
Tidak bisa lagi cahaya
Diriku yang kian meredup
Mimpi yang sedang ku perjuangkan
Akankah dihargai
Kesedihan yang melanda diri ini
Apa yang para bunga katakan
Setelah diterpa oleh hujan
Siapapun pasti bisa jadi semakin kuat
Saat diriku sedang hancur
Aku kan menunggu…
(After Rain - JKT48)
Gue membuang pandangannya kearah jendela kamar tempat dirinya di opname.
Langit diluar sana sendu digelayuti hujan lebat. Gemericik airnya seolah menampar kaca jendela.
Lamunan gue buyar ketika suara suster dan mama memasuki ruangan.
"Sudah waktunya makan siang, Jelita."
Sapa suster dengan ramah sembari meletakkan nampan keatas meja disamping tempat tidur gue.
Gue membalas dengan senyuman.
"Kamu makan sendiri ya Jel, habis makan siang mama mau kembali ke kantor. Nanti jam tiga sore katanya Idho sama Vano mau temenin kamu sampai papa dateng nanti malam untuk temenin kamu disini."
Ujar Mama sambil membuka plastik kedap pada piring makan siang gue.
Gue bengkit dari tempat tidur untuk duduk kemudian.
Rasa nyeri pada lengan kiri akibat jarum infusan terasa menyengat hingga Gue mengaduh.
"Pelan-pelan dong." Sahut mama sambil membantu gue untuk duduk.
"Yaudah kalau mama mau ke kantor." Gue berkata dengan nada lemah.
"Oke. Mama berangkat, jangan lupa dihabisin makan siang sama obatnya ya. Nanti malem aplusan yang nemenin kamu biar papa aja. Mama gantian jagain adik-adik kamu dirumah."
Gue mengacungkan jempol kanan sambil tersenyum, lalu salim sebelum mama meninggalkan kamar rawat.
Gue menyuapkan makan siangnya sambil nonton telenovela 'Maria cinta yang hilang'.
Tidak ada tontonan menarik lagi siang ini karena di rumah sakit ini tidak ada fasilitas parabola. Ya kalau mau pakai parabola, rawat inapnya di hotel kali ya?
Sedang asik-asiknya makan, tiba-tiba terdengar suara ramaidari luar kamar Gue.
Tak lama munculah wajah Suzan, Tineukeu, Upik, Ika, April, Nanda, Bonita dan Dewiq.
"Jelita yang kurang cantik jelitaaaa!!!" Sapa Bonita.
Gue girang sekali mendapati mereka ada disini.
Bonita, Suzan, Nanda dan April berhamburan memeluk gue bergantian.
"Gimana keadaan lo sekarang Jel?" Tanya Tineukeu sembari duduk ditepi tempat tidur.
"Mendingan sih ini." Jawab gue bahagia ketika kedatangan teman-temannya.
"Dapet salam dari Ibu Rihana, katanya beliau belom sempet jengukin elo. Beliau titip ini." Ujar Dewiq sambil menyerahkan amplop putih dan keranjang buah-buahan.
"Aduuh, sampein ke Ibu Rihana ya, terima kasih banyak dari gue."
"Terus kata Adhit, doi bakal jenguk lo jam pulang sekolah nanti barengan sama anak-anak basket." Upik ikutan menambahi.
"Oh, oke."
"you makan sedikit banget. Sini gue bantu suapin."
Nanda mengambil alih piring gue dan bertingkah seperti layaknya emak-emak lagi nyuapin anaknya.
"you harus makan yang banyak, biar cepet sembuh Jel. Remember, you masih hutang penampilan dance." Tambah Nanda diikuti anggukan setuju teman-teman yang lain.
"Gak usah lo fikirin omongan-omongan orang lain. Kita semua disini ada untuk elo, jadi kalau ada apa-apa lo gak usah malu cerita dan jangan lo pendam sendirian." Suzan menambahi.
"Lagian soal Adele ditolak sama Danis masa elo yang disalahin. Aneh deh si Adele." Sahut Tineukeu dengan sewot.
