
"Ahhh lihat ini sangat cantik!" Ujar Tara kegirangan dengan sebuah baju mahal merek ternama.
"Punyaku juga cantik, Tuan Xavier sangat baik memberikan kita barang yang sangat mahal"
Malam hari Xavier menyerahkan beberapa tempat untuk para pelayannya yang berisi pakaian yang sangat mahal. Xavier menitipkan ke Roya untuk membagikan ke semua pelayan. Roya melaksanakannya. Di kamarnya Roya berputar-putar menggunakan dress berwarna merah membayangkan dia dan Xavier sedang berdansa bersama. Roya bahkan tertawa sendiri sangking senangnya sekarang.
"Tuan Xavier terima kasih gaunnya" Ujar Roya berbicara pada Foto Xavier yang ditempelkannya pada sebuah patung.
Keinna berada di kamarnya melihat betapa indahnya gaun untuknya itu, sangat pas ditubuhnya namun dia sungguh bingung kapan dia akan memakai gaun ini dan untuk acara apa dia bukan lagi tuan putri keluarga kaya, Keinna sadar dia hanya pembantu sekarang.
"Keinna tuan Xavier memanggilmu, katanya harus secepatnya kesana" Ujar kisi mengetuk kamar Keinna. Keinna yang bingung tidak mengganti bajunya langsung menemui Xavier.
Xavier melihat Keinna yang begitu mempesona sekarang dengan dress diatas lutut, berwarna hitam membentuk lekuk tubuhnya sangat pas saat digunakan Keinna, apalagi rambutnya terurai panjang benar-benar membuat Xavier ingin menyentuh rambut halus itu tubuh Keinna sangat indah diusianya yang baru 17 tahun. Sepertinya dugaan Xavier benar Keinna menginginkan baju seperti ini.
"Maaf tuan ada apa?" Tanya Keinna gugup menunduk malu.
"Buatkan aku teh"
"Baik tuan, tapi saya akan mengganti baju ini dahulu"
"Tidak perlu buatkan saja sekarang"
Keinna hanya menurut dan mengangguk takut membuat bosnya ini marah jika harus menunggunya mengganti baju.
"Baik tuan" Keinna pasrah melengos pergi membuat teh, Roya melihat itu langsung mengepalkan tangannya. Mendatangi Keinna yang berada di dapur dengan sengaja menyenggol lengan Keinna.
"Dasar caper biar apa pake-pake baju yang dikasih tuan mau sok cantik?" Keinna diam sangat malas menanggapi kepala pelayan satu ini.
"Bukannya di beli untuk di pakai?" Ujar Keinna sebenarnya juga dia tidak ingin memakai gaun ini didepan bosnya, namun karna Xavier memanggil menyuruh cepat apa boleh buat.
"Berani sekali kau melawanku, apakah kau masih kau disini!!" Roya meninggi kan suaranya, Keinna hanya diam melanjutkan membuat minuman yang tertunda. Karena tidak ditanggapi Roya pergi ke luar dapur dengan kesal.
Heh cari perhatian tuan Xavier dengan baju yang dibelinya aku juga bisa, lebih cantik lihat saja Batin Roya langsung pergi ke kamarnya, Kisi dan Tara yang melihat itu hanya mengangkat bahu isyarat tidak tahu.
Roya memakai baju merah yang di berikan untuknya, mendandani dirinya secantik mungkin, Rambutnya di uraikan dengan panjang sebahu, menggunakan Parfum bahkan tidak terhitung sudah berapa banyak semprot yang digunakannya hingga wanginya menyeruak dimana-mana, Roya menatap dirinya di cermin mempoles lipstik merah di bibirnya.
"Sempurna"
Suara sepatu heels bergema dari tangga hingga Tara dan kisi menganga melihat tampilan Roya yang sudah seperti nyonya dalam rumah, Roya membuat sebuah cemilan di dapur langsung mendatangi Xavier dengan langkah yang sangat sensual. Xavier heran melihat pelayannya yang satu ini.
"Tuan ini cemilan mu" Ujar Roya menyelipkan beberapa helai rambutnya dibelakang kuping. Xavier kini merasa begitu tidak nyaman karna parfum yang digunakan Roya begitu menyengat di Indra penciumannya.
