
Taksi tak ada yang lewat satupun, mungkin saja karena hujan yang sangat deras. Keinna kini berpikir kenapa ia tak berlari ke parkiran saja dan pulang dengan mobil ia kini merutuki kebodohannya.
"Ini masih jauh lagi" gumam keinna protes.
Sebuah mobil berhenti didekat Keinna, mobil hitam mewah yang sangat dikenalnya siapa lagi jika bukan mobil mantan tunangannya, Hansel.
Hansel turun dengan menggenggam sebuah payung menatap Keinna yang sudah kuyup dengan hujan berbeda dengan pandangan Hansel ke Keinna yang cenderung lembut pandangan Keinna ke Hansel justru sangat memusuhi.
Orang yang paling tidak ingin ditemui keinna setelah Sabrina ialah Hansel Clark, yang dimana disaat hari terpuruk yang dihadapi Keinna ia malah asik-asikan bercinta dengan sepupunya sendiri. Mungkin hati laki-laki bajingan yang dihadapannya sudah mati.
Ingin rasanya Keinna melempar Hansel dengan lumpur namun apa boleh buat Keinna harus memperbanyak rasa sabarnya untuk tidak meladeni orang dihadapannya, yang pasti ia ingin balas dendam atas apa yang mereka lakukan ke Keinna.
"Kau mau kemana Keinna?" Tanya Hansel lembut seraya menggenggam tangan Keinna.
Keinna menepis tangan Hansel dengan lantang "Heh mau pulang!"
"Dimana rumahmu biar ku antar masuklah" Tutur Hansel sambil membuka pintu mobil.
"Hah rumah? Bukannya rumahku telah kalian rampas. Bahkan dengan tidak tahu malunya kalian bercinta disaat aku sedang jatuh!"
"Keinna jangan ingat yang lalu ayo masuklah ke mobil kau bisa kedinginan" Ujar Hansel menarik tangan Keinna kembali yang tentu saja akan ditepis oleh Keinna.
"Dibanding duduk berdua dengan pria bajingan sepertimu aku lebih memilih hujan-hujanan!" Bentak Keinna.
"Kau bisa sakit!"
"Itu lebih baikkk!! Dibanding berdua denganmu membuat sekujur tubuhku akan merasa jijik bajingan!!" Tutur Keinna langsung bergegas pergi.
Keinna berjalan Melawati mobil Hansel namun tanpa sengaja ia menginjak becek, ia menggerutu kesal namun terlintas ide licik dipikirannya. Keinna mengambil lumpur itu lalu menggumpal kan dengan tangan tak perduli jika tangannya harus kotor.
Keinna melempar lumpur itu kearah mobil Hansel dan tepat mengenai kaca samping membuat senyum puas disudut bibir Keinna. Keinna tertawa puas langsung pergi dari sana.
Hansel yang semula termenung mendengar suara seperti lemparan bergegas memeriksa dan mendapati mobilnya terkena lumpur dan lumpur itu menetes hingga ke pintu mobil.
Hansel hanya bisa menggeleng percuma mobilnya dilempar lumpur hujan deras lumpur akan hilang dengan sendirinya karena air yang jatuh.
Keinna terus menggerutu dijalan ia sudah menggigil kedinginan namun rumah Xavier masih sangat jauh dan ia kini kembali berpikir betapa bodohnya melempar mobil Hansel dengan lumpur tanpa dicuci kena hujan saja bisa hilang sendiri.
"Harusnya ku lempar batu aja tadi itu kaca mobil, biar sekalian dia kesel ahhh bodoh banget cuman lempar pakai lumpur" Gumam Keinna kesal.
Keinna terus melanjutkan perjalanan hingga rumah Xavier terlihat sudah, Keinna merasa sangat senang walaupun sambil menggigil dengan langkah yang sedikit berlari Keinna cepat-cepat memencet bel yang terdapat dipagar yang besar dan tinggi itu, menunggu satpam membuka untuknya.
Satpam terkejut melihat Keinna yang telah pucat kedinginan satpam dengan sigap langsung cekatan membuka Gerbang membiarkan Keinna masuk.
