
Waktu di rumah menunjukkan pukul 7 malam.
Saat ini mama sedang asik nonton sinetron Terpuja yang menjadi favoritnya setiap hari.
Dering pesawat telfon rumah yang bersahut-sahutan nyaris tak didengarnya.
Gue sendiri saat ini sedang pusing mengerjakan Pe-eR fisika, ditambah pusing dengan dering telfon yang nyaring.
'Duuuh, gak ada orang di ruang tengah apa ya? Sampe gak ada yg nyahut gitu.'
Gue membatin dalam hati.
Dengan bete, akhirnya gue keluar dari kamar dan alangkah terkejutnya gue ketika mendapati mama yang tak bergeming sama sekali.
Itu nyokap gue. Namanya Ibu Oca. Usianya masih 34 tahun tapi sudah punya anak 3. Gue adalah anak pertamanya yang berusia 13 tahun. Pekerjaan nyokap gue sebagai pegawai swasta, dengan hobby nonton sinetron 'Terpuja'.
Kalau sedang nonton sinetron kesukaannya, jangan pernah berharap kalau dia akan tersadar bahwa kamu adalah anak kandungnya.
"Mama, telfon bunyi tuuuh..."
kata gue sambil menunjuk pada pesawat telefon yang terduduk manis diatas buffet yang menjadi penyekat antara ruang tamu dan ruang tengah.
Namun apa reaksi mama kemudian?
Mama hanya manggut-manggut, nengok sekilas lalu matanya kembali ke layar tv berkonde.
Jelas gue jadi sebel.
"Yaudah, kamu angkat sana. Kalau ada yang cari mama, bilang mama sibuk."
Ujar mama tiba-tiba dengan tatapan tetap tertuju pada sinetron kesayangannya itu.
Akhirnya gue berjalan gontai kearah pesawat telfon sambil celingukan.
'Tumben bener rumah sepi. Kemana papa sama kedua adik-adik Jelita ya? Biasanya kan mereka aktif banget gerecokin mama'
"Halooo." Sapa gue ketika telfon sudah gue terima.
"Halo, Jelitanya ada?" Sahut suara di seberang sana.
"Gue Jelita. Ini siapa?"
"Jeliii!!" Jerit suara disebrang sana.
Buseeeet siapa sih ni orang? sakit kuping gue.
Gue sampai agak menjauhkan gagang telfon dari telinga saking kasihan sama gendang telinga gue ini.
"Ini gue Adele."
"Ooh, Adele. Ya, ada apa Adele?"
"Jel... gue mau curhat. Tapi sebelumnya gue mau nanya dulu sama elo."
"Nanya apa?"
"Soal Danis."
Deg! Tiba-tiba saja perasaan tidak enak menyergapi hati gue saat itu juga.
"Danis?" Ulang gue berkagak seolah ragu.
"Iya... kalian udah saling kenal, ya?" Lanjut Adele.
"Nghhh... gimana ya? Gak kenal-kenal juga sih, Del." gue menyahuti sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.
Soalnya jujur gue sendiri bingung.
Dibilang kenal, tapi ya gue emang udah saling kenal.
Dibilang gak kenal ya emang gue kan baru ketemu 2x.
Itu juga selalu tanpa sengaja.
"Mmmh... eh tapi bagus deh kalau kalian udah saling kenal. Jadi kan, elo bisa dengan gampang bantuin gue."
"Hah? B... bantu gimana maksudnya Del?"
Gue jadi gagap sambil memastikan.
"Iya, gue butuuuuh banget bantuan dari elo. Soalnya gue udah gak bisa lama-lama lagi nahan rasa suka gue sama Danis. Lo mau, kan bantuin gue?"
"Bantuinnya gimana?" Gue mencoba mengulangi.
"Mmmh... gue butuh bantuan elo untuk jadi makcomblang gue."
"Hah? Gimana? Gimana?"
