
"Papa!!" Pekik seorang gadis dengan tangis yang begitu pilu, mengetahui bahwa orang yang di sayangnya telah pergi.
"Maafkan kami nona, kami sudah berusaha sebaik mungkin" Ujar sang dokter.
Keinna Dealova gadis 17 tahun yang baru saja lulus dari SMA anak satu-satunya dari Bram seorang pengusaha kaya dan digadang-gadang sebagai tuan putri harus menerima kenyataan pahit, bahwa satu-satunya keluarga yang tersisa pergi meninggalkan dirinya.
Ibunya telah meninggal saat Keinna lahir dan sekarang dia harus menerima fakta bahwa ayahnya juga meninggal ikut menyusul sang ibu.
Perusahaan yang seharusnya jadi milik Keinna diambil alih oleh sang paman, dengan alibi bahwa papa Keinna berhutang banyak pada sang paman. Tidak ada sedikitpun aset tersisa untuk Keinna.
"Maafkan aku kak, aku akan menjaga putrimu seperti anakku sendiri"
Sungguh sangat menjijikan melihat Pablo, paman Alexa meneteskan air mata palsu dipemakaman ayahnya.
kata-kata yang di lontarkan Pablo seakan-akan dialah orang paling dekat dengan keluarganya.
Faktanya! Pablo lah yang membuat papa Alexa terkena serangan jantung, bahkan menggunakan cara licik untuk menggantikan posisi papanya.
"Keinna jika membutuhkan sesuatu. Paman akan siap membantu" Ujar Pablo memegang bahu Keinna.
Sungguh keinna sangat muak dengan semua ini, ingin sekali rasanya Keinna tepis tangan Pablo berteriak dengan lantang, pergilah dari sini!
Pemakaman telah usai, semua telah pergi tersisa Keinna sendiri disana. Dia duduk meringkuk. Tangannya mengepal tanah pemakaman sang ayah.
Meratapi papanya yang sudah tertimbun tanah. Air matanya tumpah kembali.
"Papa kok pergi sih!hiks Alexa gimana? Alexa sama siapa? Alexa di tinggal!"
Hujan melanda sangat deras.
Kesedihan Alexa kembali memuncak nafasnya tersengal tidak beraturan, dadanya seakan mati rasa.
"Neng hujan neduh dulu" Ujar penjaga pemakaman. Saat ini kuping Alexa terasa tuli tidak mendengar apa pun, hanya bayang-bayang sang papa yang terlintas.
Penjaga pemakaman hanya pasrah dan meletakan sebuah payung di sebelah Alexa, lalu pergi.
"Papa maaf ya, Keinna gak bawa payung hikss...hiks papa sama Mama yaa sekarang jadi papa gak kesepian"
Keinna tersenyum tetap menunggu meratapi tanah itu hingga Keinna melihat sekeliling tanpa terasa bahwa malam.
"Pa Keinna pulang ya, papa kan Uda ketemu mama Keinna ingat kalau papa dulu sering liat Poto mama hikss"
"Sekarang papa Uda ketemu mama pasti hikss daa papa"
keinna berdiri kakinya sungguh kram, namun dia harus berjalan untuk pulang dengan keadaan apa pun.
Keinna telah tiba di depan gerbang rumahnya, banyak kenangan yang terus berputar-putar dia belom menyangka bahwa ayahnya pergi.
"Pintu tidak dikunci?" Batin Keinna karna dia sangat ingat dia sudah mengunci pintu saat pergi ke pemakaman tadi.
Keinna masuk rumahnya begitu kosong tidak ada orang tapi sebuah suara membuat Keinna membulatkan matanya.
"Hansel..."
Keinna semangkin tidak percaya suara yang begitu liar dan menja itu menyebut nama tunangannya
"Hansel?" Ujar Keinna mengikuti arah suara yang penuh dengan gairah itu.
Keinna mematung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya bahwa
Tunangan dan sepupunya sedang hal yang paling tidak di sangka Keinna, Keinna melihat sepupunya Sabrina Maroline sedang bergelut manja dibawah kukungan sang tunangan Hansel Clark.
"Hansel!" Ujar Keinna setengah berteriak. Hansel menoleh kearah Keinna mengeluarkan senyum miring, memutuskan penyatuan dirinya dengan Sabrina.
"Hansel kenapa berhenti" Sabrina menahan tangan Hansel. Hansel tersenyum.
"Owh sepupu kesayanganku" Sabrina mengikat handuk ke tubuhnya, mendekat ke arah Keinna.
