
Ramai, satu kata yang mengungkapkan tempat ini. Banyak orang-orang yang berlalu lalang di sini. Di mana-mana terdapat para pedagang yang menawarkan barang bawaannya. Senyum sumringah dan sapaan ramah juga tak lekang dari para penduduk yang datang silih berganti.
Seperti jaman dahulu, wanita menggunakan kebaya dan sarung batik serta rambut yang disanggul. Terlihat anggun dan cantik yang natural.
"Laila?" Aku menoleh saat mendengar seseorang yang memanggil nama yang begitu familiar di telingaku.
Pria itu berlari menghampiri sosok wanita yang tengah melambaikan tangan padanya.
"Apa kamu sudah lama menunggu?" tanya pria itu.
Wanita itu menggeleng, tersenyum manis walau wajahnya samar terlihat." Tidak! Aku baru saja sampai."
Belum sempat dua insan itu beranjak pergi, bunyi tembakan terdengar menggelegar di udara. Beberapa pasukan dengan baret hijau mengepung tempat tersebut. Suasana ramai, hangat, dan penuh kegembiraan itu seketika berubah menjadi mencekam, menakutkan, sunyi, sepi tak bersuara. Apa lagi saat seorang pria asing menyodorkan senapannya ke kepala pria tua yang sudah termakan usia.
Aku sontak mendongak saat mendengar sebuah suara asing yang berasal dari bumatara. Langit biru yang diliputi awan putih itu, kini berubah kelabu saat beberapa pesawat tempur berterbangan di bawahnya, bahkan burung pun tak berani mendekat.
Suara sirine terdengar menggema di setiap sudut penjuru. Ini ada apa sebenarnya?
Para penduduk berlarian, saling bertabrakan menghindari serangan demi serangan yang diluncurkan.
Dimana ini sebenarnya? Apa yang terjadi? Itulah yang ada dalam benakku saat ini. Bukankah tadi aku masih mencoba untuk tidur?
Teriakan, tangis air mata, menggema di segala penjuru kampung diiringi dengan suara tembakan yang dilesakkan.
Mobil dan tank tempur juga datang silih berganti. Menginjak mayat-mayat penduduk yang terkena bom juga tembakan dengan tank mereka. Tentara berkulit putih itu turun, membawa senjata, menembaki siapa pun penduduk yang masih berada di sana. Tak ayal peperangan pun tak dapat terelakkan.
"Merdeka. Merdeka. Allahu Akbar!" teriak pria berbaju lusuh itu sambil mengibarkan sang saka merah putih.
Seorang tentara tersenyum miring seraya melesakkan senjatanya ke arah pria tersebut, hingga darah mengalir melalui perutnya.
Melihat keadaan semakin kacau pria dengan lambang merah putih pada topinya memberi komando dan aba-aba pada teman sekutunya agar mundur.
Korban jiwa berjatuhan dan berserakan di mana-mana. Baru beberapa meter penduduk itu berjalan, kembali mereka diserang oleh bom yang dijatuhkan dari atas angkasa.
"Tiarap," teriak pria dengan seragam kecoklatan itu.
Ketakutan. Terpancar jelas dari raut wajah mereka. Mendongak melihat pesawat tempur musuh yang sudah beranjak pergi.
Mataku menyipit saat melihat siluet tubuh seseorang masuk ke dalam hutan. Gegas, ku ikuti langkah mereka. Pria itu menghentikan gerakan kakinya saat si wanita sudah tak mampu lagi untuk berjalan. Aku mencoba mendekati mereka, tapi tak bisa seperti ada dinding yang menghalangi. Wajah dua insa itu pun terlalu samar, hingga aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Pria itu seperti sedang mengatakan sesuatu, tapi lagi-lagi aku tak bisa mendengar apa yang mereka katakan.
Dia membantu si wanita untuk duduk dan bersandar pada batang pohon. Kini, aku dapat melihat, walau samar darah yang keluar dari perut wanita itu.
"Tunggu sebentar." Hanya kalimat itu yang dapat aku dengar dari bibir pria yang kini berlalu di depanku. Tapi, anehnya aku bahkan tidak bisa menyentuhnya.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kalimat itulah terus yang berputar dalam benakku. Aku bingung sebenarnya aku sedang berada di mana dan mengapa aku tidak bisa menyentuh apapun?