"Duuh, makcomblang Jel... mau yaaaa pliiiisss"
Gue tidak menjawab dan malah bingung tak tau harus melakukan atau menjawab apa.
"Ta... tapi..."
"Udaaaah, iya aja siiih..."
"Hmmmm... mau bilang nggak tapi pasti elo bakal tetep maksa kan?"
"Cerdas banget!"
"Ntar kalo Danis nanya gimana?"
"Mmmh... kalo Danis nanya, pokoknya elo harus kasih penjelasan dan elo harus bagus-bagusin nama gue. Dan kalo bisa elo cari tau kesukaan Danis itu apa."
"Hah? Harus gitu ya?"
"Harus. Elo pasti mau kan Jel?"
Gue menarik nafas sedalam-dalamnya.
Tuhan, apakah gue sedang terjebak?
"Harus besok ya Del?"
"Besok banget, Jel." Rengek Adele.
"Hhhh... yaudahlah biar cepet."
"Aaaaaah... thank you, Jelita!!! Elo emang terbaik! Eh by the way, udah dulu ya. Besok siang gue tunggu di kelas. Daaaah Jelita!!"
"Yaa..." Gue menyahuti sekenanya.
Dan klik! Telfon di tutup dari seberang.
Gue kembali menarik nafas panjang.
Ya Tuhan, cobaan ini berat.
Hati gue terpotek rasanya.
Duuuh, kasihan ya Jelita.
Sebagai pribadi sebenernya Jelita ingin banget menolak tawaran Adele untuk jadi makcomblang.
Tapi mengingat Adele adalah teman pertama yang dia kenal selama dia menjadi murid baru, Jelita jadi tak kuasa menolak.
Gue berjalan gontai dan terduduk lemas di sofa, disebelah mamanya.
"Telfon dari siapa tadi?"
"Temen Jelita, Ma."
"Cowok?"
"Cewek. Namanya Adele." Kata gue sambil menatap nanar ke depan.
Pandangan gue tiba-tiba kosong.
Mood gue tiba-tiba berantakan.
"Kok, gak ceria amat mukanya kayak yang habis ditolak cowok."
Spontan gue jadi mendelik sebal ke arah Mama karena kesal di tuduh seperti itu.
"Beneran, kan? Tuh ini yang mama gak suka kalo anak ABG kayak kamu udah main cinta-cintaan, pacaran. Bete dikit, ngelamun deh. Konsentrasi belajarnya buyar deh. Pandangan kosong, kayak manusia gak dikasih makan 7 hari. *|&@2£|€]+"
Mama masih terus nyerocos ketika suara pintu depan terbuka dan muncul sosok 2 monster kecil berhamburan kepelukan mama, disusul sosok Papa yang masuk kedalam sambil cengar-cengir dan menenteng bungkusan beraromakan nasi goreng.
"Ada apa sih?" Tanya Papa kepingin tahu dan ujug-ujug nimbrung.
"Nasehatin tuh, anak sulungnya. Jangan dulu pacaran."
"Tuh, denger kata Mama. Jelita gak boleh pacaran dulu ya. Jelita harus fokus belajar dan tunjukin prestasi."
Papa mengompori.
Gue semakin cemberut.
Dalam hati gue hanya bisa berucap :
'Klo kayak gini, siapa yang berani pacaran coba?'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hmmm... menurut kalian, kira-kira Jelita sanggup gak ya jadi makcomblangnya Adele?
Sezuzurnya nih gaes, gw sebagai penulis bingung apakah ini di masukan kedalam bab khusus atau special part. Tadinya malah part ini mau gw skip karena merasa bukan bagian penting. Tapi akhirnya memang perlu di munculkan supaya ada benang merah nih antara episode sebelumnya dan selanjutny. Aaaah bacotan apasih ini? Pokoknya selamat membaca ya teman-teman. Jangan lupa di like juga 🤍
Thanks,
Y.L.S