
"Halo, anak-anakku... Salam kenal, saya adalah Putri, yang bertugas memberikan pelajaran Muatan Lokal Seni Tari untuk kalian. Kalian bisa panggil saya Kak Uti. Diantara kalian apakah ada yang sudah tahu apakah itu Pelajaran Muatan Lokal? Kok kenapa Seni Tari masuk juga didalamnya? Ayooo ada yang tau gak?"
Siang itu, Kak Putri sebagai pengajar baru memperkenalkan dirinya dengan ramah.
Namun, ya namanya juga guru baru.
Jadi, kami dikelas juga belum mengenal dia. Apa lagi gue.
Itulah sebabnya ada semacam kecanggungan diantara temen-temen dan Kak Putri.
Kak Putri kembali melanjutkan ceritanya.
"Yaaah.. jangan pada tegang doong.. disini pelajaran yang akan saya kasih adalah pelajaran untuk happy-happy, penuh kegembiraan pokoknya.
Baiklah.
Karena nampaknya kalian juga masih saling bingung, kakak akan cerita lebih dahulu apakah itu Pelajaran Muatan Lokal dan apa tujuannya diadakan muatan lokal.
Secara garis besarnya aja ya, muatan lokal adalah sebuah program pendidikan yang isi penyampaiannya berkaitan sama lingkungan baik alam, lingkungan sosial, juga lingkungan budaya.
Nah, apa sih tujuannya diadakan Pelajaran Muatan Lokal ini?
Tujuan utamanya adalah supaya kita lebih terampil, kita juga bisa lebih akrab sama lingkungan, lebih mengenal kondisi alam, dan budaya dan kita juga secara tidak langsung bisa belajar memecahkan masalah yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah sebabnya Pelajaran Muatan Lokal ini lebih mengedepankan praktik pembelajaran dibandingkan dengan belajar melalui teori.
Nah, sekarang kakak lanjutkan kenapa Seni Tari masuk di dalam pelajaran Muatan Lokal?
Ada yang tau tidak?"
Kak Putri sengaja untuk tidak menciptakan jarak diantara anak-anak didiknya.
Dia ikhlas berjalan menyusuri meja demi meja supaya lebih santai dalam bercerita dan menjelaskan dan cara dia berceritera pun tidak seperti layaknya guru yang menggurui, tetapi lebih mendekatkan lagi dengan cara mengajak ngobrol lawan bicaranya yang berjumlah empat puluh orang ini.
Suasana mulai mencair ketika Kak Putri dengan santainya memuji rambut Bonita yang kriwil manja.
"Nama kamu siapa? Aku boleh jujur gak? Rambut kamu itu sexy. Jarang yang punya rambut asli seperti ini. Kamu tau gak, di Holywood sana artis-artis sampai rela bayar mahal disalon karena ingin punya rambut bergelombang kayak kamu gini."
Puji kak Putri tulus. Membuat aura Bonita menjadi bersinar.
Bonita hanya tersenyum malu-malu..
Sementara anak-anak yang lain juga mulai mencair, gak tegang dan mereka ikutan bercandain Bonita.
Dan Kak Putri ikut tertawa sambil menyimak dan memperhatikan tingkah mereka.
"Sudah, sudah... kembali ke pertanyaan saya. Ada yang bisa jawab tadi soal Seni Tari kenapa masuk kedalam pelajaran muatan lokal?"
"Saya Kak!" Seru Upik seraya mengangkat tangannya.
"Nama saya Upik. Jawaban saya karena Seni Tari kan termasuk bagian dari kebudayaan."
"Benar, sekali Upik. Nah, seni tari itu adalah bagian dari nilai-nilai kebudayaan yang harus kita lestarikan juga perlu kita ambil nilai-nilai luhurnya.
Berbicara seni tari, seni tari merupakan alat ekspresi juga sarana komunikasi seorang seniman kepada penikmatnya.
Kalian pernah memperhatikan tidak kalau setiap untaian gerakan dari sebuah tarian itu mempunyai makna.
