
Sejak terima telepon dari Adele kemarin malam, gue jadi kepikiran terus.
Bagaimana caranya ya, untuk bisa jadi makcomblang antara hubungan Adele dan Danis?
Gimana kalo Danisnya gak suka sama Adele dan Jelita gagal makcomblangin mereka?
Adele pasti marah sama gue.
Dan gue sangat gak suka permusuhan.
'Duuuh, bingung nih. Gue mesti gimana dong?'
Maka dalam hati, gue pun berdoa sekuat hati semoga Adele amnesia dan lupa kalau dia naksir sama Danis apalagi berniat melibatkan Jelita sebagai makcomblang.
Tapi sepertinya doa gue kurang di dengar.
Mungkin pas berdoa tadi gue lupa pakai Bismillah, kurang Tahajud juga kali ya? Ah yang naksir orang siapa, terus kenapa jadi gue yang repot sih?
Sehingga siang hari ini, tiba-tiba saja Adele sudah bertengger manis di bangkunya Suzan untuk berbicara rencana dan juga strateginya dalam menembak Danis.
Melalui gue.
Pakai apa coba tebak ?
Surat cinta yang ditulis tangan langsung oleh Adele.
Mana kertas suratnya warna pink, wangiii lagi. Ditambah sebatang coklat silverqueen.
Menang banyak tuh cowok!
"Jel, sesuai janji lo kemarin. Lo mau kan mewakili gue ngasihin surat cinta ini buat Danis. Tapi ingeeet... awas kalo sampe lo baca isi suratnya."
Sebelum melanjutkan, Adele sempat menengok kekiri dan kekanan.
Lalu berujar sambil berbisik.
"Ini misi rahasia kita."
Dalam hati gue menjadi gusar.
Misi rahasia kita? Misi rahasia elo kali Del...
"teruuss.. ini harus gue kasihin kapan?" gue bertanya ragu-ragu.
"Lebih cepat, itu lebih baik." Sambar Adele.
Gue membisu saking tak sampai lagi kata-kata yang harus gue omongin ke Adele.
"Pliiiisss..." sambung Adele sambil merapatkan kedua tangannya dengan gaya namaste.
Gue menghela nafasnya sedalam mungkin.
Hampir aja gue lupa kan menghembuskan kembali nafas klo gak ingat sama tugas fisika yang harus gue kumpulkan siang ini juga.
Kenapa Adele suka banget nambah-nambahin beban gue sih?
Udah beban sama pe-er fisika, ditambah beban tanggung jawab karena sudah terlanjur janji mengiyakan tawaran Bantuan untuk Adele.
Mungkin wajah gue ini mirip plang bansos (bantuan sosial) kali ya??
"Okeee! Baiklah! Pulang sekolah nanti, gue anterin surat ini ke Danis."
Gue pun berjanji kemudian.
Nah, kan!
Ah elah, gue juga siiih suka obral-obral janji.
Ntar pusing sendiri deh pas ditagih janjinya.
Obrolan gue dan Adele terpotong lantaran Adit tiba-tiba menghampiri kearah meja gue.
"Jel! Ntar jam 2 latihan basket yak! Akan ada pengumuman penting." Ujar Adit.
Waduh? Dadakan.
Mana gue belom ijin pulang terlambat nih ke ortu.
Hmmm... terpaksa mengandalkan Bang Ido lagi deh.
"oke!" Balas gue sambil mengacungkan jempol jari tangannya.
Lonceng jam pulang sekolah telat berdentang nyaring.
Gue cepat-cepat membereskan buku-buku kedalam tas.
Tak sengaja, mata gue tertuju pada sepucuk surat cinta pink nan wangi milik Adele, juga sebatang coklat yang pastinya itu semua untuk Danis seorang.
Hmmm... inget, tugas wajib nih.
Dan gue juga gak mau di cap ingkar janji.
Cukup lagu Audi aja yang punya judul 'Janji diatas Ingkar'.
Maka setelah tas tersangkut di punggung, gue segera keluar dari kelas, menyusuri koridor sekolah yang ramai lalu-lalang siswa yang juga sibuk kepingin pulang.
'Oh my God! Gue kan harus minta ijin dulu sama Bang Ido untuk minta tolong sampaikan ke mama, kalau hari ini gue akan pulang terlambat. Tapi kalo gue ke kelas Bang Ido duluan, nanti Danis keburu pulang. Nah, kalo gue ke kelas Danis dulu, malah gue gak akan ketemu Bang Ido. Gue harus gimana??'
Saking asiknya gue melamun sambil jalan, tanpa sengaja gue menabrak Nanda dan gue hampir aja berteriak latah.
"Sialan lo!"
Gue memaki tanpa sadar.
Jelas saja, makian gue barusan membuat Nanda melotot heran.
"What!?"
"Salah! Maksud gue, gue yang sial. Hehe..."
Iya, sial banget.
Lebih sial karena gue bodoh mau aja nurutin permintaan Adele.
Gue menatap Nanda sambil cengengesan.
"Ih, what's mean sial?"
Nah, lo! Bingung kan gue ngejelasinnya sama tuh bule?
Untung ada Tineukeu yang langsung menyambar.
"Latihan nari yuk! Kita kan udah sepakat latihan mulai hari ini."
"Ah! Iya, gue lupa. Tapi, gue harus ke kelas Bang Ido dulu buat minta tolong ijin ke nyokap."
