
Dalam navigasi sembilan puluh derajat dari sebelah timur, matahari tersenyum memancarkan cahayanya.
Denting jam berbunyi di angka tujuh, menit ke dua puluh lima, saat aku baru saja selesai menunaikan shalat Dhuha.
"Mau ke mana, Nek?" Ku hampiri beliau yang tengah memasukkan beberapa plastik ke dalam tas anyaman.
"Mau ke pasar. Kamu mau ikut?"
Kuanggukan kepala cepat, tersenyum. "Mau Nek."
Menaiki ojek masing-masing. Aku dan nenek Base pun menuju pasar.
Seakan deja vu melihat kondisi pasar yang sekarang tengah kupijaki. Membawaku kembali ke masa lampau. Ke masa aku masih kanak-kanak.
Pasar tradisional. Pasar yang sangat berbeda dari pasar modern. Sebuah pasar yang menghadirkan suasana yang jarang kita temui di era modernisasi seperti saat sekarang ini.
Tak hanya suasananya, makanan dan pengalaman yang ditawarkan pun seakan-akan membuat kita kembali ke masa lampau.
Ada banyak barang juga makanan yang para pedagang pasar itu tawarkan.
"Barongkona, Puang. "
"Songkolo Bagadang. Songkolo Bagadang."
"Pisang Epe. Buras. Dipileini degai macenni atitta."
Suara-suara para pedagang saling bersahutan satu sama lain. Menawarkan barang dagangan mereka kepada pembeli yang kebetulan lewat.
"Kamu dan teman-temanmu mau makan apa, Araya? Nanti nenek belikan."
Tersenyum haru. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas budi beliau nantinya. Begitu banyak yang nenek sudah lakukan dan korbankan untukku dan juga teman-temanku selama berada di sini dan tinggal di rumah beliau.
"Nggak usah, Nek. Kami lebih suka makan masakan yang nenek masak."
"Yaudah. Kalau begitu, nanti nenek masak Pallu Mara saja. "
Nenek Base membawaku berkeliling ke beberapa tempat, dan berhenti tepat di depan penjual ikan. Beliau membeli beberapa ekor ikan bolu.
"Kamu mau membeli sesuatu? Mumpung kita masih ada di pasar?"
Menggeleng. "Nggak ada, Nek."
Setelah membeli segala keperluan bahan dan bumbu masakan. Aku dan nenek pun segera melenggang pergi dari pasar tersebut.
Keningku mengkerut saat tiba depan rumah dan melihat beberapa warga yang tengah berlarian.
Nenek Base memberiku tas anyamannya. Menyuruhku untuk membawanya masuk.
"Nenek mau ke sana sebentar." Beliau meninggalkanku yang masih bengong di tempat.
"Lo, ngapain di situ, Ra? Masuk. " Suara Aisyah membuyarkan kebengonganku.
Gegas, kubawa masuk barang belanjaan tersebut ke dapur.
"Lo beli apa, aja?"
"Bukan belanjaan gue. Tapi nenek." Ku keluarkan barang belanjaan tersebut dan menyimpannya ke tempat masing-masing.
"Lo mau ngapain?"
"Mau bersihin ikan."
"Emang Lo bisa?" Aisyah mengikutiku ke belakang rumah.
"Nggak. Tapi gue pengen belajar. "
Aisyah mendengus. Ikut berjongkok di sampingku. "Biar gue. Lo nimbah air, aja."
Aku mengikuti kemauannya. Menimbah air dari sumur seraya memperhatikan bagaimana cara dia membersihkan ikan yang sudah tak bernyawa itu.
"Ini ikan mau diapain?"
"Kata nenek dia mau masak Pallu Mara."
Aisyah mengangguk. Memotong ikan-ikan tersebut menjadi empat bagian.
Selanjutnya membawa ikan itu ke atas meja makan yang sudah nampak usang dimakan usia.
"Lo bisa masak, Syah?" Ku kunyah Benno (popcorn putih) yang nenek beli tadi menuju esofagus. Untuk cemilan kami saat membuat tugas kuliahan, kata nenek.
"Bisa. Gue bukan Lo kali, Ra, yang tahunya cuma siap jadi makan." Tangannya sibuk mengupas kulit bawang.
Mendengus. "Puji ale."
