
Minggu sore ini sepertinya menjadi sore yang membosankan bagi Suzan.
Bagaimana tidak, seharusnya sore ini Suzan dan teman-temannya bisa latihan menari dengan formasi personil yang lengkap.
Suzan terduduk lesu di salah satu sudut aula tempat Suzan dan teman-temannya berlatih.
Ya, hari ini adalah latihan terakhir mereka.
Soalnya, besok mereka sudah harus tampil disini, di panggung aula ini, dihadapan seluruh kelas.
makanya, sore ini mereka bersungguh-sungguh dengan latihan ditempat ini.
Ya, hitung-hitung Gladi Resik ala-ala deh.
Melihat Suzan yang nampak termenung, April menghampiri sambil menyodorkan es teh manis dalam kantung plastik.
"Minum dulu, Zan."
Sodoran April disambut senyuman lesu dari Suzan.
"Terima kasih."
"Udah dua minggu lebih Jelita gak masuk sekolah. Coba, Jelita udah sembuh dari typusnya ya. Formasi kita jadi gak pincang."
April akhirnya membuka percakapan.
Suzan menatap April sambil mengangguk setuju.
"Ada atau gak ada Jelita, kita tetep harus tampil kan. Gak ada alasan untuk kita berhenti disini."
Tineukeu ujug-ujug nimbrung sambil ikutan duduk lesehan.
"Tineu bener. Kita harus semangat, demi hari-hari latihan yang udah kita lakuin. Semangat, semangat Girls!!" Sahut Nanda ikut-ikutan menyemangati sahabat-sahabatnya.
Suzan tersenyum haru melihat teman-temannya yang bersemangat.
Dari tempat sound system, Upik kembali memutarkan musik pengiring latihan mereka.
"Yuk, mulai lagi yuk!"
Seru Upik sambil menarik lengan teman-temannya untuk bangkit dan kembali bersemangat.
Tanpa mereka sadari, pintu aula tiba-tiba terbuka dan muncul sosok yang sangat mengejutkan mereka (boleh pasang sound serem biar kayak di film-film).
Sosok itu berjalan santai kearah delapan cewek-cewek yang lagi asik latihan.
Dengan iseng, lagu pengiring tadi dia tukar dengan lagu 'Boneka Susan'.
Susan, susan, susan... udah gede mau jadi apa? Aku kepingin pinter biar jadi dokter.
Mengejutkan tapi sebel sekaligus bahagia luar biasa setelah tahu siapa makhluk iseng barusan yang se enaknya ganti-ganti lagu.
"Jelita jeleeeekkkk!!!"
Seru mereka nyaris kompak sambil berhamburan berlari memeluk Jelita.
"Kangen kan... kangen kan..."
Sambut Jelita tak kalah senang.
"Idiiih!!"
"ai maneh atuh kok bisa kesini? Emangnya udah sembuh kamu teh?" ujar Ika.
Jelita senyum-senyum sambil mengangkat kedua alisnya.
"udah dooong.."
"Euh cengos! Hayuk atuh kita joged."
April menari Jelita keatas dan sebagian mendorong tubuh Jelita supaya mau ikutan latihan diatas panggung sambil tertawa-tawa bahagia.
Jelita pun lebur dalam kekompakan teman-temannya.
Sungguh Suzan ingin meralat kalau minggu sore ini rupanya penuh kejutan yang membahagiakan.
...****************...
Senin pagi ini, usai upacara bendera yang menjadi rutinitas wajib seluruh siswa siswi SMPN 3 Cimahi telah berkumpul di aula sekolah.
Mungkin lebih tepatnya berdesak-desakan dan penasaran akan penampilan siswa-siswi kelas satu yang akan melakukan perform pelajaran Seni Tari.
Yang menjadi jurinya tak lain adalah jajaran guru dan Bapak Herlambang Kepala Sekolah yang baru.
Setiap kelompok yang tampil pasti disambut sorak sorai penonton.