"Allah…." Ringgisan pilu itu mengalihkan kembali atensiku pada wanita tersebut.
Aku bergerak mendekat ke arahnya, entah mengapa aku juga dapat merasakan sakit yang sedang ia rasakan.
Mengapa aku tidak bisa melihat jelas wajahnya? Walau aku dapat melihat bibir pucat pasi wanita itu bergetar, ia seperti ingin mengucapkan kata, tapi sulit. Darah terus menetes dari perutnya, hingga membasahi kebaya yang ia kenakan.
Ku gelengkan kepala saat pria dengan baret hijau itu menodongkan senjata pada wanita yang tengah bersandar pada pohon kelapa itu.
Aku mohon jangan! Rasanya percuma karena tak seorang pun yang bisa mendengar suaraku.
Entah itu keajaiban atau bukan, tapi kini aku dapat melihat jelas wajah mereka. Ku bekap mulutku, saat melihat wajah wanita itu. Wajahnya… Sangat mirip denganku.
Dia terlihat sedang sekarat. Memegangi perutnya, menahan agar darah itu tak terus keluar.
Bola mata biru dan kecoklatan milik mereka bertemu. Wanita itu mengulas senyum di balik rasa sakit yang kian menderanya. Mungkin ini adalah akhir dari hidupnya. Atau akhir dari hidupku?
Tangan tentara itu gemetaran. Matanya tak pernah berpaling dari wajah milik si wanita.
Pria itu memejamkan matanya, perlahan-lahan dia menarik pelatuk senjatanya.
Hingga….
Aku langsung terbangun saat tembakan itu dilesakkan. Mengucapkan istighfar, dan mengusap keringat dingin yang sudah mengucur deras dari dahi hingga pelipis.
Apa wanita itu meninggal?
Berkali-kali kuucapkan istighfar, menggelengkan kepala itu hanya mimpi. Ya, itu hanya bunga tidur Araya.
Dalam Islam sendiri mimpi dibagi menjadi tiga; Yang pertama Ru’ya Al Hasanah (Ru’ya Ash Shalihah) adalah mimpi yang baik. Mimpi ini datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Cirinya, mimpi tersebut membahagiakan, menggembirakan, disenangi, tanpa dipikirkan atau dilamunkan sebelumnya.
Ketika ia bangun, hatinya bersuka cita dengan mimpi tersebut.
Kedua, Ru’ya As Sayyi’at (Ru’ya at Tahzin Min Asy Syaithan) Yakni mimpi buruk. Datangnya dari syetan.
Cirinya, mimpi itu menakutkan, menyedihkan, atau membuat gelisah, tanpa dipikirkan atau dilamunkan sebelumnya.
Dan yang ketiga, Haditsu An Nafsi Yakni mimpi yang berasal dari pikiran atau imajinasi. Inilah yang paling sering terjadi. Yaitu ketika seseorang sedang memikirkan sesuatu atau memiliki imajinasi tertentu, hal itu kemudian muncul di alam mimpi.
“Apabila salah seorang kamu bermimpi dengan mimpi yang tidak disenanginya, maka hendaklah ia meludah kekiri tiga kali, berlindunglah kepada Allah dari gangguan setan tiga kali…” (HR. Muslim).
Mataku terbelalak saat matahari sudah menampakkan cahayanya, masuk melalui celah-celah dinding bambu. Aku pun bergegas membangunkan mereka yang terlelap tidur untuk melaksanakan shalat subuh.
"Apa kalian yakin tidak ingin sarapan dulu?" tanya ibu itu ramah.
Aku menggeleng, tersenyum."Terima kasih, Bu, tapi kami masih kenyang," sahutku balas ramah. Bukan ingin menolak rezeki, hanya saja, lidahku belum terbiasa dengan makanan yang beliau suguhkan.
Setelah pamit dan mengucapkan banyak terima kasih, kami pun melanjutkan perjalanan.
"Laila." Suara itu, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun di sana. Tapi, saat kembali menoleh ke depan, aku sudah tidak menemukan mereka—teman-temanku.
Kemana perginya mereka?