LoveRelution

LoveRelution
Yang Tidak Terduga



Oh, begini rasanya suka...


Aku si anak yang beranjak remaja,


Yang belum paham apa itu cinta,


Yang aku tahu kamu teman tapi tak biasa.


Bila di dekat, aku deg-degan,


Bila jauh kau kurindukan.


Oh, begini rasanya jatuh suka.


Oh, begini rasanya jatuh cinta? -Y.L.S-


Senin pagi yang menunjukkan pukul 6.30. gue melangkah mantap kedalam gerbang sekolah usai diantar papa.


Dengan tas punggung biru muda dan rambut berponi yang diberi bando, penampilan gue nampak sangat manis menurut versi gue sendiri, hahahaha...


Gue sengaja melewati kelasnya Anji yang kebetulan sedang duduk-duduk bertengger di Koridor depan kelasnya.


Pasti Anji terpesona sama penampilan gue.


"Awas kesambet, liatin gue sampe nganga." Todong gue membuyarkan bengongnya Anji barusan.


Terlihat Anji kembali menjaga sikapnya supaya tidak terlanjur malu.


Kembali Anji menatap gue dengan eskpresi datar.


"Gak, gue kaget kirain barusan ondel-ondel yang lewat."


Apa? Gak salah denger kan gue? Udah dandan kece loh ini dari ujung kepala sampe kaki malah disamain sama ondel-ondel.


Kata-kata pujiannya kelewat kejam!


Seketika senyum ceria gue berubah menjadi cemberut.


"Puji gue kek, kan gue udah berprestasi mengharumkan nama sekolah."


"Belom wah! Terlalu biasa dan eazy."


"Bodo amat. Males ngomong sama elu." gue melengos pergi berlalu menuju kelas gue.


Meninggalkan Anji yang masih berusaha nampak datar.


- POV Anji -


Anji nampak berjalan mondar-mandir di depan kelasnya pagi-pagi banget.


Wajahnya nampak galau sambil menimbang-nimbang sebatang coklat.


Dalam balikan ke lima, langkahnya berhenti lalu bergumam dalam keraguan dihatinya.


"Dikasih, atau gak? Tapi kalo gue kasih, ntar alesan gue ngasih apa? Ucapan selamat berhasil menang? Aaaah!! kan bukan dia sendiri yang juara. Team yang juara. Ntar dia ge'er kalo gue puji. Tapi kalo gak dikasih, kan rugi gue udah beliin buat dia..."


Lalu gumaman Anji mendadak berhenti ketika dari arah pintu gerbang sekolah nampak Jelita berlari-lari kecil menuju koridor.


Sudah pasti sebentar lagi melewati kelas Anji karena sudah begitu jalurnya kalau mau menuju kelasnya Jelita.


Anji lalu pura-pura duduk di bangku besi depan kelasnya.


Entah kenapa Anji tiba-tiba terpesona menatap penampilan Jelita yang nampak manis pagi ini.


"Duuh! mikir apaan sih gue. Stupid!"


Anji berusaha membuang jauh-jauh fikirannya dan saat tanpa sengaja Jelita tersadar kalau sedang di tatap oleh Anji, secepat kilat Anji memasukkan coklat tadi kedalam saku celananya.


"Hai Anji!" Sapa Jelita dengan suara renyahnya.


Cenderung cempreng tapi gak se cempreng suara Jelita kala SD yang sangat mengganggu bagi Anji.


Anji membuka mulutnya hendak menjawab sapaan Jelita namun tertahan karena tiba-tiba Jelita sudah lebih dahulu menyambar.


"Awas kesambet, liatin gue sampe nganga."


Tuh, bener kan nih anak pedenya unlimited kayaknya.


Anji harus menjaga sikapnya supaya tidak terlanjur malu. Bodo amat kalau sampai dibilang jaim alias jaga image daripada semakin membuat Jelita bahagia karena berhasil membuat Anji gugup.


Anji menatap Jelita dengan datar.


"Gak, gue kaget kirain barusan ondel-ondel yang lewat."


Tuh bener kan, seketika senyum ceria Jelita berubah menjadi cemberut. Pipinya mengembung.


"Puji gue kek, kan gue udah berprestasi mengharumkan nama sekolah." dumel Jelita sambil mulutnya mengerucut.