"Iya aneh beneran." Ika menyahut.
"Jel, walaupun kita baru kenal sama elo... tapi kita semua ada dipihak elo, kita semua percaya kalo elo bukan seperti yang mereka gosipkan." Ujar Dewi.
"Ooouuuh... Get well soon darling..."
Nanda tak kuasa untuk kembali merangkul gue yang mulai terharu dengan perkataan teman-teman barusan.
"Eh, baydeway kita punya gerakan baru Jel. lo harus liat, dan lo harus inget untuk diikutin."
Tiba-tiba Bonita teringat akan gerakan tarian terbaru mereka.
Lalu Bonita dan April memperagakannya di depan gue dan tak lama yang lain ikut-ikutan memperagakan sambil tertawa-tawa.
Tanpa terasa waktu sudah satu jam lamanya Nanda dan kawan-kawan tertawa dan berbincang didalam ruangan kamar inap yang gue tempati.
"Eh, eh... kita kebablasan girls!! Udah jam berapa ini!!" Seru Tineukeu dengan heboh.
"Oh my Godnes, kita harus back to school!"
Kalian pasti bisa menebak, siapa yang punya gaya bicara khas campur aduk seperti ini. Yup! Nanda.
"Cepet sembuh, ya Jeli!!!" Sekali lagi Suzan menyemangati gue.
"We missed you so much, get well soonest dan harus."
Nanda menambahi lagi sambil memeluk gue kesekian kalinya sampai kemudian mereka beneran keluar dari ruangan.
Suasana kembali hening sepeninggalan teman-teman tadi, dan gue tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian dan kelakuan teman-teman gue barusan.
...****************...
Jam menunjukkan pukul empat sore ketika Ridho melirik jam dipergelangan tangannya.
Sudah setengah jam lamanya Ridho berada didalam kamar rawat inap yang ditempati gue.
Dan saat ini gue masih tertidur lelap.
Mungkin pengaruh obat juga.
Gak papalah, dan Ridho kembali berkutat dengan pe-ernya di bangku sebelah tempat tidur gue.
Tak berapa lama, pintu kamar diketuk dan munculah sosok Devano adik semata wayangnya yang seumuran dengan gue.
Devano tidak datang sendirian.
Dia ditemani dua orang kawannya, Arman dan Daniel. Ridho memberikan kode 'jangan berisik' dengan jari telunjuknya.
Devano memperhatikan gue sambil tertawa kecil.
"Lo pulang aja. Biar gantian gue yang jagain Jeli." Ujar Devano pada kakaknya sambil setengah berbisik.
Bersamaan dengan itu, gue menggeliat dan membuka mata.
Samar-samar Nampak wajah Devano, Arman dan Daniel disebelah sisi kanan ranjang tidur.
Dengan mantap gue memaksakan untuk terbangun.
Lagi-lagi gue lupa sama lengan ini yang sedang mendapatkan infusan.
"Awww!!" Jerit gue yang seolah tersadar.
Nyeri kembali menjalar mengakibatkan gue mengaduh kesakitan.
Devano dan Ridho yang sadar sepupunya sudah terbangun langsung dengan sigap menghampiri dan membantu.
"Pake bangun segala. Udah tiduran aja sih."
Protes Devano sambil menyandarkan gue dengan bantuan bantal.
"Soalnya gue seneng ditengokin Arman." jujur gue, sambil melirik kearah Arman dan Daniel.
"Ganjen." Ledek Devano.
"Nah, karena udah ada Vano dan Jelita udah gak sendirian lagi gue mo pamit balik nih. Besok ada try out soalnya."
Ridho segera pamitan karena mau belajar untuk try out besok.
"Oke kak. Makasih ya udah nungguin Jelita tadi."
"Van, klo ntar ada apa-apa sama Jelita. Lo telepon kerumah atau langsung aja telepon ke kantornya tante Ocha."
Pesan Ridho sebelum meninggalkan kamar rawat.
