
Kami adalah generasi yang punya banyak mimpi
Kami sadar, bahwa dengan bermimpi saja tidak cukup.
Kami harus beraksi
Agar tidak menyesal nanti
Kami bersemangat dengan sepenuh hati
Tak kan kulewati masa remajaku ini
Dengan hanya berdiam diri
Kan ku kejar semua mimpiku ini - y.l.s
Seminggu berlalu sejak perkenalan dengan Bapak Kepala Sekolah yang baru.
Dan sejak hari itu juga, ucapan sang seniman itu tidaklah main-main.
Beberapa perombakan mulai di jalankan dengan gerakan nyata. Mulai dari 'Reshuffle' kabinet pengajar, penambahan mata pelajaran ekstra yang dinamakan 'Mulok alias Muatan Lokal' Yaitu mata pelajaran ekstra sesuai minat dan bakat.
Salah satunya adalah Seni musik dan Tari.
Tak hanya itu, system pengajaran pun pelan-pelan dilakukan perubahan dengan system kompetensi.
Jadi nantinya para staf pengajar gak perlu capek-capek Menerangkan isi buku pelajaran, tapi justru lebih ke praktikum dan diskusi.
Nah, siswa siswinyalah yang di ajarkan untuk lebih aktif dan vocal, juga system yang saat ini diterapkan adalah lebih melibatkan peran serta orang tua murid dalam system belajar-mengajar.
Gak hanya itu, kegiatan ekstra kulikuler sekolah pun banyak penambahan ekskul yang lebih mendorong kepada kegiatan yang bisa di ikut sertakan dalam berbagai kompetisi.
Seperti hari ini, anak-anak anggota OSIS sedang sibuk membagi-bagikan Flyer dan Formulir kegiatan ekstrakulikuler baru yang dapat di ikuti oleh seluruh siswa-siswi SMP Negeri 3 Cimahi.
Dan sampailah kemudian pada meja yang dihuni oleh gue dan Suzan.
Seperti biasa, Suzan si anak rajin ini dengan tekun dan seksama membaca flyer yang dibagikan.
Kalau gue sih terus terang malas membacanya dan selain daripada itu, sebenarnya malas untuk ikut serta organisasi apapun bentuknya. Kalau kata Devano sepupu gue yang tak lain adalah adik kandung dari Kak Ido, gue ini sama sekali gak punya minat dan bakat.
Makanya gue sempat dinasehati habis-habisan oleh Kak Ido (mentang-mentang kak Ido itu ketua OSIS disekolah), katanya berorganisasi itu bagus untuk melatih kita lebih bertanggung jawab, jadi punya banyak teman, melatih kita caranya mengemukakan pendapat, melatih kita berkomunikasi dan sebagainya. Semua kata-kata kak Ido dan Devano terus terngiang-ngiang dalam ingatan gue.
Gue menarik nafas panjang sebelum akhirnya mau dan tidak mau gue membaca flyer bagian Broadcasting.
Sepertinya menarik bagi gue.
Gue melirik kearah Suzan yang juga tengah memperhatikan gue.
"Jeli udah punya pilihan?" tanya Suzan kemudian.
Gue mengangkat kedua bahu.
"sebenernya belum ada pilihan sih. Kalau Suzan?" Gue balik menanyai Suzan yang terkekeh kecil.
"ini." tunjuk Suzan pada tulisan 'Animasi'.
"Aku sebenernya bisa bikin komik loh. Suka aja ngegambar ala-ala komik gitu. Dari dulu sebenernya aku pingin belajar bikin animasi secara profesional kayak di Jepang gitu." Jelasnya lagi kemudian yang membuat gue semakin terkagum.
Suzan memang luar biasa.
"Suzan, kamu sempurna" puji gue tak bisa lagi menutupi rasa kagum.
Lalu kamu berdua pun kembali berfokus mengisi formulir yang sudah dibagikan.
......................
Lonceng pertanda pulang sekolah berbunyi nyaring.
Siang ini, seluruh murid kelas 1G berniat menjenguk Salsa. Oiya, sebelum Gue bergabung menjadi murid SMP Negeri 3 Cimahi, Suzan duduk sebangku dengan Salsa. Satu hari sebelum kehadiran gue katanya terjadi tragedi kecelakaan yang menimpa Salsa yang mengharuskan kakinya di operasi.