Anji berusaha menahan gelinya sekuat jiwa dan raga.


"Belom wah! Terlalu biasa dan eazy." balas Anji dengan nada agak sedikit mengejek supaya Jelita tidak terlalu merasa tinggi hati.


"Bodo amat. Males ngomong sama elu." Jelita melengos pergi berlalu menuju kelasnya.


Meninggalkan Anji yang masih berusaha nampak datar.


Sepeninggalan Jelita, Anji menghembuskan nafasnya kuat-kuat seolah hilang sudah semua beban.


Lalu Anji kembali meraih saku celananya dan mengeluarkan coklat yang semula hendak diberikannya untuk Jelita.


"Maafin gue ya coklat. Lo beruntung gak jadi dimakan dia sampe rakus."


- Kembali ke Jelita -


"Jelita..." Panggil Ipul yang tiba-tiba sudah berdiri di samping bangku tempat duduk gue.


Gue yang semula sedang asik ngobrol sama Ika langsung nengok.


"Kamu udah sarapan belom?"


Gue menjawab dengan anggukan kepala.


"udah. Dibuatin nasi goreng wajib sama mama."


"Oh, tapi mau kan Terima bala-bala dari aku. Mungkin kamu mau ngemil. Ini aku beli bala-bala dari warung Pak Tata." Ujar Ipul lagi sambil menyodorkan gorengan kehadapan gue membuat Ika melotot kegirangan.


"Wuaaaahhh masih anget. Enak nih. Makasih ya Pul." Tiba-tiba saja Adit dengan tidak tahu malu langsung menyambar plastik gorengan dari tangan Ipul.


"eh tapi itu bu... buat Jelita."


"Ih meuni bageur. Makasih loh..." Lanjut Adit yang tanpa diberi aba-aba langsung menyantap satu.


Edi, Zein April dan Ika yang menonton kejadian itu langsung nimbrung ikutan nyomot.


Gue spontan tak kuat menahan tawa geli.


"Tumben lu royal. Dalam rangka apaan?" sahut April.


"Kemarin kan teamnya Jelita jadi juara basket." Jawab Ipul.


"Belum juara, ih Ipul. Masih ada final bulan depan." Gue menjawab dengan jujur.


"Yah pokoknya mah selamat ajalah." ujar Ipul yang disetujui teman-temannya sambil ikut-ikutan menikmati gorengan yang dibawanya tadi.


Tanpa terasa bel sekolah pertanda upacara wajib berdering nyaring. Kami semua bersiap keluar dari dalam kelas menuju lapangan sekolah.


Upacara senin pagi seperti biasa berlangsung hikmad. Dan kini adalah bagian sambutan dari insepktur upacara dimana hari ini adalah Pak Herlambang yang bertugas. Sebagai kepala sekolah, beliau mengucapkan bangga dan Terima kasih atas prestasi yang kemarin ditorehkan oleh team basket Putra dan Putri. Dan secara pribadi beliau mengucapkan selamat kepada team basket Riga.


"Teruskan prestasi kalian, dan saya bangga memiliki siswa-siswi seperti ini. Untuk kalian semua, apapun bidang ekskul yang kalian pilih, apapun bidang kesenian yang kalian ambil, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa cinta. Dan saya akan sangat mendukung, selama itu positif dan dapat mengharumkan nama sekolah kita tercinta ini. Semangat untuk kalian dan juga kita semua." Ujarnya yang disambut tepukan tangan meriah dari seluruh peserta upacara.


...****************...


Ditengah jam pelajaran bahasa Indonesia, Tiba-tiba saja Bu Rihana, wali kelas 1G masuk kedalam kelas dan nampak berbincang sejenak dengan Bu Dida.


"Oh, silahkan." ujar Bu Dida yang terdengar oleh anak-anak satu kelas.


Kami semua saling pandang bingung ada apakah gerangan?


Bu Rihana berdiri ditengah kelas dan mengucapkan salam.


"Mohon maaf mengganggu jam belajar kalian ya girls and boys. Saya hanya meminta sedikit waktu dari kelompok lima seni tari yang kemarin berhasil membuat Pak Herlambang terkagum-kagum. Mmmh, ada sembilan orang kan ya?"