"Siap laksanakan bos!"
Sepeninggalan Ridho, Arman segera mendekat kepinggir ranjang gue.
"Armaaannnn!!!! Kangen banget, ih akutuuuh!!!"
Gue spontan berseru heboh.
Arman ini kebetulan adalah sahabat gue sejak jaman Sekolah Dasar.
-flash back Jelita usia 7 tahun-
"Jelita awas ada kodok!" Teriak Arman dan Anji kompakan sambil melemparkan seekor katak mainan keatas meja gue.
Melihat gue yang spontan loncat dari tempat duduk hingga gue tersungkur jatuh membuat kedua anak lelaki itu tertawa puas.
Ya. Arman dan Anji memang terkenal amat jahil dan suka iseng.
Dua anak ganteng ini sepertinya paling suka mencari perhatian lewat ulah nakal mereka.
Arman kecil dengan raut wajah kebule-an, pipi merah, rambut ikal menggemaskan.
Arman adalah anak semata wayang kebanggaan mamanya.
Menyadari anak lelakinya ganteng, mamanya kerap kali mengirimkan foto Arman ke tabloid-tabloid anak bahkan televisi.
Beberapa kali juga, Arman terlibat dalam produksi sebuah iklan pasta gigi.
Sedangkan Anji kecil, memiliki paras manis apalagi kalau dia sedang senyum.
Senyumannya terkadang membuat ibu-ibu kompleks gemas untuk mencubit pipi kurusnya.
Gue segera bangkit dari jatuh sambil mengibas-ngibaskan rok seragam gue agar tidak kotor.
Lalu setelah itu berdiri tegap sambil menatap kedua anak lelaki didepan gue sambil cemberut.
Sedetik kemudian ide jahil gue muncul.
"Eh Pak Yogi, hari ini saya mandi loh pak." Gue berseru sambil bergaya seolah menunjuk kearah pintu kelas yang terletak dibelakang tubuh Arman dan Anji.
Perlu diketahui, Pak Yogi ini adalah guru paling kejam yang dikenal di Sekolah ini.
Guru paling tidak mengenal kompromi, dan galak.
Bayangkan, kalau dia mendapati anak muridnya yang berusia tujuh tahun tapi belum pandai membaca maka dia tak akan segan mengambil penggaris kayu dan memukul betis si anak murid sambil diajarkannya si anak untuk meng-eja.
Pernah suatu ketika dia mendapati kuku si anak murid yang panjang atau hitam karena kotoran, Pak Yogi langsung saat itu juga memotong kuku si anak menggunakan gunting kuku lipat yang selalu dibawa-bawa dalam saku kemejanya.
Dan dia paling anti mendapatkan anak didiknya jorok dan tidak terawat.
Mendengar nama Pak Yogi, spontan Arman dan Anji membalikan badan dan secara bersamaan, gue melempar kembali katak karet tadi kearah mereka sambil tertawa mengejek yang terbahak.
"Sukurin! Emang enak, dikerjain! Hahahahahahaha!"
Dan bersamaan dengan itu, Pak Yogi betulan masuk ke kelas dan bertepatan dengan jatuhnya mainan katak didepan kakinya yang membuatnya loncat-loncat karena kaget dan takut juga membuat seisi kelas tertawa dibuatnya.
Alhasil, hari itu Arman - Anji - gue disetrap untuk membersihkan toilet sekolah.
Dan siapa sangka, jiwa gentle dua anak lelaki usia tujuh tahun ini sudah muncul.
Merasa tidak tega melihat gue kecapean menyikat toilet, Arman dan Anji kompak mengambil alih tugas gue dan membiarkan gue duduk di bangku tangga.
Maka sejak hari itu juga Arman, Anji dan gue menjadi tiga sahabat yang saling melindungi.
Walaupun terkadang ada saat-saat tidak akur antara gue dan Anji yang hobby balas-balasan ledekan.
-kembali ke rumah sakit-
"Bisa sakit juga?"
