LoveRelution

LoveRelution
Upacara Lagi???



Selasa pagi yang agak lumayan cerah bagi warga Cimahi secara sekarang lagi jamannya musim ujan dimana mana yang bisa menyebabkan korbannya basah sekujur tubuh dari ujung kepala, pundak, lutut kaki, lutut kaki..^^


Dapatkah kusejenak menghampiri


Dapatkah kusekilas merasakan


Relu hati yang kini mengaggumi


Dirimu parasmu dan semua tentangmuKuingin ada di hatimu


Menggapai mahligai nan biru


Sebiru cintaku.. (Lirik Bidadari - Andre Hehanusa)


Mang Tatang menarik pengait yang menggantung pada leher lonceng. Teng... teng... teng... Suara lonceng berbunyi 3x menandakan jam sekolah dimulai. Mang Tatang kembali melaksanakan tugas wajib pagi ini.


Riuh rendah suara gelak tawa yang beberapa menit lalu masih menggaung kini mulai tak lagi terdengar. Yang tersisa tinggalah keheningan. Yah mungkin para penghuni sekolah pagi itu sudah mulai berkutat dengan kegiatan mereka.


Mang Tatang menyelanjutkan sapu-menyapunya. Bagian depan sekolah telah rampung dengan bersih, sih, sih dari sisa-sisa daun-daun yang berguguran.


"Pindah ke belakang aaaah," Batin Mang Tatang seraya beranjak menyusuri koridor.


Keheningan kembali terasa, yang terdengar hanyalah suara guru yang tengah 'mendongeng' menjelaskan kepada anak-anak muridnya.


Namun ketika mang Tatang melewati sebuah kelas diujung koridor sana, tepatnya kelas 1-G yang letaknya paling pojok dan bersebelahan dengan kantin sekolah, kembali terdengar suara ricuh berisik ramai bak dipasar pagi (kan suasananya pagi hari. Gak mungkin dong, kalo mang Tatang bilang ini suasana bak di pasar malem? :D).


Nampaknya kelas ini belum ada guru nih. Makanya anak-anaknya pada berisik.  Iseng, mang Tatang mengintip dari balik kaca nako yang menganga.


Di sebuah sudut, April sang bendahara kelas yang terkenal jutek dan sangar seantero kelas sedang bertengger di mejanya Firman dan Edi butong alias budak sapotong (dibaca : bogel) demi nagih uang LKS yang masih nunggak.


"Apaan Cuma serebu? Harga LKSnya kan sepuluh ribu, Di.. gak terima ah! Aku gak mau nombokin!"


"Kata siapa itu serebu? Coba kamu merem, terus cepet-cepet melek lagi. Kamu lihat nolnya jadi berapa?" ujar Edi. Bodohnya, April ngikut aja.


"tetep 3 Di.." Ujar April polos ketika matanya terbuka.


"Hah? Masa sih? Tadi gue merem, trus pas melek nolnya jadi empat kok Pril.."


"Aaaah, mata kamu rabun! Jangan begoin aku deh, jelas-jelas duit serebu sama duit spuluh rebu jauh beda banget.. Sini cepetan bayar! Ntar aku laporin bu Rihana loh!"


"Idih, April mah bisanya ngadu ke guru.. Ini aku bayar.." Edi pun dengan enggan menukar uang seribunya dengan selembar uang sepuluh ribu.


"Begitu dong, lancar kan?" Seru April sambil cengar-cengir dan melanjutkan aksi selanjutnya kemejanya Adit.


"Pagi, April my black sweety honey boney.." Sapa Adit karena sadar sedari tadi mata April sudah mengincar dirinya.


"gak usah basa-basi busuk!" Sergah April sambil sewot karena dia paling anti dengan segala sesuatu yang berbau gombal.


"Bayar LKS Bahasa Inggris sepuluh ribu Adiiit."


"Jangan hari ini yah Pril.. dedek April baek deh, kalo minggu depan gue janji beneran!" Rayu Adit kemudian.


"Ah, kamu mah alesan aja ih. Dari kemaren tar sok-tar sok doang. Kali ini tiada ampun deh!"


"Aa belum punya uang dek April sayang."


"Ntar siang Adit istirahat dimana?" Tanya April kemudian.


"Dikantinlah, hellow!"


"Makan siang disana?" Tanya April lagi.


"Kagak, mejeng doang. Ya iyyyalah honey.."


"Bayarnya pake duit?" April melanjutkan.


