
Xavier melangkahkan kaki dimeja makan diikuti Caselin yang tak merasa canggung sama sekali. Mata Xavier melihat sekeliling hanya ada dua pembantunya disana Tara dan kisi ia tak melihat pembantu yang diciumnya tadi pagi.
Mungkin gadis itu sedang malu batin Xavier menyeringai.
"Xavier pembantumu cuman ada 3 orang?" Tanya Caselin melihat sekeliling sedari memasuki rumah Xavier yang dilihatnya hanya ada satpam, supir, dan 3 orang pembantu.
"Ada 4, kemana dia?" Tanya Xavier kearah Tara.
Tara sedikit tersentak kaget "Keinna sakit tuan dia istirahat dilamarnya"
Sakit? Apakah dia hujan-hujanan? Bodoh batin Xavier menggenggam erat garpu yang ia pegang dan menjadi sorotan mata Caselin.
Tara tersenyum sendiri, berbisik dengan kisi "Tuan ngomong sama aku sepertinya tuan Uda mau ngelamar aku"
Hampir saja kisi tertawa mendengarnya namun dengan cepat ia mencubit Tara agar tidak tertawa dengan perkataan bodohnya. "Kan Uda aku bilang istri tuan itu aku" Balas Kisi berbisik.
Bisik-bisik itu sama sekali tak mengganggu Xavier namun berbeda dengan Caselin yang menatap tajam kedua pembantu disana membuat keduanya diam.
Xavier mengelap bibirnya dengan tisu lalu menatap wajah Kisi yang hampir membuat kisi pingsan karena terpesona dengan mata kelam itu.
"Aku lihat dipipi gadis itu terdapat luka? Ada apa dengannya" Tanya Xavier membuat Kisi dan Tara saling adu pandang.
"Itu tuan emmm anu" Tutur Kesi takut, Xavier hanya menaikan sebelah alisnya menunggu jawaban.
"Keinna berantem sama Roya" Tutur Kesi dengan takut sama halnya dengan Tara.
Caselin mengangkat alisnya penasaran dengan gadis yang dimaksud itu, kenapa Xavier terlihat sedikit peduli dengannya.
"Panggil Roya kesini" Tutur Xavier yang langsung diangguki Tara.
Tara berlari dengan cepat menuju tangga mengetuk pintu dengan keras namun yang ia dengar hanyalah suara seorang menangis bahkan meraung membuat bulu kuduk Tara meremang. Berkali-kali Tara mencoba mengetuk pintu hasilnya sama tak ada jawaban hingga ia kembali turun.
"Maaf tuan Roya tidak membuka pintu"
"Hmm"
"Xavier kenapa kau mempunyai pembantu seperti itu" Tutur Caselin dengan kakinya menyentuh bawah kaki Xavier mencoba menggodanya."Bagaimana jika aku bekerja disini" Mata Xavier kini terangkat melihat kearah Caselin.
"Jangan bermain-main"
"Aku tidak bermain-main aku serius" Ucap Caselin melangkah mendekati Xavier mencoba mengelus rahang tegas itu namun Xavier terlebih dahulu menyentuh tangan Caselin.
"Antar dia ke kamar tamu" Ujar Xavier dingin. Tara dan Kisi cukup terkejut biasanya wanita yang dibawa Xavier tidak lain tidak bukan untuk memuaskan hasratnya namun kali ini berbeda wanita ini malah diperintahkan ke kamar lain.
Sama halnya dengan Caselin terkejut dengan perkataan dari mulut Xavier, percuma ia berdandan cantik bahkan memohon kepadanya ayahnya untuk mencoba bekerja sama dengan perusahaan Xavier.
Xavier menaiki tangga menuju kamarnya ia tak berminat menyentuh Caselin wanita yang berkali-kali mencoba menggodanya, ia membawa Caselin kerumah hanyalah untuk menghargai ayahnya direktur bank dikeramaian tadi yang mencoba memperkenalkan putrinya padahal Xavier sudah mengenal terlebih dahulu karena tak ingin membuat suana canggung Xavier menerima perkenalan itu dan berujung Caselin memaksa untuk membawa kerumahnya.
Tidak kekamarnya melainkan Xavier menaiki tangga lagi menuju lantai 3 kamar pembantu ia terhenti didepan kamar Keinna, Xavier memutar kenop pintu yang tak bisa terbuka karena terkunci dari dalam. Xavier mengumpat dalam hati apa yang dilakukan gadis bodoh itu didalam dia sakit.