Dan selama 1 bulan pasca operasi, Salsa di haruskan beristirahat penuh sambil berobat jalan.
Hal ini menyebabkan orang tua Salsa mengambil keputusan untuk Salsa mengambil program 'Home Schooling' karena kondisi Salsa yang tidak memungkinkan untuk bersekolah secara normal.
Dan tentu saja keputusan orang tua Salsa ini membuat teman-teman sekelas jadi bersedih.
Makanya, siang ini kami sepakat untuk menjenguk Salsa di rumahnya.
Kami berangkat menggunakan mobil operasional sekolah yang di pinjam khusus oleh Ibu Rihana selaku wali kelas 1G.
Kami berangkat beriringan dengan sebagian murid lelaki yang berangkat menggunakan motornya masing-masing.
Akhirnya kami tiba di rumah Salsa.
Rumah yang boleh dibilang sangatlah asri. Berada di lereng perbukitan Parompong.
Juga Masih banyak pohon-pohon pinus yang rindang.
Suzan dan teman-teman saling kangen-kangenan dengan Salsa yang nampak berbaring lemah disebuah tempat tidur.
"Terima kasih, ya udah nengok Salsa." Salsa terharu melihat kedatangan teman-temannya.
"Ini siapa?" Tanya Salsa yang merasa asing dengan sosok gue yang lancang ikut-ikutan teman sekelas.
"Oh, ini Jelita. Murid baru dikelas kita, Sal." Ujar Dewi yang mewakili memperkenalkan gue pada Salsa.
Gue jadi mau tidak mau melangkah maju lebih mendekat pada Salsa.
"Hai. Salam kenal, cepet sembuh ya Salsa. Biar kita bisa makin akrab dikelas." Ujar gue memperkenalkan diri.
Salsa tersenyum senang.
"Terima kasih Jelita. Seneng banget punya temen baru kayak kamu."
Belakangan gue baru tahu kalau Salsa senang bisa berkenalan dengan gue yang katanya lucu.
Setelah di jamu makan siang oleh keluarga Salsa, kamipun berpamitan untuk kembali ke sekolah karena drop pointnya mobil operasional ya harus dikembalikan ke sekolah. Kecuali anak-anak cowok yang memakai kendaraan pribadi. Mereka bisa langsung pulang kerumah masing-masing.
Dalam perjalan kembali ke sekolah, gue yang kebetulan berada dalam satu mobil dengan Adele mendapat curhatan dari Adele tentang gebetan.
Jadi ceritanya Adele sedang naksir cowok anak kelas lain yang juga anggota OSIS. Mengingat gue adalah adiknya kak Ido si ketua OSIS, makanya Adele tidak sungkan bercerita sama gue.
"Namanya Danis, Jel. Kak Ido pasti kenal dia." cerita Adele. Gue hanya menyimak.
"terus Danisnya tau gak kalo kamu naksir dia?" Gue bertanya dengan polosnya.
Adele menggelengkan kepalanya malu-malu.
"Aku gak berani bilang sama dia. Takut di tolak." Jawabnya.
"Yaaa.. kenapa takut? Bukannya perasaan itu harus di ungkapin ya? Terus kamu udah pernah ngobrol sama dia?" Tanya gue lagi masih penasaran. Adele kali ini mengangguk.
"udah beberapa kali." Lanjutnya.
"Nah, kalau gitu terus aja deketin dia. siapa tau setelah deket ternyata dia jadi tertarik sama kamu." Gue sok-sok an memberi saran dengan antusias dan penuh semangat.
Adele manggut-manggut setuju.
Sepanjang perjalanan, dia terus bercerita dan sesekali diiringi derai tawa kami.
......................
Dan akhirnya sampailah kami di halaman parkir SMP Negeri 3 Cimahi. Karena hari sudah agak sore, Gue memutuskan untuk tidak langsung pulang tetapi pergi mencari Kak Ido yang gue ketahui siang ini sedang meeting OSIS.
Siapa tahu kak Ido sudi mengantar gue sampai kerumah. Pasti sudilah. Kak Ido kan orangnya gak tegaan hehehe..