"Kagak, pake daon!" Adit jadi sewot.


"Ya pake duit dooong.."


"Nah, itu kamu berarti punya duit. Di bayarin LKS dulu yak!"


"Yaaaah, Pril.. jangan kejam begitu dong, gue udah janji nih sama Maya, mau traktir batagornya mang Tatang. Kalo duitnya dipake bayar buku, terus gue bayar batagor pake apaan?" Ujar Adit setengah merengek.


"Pakai cinta. Adit minta dibayarin Maya aja. Bilang aja, sorry honey untuk hari ini kamu yang traktir aku ya.." April sok ngajarin.


"Perasaan bukan hari ini doang deh, dari kmaren-kmaren juga Maya mulu yang traktirin si Adit.." Celetuk Firman sambil cuek.


"Diem lu kurus!" Ancam Adit sambil malu.


Sementara itu disudut lain, Ika si jutek dan dijuluki anak Jendral yang duduknya tepat didepan bangku Suzan Nampak terperagah takjub terkesima menatap Suzan yang sedari tadi tekun tepekur baca sebuah buku super tebel bertuliskan KAMUS LENGKAP BAHASA INGGRIS. Sesekali mata Suzan Nampak mengawang kelangit-langit kelas, lalu beberapa detik kemudian lanjut membaca, lalu gak lama mengawang lagi, trus baca lagi.. mengawang lagi.. baca lagi.. awang... baca.. awang.. STOOOOP!! Capek tau! Ika aja yang merhatiinnya sampe pegel.


Herannya Suzan Nampak tenang-tenang aja tuh.. Ah, daripada capek liatin Susan yang lagi ngapalin tensis, mendingan juga ngobrol sama si anak murid baru pake bahasa Inggris. Loh? sok-sok an kan dia.


Gue, yang duduk sebangku dengan Suzan dan melihat kejadian barusan terkekeh pelan.


Gue memang baru kenal dengan Suzan pun sejujurnya terkagum-kagum dengan ketekunan teman sebangkunya ini. Walaupun baru satu hari berkenalan, dari awal hari kemarin sampai hari ini Suzan selalu serius kalau mengerjakan pelajaran sekolah. Tak jarang terkadang Suzan turut mengajari gue ketika gue mungkin terlihat kesulitan.


"Jel, dulu kamu sekolah dimana?" Tanya Ika membuka pertanyaan dengan langsung pada rasa penasarannya dari kemarin.


"Maksudnya pindahan?" Gue membenarkan pertanyaan Ika. Ika mengangguk.


"Anak batas dooong.." lanjut Ika lagi. Gue tertawa menanggapinya.


"Tapi kejauhan sama rumah aku. Makanya aku pindah, soalnya selain agak lumayan dekat dari rumah juga biar bisa nebeng dianterin pulang sama Kakak sepupu hehe.." Jawab gue jujur.


"Kakak kamu sekolah disini juga?" Ika semakin antusias.


Gue mengangguk.


"Siapa? Kelas berapa?"


"Jangan berisik ya.. Kakak sepupu aku itu Kak Ido. Kelas 3A." Jawaban gue membuat Ika menganga.


Sepertinya Ika tahu siapa Kak Ido sang ketua OSIS di sekolah ini yang terkenal ganteng dan ramah sama adik-adik kelas. Sepertinya juga, dia Agak tidak percaya. Soalnya terlihat Ika kembali meneliti gue dari atas sampai bawah. Kulitnya sih miriiip kan? Bedanya gue lebih buluk dan wajah gue nggak ada mirip-miripnya sama sekali. Pasti dia sedang mengira gue berhalu.


Dari bangku gue dan Ika, kita pindah ke bangkunya Nanda yang lagi sibuk diinterogasi sama Arief, Zain, juga Ipul.


Nanda adalah satu-satunya siswi SMP Negeri 3 Cimahi yang berdarah Australia-Portugal dari sang ayah dan Bali dari sang Ibu.


Lahir dan dibesarkan di Ausy, dan kembali ke Indonesia setelah Nanda menamati elementary school disana.


Dari awal pindah ke Cimahi dan bergabung menjadi siswi SMP 3, Nanda sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia.


Tapi enam bulan berlalu akhirnya Nanda fasyeh juga pake bahasa gaul walo masih belepotan dan suka nyampur-nyampurin pake bahasa inggris. Itu makanya temen-temen sekelas sering banget manfaatin Nanda buat pelajaran bahasa inggris.


Seperti pagi ini.