Spontan gue, Tineukeu, April, Nanda, Ika, Upik, Suzan, Bonita, dan Dewiq kembali menoleh keheranan satu sama lain.


"kami bu?" sahut Upik sambil berdiri.


"Nah, iya. Upik dan kawan-kawan bisa meluangkan waktu kalian sebentar dan ikut saya keruang guru?" tunjuk Bu Rihana kemudian.


"udah ikut aja ke sana. Mo dikasih coklat sama sabun mandi kali." seru Edi yang terdengar oleh yang lainnya membuat seisi kelas tertawa terbahak.


"Let us go, girls!" ajak Bu Rihana lagi.


Upik mendahului bangkit, membalikkan badannya kearah kami dengan sorot mata meminta persetujuan.


Akhirnya, gue dan yang lainnya ikutan bangkit dari duduk dan mengikuti langkah Bu Rihana dan juga Upik.


"Thank you, miss Dida. Saya ijin sekali lagi untuk mengajak mereka."


"Silahkan, bu." balas bu Dida diiringi senyum manisnya.


Bu Rihana melangkah keluar kelas diikuti oleh upik, gue dan teman-teman.


Sesampainya dirung guru, bu Rihana tidak langsung menyuruh kami untuk duduk.


Dia berdiri didepan meja kerjanya, dan menghadap kepada kami bersembilan sambil tersenyum penuh arti namun sulit ditebak.


"kalian tau gak, kenapa saya memanggil kalian kesini?"


Upik dan yang lainnya saling pandang dan menggelengkan kepala dengan kompak membuat bu Rihana gemas dan kembali tersenyum penuh kebahagiaan.


"Girls, Terima kasih banyak sudah membuat saya bangga dan love sama kalian. Kalian dipanggil secara khusus oleh bapak kepala sekolah didalam sana. Didalam sana sudah ada tamu spesialnya bapak yang juga secara khusus ingin bertemu kalian secara langsung."


ucapan bu Rihana barusan membuat kami kembali saling pandang dan deg-degan tak karuan.


"Di panggil Pak Herlambang, bu?" ulang Bonita spontan dan dibalas anggukan dari bu Rihana.


Ibu Rihana berjalan menuju sebuah pintu besar berwarna coklat ke emasan dan itu adalah pintu ruangan bapak kepala sekolah.


Bu Rihana masuk terlebih dahulu untuk memberi tahu Pak Herlambang bahwa sembilan gadis yang dipanggilnya sudah ada disini.


"oke, bawa mereka masuk bu."


"baik, pak." Bu Rihana menengok kebalik pintu dan memerintahkan kami untuk masuk.


"Girls, remember to smile. Keep fighting!" bisik bu Rihana menyemangati gadis-gadis kesayangannya.


Kami bersama melangkah masuk dengan penuh kecemasan.


"Selamat pagi, pak."


Kami memberi salam dengan kompak dan bertambah kaget karena didalam sana sudah duduk dengan manis Vina, Yuanita, Bona, kak Putri dan satu orang pria dewasa yang kalau dilihat dari penampilan serta wajahnya bahwa pria itu adalah berkebangsaan Jepang.


Pak Herlambang bangkit dari tempat duduknya.


"ini dia yang saya tunggu. kalian semua silahkan duduk disini. Santai saja ya."


Satu persatu, kami duduk di sebuah sofa panjang yang sudah disediakan.


Sofa itu betulan panjang, loh sampai memuat sembilan orang duduk disana.


"karena semua sudah berkumpul disini, sebelum saya memulai maksud dan tujuan saya mengundang kalian kesini saya secara pribadi mengucapkan rasa bangga dan kagum atas penampilan kalian dalam pelajaran seni tari yang lalu. Dapat informasi dari Putri bahwa gerakan itu adalah original kreasi dari kalian dan saya bertambah kagum. Tidak salah saya memilih Putri untuk secara langsung terjun membantu saya dalam misi ini. Kalau kalian ketahui, Putri yang mengajarkan kalian kesenian tari ini adalah penari dari group kesenian Krakatau yang biasa diundang oleh bapak-bapak kedutaan besar di luar negeri."