Gue berjingkat-jingkat mengintip di balik jendela ruangan OSIS. benar saja, mereka masih meeting.
Ridho yang sedang berdiskusi sempat melihat gue dan akhirnya dia menghentikan sejenak diskusinya.
"Sebentar, saya keluar dulu."
"Jeli." Panggil Ridho dibalik pintu ruang OSIS dan menatap gue yang masih berdiri disana.
"kok belom pulang?" Tanyanya kemudian. Gue cepat-cepat menggelengkan kepala.
"Tadi Jeli habis nengokin temen sekelas Jeli. Kak, Jeli boleh pulang bareng kak Ido ya.." terang gue sembari memberi tanda memohon pada kedua tangan seperti gaya namaste. Ridho tersenyum melihat gue memohon-mohon seperti itu.
"Iya, nanti kak Ido anterin sampe rumah." Sahutnya.
Ya jelas gue jadi giranglah. Lumayan kan mengirit ongkos.
Gue cepat-cepat mengangguk senang sambil berjalan riang.
Ah, syukurlah. Akhirnya gue duduk di pinggir lapangan sekolah membelakangi pintu ruang OSIS dan memandang anak-anak basket yang sedang latihan.
Ada Adit teman sekelas gue disana, dan juga Anji.
Anji adalah teman sekelas gue di SD dulu. Sebenarnya gue dan Anji tidak terlalu akur mengingat dulu kami berdua kerap berantem seperti Tom and Jerry. Anji yang suka usil, dan gue yang suka ngambek setiap kali kena usil. Tapi di lain sisi, Anji juga teman yang baik (walau jarang terlihat sisi baiknya) karena dulu waktu SD setiap kali gue terlambat di jemput oleh mama, Anji dengan setia ikutan nemenin gue menunggu sambil minum yakult pake sedotan tipis.
Atau gak, beberapa kali gue pernah diantarkan pulang dengan di bonceng sepedanya Anji karena kebetulan kompleks rumah gue satu arah dengan kompleks rumah Anji.
Eh, eh.. ngapain tuh Anji berjalan mendekati gue?
"Belom di jemput lagi?" tanya Anji sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil.
"emang gue anak SD di jemput mama mulu." Gue jadi sewot.
"diiiih kok nyolot sih? orang nanya juga." Balas Anji tidak terima dengan nada ketus gue tadi.
Duh, jadi feel guilty ngerti gak sih?
"Nih minum" lanjut Anji sambil melempar botol air mineral tepat mengenai jidat gue.
Jelas membuat gue kesal dong.
Tapi akhirnya gue Terima juga. Lumayan haus sedari tadi kepanasan di pinggir lapangan.
Gue meminum air mineral yang tadi di lempar Anji.
"Hai, kamu pasti yang namanya Jeli ya? Adiknya Ridho?" Sapa seorang anak basket cewek berambut panjang dan bertubuh tinggi.
"Kenalin, aku Muthi temen sekelas Ridho." Ujarnya lagi sembari mengulurkan tangan.
Gue membalasnya sambil tersenyum kikuk.
"iiih, cute banget sih kamu." Puji Muthi.
"Ih, cute katanya. Orang jelek begitu."
Si Anji ngapain sih masih aja ledekin gue.
Jelas gue melotot membuat bola mata ini nyaris keluar gara-gara mendengar kata-kata Anji barusan.
Muthi yang melihat kami berdua langsung tertawa terbahak.
"Daripada kamu bengong disitu, mending ikutan kita main basket yuk!" Ajak Muthi kemudian.
Gue terperangah akan ajakan Muthi tiba-tiba.
"Nah, iya bener. Nih!" Lagi-lagi Anji yang tidak ber-aba-aba melemparkan bola basket ke arah gue yang membuat gue kaget dan refleks menangkapnya. Untung refleksnya beneran ketangkep loh. Sialan emang si Anji.
"Lu harus rajin-rajin olah raga biar gak cebol begitu." Masih, Anji meledek gue.
Bener-bener deh nih pentul korek.
Jelas gue merasa tertantang.
"Anji iiiih.. makin lama makin nyebelin ya."
Gue pun berdiri dan berjalan dengan gagah ke tengah lapangan.
