Mafia'S Little Maid

Mafia'S Little Maid
Makan dikantor



Keinna masih diam didalam lift beberapa kli Xavier melirik sebentar Keinna, Keinna tau dirinya tengah dilirik Xavier tapi dia sangat marah sekarang ini kali kedua dia dituduh penggoda dengan  orang Xavier pertama dengan Kesi model  membuat rasa murka kini membara dihati Keinna.


Lift berhenti dilantai yang mereka tuju, langkah Xavier langsung menarik tangan Keinna lagi-lagi Keinna harus menurut saja sebal sekali melihat atasannya.


"Aduhh pelan sedikit tuan" Titah Keinna karena Xavier jalan terlalu cepat.


Xavier memalingkan wajahnya mendapati Keinna yang tengah melihatnya dengan wajah cemberut. Bukankah langkahku sudah pelan batin Xavier yang lupa bahwa tingga Keinna dengannya tidak sama.


Xavier duduk di kursinya sedangkan Keinna masih mematung disana melihat sekeliling ruangan Xavier yang sangat luas.


"Ehemm" Xavier senagaja batuk membangunkan Keinna dari alam bawah sadarnya langsung mendekat ke Xavier memberikan kotak bekal.


Keinna masih saja cemberut membuat Xavier heran bahkan saat Xavier makan saja Keinna tetap menekukkan wajahnya


"Ada apa?" Tanya Xavier.


"Tidak ada" Balas Keinna cuek membuat Xavier kesal.


"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Xavier kembali membuat Keinna heran tidak biasanya atasannya banyak bicara.


"Iya cantik aku tau tuan" Balas Keinna diiringi dengan mata yang memutar, Xavier heran gadis kecil ini begitu berani kepadanya.


Xavier mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban selanjutnya dari bibir ranum itu.


"Ya jelas kesel dituduh menggoda sama karyawan mu bukannya kasih tau ke resepsionis pelayanmu Datang atau apa heh buat bete aja" Gumam Keinna tanpa sadar, hingga terdengar ke telinga Xavier.


"Tidak akan ada lain kali" Ujar Xavier yang membuat Keinna terkejut, Xavier dapat mendengar perkataan nya.


"Bawakan aku makanan" Ujar Xavier menelpon seseorang.


Selang beberapa menit muncul wanita cantik dengan menggunakan Dress ketat menghampiri mereka, matanya tak lepas dari Keinna yang tengah memandang balik wanita seksi itu.


"Tuan Xavier ini makanannya" ujar manja wanita yang merupakan sekretaris Xavier. Xavier masih sibuk dengan laptop dihadapannya tanpa peduli dengan pandangan menggiurkan di hadapanya itu.


"Apakah ada yang lain tuan Xavier?"


"Tidak, kau boleh pergi" Ujar Xavier langsung diangguki sekretarisnya tak lupa menatap sinis Keinna sebelum pergi.


Aneh batin Keinna.


"Hei, Kemari makan ini" Perintah Xavier membuat Keinna terheran-heran.


"Terima kasih tuan, tapi saya sudah makan"  Tolak Keinna dengan senyuman.


"Makan temani aku, jika tidak gajimu akan kupotong"


"Hah? Jangan tuan" Ujar Keinna dengan wajah memelas.


"Makanlah" perintah Xavier kembali membuat Keinna terpaksa menurutinya, Xavier menyeringai sekarang ia paham apa yang menjadi kelemahan Keinna adalah gaji.


Keinna duduk dihadapan Xavier dan terpaksa makan kembali padahal perutnya telah kenyang. Rasa kesal kini bertambah.


Xavier hendak mengambil sendok yang dekat dengan dada Keinna.


"Akhhh mesum, tolong CEO Herison mesum!!" Teriak Keinna sambil menutup mata dan juga menutup rapat dada menggunakan kedua tangannya membuat Xavier terkejut. Hawa dingin tiba-tiba menjalar membuat Keinna membuka matanya mendapati Xavier dengan senyum menyeramkan.


Xavier bangkit dari kursinya mendekat ke arah Keinna membuat Keinna berdiri lalu mundur takut.


"Tuan sa...saya bercanda kok" Ujar Keinna tubuhnya terus mundur dengan sigap Xavier menarik tangan Keinna mengangkat tubuh mungilnya ke meja untuk duduk disana. Keinna bingung sekaligus takut Xavier terus memandangnya tapi Keinna harus tetap tersenyum.