"Iya, harus. Kalau bukan kita yang memuji diri kita sendiri, siapa lagi coba?"
Kukibas-kibaskan tangan malas, lantas bergerak hendak beranjak dari dapur.
"Nggak ada inisiatif buat bantu gitu?"
Urung, kakiku menaiki anak tangga. Berbalik badan. "Apaan?"
"Tuh, nyalain api. " Aisyah menunjuk tungku api dengan dagunya.
Wanita itu cekikikan melihatku yang terus merenggut.
"Jangan ngedumel sayang. Nanti cepat tua."
Tak berselang lama masakan buatan Aisyah pun jadi. Siap untuk disajikan.
"Mau dihidangkan sekarang atau nanti?"
"Nanti aja. Tunggu nenek pulang, " balasku, menyimpan masakan tersebut ke dalam lemari lalu menggandeng Aisyah untuk naik ke atas menemui yang lainnya.
Para warga terlihat belum membubarkan diri ke rumah mereka masing-masing. Masih ramai berlari dan berlalu lalang. Tampak sibuk akan sesuatu.
"Ada apa, Sin? Kok pada rame?" tanyaku, duduk di salah satu kursi plastik.
"Katanya ada yang meninggal."
"Dimakan sama Parakang," imbuh Faridah duduk di kursi depanku dan menyesap teh dingin.
Kuputar bola mata, malas.
"Sudah berapa kali gue bilang tidak ada yang namanya Parakang, Faridah. Itu hanya mitos."
"Tapi yang gue dengar salah satu organ dalam tubuh orang yang meninggal itu hilang. Katanya, tubuhnya ditemukan di rumah kosong yang berada di dalam hutan," imbuh Inayah.
Aku termenung, hutan, rumah, apa rumah yang semalam itu?
Menggeleng. Sudahlah, lagian sejak kapan aku mempercayai hal seperti itu. Bukankah maut, rezeki adalah ketetapan yang Maha Kuasa?
Aku melihat orang-orang yang membawa keranda mayat itu dari atas 'lego-lego'. Keningku mengkerut saat melihat seorang pemuda yang tampak tengah memperhatikan orang-orang tersebut dari balik pohon kelapa.
Memakai jaket hoodie hitam yang menutup kepalanya. Hingga, tanpa sengaja mataku bertemu dengan bola mata birunya. Apa ada orang luar negeri yang tinggal di kampung ini?
"Guys, apa kalian pernah melihat cowok itu?" tanyaku, menoleh pada mereka yang tengah membuat laporan penelitian.
"Cowok yang mana?" tanya mereka serentak.
"It--" ucapanku terputus. Pria itu hilang, padahal nggak sampai semenit aku memalingkan wajah, pria itu sudah tidak ada ditempat. Kemana dia?
Apa aku baru saja berhalusinasi. Tapi jelas-jelas aku melihat pria berwajah bule itu di sana.
Matahari sebentar lagi akan tenggelam. Meninggal kesunyian dalam kegelapan. Para warga kampung juga berbondong-bondong memasuki rumah mereka masing-masing.
Lampu pelita pun serentak memancarkan cahayanya menaungi setiap rumah penduduk.
"Lebih baik kalian pulang. Sebentar lagi masuk magrib. Biar gue yang nanti lanjutin nulisnya," ucap Aisyah kepada tiga pria tersebut.
"Lo ngusir kita, Syah?" tanya Tomi.
"Bukan ngusir. Kalian, 'kan tahu sendiri kalau penduduk kampung sini melarang siapa pun untuk keluar rumah saat mau menjelang magrib. Apalagi, Pak Kepala Desa sudah memberi kita peringatan agar tidak berbaur laki-laki dan perempuan dalam satu rumah."
"Pimmali, " imbuh Sintia.
Menghela napas pasrah ketiga pria itu pun pamit pulang.
Warga desa sini tidak memberi celah kepada siapa pun yang tidak ada ikatan. Bukan mahram untuk berduaan. Tidak membiarkan pria dan wanita tinggal dalam satu rumah walaupun itu beramai-ramai. Konon, katanya demi menghindari nasib sial dan malapetaka di desa mereka.
Dalam Islam pun demikian, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dilarang untuk berduaan.
"Jangan sekali-kali seorang lak-laki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi, dan lain-lain).