Anak-anak basket yang lain tertawa mungkin geli juga melihat kelakuan gue dan Anji barusan.
"we will see, palingan juga lemparannya meleset."
"oke, akan gue buktiin. Jangan bengong ntar ya."
"Udah, udah.. kita three on three aja gimana? Lo gabung sama kak Muthi dan Bona Jel. Kalo kelompok cewek menang, Anji kudu anterin Jeli pulang selama 1 minggu."
Adhit berusaha menengahi keadaan panas antara ini.
"Dih, tantangan apaan tuh.. gak ah! lagian juga dia gak mungkin bisa main basket." Anji menolak.
"udaaaah kita coba aja dulu. Sportif dooong.."
seru teman-teman yang lainnya.
Dan akhirnya Deal! Kami sepakat.
Pertandinganpun dimulai.
Dan gue bisa membuktikan dengan berkali-kali berhasil membuat three point.
Skor kini di kuasai team cewek.
"Siap-siap lo anter Jeli pulang 1 minggu Nji.." Ledek Adhit sambil terkekeh dan mengakibatkan bola berhasil di rebut oleh Bona.
Bona mengoper bola kearah gue yang berdiri tak jauh dari ring.
Gue bersiap-siap melempar bola yang bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan OSIS yang membuat mata gue jadi gak fokus akibat terlalu girang karena akhirnya kak Ido udah selesai meeting.
Daaaaan, kamu tau apa yang terjadi?
Bola pun melesat mengenai kepala seseorang dengan sempurna dan membuatnya terjatuh.
Anji yang melihat kejadian itu bersorak girang.
"See??? Apa gue bilang!" ujarnya puas sambil melebarkan kedua tangannya.
Gue yang terkejut karena lemparan gue ternyata nyasar segera berlari menghampiri seseorang yang baru keluar dari ruangan OSIS tadi yang terkena lemparan bola basket.
"oh my God!" seru gue refleks saat mendapati seorang cowok terjongkok sambil meringis memegangi jidatnya.
"Sorry, sorry.. duuuh.. gue gak sengaja. Maaf ya, pasti sakit." Gue memberondongnya dengan kata-kata dan permintaan maaf.
"iya sih, sakit banget. Tapi gak papa kok. Permintaan maaf kamu diterima." Ujarnya sambil tetap memegangi dahinya.
Gue jadi ikutan latah meringis.
"Beneran deh, gue jadi ngerasa bersalah." Jujur gue lagi.
"Beneran juga, gak papa kok." Sahutnya kali ini sambil senyum mungkin supaya gue gak lagi merasa bersalah.
Gue pun hanya tersenyum kikuk.
"Mau gue kompresin?" Entah ide bodoh apa yang sedang di ajukan gue ini.
Cowok itu mendekatkan wajahnya kearah gue yang membuat gue kaget.
"Boleh, nih." Ujarnya dan selang 5 detik kemudian diapun tertawa terbahak.
"Kamu lucu."
"Lo lagi bercanda ya?" gue mengeluarkan tampang polos gue saking gak pahamnya.
Untungnya tidak lama, Ridho keluar dari ruangan OSIS dan melihat adegan barusan.
"Ada masalah Jel?" Tanya Ridho terheran sambil menatap ke arah gue dan cowok itu.
Gue segera menggeleng takut dimarahin kak Ido.
"Gak ada kak." Ujar gue berbohong.
"Yaudah. Tunggu kakak di parkiran ya.. Kakak mau balikin buku ke perpus dulu." Lanjut Ridho sembari berjalan meninggalkan gue dan cowok tadi.
Gue jadi tersenyum kecut lalu berjalan hendak menuju parkiran motor.
"Hei! Kita belom kenalan." Cegah cowok tadi yang membuat langkah gue berhenti.
"Namaku Danis." Spontan gue terkejut dan menoleh kebelakang begitu mendengar nama itu. Danis... Gue lagi gak salah denger bukan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya Bab 3 berhasil gw selesaikan. Gimana menurut kalian? Makin greget gak sih? Kalau ada yang udah membaca cerita gw boleh minta tolong kasih komentarnya yaaa..
Terima Kasih, Salam sehat Selalu...
Y.L.S