Kalau kalian gak percaya, ayok kita buktikan. Naaah ini mulai seru nih, kedepannya saya gak akan memenuhi mulut saya dengan kalimat-kalimat teori.
Capek, boook... Mending kita buktikan sambil praktek. Setuju? Kita bergembira sambil joget-joget, gimana?"
"Setuju banget, Kak. Jadi nanti kita dangdutan, nih?" Seru Ipul sudah dengan gerakan tangan siap berjoget.
Kak Putri dan yang lainnya tertawa melihat tingkah Ipul.
"Bebas. Mau dangdutan, mau jaipongan, terserah!
Gini, gini.. Sebagai pembuktian bahwa didalam seni tari itu mempunya filosofi dalam gerakannya, kalian akan Kakak berikan tugas yaitu menciptakan sebuah koreografi dalam sebuah lagu yang akan kakak perdengarkan kepada kalian.
Didalam kelas ini total siswa-siswinya ada 41 orang.
Yang artinya, saya akan membagi kedalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok akan beranggotakan 8 orang dan ada 1 kelompok yang beranggotakan 9 orang.
Saya sudah mengocok kertas dalam fish bowl yang sudah berisikan nama-nama kalian. Bersiap? Kita mulai dari Kelompok pertama. Anggotanya adalah..."
Kak Putri mulai mengaduk-aduk kertas didalam fish bowl. Semua mata menatap penuh ketegangan.
Begitu juga dengan gue. Duuh, kira-kira gue nanti akan satu kelompok dengan siapa ya?
Sementara nama-nama yang sudah dipanggil menjerit histeris ketika mengetahui siapa kawan satu kelompoknya.
Suara-suara ricuh mulai memenuhi kelas.
"Bisa tenang teman-teman?"
"Boleh kakak lanjutkan?"
"Boleh ya?"
"Oke, kita lanjut kepada kelompok lima.
Nah, kelompok lima ini yang akan beranggotakan ganjil, sembilan orang. Siap-siap untuk nama yang akan saya panggil. Anggotanya adalah... Bonita, Ika, Tineuke, Nanda, Dewik, Upik, April, Suzan, dan terakhir Jelita."
Mendengar nama gue satu kelompok dengan Suzan, Akhirnya gue bisa tertawa lega.
Begitu juga yang lainnya.
Ika yang duduk di bangku depan gue, sampai nengok-nengok kebelakang untuk memberikan kode perasaan senangnya.
"Nah.. saya sudah selesai membagi kelas ini kedalam lima kelompok.
Sekarang, sebelum kalian berdiskusi dengan teman-teman satu kelompoknya, saya akan instruksikan beberapa hal.
Yang pertama, saya akan putarkan satu buah lagu untuk bisa kalian bayangkan bagaimana gerakan tarian yang cocok dikawinkan dengan lagu ini. Silahkan disimak."
Kak Putri memutar lagu 'Lajeungan' dari salah satu band ter hits, Kahitna.
Gue menyimak dengan seksama. Lagu ini asik juga. Beberapa gerakan terlintas begitu saja dalam alam imajinasi gue.
Setelah selesai lagu itu berkumandang, Kak Putri kembali melanjutkan instruksinya.
"Instruksi yang kedua, kalian saya beri tugas mengarang gerakan sebebas-bebasnya.
Mau menggunakan tarian tradisional, atau menggunakan gerakan modern, atau gabungan keduanya.
Pokoknya gali imajinasi kalian seluas-luasnya, sedalam-dalamnya.
Ini adalah tugas pertama kalian yang menyenangkan bukan?
Dan instruksi saya yang ke tiga yaitu batas waktu latihan kalian adalah 3 minggu dari sekarang, dan akan di tampilkan di acara ulang tahun Bapak Kepala sekolah di akhir bulan depan.
Yang akan saya nilai disini bukan hanya gerakan tarian, tetapi juga tekhnik blocking, serta kekompakan.
Kenapa Blocking penting?
