
"Aneh"
"Kakak juga penasaran sih cuman kalau kata tuan Xavier tidak boleh, berarti sama sekali gak boleh"
Keinna termenung sejenak berpikir apa yang di sembunyikan di dalam sana, rasa penasaran kini berusaha merasukinya namun pikiran itu langsung di tepisnya mentah-mentah.
Rumah Xavier sangat besar namun senantiasa bersih dan rapi padahal hanya 4 pelayan yang ada di dalam, kadang Keinna bingung harus mengerjakan apa karena semuanya sudah rapi. Rumah ini sangat besar namun sangat sunyi Xavier yang jarang pulang apakah seorang CEO sangat sibuk.
Entah kenapa saat Keinna melihat mata Xavier seperti ia tampak kesepian terkadang matanya juga tersirat sebuah dendam, Keinna yang tidak ingin pikir panjang langsung saja membuka gudang.
Ia bingung apalagi yang harus dikerjakannya gudang bahkan rapi dan tertata jika Keinna menyusun ulang pun hasilnya akan tetap sama, Keinna lebih memilih menutup pintu,
Kembali ke dalam rumah.
Jam belum menunjukan tanda-tanda makan siang, Keinna juga melihat Tara dan kisi yang tengah duduk pasti mereka juga sama seperti Keinna bingung mengerjakan apa.
"Bingung aku Keinna,ngerjain apa semua udah rapi, kadang aku juga bingung fungsi aku di sini ngapain tapi gajinya besar serasa jadi nyonya haha" Tawa Kisi di sambung Tara dan Keinna yang ikut tertawa bersama.
"Haha tuan pulang cuman untuk makan sama tidur doang sih jadi rumah rapi terus" Ujar Tara meminum teh yang tersaji di meja.
"Mungkin nanti tuan punya anak bakal sering pulang rumah juga bakal ramai"
"Iya tapi tuan gak pernah punya pacar kalaupun wanita yang di bawanya pulang itu wanita bayaran untuk kebutuhan nya sebagai pria" Sambung Tara membuang nafasnya pasrah.
"Kan istri tuan Xavier itu aku loh" Bangga Kisi dengan percaya dirinya berkata seperti itu membuat tawa menggelegar dari Keinna dan Tara.
Keinna kira dia bakal lepas dari pertanyaan kenapa ia bisa keluar dari kamar tuan Xavier, ternyata salah pertanyaan itu terus di tanyakan walaupun Keinna sudah menjelaskan sebenar-benarnya Tara juga Kisi tak berhenti mengejeknya.
Jam sebentar lagi menunjukan ke jam makan siang Keinna dan yang lain dengan cepat masak tapi Roya tidak juga turun hal itu di biarkan saja oleh ketiganya mereka terbiasa.
Keinna kini sudah rapi dengan kaos dan rok pendek di atas lutut di tambah tas kecil yang sudah tersangkut di bahunya. Ia kira dia akan menaiki taksi untuk ke kantor Xavier ternyata salah Xavier telah menyuruh supir untuk menjemputnya.
Keinna tepat berdiri di gedung raksasa tempat dimana Xavier berada, gedung yang dibangun Xavier susah payah dengan kedua tangannya. Langkah kaki Keinna memasuki kantor, banyak staf dan karyawan lalu lalang, Keinna langsung mendatangi resepsionis.
"Permisi saya ingin bertemu CEO Xavier apakah beliau ada ditempat?"
"Maaf dik ada urusan apa yaa?"
"Saya ingin mengantar makanan" Ujar Keinna memperlihatkan tempat bekal.
Resepsionis heran dengan menaikan sebelah alisnya beserta tangan yang terlipat di dada, kedua resepsionis disana saling berbisik hingga terdengar di kuping Keinna.
"Ehh ini gadis kecil paling mau godain tuan Xavier"
"Iya tampangnya aja polos, udah bilangin tuan Xavier lagi pergi"
"Iya menggoda tuan Xavier dia kira dia siapa"
Keinna merasa kesal dibicarakan seperti itu sesekali kedua resepsionis disana memandangnya dengan sinis saat berbisik membuat Keinna tak tahan.