"Roya"
"Parfum mu sangat mengganggu" Ujar Xavier membuat Roya melotot sekaligus terkejut.
Keinna datang dengan membawa secangkir kopi, entah kenapa Xavier lebih senang memandangi gadis polos yang satu ini yang bahkan sangat cantik tanpa polesan apa pun, untuk ukuran badan Keinna lebih bagus di banding Roya namun dalam hal tinggi Roya lebih unggul.
Keinna meletakan kopi didepan Xavier, Xavier melihat Keinna mata mereka bertemu, namun Keinna langsung berpaling seperti biasa. Roya melihat itu kesal setengah mati dia yang berdandan namun Keinna yang di lihat.
"Pergilah bagaimana aku bisa makan jika terus mencium parfum" Ujar Xavier, Keinna melotot padahal dia sama sekali tidak menggunakan Parfum. Keinna tidak menjawab dia lantas pergi.
"Yang kusuruh pergi bukan dirimu" Ujar Xavier membuat Keinna memberhentikan langkahnya, Mata Xavier yang tajam langsung melirik kearah Roya, Roya terkejut langsung saja pergi.
Keinna bingung kenapa dia tidak disuruh pergi juga kan tugasnya sudah selesai membuat kopi, Keinna hanya memperhatikan Xavier yang minum dan memakan cemilan yang di buat oleh Roya itu sungguh membuat dirinya sangat kesal.
Apa-apaan berdiri disini liatin dia makan tawarin gitu batin Keinna kesal melihat Xavier yang hanya diam makan dan membuat Keinna bingung untuk apa fungsinya disini sebagai pajangan.
Walaupun Keinna diam sambil tersenyum namun dalam senyuman itu terdapat beberapa umpatan kesalnya untuk Xavier. Xavier yang makan sepertinya tahu bahwa Keinna kesal namun dia hanya bisa tersenyum sekecil mungkin entah kenapa Xavier merasa ingin Keinna ada di dekatnya.
Xavier selesai makan, Keinna merasa kesalnya sudah berada di ujung namun dia harus menahan karna Xavier adalah atasannya tidak boleh membantah.
"Kau boleh pergi dan makan" Ujar Xavier meninggalkan meja makan, Keinna serasa seperti dipermainkan ingin sekali membanting meja makan yang sangat besar dan panjang berukuran untuk 12 orang kehadapan wajah Xavier.
Keinna memasak makanan untuknya, pembantu disini bebas memakan atau pun memasak apa pun asal tidak satu tempat dengan majikan pelayan mempunyai dapur sendiri, Xavier sangat pengertian sebagai seorang bos selain gaji yang tinggi, Pasilitas yang yang terpenuhi Pelayan cukup bebas melakukan sesuatu karna Xavier jarang pulang.
Roya memperhatikan patung yang ditempel Foto Xavier, dia membuat meja makan di dalam kamarnya seolah-olah dia sedang makan malam romantis bersama Xavier dengan sebuah lilin yang menghiasi kegilaannya malam ini.
"Tuan Xavier aku cantik bukan?" Roya bertanya pada patung yang jelas tidak akan menjawabnya.
"Tuan Xavier aku sangat cantik dengan gaun mu, ayolah sebut namaku lagi, Roya. aku sangat senang mendengarnya suaramu sungguh sangat seksi"
Roya mengelilingi patung itu seolah-olah dialah Xavier lalu menciumnya hingga terdapat bekas-bekas lipstik diFoto itu.
"Aku sangat mencintaimu Xavier, kau tidak menyukai parfum ku, aku langsung membuangnya, kau harus menatapku seperti sekarang" Ujar Roya membalikan patung itu ke arahnya.
Tara dan kisi ikut memakan masakan yang di masak Keinna.
"Keinna kau seperti berasal dari keluarga kaya kau sangat cantik menggunakan gaun ini terlihat sangat berkelas.
"Iya tidak seperti Roya kau sangat berbeda sangat cocok untukmu Keinna" Kisi dan Tara tertawa membayangkan Roya yang tiba-tiba muncul seperti tadi.
"Hei jangan begitu, bagaimana jika Roya dengar" Ujar Keinna.