"Sabrina kau!" Tangan Keinna ingin melayang ke pipi Sabrina dengan sigap Hansel langsung menangkisnya dan menghempaskan tubuh Keinna ke dinding hingga membuat kening Keinna mengeluarkan darah. Keinna memegangi keningnya yang terasa berdenyut.
"Keinna kau bukan lagi tuan putri, Hansel sekarang adalah milikku"
"Kau sama seperti ayahmu dasar j*Lang perebut hak orang!"
Sabrina mendekat menunduk melihat Keinna yang memegangi keningnya menahan darah yang mengalir, Sabrina menekan pipi Keinna dengan keras menatap dengan senyum miring.
"Yang j*lang itu kau, kami sudah lama saling mencintai, kau saja yang lambat menyadarinya" Keinna melotot melihat ke arah Hansel.
"Benarkah Hansel?"
"Tentu saja, aku bertunangan denganmu hanya karna keluarga" Ujar Hansel yang kini telah menggunakan kemejanya.
"Ayahku baru saja pergi dan kau memutuskan pertunangan ini, bahkan melakukan hal seperti itu di dalam rumahku"
"Hahaha rumahmu? Ini rumah sudah jadi milikku, dan kau siapa datang menggangu hal indah ku" Dania melotot tidak menyangka bahwa satu-satunya peninggalan ayahnya akan diambil juga.
"Ti...tidak mungkin"
"Kau bisa memastikannya dengan ayahku sekarang tolong tinggalkan rumahku!!"
Keinna linglung menyeret sebuah koper berisi pakaian-pakaiannya, dia melangkah kaki lunglai bingung bagaimana kehidupannya. Kepalanya berdenyut dengan darah di keningnya, ayahnya baru saja pergi, bahkan mendapati tunangannya berselingkuh dengan sepupu sendiri.
"Dasar laki-laki bajingannnnn!!" Teriak Keinna dipenuhi amarah ditengah deras hujan yang menghantam. Petir menggelar saat Keinna mengucapkan kata-kata itu, tangisnya pecah meringkuk di pigir jalan tubuhnya basah kuyup semua hartanya kini jadi milik sang paman sepenuhnya.
Keinna melanjutkan langkahnya bagaimana pun dia harus berani menghadapi kenyataan ini, dia berjalan ke sebuah rumah susun. Di sana ada rumah teman dekatnya, mereka bertemu saat di cafe Keinna sedang makan malam tanpa sengaja bertemu dengan Cindy sebagai pelayan cafe, Keinna meminta kontaknya lama-kelamaan mereka semangkin dekat.
Tok...tok
pintu terbuka menampilkan Keinna yang menggigil basah kuyup. Cindy datang saat acara pemakan ayah Keinna namun karma Keinna di dekati banyak orang dia tidak berani mendatanginya.
"Kei kenapa kau hujan-hujanan? Ayo masuk keringkan tubuhmu"
Cindy mengambil handuk mengeringkan tubuh Keinna, memberikan baju untuk dipakai.
"Cindy" Ujar Keinna dengan wajah sedih.
Cindy langsung memeluk Keinna dengan erat membiarkannya untuk menangis tersedu-sedu disana, dia tahu Keinna sangat sedih sekarang. Keinna pasti akan bercerita saat tenang.
"Huu huuu kenapa semua orang meninggalkan ku"
Cindy mengelus Keinna, tubuh Keinna panas dia demam karna hujan-hujanan sepertinya, ditambah lagi pukulan tentang ayahnya.
Setengah jam menangis Keinna sedikit tenang namun matanya bengkak.
"Cin Hansel selingkuh dengan Sabrina" Ujar Keinna membuat mata Cindy melebar karna terkejut.
"Apa! Sabrina sepupumu itu, dasar j*Lang akan ku beri pelajaran"
"Tidak Cindy jangan, rumahku juga perusahaan ku diambil paman ku sendirian sekarang hahaha" Keinna menertawakan diri sendiri.
"Kau tidak sendirian Keinna ada aku, aku akan merawat mu, tidak hanya aku kau juga akan bertemu dengan laki-laki hebat yang mencintaimu"
"Cindy aku tidak ingin merepotkan mu, aku ingin minta tolong Carikan aku pekerjaan"
"Kei" Cindy menatap Keinna dengan wajah senduh.
"Tolong yaa pekerjaan apa saja"
"Ada tapi sebagai pembantu"