Blocking adalah kedudukan tubuh pada saat di atas panggung dan, yang di maksud blocking yang benar adalah blocking tersebut harus simbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian.
Ini akan menjadi tolak ukur seorang penari dalam pementasan.
Macam-macam bentuk blocking dalam seni tari bervariasi.
Kalian bisa lihat sambil membaca pada lembar pekerjaan yang sudah saya bagikan.
Sampai disini kalian suda paham?
Karena waktu sudah tidak memungkinkan kita berbincang lama-lama, maka untuk kalian yang membutuhkan sharing atau konsultasi soal tugas ini, atau ingin lebih banyak eksplore soal tarian, kalian boleh diskusi sama kakak di ruang guru, atau dikantin sambil makan batagor bibik di kantin? Gimana?!"
Kami mulai kasak-kusuk dengan kawan satu kelompok masing-masing untuk memikirkan tugas ini. Sayangnya, waktu berjalan terlalu cepat. Suara denting lonceng pertanda jam pulang sekolah sudah berteriak lantang untuk mengusir kami dari kelas. Kak Putri akhirnya menyudahi jam pelajarannya.
Setelah Kak Putri berpamitan dan anak-anak sekelas memberi salam, kami pun riweuh membicarakan tugas ini.
Begitu juga dengan kelompok lima, kelompok gue.
"Girls, gimana kalo kita meeting buat persiapan tugas ini?" Ajak Nanda yang sudah siap dengan tas gendongnya.
Gue dan yang lain mengangguk setuju.
"Dimana tapi? Kelas ini kan klo siang dipake gantian sama anak kelas 2 yang masuk siang." Tanya Ika dan di benarkan teman-teman lainnya.
"Ah! Gue ada ide. Pinjem ruang OSIS aja sebentar, gimana? Kebetulan satu jam lagi kan gue ada rapat OSIS jadikan gak papa doong, kita pinjem sebentar?" Upik memberikan idenya sambil melirik kearah gue sambil senyum-senyum penuh arti dan harapan.
Gantian gue yang kebingungan. Nih pasti pada punya niat iseng nih.
"Kenapa liatinnya ke gue?" tanya gue sambil menatap mereka dengan penuh curiga.
"Lo bisa, kan bilang sama Kak Ido pinjem ruangan OSIS bentar? Pliiiis" Tineukeu ikut menterjemahkan maksud dan tujuan mereka.
"Ooh.. gue di tumbalin. Paham. Ayook.." Gue akhirnya mulai 'ngeh' sambil menunjuk kearah diri sendiri.
"Oke, kalo gitu kalian duluan ke ruang OSIS, gw ke kelas Kak Ido buat minta ijin."
Kami berjalan keluar kelas sebelum akhirnya berpisah karena yang lain lebih memilih langsung menunggu di depan ruang OSIS.
Sedangkan gue berjalan menyusuri koridor dan melewati kelas-kelas lain sebelum akhirnya tiba di ruang kelas 3A.
Gue celingukan sambil sedikit melompat-lompatkan diri untuk sekedar melihat dari arah jendela yang letaknya tidak mau menyesuaikan dengan tubuh gue yang mini ini. Kejam! Gue membatin dalam hati.
"Cari siapa dek?" Tanya cewek-cewek kelas 3A yang pastinya sih itu teman-teman sekelas kak Ido.
"Cari Kak Ridho." Asli, gue kaget karena merasa ke GAP sewaktu lagi lompat-lompat barusan.
"Urusan apa? Terus kamu siapanya?" Tanya mereka lagi.
"Saya adiknya." Gue menjawab takut-takut saat mereka semakin menatap gue dengan tatapan mengintimidasi.
Sewaktu gue menyebutkan bahwa gue adalah adik Ridho, mereka seolah tidak mau percaya begitu saja.
Tatapan mereka semakin membuat gue risih karena mereka menatap gue bener-bener dari ujung kepala sampai ujung kaki.
-POV Cewek-cewek 3A-
Hmmm... ada yang halu ngaku-ngaku adiknya Ridho nih. Songong banget nih anak.