Informasi dari Pak Herlambang barusan sontak membuat kami semua terkejut dan surprise.


"Baik, saya lanjutkan. Nah, sekarang saya juga mau perkenalkan kalian dengan sahabat saya mister Yasashimoto. Beliau ini adalah seorang pencari bakat dan sekaligus produser sebuah agensi iklan di Jepang dan Jakarta."


"Ohaio Gozaimasu. Sulamat Pagi." sapa Yasashi san dengan ramah dan disambut senyum perkenalan dari siswi-siswi di ruangan ini.


"Nah, jadi maksud dan tujuan saya juga Putri mengundang secara khusus kalian ber dua belas orang ini karena ingin membantu Yasashi san untuk mengajak kalian ikut serta audisi iklan sebuah produk minuman ringan yang sebentar lagi akan masuk ke Indonesia. Mudah-mudahan juga kalian bisa menjadi brand ambasador dari produk itu. Karena setelah saya melihat penampilan kalian di aula kemarin, saya jadi sangat optimis dan merasa yakin dengan kemampuan kalian."


Pernyataan Pak Herlambang kembali membuat kami semua terkejut.


Entah harus senang yang pasti mereka semua bingung dengan pertanyaan mengapa harus mereka?


"Tenang, girls. Kalian gak harus menjawab hari ini juga. Kalian bisa memulai diskusikan hal ini nanti sore dengan orang tua kalian, dan saya sudah menyiapkan surat permohonan ijin untuk kalian semua. Kalau berhasil mendapatkan ijin, didalam surat itu ada hari dan tanggal audisi yaitu hari sabtu minggu ini. Lokasinya ada di mall Bandung Indah Plaza. Putri, bantu saya bagikan surat permohonan ijin ini untuk mereka."


"Baik, Pak."


Kak Putri bangkit dari duduknya dan Pak Herlambang menyerahkan dua belas amplop ketangan Kak Putri untuk di bagikan.


Kak Putri menatap kami semua dengan senyuman lalu bergantian menatap yang lainnya.


" Bona, Vina, dan Yuanita saya sengaja meminta kalian bergabung dengan Jelita dan teman-teman. Semoga setelah hari ini, kalian akan mengukir sejarah bagi sekolah dan juga kota kalian."


Kak Putri lalu membagikan amplop berisikan surat permohonan ijin untuk dua belas cewek-cewek dihadapannya yang saat ini sedang deg-degan sekaligus bingung juga bahagia tentunya.


...****************...


Seperti apa hari ini yang telah di lewati


Pasti berfikir saat di jalan pulang


Meski ada hal sedih ataupun hal yang memberatkan,


Tak apa asal yang bahagia lebih banyak (Jkt48 - Yuuhi Wo Miteiruka)


Kira-kira seperti inilah yang dirasakan gue sore ini didalam kamar.


Ada keraguan dan ketakutan yang menghantui diri gue saat berfikir untuk bercerita kepada mama dan papa.


Gue menimbang-nimbang amplop surat pengajuan ijin ditangan.


Gue takut mama dan papa tidak setuju akan audisi ini. Gue takut akan ancaman papa sewaktu meminta gue untuk tetap fokus pada mata pelajaran bukan pada hal lain.


Tapi Gue juga pasti akan kecewa kalau sampai tidak pernah mencoba melakukan sesuatu hal besar dalam hidup gue.


Disisi lain, gue juga sangat takut jika malah nantinya mengecewakan kedua orang tua gue karena tidak pernah nurut.


Aaahh! gue jadi dilema nih. Gue harus gimana dong?


"Jelitaaa..." Panggil mama dari luar kamar.


Gue yang masih melamun dalam kebimbangan spontan terlonjak hingga amplop yang dipegang tadi terjatuh bersamaan dengan terbukanya pintu kamar gue.


Mama memasuki kamar sambil menyelidik, terlebih saat amplop itu kini berada dibawah kaki mama.


Mama memungut amplop coklat itu dan nampak keningnya berkerut saat membaca kop surat bertuliskan nama sekolah gue.


Belum sempat terbaca, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara.


"Mana Jeli, mbak Ocha?"


Suara itu terdengar sangat akrab hingga munculah sosok wanita cantik.