Bonita dan sahabat-sahabatnya tengah mempersiapkan penampilan mereka.
Menggunakan kostum terbaik.
Tineukeu dan Nanda yang pernah pengalaman sebagai finalis model majalah remaja ikutan mendadak menjadi make up artis.
Memulas wajah teman-temannya supaya lebih cantik sempurna.
"Awas ketebelan, Tineu. Kalo sampe ketebelan lo gue tampol ya.."
Protes April dengan galak.
Jelita tak kuat ngakak melihat keributan Tineukeu dan April.
Tiba-tiba Adele datang menghampiri.
"Kaum dakocan, masih berani tampil?" Ujarnya sambil menatap Jelita dengan sinis.
"Duh, mendadak hareudang gini. Ini gunung merapi pindah ke Cimahi gitu ya?"
Sindir Ika sambil bergaya mengibas-ngibaskan tangan.
Adele menatap mereka dengan geram.
"Jigana berikut titisan mak Lampir ikutan ke Cimahi. Ingin piknik sepertinya."
Sahut Tineukeu ikut-ikutan.
"Emang di Cimahi gak ada gunung merapi, ya? sampe mak Lampir pindah kesini."
Tambah Dewi dengan polos tapi sungguh mengena bagi Adele.
Dengan murka, Adele meninggalkan kelas sambil menghentak-hentakkan sepatunya.
"Aku mah sungguh kasihan sama sepatunya da."
lanjut Dewi kembali sambil geleng-geleng kepala.
Dan inilah tiba saatnya kelompok sembilan dari kelas 1G.
Musik bergema keseluruh penjuru Aula mengiringi penampilan sembilan cewek-cewek ini.
Tepuk tangan dan juga teriakan heboh dari anak-anak basket terdengar riuh saat nampak Jelita ikutan perform hari ini.
Mendadak mereka menjadi fans dadakan Jelita.
Ditengah kerumunan orang-orang, Anji menatap Jelita sembari tersenyum dalam hati.
"Dia akan selalu baik-baik aja."
gumam Anji pelan namun nyaris terdengar oleh Adhit.
"siapa?"
"Kamyuuu..."
balas Anji sambil mengedipkan sebelah matanya.
Penampilan Susan, Jelita dan teman-temannya mampu mendapatkan standing applause dari Pak Herlambang.
Kalau audience sih jangan ditanya lagi.
Soalnya kak Muthi bawa bala-bala penonton bayaran.
Kak Muthi memboyong anak-anak kelas tiga untuk mendukung Jelita malah pakai yel-yel segala.
Alhasil, saat Jelita dan teman-temannya tampil tadi seisi Aula ricuh menyerukan nama Jelita.
...****************...
Tiga hari sudah berlalu sejak penampilan perdana Jelita pasca sakit.
Jelita juga sudah berkegiatan secara normal kembali.
Dan ini adalah hari Kamis sore dimana Jelita kembali latihan basket menjelang kompetisi hari Sabtu nanti.
"Je, jangan di paksa. Lo yakin, lo udah kuat latihan?" ujar Bona disela latihan mereka.
"Aman Bon. Gue udah gak kenapa-kenapa kok."
"Tapi masalahnya lo baru sembuh sakit." sahut Kak Muthi ikut-ikutan.
"kalian percaya sama gue kan?"
"Tentu aja nggak!"
Sahut Anji yang tiba-tiba sudah berdiri disebelah Jelita.
"Nih minum. Ntar pingsan lagi, gue ogah nolongin lo. Badan lo berat."
ujar Anji sambil nodongin botol air mineral.
Jelita menyambut botol air tadi dan langsung meneguknya hingga kandas.
"pelan-pelan kalo minum. kayak gak pernah nemu aer setahun."
"Aus sama gerah gue denger ocehan lo."
sahut Jelita sambil kembali lari ketengah lapangan untuk menghampiri Bang Daniel yang sudah standby untuk melatih.
"Ayo come! Come! Latihan lagi! Semangat!"
seru Bang Daniel pada adik-adik didiknya.