"Ehhh tuan makan yuk, jangan marah yaaa, jangan potong gaji aku" Ujar Keinna memelas dengan mata yang sedikit berkaca-kaca seperti anak anjing.


Bukannya mendengarkan perkataan Keinna, Xavier malah memandangi bibir ranum yang menggodanya apalagi pandangan Keinna yang kini memelas, Xavier dengan sigap mendekatkan bibirnya dengan Keinna


Membuat Keinna heran, jarak mereka semangkin dekat dan semangkin dekat.


Cup.


Mata Keinna mendelik sempurna dikala dua benda kenyal itu menyatu, Xavier mencium,******* bibir Keinna yang begitu manis dirasanya. Keinna memukul-mukul dada bidang Xavier tapi Xavier malah menggenggam tangan Keinna, mata Xavier terbuka dikala Keinna tak merespon ciumannya, namun yang didapatnya tatapan tajam Keinna bukannya berhenti Xavier malah menggigit bibir manis itu hingga mulut Keinna terbuka membuat Xavier dengan leluasa menulusuri setiap inci dari mulut Keinna.


Keinna tak terima karena Xavier langsung menciumnya terus mencoba memberontak hingga ciuman itu berlangsung lama barulah Xavier melepaskan ciuman itu. Keinna langsung menghirup udara dengan sebanyak-banyaknya.


"Hah kau!" Ekspresi marah Keinna kini terlihat jelas, namun bukannya merasa bersalah Xavier malah menyeringai memegangi bibirnya.


"Kenapa?" Tanya Xavier dengan ekspresi menyebalkan di mata Keinna.


"Ihhh itu ciuman pertama aku Balikin!" Marah Keinna dengan memukul-mukul dada bidang Xavier.


Xavier sedikit terkejut bahwa itu ciuman pertama gadis kecil itu, namun Xavier tersenyum licik dikala mengingat kejadian dimana Keinna tenggelam dan Xavier menolongnya sambil memberikan nafas buatan.


"Sepertinya itu bukan yang pertama" Ujar Xavier membuat Keinna semangkin murka. Mata Xavier menajam dikala melihat ada bekas cakaran di pipi Keinna yang cukup jelas, tangan Xavier mengelus pipi Keinna wajahnya mendekat.


"Brengsek!!" Ujar Keinna langsung mendorong Xavier, berlari dari ruangan CEO itu, meninggalkan Xavier disana dengan seringainya.


"Manis" gumam Xavier sambil memegangi bibirnya.


Keinna berlari dengan tergesa-gesa keluar dari perusahan Xavier tak perduli beberapa orang yang di senggolnya, Keinna ingin cepat kembali.


Keinna sangat marah mengingat kejadian tadi, dia dan bosnya telah berciuman, kenapa dia mempunyai bos yang mesum seperti Xavier.


Sepertinya itu bukan yang pertama apa maksudnya ia kira aku sama dengan wanita-wanita yang disewanya dasar majikan brengsek, menyebalkan, mesum batin Keinna marah-marah tak jelas.


Dirinya tak peduli jika supir tengah menunggunya diparkiran dia ingin pulang dengan jalan kaki. Keinna melihat batu dihadapannya langsung ditendang dengan sekuatnya.


"Akhhh sakit!!" Teriak Keinna sambil memegangi kakinya, ia tak menerka-nerka berat batu, Keinna asal menendang saja namun siapa sangka batu itu sangat sakit.


"Brengsek kenapa punya bos kaya begitu sih! Ahhh huaaa ciuman pertamaku" Jerit Keinna ditengah jalan tak peduli jika dirinya menjadi pusat perhatian.


Ingin sekali rasanya Keinna menangis baru bertengkar dengan Rilyi, ciuman pertamanya direbut paksa, bahkan batu pun ikut menindasnya.


"Ahhhh apa ada yang lain setelah ini!!"


Duarr!!


Baru saja Keinna berteriak seperti itu petir bersuara dengan keras disertai hujan melanda dengan sangat lebat membuat Keinna lemas sekita dengan apa yang baru saja diucapkannya.


Rasanya Keinna benar-benar akan menangis sekarang namun apa boleh buat menangis tidak menyelesaikan masalah, Keinna lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan agar segera sampai rumah dengan cepat.