"okee... kami duluan ke rumah Ika ya! Ditunggu, loh Jel!"
"beres!"
"Bye, Jeli!"
Nanda dan Tineukeu berlalu dari hadapan gue.
"Bye!"
Gue menyusuri koridor menuju deretan kelas 3A.
Untung kali ini pas-pasan Bang Ido baru keluar dari dalam kelasnya sehingga gue gak perlu susah payah ngintip-ngintip kayak kemarin.
"Abang!" Gue memanggil sambil berlari-lari kecil.
Bang Ido menoleh cepat.
Didepan kelas Ridho, nampak teman-teman cewek sekelasnya yang mulai caper melalui gue.
"Hai, Jelita. Jangan lari-lari, nanti jatoh looh."
Seru mereka sok akrab.
Gue hanya melempar senyum seadanya.
"Maaf, kak."
"ada apa, Jel?"
"gitu doang?"
"iya. Itu doang. Hehe..."
"pulangnya Jelita nanti gimana?"
"pakai angkot."
"Yaudah, nanti Kakak sampaiin."
"Makasih, kak. Oiya Kak, Jeli buru-buru mo balikin buku ke perpus. Daaah kakak!"
Gue berbalik badan dan berlari sekuat tenaga sambil berharap dalam hati Danis belom pulang.
Gue berlari menyusuri koridor untuk sesegera mungkin sampai di depan kelas 1i.
Ketika sampai, untung saja pas banget Danis juga baru keluar dari dalam kelasnya bersama seorang kawannya.
"Danis! Danis! Tunggu!"
Gue berteriak-teriak memanggul.
Danis berbalik badan.
Sial, ganteng banget. Tengsin kan gue klo dia liat gue ngos-ngosan begini.
"Ah! Untung aja gue gak terlambat."
"lo nyari gue?"
"iya. Mmmh..."
Gue jadi ragu-ragu berbicara sambil melirik kearah kawannya Danis.
"Ari, lo bisa tinggalin gue berdua dia gak?"
Seolah Danis membaca apa yang difikirkan gue.
"Oke. Pasti rahasia. Gue tunggu di parkiran aja deh."
Ujar Ari disambut anggukan Danis.
Sepeninggalan Ari, Danis mengajak gue duduk didalam kelasnya.
"Capek ya?"
"menurut lo?"
"mau dikantin aja gak sambil minum?"
"gak usah. Gue butuh kelarin tugas gue dengan cepet."
Gue cepat-cepat mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel.
Amplop pink dan sebatang coklat!
"Nih!" Gue menaruh surat dan coklat dari Adele.
"Nyogok?"
"bukan. Surat buat elo."
Nampak Danis mengambil amplop pink itu dan mencium sebentar wanginya.
"Surat cinta?"
"mana gue tau. Lo baca aja sendiri."
"Loh, emangnya bukan elo yang buat?"
"Bukan. Gue cuman di mintain tolong. Itu dari Adele."
Gue melanjuti sambil kembali menyangkutkan tas kepunggung.
Danis menyodorkan kembali amplop dan coklat itu ke gue.
"Kalo bukan dari elo, gue gak mau."
"Danis, tolongin gue. Jangan nyusahin gue. Paling nggak, lo baca dulu deh suratnya. Urusan lo suka atau nggak, tolong jangan melalui gue lagi. Lo jawab langsung aja ke orangnya."
"Tapi gue serius."
"gue juga. Dan gue udah gak punya waktu lagi sekarang. Gue harus kerumah Ika buat latihan nari."
"mau gue anterin? Sekalian lewat pulang."
Gue berfikir sejenak sambil jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagu.
"Boleh deh. Itung-itung bayar capeknya gue barusan lari kesini."
"Yaudah, yuk!"
Danis bangkit dari duduknya dan mulai beranjak.
"Danis tunggu! Ini surat sama coklatnya gimana?"
"suratnya sini, biar gue baca dulu. Coklatnya kita kasih mang Diman aja gimana?"
"Menang gratis dong dia!"
Gue meledeknya yang disambut tawa Danis.
Kami berdua berjalan beriringan menuju parkiran motor.
"Danis, Adele itu cantik loh. Dia juga baik."
Gue melanjutkan sembari berjalan.
"Tapi dia gak selucu elo."
"idih, emang gue badut apa?"
Danis kembali melanjutkan tawanya.
"Tuh, kan kalo sama elo gue tuh ketawa melulu."
"Lo gak suka sama Adele?"
"Gue gak bilang gitu."
"Lo suka dia jadinya?"
"Gak kayak gitu juga."
"Plin-plan lo Dan! Gak boleh begitu... paling nggak, lo harus menghargai niat baiknya."
"iya, gue tau. Nanti deh gue fikirin mau suka atau gak sama dia."
"Iiih, kok begitu? Gak punya pendirian."
"Kalo kamu gimana? Suka gak sama gue?"
Tembak Danis.
Sial, dia membalikkan pertanyaan gue.
Apa gue keliatan Baper ya?
Gue cuma membalasnya sambil tertawa-tawa.
"Nggak."
"Kok? Kenapa?"
Agak kaget, Danis mendengarkan jawaban dari gue.
"Nggak boleh suka-sukaan dulu sama cowok kata mama. Masih kecil."
Gue menjawab jujur dan polos.
Dan jawaban gue kembali membuat Danis terbahak.
Heran!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...