Mafia'S Little Maid

Mafia'S Little Maid
kolam berenang



Hujan telah Redah Xavier memutuskan untuk pulang hari sudah memasuki malam Xavier tiba di depan pintu seperti biasa Roya telah menyambutnya dengan senyuman. Xavier melihat ke arah aquarium besar untuk melihat pembantu kecilnya yang biasa memperhatikan ikan namun dia tidak ada di sana.


Xavier melihat jam yang sudah lewat mungkin saja dia istirahat batin Xavier, Xavier memutuskan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.  Xavier mengambil bir di dapur pergi kebelakang kolam berenang sekedar ingin melihat malam yang dipenuhi bintang.


Mata Xavier saat kini menatap gadis yang tadi di carinya ternyata berada di kolam berenang membersihkan dengan mengambil dedaunan yang berjatuhan di air dengan sebuah saringan.


Mata Xavier teralih sebentar ke arah jam tangan, hari sudah lewat namun dia masih membersihkan kolam berenang siapa yang menyuruhnya batin Xavier kesal.


Xavier melihat ke arah Keinna yang menggunakan kaus putih sepaha tanpa menggunakan bawahan panjang menampilkan pahanya yang putih dan mulus rambutnya diikat ke atas menampilkan lehernya, pikiran Xavier menjadi nakal melihat itu.


Keinna terlihat kepayahan mengambil sebuah daun yang cukup jauh dan sulit di gapai membuat Keinna berusaha semangkin dekat hingga tanpa sengaja tangannya tergelincir membuatnya terjatuh di dalam kolam berenang.


Xavier terkejut langsung menghampiri Keinna yang tak kunjung naik kepermukaan, benar dugaannya Keinna tidak bisa berenang. Xavier langsung menyebutkan diri menyelamatkan Keinna yang tenggelam. 


Xavier mengangkat tubuh Keinna yang basah, Keinna pingsan, Xavier kebingungan menepuk-nepuk pelan pipi Keinna, namun dia tak juga sadar Xavier menekan dada Keinna berharap air yang tertelan keluar, Tanpa pikir panjang Xavier langsung memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut kembali menekan dada Keinna hingga Keinna memuntahkan air dari mulutnya.


"Uhukk...uhukk" Xavier merasa lega langsung memeluk tubuh Keinna dengan erat membuat Keinna bingung.


"Tu...tuan"


Xavier langsung mengangkat tubuh mungil Keinna dari kolam berenang menuju kamarnya, tangan Xavier terasa hangat saat memeluk Keinna membuat Keinna merasa nyaman juga kehangatan yang menjalar, Keinna melihat wajah Xavier yang begitu tampan memandang lurus membuat Keinna deg-deg an.


Xavier menurunkan Keinna di tempat tidur,  Xavier memandangi Keinna dengan wajah mesum Keinna yang belum sadar menatap polos Xavier, tiba-tiba Keinna sadar baju yang digunakannya putih dan transparan benar saja ********** terlihat melalui baju itu.


Keinna dengan cepat menutup bagian dadanya" ahhh jangan liat!" Ujar Keinna memalingkan wajahnya


Xavier yang merasa belum cukup puas memandang pandangan indah tadi hanya dapat menghembuskan nafasnya namun tetap tersenyum nakal.


"Aku mau ke kamar aku" 


"Disini saja"


Xavier berjalan ke arah lemari mengambil sebuah kemejanya dan di lemparkan kepada Keinna, Xavier langsung ke kamar mandi mengganti bajunya yang basah dan membiarkan Keinna mengganti baju disana.


Keinna mengganti bajunya, namun entah kenapa dirinya sangat mengantuk hingga tak tertahankan hingga Keinna tanpa sadar tertidur di ranjang milik Xavier.


Xavier keluar dengan handuk yang diusapnya ke kepala mata nya menuju ranjangnya melihat Keinna yang tertidur menggunakan kemeja Xavier yang terbalut ke tubuhnya pandangan yang membuat Xavier senang apalagi kancing bagian atas Keinna terbuka menampilkan belahan buah dada Dania.


