
Habis shalat magrib berjamaah yang diimami oleh nenek. Gegas, kami pun menuju dapur membantu wanita yang sudah kami anggap nenek kandung sendiri itu mempersiapkan makan malam. Kemudian, kembali berkutat dengan setumpuk tugas.
Kuhentikan acara tulis-menulis saat jam dinding lonceng berdetak di angka tujuh, menit ke dua puluh. Waktunya sholat isya.
"Guys, gue shalat dulu, ya?"
Tiga orang yang tengah tengkurap sambil menulis laporan penelitian itu mengangguk.
Mengambil satu pelita, membawanya menerangi langkahku menuju dapur.
Gelap sekali. Dari sela-sela dinding bambu aku dapat mengintip semak-semak belukar yang meninggi, bunyi kodok dan jangkrik pun terdengar saling bersahutan.
Tak ada listrik yang menaungi perkampungan ini. Hanya ada secercah cahaya lampu pelita yang setiap hari memancarkan cahayanya di kala gelap gulita.
Hari ini sinar rembulan tampak tengah tersenyum sumringah, bersinar memancarkan cahayanya, rerumputan pun ikut bergoyang diterpa semilir angin yang berhembus pelan, masuk melalui celah-celah dinding yang bolong.
Urung, tanganku menggapai gayung, kukucek
mataku dengan kedua tangan memastikan apa yang aku lihat tidak salah. Tapi, saat aku membuka mata bayangan hitam itu hilang. Sekali lagi, aku mencoba menajamkan mata, tapi yang aku lihat hanyalah batang pohon kelapa yang menjulang tinggi.
"Araya!"
"Astaghfirullahalazim, Nek."
Nenek Base tersenyum. "Mau wudhu, ya?"
"Iya, Nek. Nenek mau ambil air wudhu juga?"
"Iya. Kamu ambil air wudhu saja dulu."
Kuanggukan kepala seraya bergegas mengambil air dalam gentong besar tersebut dan berwudhu.
"Nek, kita shalat berjamaah lagi, ya?"
Nenek Base menganggukkan kepalanya.
Sehabis shalat kembali kulanjutkan aktivitas sebelumnya. Menulis laporan.
"Tanganku pegel, " keluh Faridah sembari merentangkan kedua tangannya ke depan.
"Ya sudah. Gantian, biar gue lagi yang nulis, " ujar Aisyah.
"Kapan, ya, desa ini ada listrik? Biar kita nggak perlu capek-capek buat nulis laporan manual seperti ini lagi."
"Do'ain, aja, semoga listrik segera masuk ke kampung ini."
"Aamiin," ucap kami serentak.
"Oh Iya, Ra. Lo udah ngasih tahu, Pak Rohman atas kesediaannya untuk kita wawancarai besok, nggak?" tanya Sintia.
"Sudah, beliau bilang akan menunggu kita di sungai, saat beliau sudah kembali dari ambil bibit rumput laut."
Pukul dua belas malam.
Ketiga temanku sudah tertidur pulas, tinggal diriku yang masih berkutat terhadap laporan-laporan penelitian itu. Beberapa kali aku menguap. Mengantuk tapi mataku masih belum mau tuk terpejam.
Kuhentikan goresan penaku saat mendengar suara aneh dari bawah kolong rumah.
Apa ada pencuri? Suara langkah kaki seseorang terdengar menaiki satu per satu anak tangga rumah.
"Aisyah, Sintia, Faridah, Inayah."
Empat wanita itu hanya bergumam. Tak ada yang membuka mata.
Dengan sedikit keberanian. Aku mendekati pintu rumah. Mengambil tongkat kayu yang berada di belakang pintu tersebut.
Kuteguk kasar ludahku. Debar jantungku bertalu-talu. Tanganku gemetaran saat memegang gagang pintu.
"Ra!"
Terlonjak kaget reflek menoleh. "Astaghfirullahaladzim. Lo ngagetin, aja."
"Lo ngapain?" tanya Sintia.
"Kayanya di luar ada pencuri, " jawabku dengan suara pelan.
"Pencuri?" tanyanya memastikan.
Kami saling melempar pandangan kala sama-sama mendengar derap langkah kaki seseorang.
"Bentar, gue bangunin yang lain."
Tak berselang lama tiga wanita itu pun ikut bergabung. Membawa senjata berupa panci dan wajan penggorengan yang mereka ambil dari dapur.
Sama-sama melempar pandangan.
"Dalam hitungan ketiga, kita sama-sama buka pintu ini."