Xavier memilih turun kembali ke kamarnya sendiri.
Keinna tersentak bangun terkejut dari tidurnya padahal hari masih pukul 5 pagi, Keinna keluar dari kamarnya dan mendapati Tara yang telah bangun juga.
"Ehhh Keinna gimana? Mendingan?" Tanya Tara mendekat sambil memeriksa suhu Keinna.
"Lumayan apanya kamu masih demam gini" khawatir Tara.
"Udah gak papa kak, entar tuh nenek lampir marah lagi aku tiduran gak kerja"
Tara hanya menggeleng kepala "Oiya Keinna yuk kita siap-siapin dapur dulu tuan bawa wanita kerumah"
"Hah bawa cewek!" Tutur Keinna dengan nada sedikit lebih keras.
"Iya. Uda biasakan?" Heran Tara melihat tanggapan Keinna.
Bos kurang ajar setelah mengambil ciuman pertamaku malah enak-enakan sama cewek lain batin Keinna kesal.
Setalah sejam berkutik di dapur Kisi dan Roya datang ikut membantu sebelum Xavier dan Caselin duduk kebawah untuk sarapan. Makanan telah selesai semua dan telah rapi diatas meja. Para pelayan telah berbaris rapi didekat meja makan yang siap melayani.
Xavier turun disertai wanita dengan tampilan mewah sangat seksi, Keinna awalnya malas memperhatikan kedua insan yang didalam pikirannya habis bercinta.
Caselin turun melihat keempat pembantu disana sebenarnya ia ingin melihat pembantu yang membuat Xavier bertanya-tanya. "Keinna?" Sapa halus Caselin.
Keinna mengangkat kepalanya yang awalnya menunduk kini melihat suara yang menyapanya. Matanya terpaku pada sosok yang dikenalnya Caselin teman lama Keinna.
Mereka saling kenal karena satu sekolah. Di sekolah mereka tidak terlalu dekat hanya sebatas saling mengenal namun itu awalnya tapi setelah lama Caselin sering mengganggu Keinna dengan berbagai macam hal. Ada hal yang membuat Caselin mempunyai rasa iri untuk Keinna dimana Keinna bertunangan dengan pria idaman di sekolahnya.
Xavier melihat wajah Keinna yang sedikit pucat "Kau sakit?" Tanya Xavier. Keinna melihat kearah Xavier lalu memutar bola matanya malas. Xavier yang kesal tidak ditanggapi lalu mendekatkan wajahnya ke Keinna sambil membisikan sesuatu.
"Apakah kau mau mengulangi hal itu?" Bisik Xavier sambil menyeringai. Keinna yang mendengarnya langsung mendelik lalu menyorot tajam kearah Xavier.
"Hmphh" Keinna membuang wajahnya kesamping malas melihat bosnya yang mesum.
Roya dan Caselin yang melihat itu lantas memasang wajah masam serta tangan yang terkepal.
Caselin mendekat ke Keinna dengan tangan yang dilipat di dada "Keinna ternyata berita keluargamu hancur itu benar? aku turut perihatin" Caselin dengan wajah perihatin mendekati Keinna namun Keinna tahu dibalik wajah perihatin itu menyimpan ejekan untuk dirinya.
"Terimakasih atas perhatian mu tapi aku tidak butuh" Balas Keinna mengepal tangannya.
Dia masih sombong heh kita liat bagaimana kau masih bisa sombong seperti dulu Tutur Caselin dalam hati.
"Tidak menyangka bahwa tuan putri menjadi seorang pelayan sekarang" Ejek Caselin yang dibalas senyuman oleh Keinna.
"Terimakasih pujianmu aku senang" Tutur Keinna yang sebenarnya geram.
"Sama-sama"
"Kalian saling mengenal?" Tanya Xavier.
"Iya dia adalah teman sekelas ku dulu" Tutur Caselin mendekat kearah Xavier.
"OOO begitu"
"Iya apakah kau tau Xavier dia adalah Keinna Dealova"
Xavier mengingat kembali nama Keinna Dealova hingga dia mengingat nama Roy Kelvin yang mempunyai seorang putri bernama Keinna Dealova yang bertunangan diusia muda tapi saat itu Xavier tidak datang di acara pertunangan padahal ia diundang.