
Brakkk!!!
Semua mata spontan tertuju pada sumber suara keributan.
Adalah Adele yang baru saja menggebrak meja gue sehingga membuat gue yang semula sedang asik main tamagochi mendadak loncat lantaran kaget sangking kencengnya Adele menggebrak meja.
"Penghianat!"
Maki Adele tepat dihadapan wajah gue.
Gue yang gagal paham sempat celingukan.
"Lo nyari siapa? Gue lagi ngomong sama elo jadi lo jangan berlagak bego!"
Adele yang mendapati kalau gue celingukan malah semakin geram.
"Gue minta sekarang yang ada didalam kelas ini keluar sebentar soalnya gue mo selesaiin urusan gue sama nih cewek yang sok polos tapi ternyata licik!"
Gue semakin gagal paham dengan kata-kata Adele barusan. Terlebih gue merasa seperti dipojokkan oleh tuduhan Adele.
Sementara itu teman-teman satu kelas mulai beranjak meninggalkan kelas.
"Tunggu! Yang lain boleh keluar kelas, kecuali gue! Del, gue KM di kelas ini. Jadi gue berhak ikut campur apapun masalah kalian."
Adele yang saat itu kesal sudah keubun-ubun tidak mau meladeni Adhit yang berlagak pahlawan kesiangan.
Kemarahannya tidak bisa ditunda lagi dan harus segera terlampiaskan hingga tersengar kembali suara.
Plakk!!!
"Awwww!!!" Gue menjerit kesakitan
Adele menampar pipi gue keras hingga terdengar suara.
Spontan Adhit yang menyaksikan terkejut menatap kelakuan Adele barusan.
"Lo bisa selesaiin masalah lo jangan pake kekerasan ? Gue bisa aduin lo ke guru BK loh!"
Adhit berusaha melerai walau terlambat.
Adele tertawa mendengar ucapan Adhit.
"Lo mau ngadu ke guru BK? Gue berterima kasih malah. Biar nih cewek gak punya malu bisa di didik!"
Gue langsung bangkit dari duduk karena sudah tidak tahan dengan tuduhan-tuduhan Adele yang tidak beralasan.
"Lo boleh kasar sama gue, lo boleh kata-katain gue tapi kasih tau gue kenapa lo lakuin ini Del?!"
"Gak usah berlagak bego deh lo!"
"Gue pinter aja gak pernah pura-pura, apalagi kalo gue bego."
Sempet-sempetnya gue menjawab Adele dengan kata-kata seperti itu dan membuat Adele semakin murka.
"Adhit, lo liat! Lo denger juga ya!! Nih cewek, bener-bener munafik! Didepan gue berlagak malaikat mau bantuin gue, ternyata dia nusuk gue dari belakang! Anak jelek! Lo bilang lo mau bantuin gue, jadi makcomblang gue?! Lo bohong! Danis nolak gue! Lo tau alasannya? Gara-gara elo! Lo bilang bakal bagus-bagusin nama gue didepan Danis. Nyatanya, Danis bilang sebaliknya! Lo udah bikin nama gue jelek didepan Danis! Munafik lo Jel! Besok lo ganti nama aja deh, gak cocok sama prilaku lo!"
Adele memaki gue bertubi-tubu sambil terus mendorong gue sampai gue semakin tersudutkan dan tidak bisa membela diri.
Ditambah gue juga benar-benar bingung dengan tuduhan Adele.
Kata-kata Adele yang menyakitkan tanpa sengaja membuat airmata gue mengalir deras.
Rasanya terlalu sakit ditelinga.
Karena tidak terima dengan perlakuan Adele, akhirnya gue berontak membalas mendorong Adele hingga Adele tersungkur kebelakang.
Cepat-cepat gue berlari keluar kelas. Gue harus nemuin jawabannya.
Saat gue keluar dibalik pintu kelas 1G, semua mata memandang kearah gue dan itu membuat gue semakin memanas karena malu.
Tapi gue tidak perduli.
Ada yang harus gue benarkan.
Dan gue memutuskan untuk terus berlari menuju kelas belakang. Kelas 1i.
Kelasnya Danis.
Secara kebetulan, Danis yang pada saat jam istirahat itu sedang asik bergurau dengan teman-temannya didepan kelasnya.
Gue langsung menarik paksa lengan Danis.
"Jelasin sama gue sekarang, kenapa Adele marah sama gue?!"
"Maksud lo Jel?" Danis bertanya ditengah kebingungannya.
"Lo jahat ya! Lo nolak Adele kan? Lo juga pake alasan gue jelek-jelekin Adele supaya lo bisa nolak Adele, kan?!"
Perkataan gue nampaknya membuahkan titik terang bagi Danis.
Dia paham sekarang. Danis menatap gue dan segera sadar ada bekas air mata gue.
"Lo habis nangis?"
"Gak usa ngalihin omongan deh. Gara-gara lo nolak Adele gue jadi kena maki dia terus dituduh yang nggak-nggak."
"Loh? Salah, kalo gue nolak dia? Salah, kalo gue gak suka sama dia? Itu kan hak gue." Jawab Danis sesukanya.
"Jadi terserah gue juga mau kasih alasan kenapa gue nolak dia."
Perkataan Danis yang terakhir membuat gue semakin geram.
Manusia gak punya hati.
"Bersihin nama gue sekarang!"
"Pake sapu? Lo juga jangan naif Jel. Lo juga sebenernya suka sama gue kan? Gue kan ganteng. Gak mungkin lo gak suka sama gue."