"Satu. Dua. Tiga."
Pintu dibuka. Posisi sudah berada dalam pose ingin gebukin orang. Tapi di luar tak ada siapa pun.
"Nggak ada siapa pun, " gumam Faridah.
"Kalian yakin kalau tadi ada orang?" tanya Aisyah.
Aku dan Sintia sama-sama menganggukkan kepala.
"Jelas-jelas kami tadi mendengar suara kaki seseorang, " jelas Sintia.
"Mungkin kalian salah dengar. Siapa tahu itu cuma suara kaki kucing atau hewan lainnya. Ya sudah, masuk, yuk. Gue dah ngantuk banget," papar Inayah seraya melenggang masuk ke dalam rumah. Diikuti Aisyah, Faridah dan Sintia.
Kakiku urung untuk melangkah masuk. Berbalik. Aku menajamkan mata saat menyadari ada sosok yang tengah bersembunyi di balik pohon kelapa yang berdiri tegak beberapa meter dari rumah.
"Ra. Lo, ngapain, sih, " gerutu Aisyah seraya menarik pergelangan tanganku masuk ke dalam rumah.
Pagi menyapa.
Aku mencatat setiap kata per kata yang keluar dari mulut Pak Rohman, salah satu nelayan rumput laut di desa ini.
Beliau tanpa jenuh menjelaskan setiap detail pekerjaannya. Salah satunya, adalah bagaimana cara mabettang (ikat rumput laut) yang menjadi sumber pencaharian penduduk sini.
Hampir setiap hari para ibu-ibu dan anak- anak perempuan pergi mabettang (ikat rumput laut). Dimulai dari pagi hari hingga menjelang sore.
Biasanya pekerjaan tersebut dilakukan di bawah kolong rumah atau di rumah-rumah yang sudah disediakan.
Pak Rohman mengajakku ke salah satu saung bambu yang berada di pinggir sungai.
Tampak sekumpulan ibu-ibu yang tengah duduk melingkari bibit rumput laut yang disimpan di tengah lingkaran mereka. Kemudian mengikatnya menggunakan tali nilon.
"Proses mengikat ini yang menjadi pekerjaan utama, sebelum di bawah kembali ke laut dan di panen. Bibit rumput laut yang ukurannya kira-kira sebesar telapak tangan orang dewasa ini diikat memanjang satu-persatu di tali nilon, hingga mencapai panjang kurang lebih 2 meter," tuturnya sambil mengangkat dan memperlihatkan agar-agar berwarna kecoklatan itu.
"Untuk upahnya sendiri berapa, Pak?"
"Untuk upah kami beri dua ribu per-tali."
Setelah melakukan serangkaian wawancara dan ikut nimbrung dengan ibu-ibu tersebut mengikat rumput laut, kami pun beranjak pergi, tak lupa mengucapkan terima kasih atas waktu dan kesediaan mereka membantu kami melakukan observasi penelitian.
"Ra, itu apa?" tanya ketiga temanku itu saat melihat beberapa orang wanita yang menggunakan baju bodo tengah jalan berbarisan.
"Itu namanya baju bodo, yang mereka bawa itu namanya erang eranga."
"Erang erang itu apa?"
"Erang erang itu adalah seserahan yang diserahkan oleh pihak pengantin pria kepada wanita."
Aku pun menjelaskan proses pernikahan adat Suku Bugis.
Dalam seserahan suku bugis terdapat perhiasan lengkap yang dijadikan sebagai mahar sementara barang lainnya yang turut dibawa adalah barang perlengkapan kebutuhan sehari-hari.
Yang berbeda dalam prosesi seserahan suku bugis ini adalah yang membawanya justru bukan orang tua melainkan para gadis.
Jumlahnya bisa mencapai 12 atau 15 orang sesuai dengan banyaknya jenis seserahan. Makin banyak gadis yang membawanya maka makin tinggi pula status sosial calon mempelai pria. Dalam suku bugis 'erang-erang' bermakna hadiah calon mempelai pria untuk mempelai wanita.
Tiga wanita yang aku beri penjelasan hanya ber-oh-ria.
"Ra, awas." Aisyah menarik tanganku untuk minggir. Memberi jalan orang-orang tersebut.
Hingga tanpa bisa dicegah mataku berpapasan dengan bola mata bapak lanjut usia yang tengah mengapit lengan sang calon mempelai pria.
Mata lansia itu membulat dengan wajah pias saat menatapku.
Ada apa dengannya?