"Jel, gue percaya sama elu. Tangkep ini dan mulai latihannya!"
Bang Daniel melempar bola basket yang langsung disambut oleh Jelita dengan cengiran khasnya.
...****************...
Hari pertandingan basket akhirnya tiba.
Jelita dan teman-temannya sudah berada di GOR Pajajaran Bandung.
Bang Daniel tengah memberi petuah-petuah mujarab nya.
Sungguh sebuah nasehat yang berfaedah dan sayang jika dilewatkan.
Karena sekolahnya masuk kedalam kompetisi basket se Jawa Barat, beberapa siswa-siswi SMPN 3 Cimahi turut hadir menjadi supporter.
Pada pertandingan basket putera, genk basket Riga dihadapkan dengan genk basket dari SMP Gajah Mada.
Tentu saja disana ada Arman dan Devano.
ketika mereka bertemu di tengah lapangan, Anji dan Arman saling tos ala pria dewasa.
Jelita yang menonton dari pinggir lapangan sampai geleng-geleng kepala.
Kelakuan dua bocah itu sungguh lucu.
"walo hari ini kita rival, tapi gue tetep sayang lo nji."
Bisikan Arman yang disambut tinjuan ditangan dari Anji.
"Alhamdulillah gue normal masih suka sama cewek."
Dan pertandingan dimulai.
Sempat terjadi kejar-kejaran score dan dipatahkan oleh lemparan Three Point dari Adhit yang menandakan kemenangan dari SMPN 3 Cimahi.
Selanjutnya adalah pertandingan basket Puteri.
Jelita, Bona, Muthia berkolaborasi dengan keahliannya masing-masing.
Score basket putri Riga sempat tertinggal namun berhasil dikejar.
Dan Jelita nampak begitu lincah mengoper bola.
Ditengah usahanya merebut bola, Tiba-tiba pandangan Jelita hampir kabur.
Jelita tiba-tiba merasakan pusing.
Jelita sempat mematung di tengah lapangan.
Dan saat Kak Muthi berteriak memanggil namanya saat melempar bola, secara refleks Jelita berhasil menyambut bolanya.
Teriakan Anji, Arman, Devano yang memanggil namanya sempat terdengar sayup.
Jelita menoleh kepinggir lapangan.
Teman-temannya nampak menyemangati dengan teriakan.
"Elo pasti bisa!"
Suara bang Daniel saat memberi petuah tadi pagi kembali terngiang.
"Jeli, gue percaya sama elu. Elu pasti bisa membawa nama sekolah kita jadi juara."
Jelita memejamkan matanya sejenak.
Di tengah situasi sulit, Jelita membawa beban nama sekolahnya.
Dengan tubuh mungilnya yang boleh dikatakan mustahil jika memaksakan lemparan Three Point, Jelita berujar lirih.
'Ya Tuhan, kuserahkan padamu segala niat baikku.'
Jelita melempar bola basketnya dengan penuh keyakinan dan 'Bles!'
Masuk!!!
Team basket Putri Riga berhasil masuk tiga besar.
Dan semuanya bersorak sorai penuh kegembiraan.
Juga, kabar gembira ini telah sampai kepada Bapak kepala sekolah.
Pak Herlambang tersenyum-senyum penuh bangga dipinggir jendela ruang kerjanya ketika menerima kabar melalui telepon dari sekertaris pribadinya.
"Frans, tolong aturkan jadwal di hari senin usai upacara sekolah bahwa saya secara pribadi mengundang mereka ke ruang kerja saya. Daftar nama-nama yang saya undang sudah saya siapkan. Silahkan kamu koordinasikan dengan wali kelas mereka."
"Baik, saya laksanakan Pak."
Usai menutup teleponnya, Pak Herlambang kembali membaca daftar nama siswi-siswi pilihan yang sudah ditulisnya.
"Saya punya keyakinan besar bahwa mereka dalah bintang dimasa depan."
.........****************.........