"Manusia rese!!!! Kepedean! Sok ganteng!"
......................
Gossip itu beredar kilat.
Akibatnya, nama gue menjadi mendadak menjadi terkenal dalam waktu setengah hari sejak kejadian siang itu hingga satu minggu berlalu.
Dan kabar ini nampaknya sampailah juga ditelinga Ridho.
Ridho yang sangat mengenal kepolosan gue juga tentunya merasa heran dan pastinya tidak percaya begitu saja.
Selain Ridho, teman-teman sekelas yang lain pun tidak percaya mentah-mentah dengan gossip yang beredar.
Termasuk Adhit, anak-anak basket, juga teman-teman satu kelompok seni tari.
Bahkan beberapa hari belakangan, gue mungkin dirasa seperti sosok orang lain bagi teman-teman. Lebih pendiam, sensitif dan jutek.
Gara-gara gossip ini juga, membuat gue tidak bisa berkonsentrasi dengan latihan basket.
Padahal hari pertandingan sudah semakin dekat.
Masalahnya, iya kalau gossip itu beneran.
Ini kan hanya kehebatan karangan Danis dan tuduhan Adele.
Gue berusaha sekuat tenaga mengalihkan kesedihan gue dengan latihan tanpa jeda dan emosi yang meledak-ledak.
Akibatnya permainan gue jadi jelek.
Berkali-kali juga gue kena marah bang Daniel.
Pada saat latihan seni tari pun juga sama.
Gue tidak konsentrasi dan gerakannya salah melulu.
Mungkin kelihatan banget wajah gue sangat lelah dan bukannya istirahat, Gue selalu berlagak kuat dan kembali meneruskan latihan walaupun gerakannya ngaco.
****
Sore ini saat latihan basket, beberapa kali karena keseringan bengong gue sampai kena lemparan bolanya Bona.
Hingga sore ini gue kembali kena bentak bang Daniel sampai berimbas gue dikeluarkan dari lapangan.
Gue yang sore ini sedang sensi tingkat tinggi, langsung berlari kepinggir setelah sebelumnya melempar bola dengan asal dan hampir terkena pelipis Anji.
Untung Anji cepat tanggap dan langsung bereaksi menangkap bola basket yang hampir nyangsang barusan.
Anji menghampiri gue.
"Kalo gak niat latihan mending lo pulang daripada nyelakain diri sendiri dan orang lain."
Ujar Anji ketus.
"Break! Kita break latihan!" Akhirnya bang Daniel memberikan komando.
Sungguh keputusan yang bijak.
Bang Daniel, Adhit, kak Muthi dan Bonna menghampiri gue yang nampak duduk melipat kaki dipojokan lapangan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Jel." Panggil Adhit.
Gue tidak kuasa menyahut malah semakin membenamkan kepala.
Kak Muthi berusaha merangkul gue namun beranjak kaget ketika menyadari suhu tubuh gue yang mendadak panas.
"Astaga Jel! Jelita Lo sakit?"
Barulah kali ini gue mengangkat kepala dengan lemah dan memunculkan wajah gue yang kemerahan, dan sedetik kemudian pandangan gue langsung kabur.
"Jel, badan lo panas banget! Tolong!! Jelita pingsan!"
Anji yang tadi lagi asik main-main dengan bola dipinggir lapangan segera berlari mendengar teriakan kak Muthi.
Seketika Anji memegang dahi gue.
Panas banget! Seriusan.
Anji langsung menggendong tubuh gue di punggungnya dan segera melarikan Jelita ke UKS. Sementara bang Daniel berlari ke ruang guru untuk meminjam telepon dan memberi tahu orang tua gue. Dan setelah itu bahkan gue tidak ingat apa-apa lagi.
......................
Dengan pandangan yang masih kunang-kunang, gue membuka matanya dan tersadar setelah mencium bau obat-obatan yang menyengat.
Sambil merasakan sedikit pusing, gue menyapu pandangannya kesekeliling ruangan asing ini sampai menemukan tulisan Instalasi Gawat Darurat RSUD Dustira Cimahi dan menyadari jarum infusan ditangan kiri gue.
"Jel, kamu udah bangun?" Suara akrab itu menyadarkan gue.
"Mama." Gue menatap wanita disamping yang tersenyum.
"Permisi bu, kamar rawat inap Jelita sudah siap. Mari saya antar."
Suara perawat yang tiba-tiba datang membuat gue bertanya-tanya.
"Ma, aku sakit apa ma? Parah ya ma? Umur aku gak lama ya ma?"
Mungkin karena sebel mendengar pertanyaan gue yang bertubi-tubi membuat Mama gak sabaran untuk memukul jidat gue.
"Korban sinetron begini nih jadinya. Lebay!"
"Terus Jeli mau dibawa kemana?"
"Kamar jenazah!"
Ucap mama sekenanya.
"Iiih, kejamnya mama ini lebih kejam dari ibu tiri."
Gue bergumam pelan tapi cukup terdengar jelas ditelinga mama dan membuat mama refleks menyentil telinga gue.
"Kamu kena typus. Daripada kamu dirawat dirumah gak ada yang nungguin. Mama kan kerja. Nanti gak ada yang kasih kamu makan. Mending di opname aja. Lumayan dapet makan gratisan tiga kali sehari."
Ya Tuhan, ampunilah dosaku hingga memiliki mama kandung bagai mama tiri. Kejam.
...****************...