Dan setahu juga seingat mereka, Ridho memang punya adik tetapi adiknya laki-laki dan wajahnya gak kalah ganteng dari Ridho, dan dia sekolah di SMP lain.
Terus siapa anak kecil ini?
Udah kecil, dekil pulak.
Gak mungkin kalau dia adik kandung Ridho.
Pasti dia hanya mau modus ngaku-ngaku adiknya Ridho.
Padahal mah mau hanya mau cari perhatian Ridho.
-Kembali ke Jelita-
Saat ini gue merasa jadi santapan wajah-wajah buas penuh kecemburuan.
Dan tiba-tiba aja Muthia anak kelas 3D lewat dan melihat kejadian ini.
Jelas Muthia juga mengenali wajah gue.
"Eh, eh.. kalian ngapain Jelita? Minggir!" Cegah Muthia menerobos kericuhan yang terjadi di depan kelas Ridho.
Suara cempreng dan nyaring Muthia membuat Ridho keluar dari dalam kelasnya.
"Loh Jeli?" Panggil Ridho.
Sementara mata cewek-cewek kelas 3A yang barusan hendak membully gue segera menatap ke arah Muthia, Ridho juga terakhir ngeliatin gue dengan keheranan.
"Dia ngaku-ngaku adik lo, Do." Ujar salah satu dari mereka.
"Tapi dia emang adik gue." Jawab Ridho santai membuat yang lainnya kembali menatap dengan membanding-bandingkan antara gue dan Kak Ridho.
"Kenapa? Gak Mirip? Aku emang bukan adik kandung. Aku adik sepupu kak Ridho." Tegas gue kemudian.
"Ooooh, sepupu. Bilang dong dari tadi. Kirain kita tadi kamu sejenis cewek kecentilan yang mau caper kayaaaak..." Salah satu dari mereka menjelaskan sambil melirik sadis kearah Muthia.
"Bilang aja nama gue. Gak usah nyindir-nyindir norak gituuu..." Sinis, Muthia menimpali teman-temannya.
"Udah, udah... Makasih ya kakak-kakak... Sekarang Jeli cuman perlu sama Kak Ridho. Daaaah!" Cegah gue berusaha menyudahi pertikaian gak berfaedah ini sambil menarik tangan Ridho untuk menjauh dari sana.
"Iiiih ngeri! Ganas banget!" jerit gue sambil bergidik.
Ridho tertawa terbahak.
"Jangan aneh, ya... Temen-temen Bang Ido emang suka begitu."
"Terus, kamu mau ngapain tadi nemuin abang?" Lanjut Ridho.
"Jeli mau minta ijin, mau pinjem ruang OSIS gak sampai stengah jam. Cuman buat diskusi soal tugas sekolah." Gue akhirnya menjelaskan maksud dan tujuan gue barusan yang nyaris lupa gara-gara kena sinis kakak kelas.
Ridho nampak menimbang-nimbang sebentar sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
"hmm, yaudah. Tapi cuman sampe jam 2 ya. Soalnya jam 2 mau abang pake kegiatan OSIS."
"Janji." Gue cepat-cepat menyahut sambil mengacungkan kedua jari.
Ridho mengangguk.
"Makasih abang." Teriak gue sambil berlari kecil meninggalkan Ridho, dan menuju ruangan OSIS.
Gue bersenandung riang sambil berlari-lari kecil.
Sebelum tiba diruangan OSIS, gue sempat melewati kelas 1i.
Didepan kelas itu ada Danis, juga Adele.
Tanpa gue sangka, rupanya Danis melihat gue.
"Jeli! Nama kamu Jelita kan?!" Teriakan Danis barusan berhasil membuat gue nge-rem mendadak.
Pake segala manggil gue lagi si Danis. Cari-cari perkara aja. Mau tidak mau, gue harus nyaut kan...
"Gue?"
"Iya, siapa lagi?" Sahut Danis kemudian.