Sisi kelaki-lakian Xavier bangun, Xavier mendekat ke arah Keinna melihat wajah Keinna yang tenang saat tertidur pulas, Xavier mengelus paha Keinna yang mulus tanpa lecet.


Xavier menaikan tangannya lebih ke atas lagi, namun tiba-tiba Keinna membalikkan tubuh merubah posisi tidur, Xavier langsung sadar dengan yang dia lakukan.


Xavier tahan dirimu batinnya langsung ke kamar mandi untuk mandi air dingin menghilangkan nafsu bejatnya.


Astaga aku sudah mandi air dingin batin Xavier namun dia mencoba mengatur diri dan tidur di dekat Keinna sambil memeluk tubuh mungil pembantu kecilnya menghirup aroma yang sangat harum bagi Xavier. Tanpa di sadari Xavier telah lelap dengan memeluk Keinna begitu juga Keinna yang merasa tidurnya terasa lebih nyaman.


Pagi menampakan sinar yang telah cerah, mata Keinna samar-samar terbuka akibat silau yang terkena dirinya, Keinna mersakan dia bangun di kasur yang sangat empuk dan nyaman, Keinna mengucek matanya mengumpulkan kesadaran yang belum utuh dengan benar.


Keinna melihat sekeliling yang berbeda matanya terbelalak saat menyadari ini bukan kamarnya.


"Sudah bangun"


Keinna melirik ke sumber suara yang terdapat Xavier tengah duduk di sofa sambil membaca buku, Keinna berusaha mengingat kejadian yang baru terjadi semalam. dia ingat bahwa dia baru jatuh di kolam berenang Xavier menolongnya lalu membawa dia kesini karena ngantuk Keinna tertidur.


Keinna mengingat kembali saat Xavier memandang kaos yang dia gunakan transparan terkena air membuat wajah Keinna merah malu, Xavier melihat wajah Keinna yang memerah lantas menyeringai mendekati Keinna.


"Sebentar lagi aku bekerja namun kau masih di sini apakah gaji mu harus"  Bisik Xavier tepat di kuping Keinna


Belum sempat Xavier melanjutkan perkataan Keinna langsung memotong "Tidak boleh!" Ujar Keinna dengan wajah marah namun bukan terlihat seram malah lucu di mata Xavier.


"Aku belum makan" Tutur Xavier membuat Keinna dengan cepat turun dari kasur berlari keluar menyiapkan sarapan, dia tidak mau gajinya berkurang sedikitpun.


Xavier menyeringai seakan dia tahu apa yang menarik dari yang dilihat sekarang, Xavier melanjutkan aktivitas nya menggunakan dasi untuk segera turun.


Para pembantu terbelalak saat melihat Keinna turun dari lantai dua yang jelas adalah kamar Xavier apalagi baju yang di gunakan Keinna adalah milik tuan rumah, Tara dan kisi menganga sedangkan Roya mengepalkan tangannya marah, dia memotong sayuran sambil melihat ke arah Keinna. Keinna bergidik ngerih akibat pandangan aneh Roya.


"Keinna apa yang kau lakukan di kamar tuan astaga"


"Iya Keinna apakah kau baru melakukan hal panas?"


"Huss ngomong apa sih" Bantah Keinna.


Keinna membantu hidangan yang belum selesai, tapi perkataan Tara dan kisi tentu belum usai, Keinna di hujani banyak pertanyaan, Keinna bingung memulai dari mana apalagi melihat ke arah Roya yang seakan bisa melahapnya.


"ceritanya panjang tapi ini gak yang kalian pikirin kami gak ngelakuin apa pun" tangan Keinna berbentuk silang untuk meyakini perkataan yang dia lontarkan, Tentu saja Tara dan kisi tidak langsung percaya mereka mengeluarkan senyum menggoda namun terkesan menyebalkan.


"Ihhh percaya sama aku dong kami gak lakuin apa pun"


"Ahh masak sih lalu kenapa kemeja tuan kamu pake?"


Tuk..tuk


Suara pisau yang semangkin kuat mengalihkan perhatian mereka bertiga melihat ke arah Roya yang hawa sekitarnya terlihat mencekam. Mereka memutuskan untuk diam.