lugu, benar-benar seperti anak kecil batin Xavier tanpa sadar bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman.
Roya melihat itu lagi-lagi kesal kenapa Xavier tidak memperhatikannya.
"Ehemm"
Mendengar suara itu lantas Keinna langsung menoleh dan mendapati bos nya disana sedang berdiri, Keinna langsung membungkuk hormat, keinna yang malu Ingin pergi namun satu suara menghentikan langkahnya.
Keinna melihat kerah Roya mendelik tajam kearahnya membuat Keinna sedikit ngerih, namun Keinna hanya dapat menuruti perintah bosnya.
"Baik tuan"
Xavier duduk sedang membaca buku mendengar suara gelas di letakan didekatnya, Xavier menoleh ke arah Keinna.
"Siapa namamu"
"Keinna Dealova tuan"
"Usiamu"
"17 tahun"
"Masih sangat muda, kenapa kau bekerja disini?" Tanya Xavier, Keinna diam mengigit bibir bawahnya bingung mau menjawab apa.
Bukannya menuntut atas pertanyaannya Xavier memperhatikan bibir ranum yang sangat menggoda itu, Xavier membayangkan bagaimana rasanya jika bibir itu dikecup ataupun dinikmatinya pasti sangat manis.
"Hanya ingin bekerja" Ujar Keinna namun Xavier hanya diam memperhatikan nya membuat Keinna melambaikan tangannya didepan wajah Xavier.
"Tuan" Xavier tersentak, dia diam.
"Masih terlalu muda..."
"saya dipecat tuan jangan" mata Keinna berkaca-kaca padahal Xavier belumĀ mengatakan apa pun namun Keinna seperti sudah mau menangis.
"Tidak ada yang memecat mu aku hanya bertanya"
Keinna kembali tersenyum menatap Xavier kembali.
"Bekerjalah dengan baik disini" Ujar Xavier membuat Dania menganggu senang lantas langsung pergi, Xavier tersenyum tipis berpikir dia mendapatkan sesuatu yang menarik.
Para pembantu lain melongo tidak menyangka bahwa tuan Xavier akan berbicara pada Keinna, mereka yang sudah lama bekerja saja tidak pernah di ajak berbicara. Bagaimana Keinna gadis kecil yang baru bekerja diajak berbicara bahkan tadi tanpa sengaja Xavier tersenyum.
"KEINNA!!KAU SANGAT BERUNTUNG"
Ujar Tara bersemangat.
"Hah? Kenapa?"
"Kami tidak pernah diajak berbicara hanya Roya yang pernah itu pun hanya untuk membuat teh atau makanan"
Roya yang sedang memotong sayuran tanpa sengaja mendengarkan percakapan itu, dia menghentakkan dengan keras pisau yang memotong sayuran itu. Roya tersenyum sangat mengerikan tanpa Roya sadari jarinya tidak sengaja tergores pisau, bukannya kesakitan Roya malah melihat harinya itu dengan sebuah senyum menyeramkan melihat darah yang mengalir dari jarinya entah kenapa senyuman Roya menjadi lebih lebar.
"Jadi apa saja yang tuan katakan padaku coba bilang pada kami" Tanya kisi yang heboh sendiri.
"Ku kira aku dipecat ternyata hanya menanyakan nama dan umurku" Ucapan polos Keinna mampu membuat Tara dan Kesi tercengang lagi.
Tuan Xavier sangat jarang berbicara pada pelayan dan Keinna malah diajak bicara tentang nama atau umur.
"Keinna kau sungguh Dewi dari mana" Ujar Tara memegangi bahu Keinna, Keinna hanya tersenyum kikuk.
"Jelas Keinna begitu cantik pasti ditanya, tidak sepertimu"Ejek kisi pada Tara yang mendelik tajam.
"Bukanya kita sama-sama tidak pernah di ajak bicara"
"Ehhh iya juga yaa haha" Keinna tertawa melihat kedua orang yang berada di dekatnya ini sungguh apa adanya.
"Iya kau pasti suka dengan tuan Xavier iyakan Keinna kejarlah akan ku dukung dirimu.
"Mana mungkin apalagi selera tuan Xavier model cantik tadi haha" Tawa Keinna.
Tidak mungkin aku menyukai Xavier yang terlihat mesum.