Gue sempat menatap sekilas kearah Adele yang hanya menatap gue datar, tanpa ekspresi dan berhasil membuat gue jadi tak enak hati pada Adele.
Gue menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Kok, tau nama gue?" Gue bertanya pura-pura polos.
"Gimana gak kenal nama kamu, waktu pertama kamu ngenalin diri di tengah lapangan sekolah pas kamu baru masuk. Kamu kan sebut nama kamu nyaring banget. Lupa?"
Jelas Danis mengingatkan gue kembali pada hari pertama masuk sekolah ini.
Gue spontan menepuk dahi sambil nyengir.
"Hehe, iya.."
"Jel! Jeli!!! Gimana?!" teriak Tineukeu.
Ahhh untung saja teman-teman gue memanggil dari depan ruang OSIS yang kebetulan letaknya tidak jauh dari kelasnya Danis.
"Sorry, gue harus kesana."
Akhirnya gue punya alasan untuk menyudahi pertemuan yang gak gue harapkan ini.
Gue segera menghampiri teman-teman gue yang sudah menunggu.
-POV Anji-
Gue baru saja kembali dari kantin sewaktu gak sengaja, gue melewati kelas 1i dimana tanpa sengaja gue mendengar Adele dan Danis sedang membicarakan Jelita. Gak tau kenapa, kaki gue memilih berhenti sebelum gue melewati mereka.
"Heran aja aku mah Dan, si anak baru itu cepet banget cari mukanya. Manfaatin banget muka polosnya."
"Tapi dia emang lucu, Del. Mukanya kayak pikachu."
"Apanya yang lucu, untung aja dia gak ikutan masuk ke ekskul cheerleader. Kalau sampe dia ikutan, aku orang pertama yang akan nolak."
"Eh, bentar deh... itu ada anaknya lewat sini. gue panggil ya?"
"Jeli! Nama kamu Jelita kan?!" Teriakan Danis barusan berhasil membuat Jelita nge-rem mendadak.
"Gue?"Jelita nampak menyahut sambil keheranan.
"Iya, siapa lagi?" Sahut Danis kemudian.
Gue melihat Adele yang enggan menatap Jelita.
"Kok, tau nama gue?" Jelita bertanya dengan polos.
Gue sedikit terkekeh melihat kebodohan Jelita barusan. Bener-bener oneng banget nih anak.
"Gimana gak kenal nama kamu, waktu pertama kamu ngenalin diri di tengah lapangan sekolah pas kamu baru masuk. Kamu kan sebut nama kamu nyaring banget. Lupa?"
Nampak Jelita yang spontan menepuk dahi sambil nyengir.
"Hehe, iya.."
"Jel! Jeli!!! Gimana?!" teriak Tineukeu.
Ahhh untung saja teman-temannya Jelita memanggil dari depan ruang OSIS yang kebetulan letaknya tidak jauh dari kelasnya Danis.
"Sorry, gue harus kesana."
Dan sepeninggal Jelita masuk kedalam ruangan OSIS, gue sengaja berjalan tepat melintasi Danis dan Adele sambil sengaja gue geleng-geleng kepala menatap Adele dengan tatapan tajam sampai kemudian Adele berujar :
"Uuups, kayaknya gue harus pulang deh Danis. Bye Danis..."
Adele langsung lari ngibrit.
*****
"Aman Jel?" Seru Tineuke saat gue menghampiri mereka.
"Beres. Yuk, masuk." .
Gue menyerahkan kunci pintu ruangan OSIS kepada Upik untuk mempersilahkan Upik yang membukanya.
Setelah semuanya masuk, kemudian tak selang satu menit Upik pun memimpin diskusi hari ini.
Tentang tugas pertama kami, dan ini juga untuk kali pertama kami disatukan dalam satu kelompok Seni Tari.
Pertama, kami membahas tentang koreografi.
Dari suara terbanyak, kami akhirnya sepakat untuk membuat gerakan dengan penggabungan antara gerakan tari tradisional dan gerakan tari modern.