Sebenernya ketiga temen-temen gue sih Cuma mau Tanya vocabulary aja sama Nanda, tapi cara mereka nanya udah kayak polisi yang lagi nanya-nanya tersangka buat BAP alias Berita Acara Perkara. Sementara Nanda yang ditanya-tanya udah kayak tikus got yang dikepung tiga ekor kucing jantan yang kelaperan, mengkerut ketakutan.


"Is it enough for question? Please, stoped it becoz you know apha? Geraaah tcau.. you semua khalo mau tcau banyak vocabulary, niih.. read it!" Jawab Nanda yang mulai kesel dikerjain sama anak-anak biang iseng sambil menyodorkan buku kamus gede milik Tineukeu.


"artinya apa Nan?" Sambung Arief.


"kamu cari tcau ajah sendiri."


"Trus, trus.. kalo aku cinta sama kamu, seharusnya kamu mau jadi pacar aku, karena aku keren loh! Bahasa inggrisnya apa Nan?" Tanya Ipul kemudian sambil matanya melirik-lirik nakal kearah Tineukeu.


Tineukeu yang sadar diliatin langsung mendelikkan matanya dengan judes.


"Sorry, lo bukan level gue" ujar Tineukeu sambil mengibas-ngibaskan jarinya.


Tineukeu terkenal cantik namun angkuh bagi yang belum kenal.


Setelah kenal siapa Aneu (panggilan manja), pasti makin sayang. Soalnya dia baik banget dan seneng membantu teman-temannya.


"Akhu tcau maksyud khamu Pul.. Khamu mau say it sama Aneu khan? Why khamu gak ngomong sama dia langsung?" Lanjut Nanda. Nah,mulai dah tuh bahasa campur aduk layaknya gado-gado.


Ipul Cuma nyengir. Diiringi cibiran memble dari temen-temennya.


"Kan cukup diwakilkan sama elu Nan.."


"Yah, khamu mah chicken..." Ledek Nanda yang langsung di iyakan temen-temen yang lain.


"Iya, lu.. chicken.. Chicken is ayam.. tau gak Lu!" Seru Zain yang sedari tadi rupanya menyimak.


Lagi seru-serunya ledekin Ipul, tiba-tiba terdengar suara lengkingan Upik dari depan pintu kelas.


"Upacaraaaa!!" Seru Upik sambil ter engah-engah memasuki pintu kelas. Sontak semua mata beralih ke arah Upik.


"Kamu ngimpi Pik? Mana ada upacara Selasa pagi?" sahut Adit agak kaget dan tidak terima dengar pengumuman dari Upik.


"Terserah kalo gak percaya. Pokoknya kita semua wajib ke lapangan sekarang, soalnya mau ada perkenalan Kepala Sekolah yang baru." lanjut Upik dengan lantang membuat seisi kelas ricuh dengan kesiapan seragam mereka, rambut, dan segala atribut.


Tak membutuhkan waktu yang lama, kamipun berkumpul di tengah lapangan sekolah sama seperti hari kemarin saat upacara senin pagi. Bedanya hari ini barisan mereka tidak beraturan hehehe.. Maklumlah dadakan. Semua murid, tanpa terkecuali.


Dan dari atas podium berserulah seseorang Pria berusia kira-kira 30 tahun ganteng dan nampak sangat tidak asing wajahnya.


Pria itu memberi salam sambutan dan menyebutkan namanya. Namanya Pak Herlambang.


Pak Herlambang yang membuat ingatan gue pada seorang artis Ibu Kota yang juga seorang anggota Dewan Daerah yang mewakili Kesenian dan Pariwisata.


"Mimpi apa gue, artis jadi kepala sekolah kita?" Bisik Tineukeu ditengah keterkejutannya.


"Ganteng banget." ujar Vina tak tertahankan.


Pak Herlambang berpidato kalau beliau akan memajukan nama sekolah dan beliau juga punya banyak program yang akan di implementasikan di sekolah ini selain system pengajaran yang berbasis kompetensi juga akan ada ekstrakulikuler baru.


Seluruh siswa-siswi bertepuk tangan riang menyambut kabar gembira ini, berharap penuh akan perubahan yang akan terjadi di sekolah kami.


Selamat bergabung Pak Herlambang, we Love you..



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lalu kira-kira apakah perubahan-perubahan yang akan di canangkan di sekolah ini?


Ikutin terus bab selanjutnya ya teman-teman pembaca.


Terima Kasih <<