Rasa kesalnya kini bertambah mengingat kejadian apa saja yang dialaminya hari ini dimulai dari Xavier yang dengan sengaja menciumnya ditambah dia berjalan ditengah derasnya hujan dan lagi bertemu dengan Hansel.
Keinna tak lagi memperdulikan Tara dan kisi yang memanggilnya berkali-kali dengan nada khawatir yang diperlukan Keinna hanya segera mengganti baju dan mendekap selimut agar ia kembali hangat ditempat tidurnya sendiri.
Keinna menggosok gigi cukup lama kembali mengingat Xavier menciumnya dengan paksa membuat Keinna merasa geram dan marah ia mencuci wajahnya siapa sangka ia mendapatkan bos yang bahkan melakukan hal mesum padanya.
Keinna tidur ia sangat kedinginan memakai selimut tebal bahkan bersin-bersin sendiri didalam kamarnya tak lama matanya merasa berat karena mengantuk Keinna tertidur.
"Sini biar aku saja!" Tutur Roya mengetuk pintu dengan sangat kencang.
Tok...tokk
"BUKA PINTUNYA PEMALAS!! BUKAN WAKTUNYA UNTUK TIDUR-TIDURAN!" Gedor Roya secara paksa.
"Roya mungkin Keinna sedang kelelahan biar kami saja yang menggantikan?" Tutur kisi yang mendapat anggukan dari Tara.
"Iya benar Keinna juga sudah banyak bekerja dan juga hanya memasak tidak terlalu repot"
"Heh! Lalu dia makan gaji buta! Dia bukan nyonya disini" Bentak Roya.
"WAKTUNYA UNTUK MEMASAK HEH PEMBANTU BARU!!"
Perlahan knop pintu berbunyi dan pintu terbuka menampilkan Keinna dengan keadaan yang lemas bahkan wajahnya pucat tak berwarna membuat Tara dan Kisi terkejut.
"Keinna kau kenapa?" Tanya Tara dan Kisi serentak memegang bahu Keinna, membuat Roya naik darah.
"UDA JANGAN SOK LEMAS CEPAT KAU BUKAN NYONYA DISINI!!" Ujar Roya menarik paksa Keinna yang tengah lemas dan tak dapat membalas.
"Uda Keinna biar kami saja, istirahat lah sana" Ujar Roya memegang bahu Keinna yang sedang memotong bawang.
"Gak papa kak ini bentar doang kok"
"Yang cepat masaknya! Tuan Xavier bakal membawa tamu kerumah masak hidangan lebih!" Perintah Roya yang bagaikan mandor disana.
"Dagingnya panggang lebih lama! Sushinya tampilkan lebih mewah, apa yang kau lakukan lambat sekali" Ujar Roya yang terus memerintah tanpa melakukan apa pun.
Keinna sungguh tak punya tenaga untuk melawan ia hanya dapat menuruti saja dapat memasak saja sudah bagus karena dirinya sangat lemas.
Makanan tersaji dengan baik diatas meja, Keinna langsung naik dipapah Kisi sementara Tara masih disana merapikan dapur. Sementara Roya asik melihat Tara tanpa ada niatan membantu.
Bel berbunyi dengan segera Roya setengah berlari ke pintu membuka dengan semangatnya namun hasilnya membuat kecewa Xavier membawa seorang wanita yang sangat cantik merupakan anak dari direktur bank caselin.
Muka Roya yang awalnya senyum berubah menjadi masam saat melihat wanita itu, dengan tak sopan nya Caselin masuk dengan kerumah Xavier tanpa mendahulukan Xavier.
"Wow tuan Xavier rumahmu sangat megah"
Xavier tak menjawab apa pun melainkan hanya masuk begitu saja mendahului Caselin, Caselin hanya mengekor Xavier begitupun halnya dengan Roya.
"Apakah makanan sudah selesai?" Tanya Xavier kepada Roya.
"Sudah tuan semua sudah tersedia diatas meja"
"Baik kau boleh pergi" Perintah Xavier yang di angguki oleh Roya. Roya pergi langsung naik ke tangga atas terburu-buru.
Tara dan Kisi tahu tujuan Roya adalah kamarnya itu selalu terjadi saat Xavier membawa seorang wanita cantik kerumahnya.