Seru Arman menggoda gue sambil seperti biasanya mengacak-acak rambut pada pucuk kepala gue.
Sementara Vano dan Daniel hanya cengengesan melihat kelakuan Arman.
Gue terdiam sambil menundukkan wajah. Rasanya sakit kalau gue harus mengingat kejadian disekolah.
Arman, Daniel dan Vano saling memandang pertanda bertanya kenapa.
"Kenapa?" Arman bertanya kembali.
"Gue pingin pindah sekolah lagi. Gue gak mau lagi sekolah disana." Ujar gue lemah.
Arman memandang Devano.
Devano menjawab dengan gerakan mengangkat kedua bahunya.
"Kok gitu? Emang disana ada yang gangguin lo Jel?" Tanya Arman lagi.
Gue tidak bisa menjawab malah semakin menundukkan wajah.
"Kok jadi cengeng, sih? Mana nih, si Jelita yang suka ngelawan kalo lagi di kerjain sama gue?!" Lanjut Arman lagi.
Tanpa kami ketahui, dari balik pintu ada Adhit, Anji, Bona dan kak Muthi yang hendak menjenguk ke kamar ini.
Tanpa sengaja, mereka menguping pembicaraan gue dengan Arman.
"Jelita gak boleh pindah sekolah!"
Protes Anji sambil membuka pintu dan nyelonong masuk diikuti teman-teman yang lain.
"Hhh, kelakuan temen kamu yang kekanak-kanakan masih mau kamu fikirin? Kayak gak ada lagi yang lebih berfaedah."
Ujar Kak Muthi sambil berjalan dan berhenti disebelah Devano.
Tentu saja perkataan Kak Muthi barusan membuat Devano dan yang lainnya bertanya dalam kebingungan.
Sementara gue hanya diam menundukkan kepalanya.
"Vano, bilangin sama adik kecil ini kalo gossip yang dia denger itu murahan banget." Lanjut Kak Muthi sambil menepuk pundak Devano.
Devano mencoba menebak siapa mereka yang seenaknya nyelonong masuk tanpa permisi.
Dari kaos seragam basket yang mereka pakai cukup menjawab rasa penasarannya.
Mereka pasti teman-teman basketnya Jelita.
Begitu juga dengan Arman yang langsung bisa mengenali Anji.
"Temen lo bener! Kalau lo sakit cuman gara-gara digosipin, lo gue blacklist jadi temen!"
Sahut Arman ketika yang lain terbungkam dalam diam.
"Kenapa sih, cewek tuh demen banget mikirin gossip? Kayak gak ada kerjaan banget. Kayak gak ada hal lain yang lebih bermanfaat buat difikirin. Mikirin tuh besok bibi kantin bikin gorengan apa gak atau mikirin harga batagor yang tiap hari naik terus harganya."
Adhit mengeluarkan pendapatnya yang mendapat pelototan dari kak Muthi.
"Huh! Gendut lo!"
"Jel, jangan biarin satu orang yang gak suka sama elo lantas menghalangi lo untuk senyum sama semua orang."
Pesan Bona dengan lembut dan bijak padahal bodynya mirip tukang pukul.
"Mana senyum elo, sini gue cari..."
Kak Muthi ikut-ikutan menarik-narik pipi chuby gue demi memaksa gue untuk kembali senyum.
"Denger Jel. Elo itu gak cantik. Jadi kalo lo gak pernah senyum, elo malah tambah jelek."
Anji yang sedari tadi diam kali ini bersuara bermaksud menghibur tapi kata-kata yang dipilih agak kejam didengar.
Perkataan Anji barusan mendapat balasan respon tatapan tajam Adhit dan Bona yang bermakna 'Diem, Anji!'
...****************...
Dalam diam, gue merenung.
Perkataan sahabat-sahabat gue membenarkan situasi yang seharusnya.
Dalam hati teramat bersyukur karena ditengah jatuh, masih ada orang-orang baik yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu gue bangkit.
Bangkit! Gue harus berusaha kuat untuk mampu kembali berdiri tegak!