Hasil diskkusi yang kedua sebagai bahan referensi, Tineuke akan meminjamkan DVD Spice Girls untuk di teliti gerakan-gerakan tariannya.
Dan sebagai bahan referensi selanjutnya, April akan mengajari kami gerakan tari Jaipong yang dipelajarinya di sanggar tari.
Juga Nandha yang memang seorang penari Bali.
Diskusi yang ketiga, kami sepakat untu memulai latihan besok sepulang sekolah.
Kami juga sepakat untuk latihan di rumah Ika selain karena rumah Ika letaknya hanya beberapa langkah dari sekolah, dan agar memudahkan kami dalam melakukan jadwal ekstra kulikuler masing-masing usai latihan Seni Tari ini.
Kami tak lupa membuat yel-yel khusus untuk kelompok kami.
Karena kami tergabung dalam kelompok lima yang dibagikan oleh Kak Putri, maka kami juga sepakat menyebut nama kelompok kami dengan sebutan deLima.
Supaya lucu-lucuan dan seru-seruan aja.
Setelah sepakat semua, akhirnya kami membubarkan diri dan keluar dari ruangan OSIS kecuali Upik dan Dewi yang memang harus ikutan kegiatan OSIS setelah ini.
Sementara Tineuke, April dan Bonita harus juga ikutan latihan Paskibra siang ini.
Begitu juga dengan Nanda yang harus cepat meninggalkan sekolah karena sudah dijemput mamanya untuk segera ke sanggar tari.
Tinggalah gue, Suzan, dan Ika yang berjalan beriringan keluar dari pintu gerbang sekolah.
Namun langkah gue terhenti ketika dengan tiba-tiba Adele menghadang untuk mengajak pulang bareng.
"Hai Jel, pulang bareng yuk! Kalau gak salah, arah rumah kita satu arah kan Jel?" Tanya Adele.
Gue mengangguk membenarkan.
"Kita naik angkot bareng aja." Saat gue hendak mengiyakan tiba-tiba tangan gue ditarik oleh seseorang.
Anji. Nih orang isengnya kebangetan ya. Suka tiba-tiba nongol, tiba-tiba juga narik tangan gue gak pake aba-aba.
"Jelita pulang bareng gue. Kalo naek angkot ntar dia nyasar lo mau tanggung jawab?"
Seruan Anji membuat Adele menatap Anji dengan wajah sebal.
Sementara Ika dan Suzan hanya berani menahar kikikan tawanya.
Gue cuma bisa cemberut mendengar ucapan Anji yang meledek barusan.
Seolah gue adalah makhluk lemah dan tidak sanggup naik kendaraan umum.
"Yaudah. Tapi nanti sore gue telpon kerumah lo ya? Gue butuh temen curhat."
Ujar Adele tanpa memperdulikan tatapan Anji.
"Iya, Del."
Gue menyahut sambil berlari-lari kecil akibat harus menyeimbangkan langkah kakinya Anji yang panjang-panjang.
"Naek sepeda?" Tanya gue begitu mereka sampai di halaman parkir.
"Lo kira-kira kalo mau ngehina orang. Lagian kalo gue naik sepeda, kasihan sepeda gue udah gak sanggup boncengin elo yang makin bogel."
Ucapan Anji barusan membuat gue harus menarik nafasnya dalam-dalam.
Dosa apa, gue bisa punya temen kayak dia.
Anji mengeluarkan vespa birunya dari barisan parkiran. Gue segera naik di boncengannya.
"Pegangan yang kenceng kalo lo gak mau jatoh."
"Elo juga nyetirnya jangan tengil. Inget lo lagi bawa orang, bukan bawa paket."
Dan begitulah keributan kerap terdengar sepanjang perjalanan hingga tiba di depan rumah gue.
---------------------------------
Namun tanpa ada yang mengetahui jauh di dalam hati, masing-masing tengah mengenang masa-masa SD.
Masa kanak-kanak mereka yang kerap pulang sekolah bersama naik sepeda dan masih sama seperti ini.
Saling menimpali dalam pertengkaran verbal.
(*****)