Keinna memukul meja resepsionis "Saya mau mengantar makanan bukan menggoda tuan Xavier, Saya pelayan rumahnya!" Tutur Keinna dengan nada sedikit keras membuat arah mata tertuju pada mereka.
"Heh mna mungkin gadis kecil kaya kamu jadi pelayan!kamu kira kami bodoh!" Bentak pelayan tak terima
"Emang bodoh gak semua wanita datang kesini cuman buat godain tuan Xavier!" Balas Keinna tak mau kalah.
"Dasar j*Lang udah deh taktik kamu gak mempan"
"Aku bukan j*Lang justru sebaliknya kau yang j*Lang jelek"
"Apa kau bilang!"
Mereka menjadi pusat perhatian disana, Keinna ingin sekali meluapkan amarahnya. Bagaimana bisa perusahaan sebesar ini merekrut resepsionis yang tak kompeten.
Xavier yang memang menunggu makan siangnya hingga turun kebawah karena bisa jadi pelayannya tersesat, malah disungguhi pemandangan yang tak disangkanya perdebatan gadis kecil dan resepsionis kantornya.
"Ada apa ini?" Tanya Xavier dengan suara beratnya.
Hening seketika ketika Xavier disana, resepsionis beserta pegawai lain langsung diam ada beberapa yang bubar karena tidak biasanya Xavier mau mengurusi hal kecil seperti ini dan lagi ini adalah jam kerja bukan waktu untuk melihat perdebatan, Keinna kini melihat ke arah Xavier pandangannya sebal Xavier tahu itu, Keinna merasa sebal kenapa Xavier tidak memberi tahu resepsionis bahwa akan ada yang datang mengantar makanan jika begitu Keinna tak akan menjadi pusat perhatian dan dianggap penggoda.
Belum ada yang berani membuka mulut hingga tatapan Xavier sedikit menajam menatap lama resepsionis disana, kedua resepsionis itu meneguk ludahnya susah payah takut dengan Xavier bahkan tangannya bergetar tapi jika tidak berbicara mereka akan tahu akibatnya.
"Begini tuan, Gadis ini datang katanya ingin memberi makanan. Kami berkata kamu harus membuat janji tidak boleh langsung menemuinya tapi dia memaksa" Bohong pelayanan itu membuat kerutan di kening Keinna.
"Itu bohong! Aku tidak memaksa! Ujar Keinna memegang lengan Xavier dengan ekspresi wajah marah sekaligus tak terima.
Xavier melihat mata Keinna yang tak terlihat kebohongan disana, tangan kanan Xavier, Ken datang menghampiri mereka berdua cukup terkejut dengan tuannya yang mengurus masalah kecil.
"Ken beginikah cara bawahan mengurus resepsionis tidak kompeten di perusahaan?" Tanya Xavier diiringi dengan pertanyaan dingin membuat siapapun merinding termasuk Keinna yang kini bahunya tengah dipegang Xavier.
"Tuan maaf tuan ini salahku" Ujar Ken membungkuk maaf lalu menatap tajam kedua resepsionis yang telah bergidik ngerih.
"Tuan Xavier maaf tuan maaf sungguh maaf, kami salah harusnya kami membiarkan nona ini menunggu"
"Dia orang ku, langsung antarkan ke ruangku" Ujar Xavier mempererat rangkulannya membuat mata Keinna mendelik entah kenapa jantungnya berdegup kencang seperti ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
Xavier melihat kearah Keinna yang wajahnya tengah menunduk cukup heran biasanya gadis ini akan mengomel, Xavier hanya menarik tangan Keinna untuk pergi dari sana menuju kedalam ruangannya
"Ken urus sisanya aku tidak ingin ada kedua kali" Ujar Xavier langsung melirik kearah kedua resepsionis yang tengah bergetar ketakutan dengan tatapan Xavier.
"Baik tuan tidak akan ada lagi"
"Tuan Xavier kami mohon tuan jangan! Tuan Xavirrr! Kami salah!" Teriak kedua gadis disana yang jelas tak akan didengar lagi oleh punggung yang menjauh itu.
Kedua resepsionis kini menatap Ken yang tengah tersenyum, senyum yang sangat manis namun terkesan menyeramkan.