"Aunty Evi!!!" Gue menjerit sambil lompat dari tempat tidur dan segera berlari kecil memeluk adik bungsu papa yang sudah lama tinggal di New York.


"Hei, Jelita makin besar, tambah cute ya..." Ujar Tante Evi membalas pelukan gue.


"Aunty kesini sama Elmo?" Tanya gue kemudian.


Tante Evi menggelengkan kepalanya.


"Elmo sama papanya disana." Ujar tante Evi.


Sebentar gue kecewa mendengarnya.


"Jelita, untuk sementara Aunty kamu ini akan tinggal disini karena sedang proses berpisah sama papanya Elmo."


Jelas mama seperti menangkap isi fikiran gue.


Gue berusaha kembali berfikir sejenak mengenai kamar tidur untuk tante Evi.


Masalahnya, rumah ini bisa di bilang rumah mini dengan hanya dua kamar tidur.


Dua adik-adik gue saja masih tidur bergabung sama mama dan papa.


Terus, kalau tante Evi tinggal disini dia mau tidur dimana? Ruang tamu?


"Ah! Aunty tidur dikamar Jelita aja." Gue tiba-tiba mencetuskan ide.


"Oh sudah tentu itu!" Sambar mama.


Tante Evi nampak senyum-senyum melihat pertikaian antara anak gadis dan mamanya.


"Oke sekarang kita ke ruang tamu, dan mama tunggu penjelasan kamu soal ini."


Sahut mama lagi sambil berjalan keluar kamar dan mengibas-kibaskan amplop coklat tadi.


Mama... gue jadi pasrah.


Di ruang tamu yang sekaligus ruang tv itu, sudah ada papa yang nampak baru pulang kerja.


"Pah, lihat nih anak sulungnya kayaknya dipanggil sama sekolah. Mau di skors kali. Entah berbuat ulah apa dia."


Adu mama se-enaknya ke papa.


Mama menyerahkan amplop coklat tadi ke papa.


Papa nampak hati-hati membuka dan mengeluarkan isi amplop tadi.


Dengan cermat, dia membacanya.


Tak lama, keningnya berkerut.


Mama yang memperhatikan reaksi papa langsung kembali menuduh gue.


"Tuh kan... pasti Jelita bikin keributan disekolah ya?"


"Nggak." Gue membantah.


"Jelita bener kok, ma. Ini bukan surat panggilan. Tapi surat permohonan ijin supaya kita mengijinkan Jelita mengikuti audisi pencarian bintang iklan." Papa menjelaskan isi surat tadi.


Mata mama melotot kemudian. Antara percaya dan tidak.


"Jelita mau jadi artis?"


"Belom, mama. Kan baru audisi. Belom tentu lulus juga. Ya kalau Jelita mau coba, ya gak apa-apa. Papa ijinin selama diluar jam sekolah tapi ya, dan tidak mengganggu pelajaran kamu." Jelas papa lagi.


"Nggak kok Pah. Audisinya kan sabtu." Gue menjelaskan kemudian.


Papa nampak berfikir.


"Tapi Jel, lokasinya di Bandung. Kamu yakin mau kesana?" Tanya papa.


"Kalau papa anter gimana? Kan lokasinya di mall. Sambil nungguin aku audisi, papa bisa sambil main sama adik-adik dan mama." Gue balas bertanya sekaligus memberi saran.


"Aku ikut ya. Siapa tau Jelita butuh persiapan." Seru tante Evi.


Gue jadi teringat, dulu tante gue ini kan memang seorang model majalah.


"Boleh, aunty. Ajarin Jelita ya..." Gue membalas dengan sangat antusias.


"My pleasure, darling." Tante Evi kembali memeluk gue dengan gemas.


"Siapa tahu, ini memang takdir kamu." Tambah tante Evi.


Ya, tante Evi benar. Siapa tahu ini adalah takdirnya.


Rejeki serta takdir seseorang kan siapa yang bisa menebak? Jika tangan Tuhan sudah bergerak, tak ada satupun yang bisa menolak.


Destiny.


Rejeki serta takdir seseorang siapakah yang bisa menebak?


Jika tangan Tuhan sudah bergerak, maka tak ada satu orangpun yang bisa menolak.


itulah Destiny.


-Y.L.S-