
"Kerja di sini bukan tempat kalian bergosip!" Sindir Roya. Mereka hanya tunduk jika tidak nenek lampir di depan mereka akan mengamuk padahal dia hanya kepala pelayan.
Xavier kini berada di meja makan terpampang banyak jenis sarapan ada roti, telur, susu dan masih banyak lagi Roya dengan anggun mengantarnya kehadapan Xavier sesekali dia modus berdekatan ke bosnya.
Keinna dan Roya diam menunggu Xavier makan kini telah menjadi tugasnya, awalnya Keinna sendiri lah yang diperintahkan menunggu makan Xavier tapi Roya malah mengikuti tapi Keinna sedikit risih dengan bajunya belum pernah Keinna berpenampilan seperti ini bahkan didepan mantan tunangannya.
"Sore ini aku mau di bawakan bekal" Ujar Xavier mengelap mulutnya dengan tisu Karen baru selesai makan.
Roya begitu semangat mendengarnya, dia akan kekantor Xavier melihat perusahaan Herison, Roya membayangkan pakaian yang dia gunakan nanti dan semua orang menunduk hormat padanya itu hal yang paling dia senangi.
"Baik tuan. Akan saya antar nanti siang"
"Tidak bukan dirimu, tapi dia" Tunjuk Xavier ke Keinna membuat gejolak kesal yang membabi buta di hati.
"Tuan ta"
"Tidak ada tapi"
Ingin rasanya Keinna berteriak melalui kuping Xavier, apa daya Xavier adalah bos walaupun Keinna mengumpat juga hanya umpatan dalam hati yang bisa ia lakukan.
Xavier mengelap mulutnya dengan tisu, melangkahkan kaki ke depan. supir telah menunggu dengan mobil sport mewah berwarna hitam yang siap membuka kan pintu untuknya.
Keinna terkesiap, Roya kini telah mendekat dengan tangan terkepal "Aku sudah bilang jangan cari perhatian dengan tuan Xavier apakah kau tidak dengar?"
Keinna diam bingung menjawab apa emosi Roya meledak-ledak.
"Kau malah keluar kamar menggunakan kemeja milik tuan kau kira kau siapa!" Bentak Roya menarik kerah baju Keinna. Keinna diam ia harus menahan emosi sesaat nya.
Tara dan kisi bingung menunduk tapi tidak tega dengan Keinna yang masih pekerja baru bahkan masih kecil sudah menjadi sasaran Roya.
"Keinna" panggil Kisi pelan namun dihadiahkan pelototan tajam Roya.
"Kau bawahan ku tidak ada hak mu bicara disini aku bisa berbuat semauku jika kau tidak berhenti bicara"
"Keinna tidak bersalah" Sambung Tara meskipun dia takut tapi dia harus membela kebenaran.
"Lancang sekali kau!!" Tangan Roya hendak melayang ke wajah Tara dengan cepat Keinna menahannya.
"Kau hanya kepala pelayan di sini bahkan seorang bos tidak berhak memukul pelayannya, kau pikir kau hebat" Ujar Keinna tatapannya menjadi tajam, Roya yang tak mau kalah kembali menatap dengan pandangan serupa langsung menepis tangan Keinna.
"kalian itu di bawahku aku kepala pelayan bahkan aku bisa memecat kalian langsung di sini"
"Sejak kapan ada pelayan atas ada pelayan bawah toh namamu juga tak jauh-jauh dari kata pelayan jangan berlagak mengatur kau bukan seorang bos di sini" Tantang Keinna dengan tangan yang di lipat silang di dada.
Kisi dan Tara melihat ingin sekali bertepuk tangan dengan mental baja Keinna yang berani melawan Roya selama mereka bekerja di sana belum ada seorang pun yang bisa melawannya
"J*Lang kecil penggoda tidak tahu malu"
"Iya aku menggodanya lalu kau bisa? Tadi malam aku tidur di ranjangnya sangat nyaman"
Roya tidak tahan mendengan ocehan Keinna, hatinya meledak-ledak dengan segera tangannya melayang ke pipi Keinna membuat Keinna sangat terkejut merasakan pipinya, keinna geram dengan segera membalas kembali ke pipi Roya bahkan melakukannya dua kali. Roya yang kaget langsung menarik rambut Keinna tapi Keinna tidak akan tinggal diam dia membalas menarik rambut Roya, adu Jambak dan adu pukul tidak bisa di hentikan di antara mereka rumah Xavier di jadikan ring tinju, Tara dan kisi panik memisahkan kedua orang di sana.
"Woii kisi bantuin woii tarik dia!"
"Matamu buta gak liat ini aku ngapain hah?"
Mata satpam membulat di kala melihat itu, satpam menarik Roya sedangkan kisi dan Tara menarik Keinna tapi tangan keduanya seakan ingin saling mencakar lagi.
"Sudah-sudah! Berani sekali kalian membuat keributan di rumah tuan Xavier hah!"
"Dia ini pembantu murahan menggoda tuan Xavier" Tunjuk Roya dengan amarah.
"Terus gak senang hah! Mau maen lagi ayo!" Ujar Keinna menggulungkan lengannya seperti preman pasar, membuat kisi dan Tara mendelik.
"SUDAH! Tuan Xavier bisa marah jika kalian begini saya juga yang capek"
Keempat orang di sana diam mendengar perkataan Xavier tapi Keinna dan Roya saling memutar bola matanya tidak senang satu sama lain.
"Uda kalian saling minta maaf sekarang"
"Ogahh!" Ujar Roya langsung naik ke atas tangga menuju kamarnya, satpam menarik nafasnya geleng-geleng heran dengan tingkah Roya yang melawan pembantu kecil.
"Udah kalian beresin rumah tuan Xavier biarin aja Roya dulu" Ujar Xavier dan di angguki oleh mereka.
Roya di kamar kini tengah memeluk patung yang di tempel foto Xavier "Hikss tuan Roya di jahatin"
"Padahal aku gak salah tapi dia cari gara-gara katanya dia goda tuan aku gak mau tuan itu punya aku, punya aku"
Roya terus mengulang kata-kata itu seperti orang gila memeluk mencium foto Xavier bahkan melakukan hal tidak senonoh, Roya memakai kemeja putih Xavier yang di ambilnya saat menggosok baju.
"Kemeja ini punya aku gak boleh kasih yang lain kalau tidak dia AKU HABISI" Senyum sangat menyeramkan tergambar jelas saat Roya berkata seperti itu.
***
Keinna yang berantakan di obati Tara dan kisi yang tak henti-hentinya mengoceh bahwa ia sangat nakal berani sekali mengganggu Roya. Bekas cakaran masih terpampang di wajah Keinna.
"Keinna ini bekas cakaran sakit yaa"
"Enggak tapi aku puas Uda balas dia"
"Baru kali ini ada orang yang berani lawan Roya cuman kamu ini lah Keinna. Kamu kecil-kecil jago juga yaa"
Jelas papa dulu masuki aku karate walau cuman sebulan karena gak sanggup sih batin Keinna tersenyum. Keinna meringis tangannya di penuhi luka cakaran.
"Kamu tau kan perusahaan Herison Keinna?" Tanya Tara.
"Tau perusahaan papa ku ehhh maksudnya perusahaan Herison kan yang paling besar di sini mana mungkin aku gak tau hehe" Ujar Keinna menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. Hampir saja dia mengatakan perusahaan papanya tidak jauh dari perusahaan Herison.
"Baguslah kalau kamu tahu, nanti saja kita masak ini masih pagi kita beres-beres yang lain aja dulu deh"
"Oke aku beresin gudang di lantai atas yaa kak Kis"
"Ehhh jangan!!" Teriak kisi dan Tara kompak.
"Tuan melarang kita masuk sana gudang yang di belakang aja rapikan"
"Hah kenapa?"
"Kakak juga gak tau Keinna"