Love In War

Love In War
ᨀᨓᨈᨗᨑᨛ



Mulut manis hati berduri. Wallahi, aku sangat amat ketakutan, siapa yang tidak takut jika tubuhnya berada di bawah kungkungan seorang pria. Membungkam mulut wanita dengan tangan kekarnya, berulang kali, dia menyuruhku untuk tak berteriak. Tapi, tak kuidahkan. Aku sama sekali tak peduli sekuat apa pun ia berusaha menepis perlawanan tubuhku.


Ya maliki yaumidini iyyaka a’budu wa iyyaka asta’inu.


“Wahai penguasa hari pembalasan, hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.”


Imam Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Adzkar bahwa doa tersebut pernah dibaca Rasulullah saat beliau melihat dan berjumpa dengan musuhnya dalam sebuah peperangan. Dan untaian setiap doa terus saja berkelindan dalam sanubariku. Hanya kepada Allah lah, hamba berlindung dari segala bentuk kejahatan manusia dan jin.


"Sssttt…Diamlah!" Ia kembali berujar untuk yang kesekian kalinya. Wajahnya kini tampak geram. Tapi kembali tak ku acuhkan.


"Diamlah, Laila! Atau kau ingin aku membungkammu dengan mulutku."


Bukan karena ancamannya yang membuatku seketika berhenti memberontak tapi karena suara asing dari arah luar rumah gubuk ini.


Aldert mengangguk seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan. Dia melepas tangannya dari mulutku lantas membantuku bangun. Pria itu berjalan mengendap-endap, mengintip melalui celah-celah kecil dinding bambu.


"Kalian harus pergi dari sini," ucapnya ketika menghampiriku kembali seraya membungkus beberapa pakaian ke dalam tas ranselnya.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku akan tetap di sini." Dia menarik tanganku menuju arah pintu belakang, membukanya secara perlahan.


Aldert mengalihkan tatapannya pada Sander yang kini tengah berdiri di sampingku.


"Jaga dia baik-baik."


Sander mengangguk patuh.


"Bagaimana denganmu?" tanyaku lagi."Kau tidak ikut dengan kami?"


Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang tiba-tiba menghujam hatiku. Seperti khawatir dan takut, mungkin.


Aldert menggeleng." Ada sesuatu yang harus aku selesaikan."


"Tapi…"


"Pergilah!" Usirnya." Bawa dia pergi."


Sander lekas menarik pergelangan tanganku. Walau begitu tatapanku tak pernah berpaling darinya yang masih setia menatap kepergian kami dari bingkai pintu rumah gubuk tersebut.


Dor!


Suara tak asing itu seketika menghentikan gerakan kakiku. Menoleh. Aku yakin itu tadi adalah suara tembakan. Tapi, bukankah asal suara itu…


Oh, Allah. Aldert….


"Laila. No!" Sander berhasil mengejar dan mencekal pergelangan tanganku, hingga menghentikan gerakan kakiku.


Dia menggeleng lemah. "Kita harus pergi sekarang!"


"Tapi…Bagaimana dengan Aldert?"


Ada apa denganku? Mengapa aku tiba-tiba mencemaskan pria yang sudah ku salah pahami itu?


"Mayor akan baik-baik saja, Laila!"


"Tapi…"


"Percayalah padanya!"


Kuhela napas berat. Tak ada yang dapat kulakukan kecuali mengikutinya, mau tak mau kami pun terpaksa melanjutkan perjalanan.


Waktu tak terasa bergulir begitu cepat, subuh kini telah berganti oleh remang petang. Untuk kesekian kalinya, aku dan Sander berhenti istirahat sejenak dari perjalanan panjang tak tentu arah ini.


"Sebaiknya kamu makan dulu." Sander berdiri di depanku sambil mengulurkan sesuatu yang telah ia bungkus daun pisang. " Tadi kamu hanya makan sedikit buah mulberry. Itu tidak mengenyangkan perut. Jangan sampai perutmu kosong dan maagmu kambuh lagi."


Melihatku yang hanya diam, memandangi apa yang ia pegang, Sander pun kembali berujar,"


Tenanglah, ini daging kelinci. Aku baru saja memanggangnya di sana." Ia menunjuk semak belukar yang masih terlihat mengepulkan asap hitam.


"Terima kasih," ucapku, tersenyum sambil menerima daging tersebut.


Sander mengangguk lantas duduk berjarak di sampingku.


Tak ada rasa, itulah yang aku rasakan saat daging itu menyentuh tenggorokan.


"Apa makanannya tidak enak?" Pertanyaan Sander membuyarkan lamunanku.


"Tidak." Gelengku." Ini enak, hanya saja ini pertama kalinya aku makan daging kelinci."


"Apa agamamu melarang memakan daging kelinci juga?"


Aku kembali menggeleng." Tidak. Kelinci salah satu hewan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi."


"Ngomong-ngomong, apa dia akan baik-baik saja?" Aku menerawang jauh. Sejak tadi rasa khawatir terhadapnya tak kunjung redam.


"Mayor akan baik-baik saja."


"Dari mana kau tahu." Tolehku padanya. Bagaimana dia bisa sebegitu yakinnya?


Lengkungan tipis terbit dari sudut bibirnya." Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mayor bahkan pernah berada diambang batasnya."


Aku mengernyitkan kening." Maksudnya?"


Sander menoleh padaku." Apa kamu pernah dengar bahwa ucapan itu adalah doa?"


Ku anggukan kepala.


"Ucapan itu bagaikan anak panah yang melesat tepat pada sasarannya, itu sebabnya kita dianjurkan untuk berkata yang baik-baik, agar ucapan berupa doa baik itu mengiringi orang yang kita bicarakan," jelasnya menatap lurus ke arah depan.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Apa yang Sander katakan itu benar adanya.


Remang petang kini telah bergulir malam.


Sander di depanku tampak sibuk menyalakan api tanpa sebuah korek api. Ia memasukkan arang kain ke atas batu api, selanjutnya menggesekkan dengan baja. Lalu tidak lama muncul percikan api yang membakar arang kain tersebut hingga membuat api itu menyala dengan stabil.


"Kamu pasti capek. Istirahat!" Tolehnya padaku.


"Bagaimana denganmu?"


Bukankah dia juga sama lelahnya sepertiku? Mungkin, dia lebih lelah daripada aku. Lingkaran di bawah matanya menjelaskan itu semua.


"Aku baik-baik saja." Sander tersenyum." Aku akan berjaga. Kamu tidurlah!"


"Baiklah." Ku hela napas pelan." Kalau kamu lelah, tolong bangunkan aku. Aku yang akan menggantikanmu berjaga."


Sander hanya mengangguk sebagai jawaban.


***


Bunyi kicau burung masuk menyapa gendang telingaku, dan hal pertama yang kulihat saat membuka mata adalah batang pohon yang mengeliling menjulang tinggi.


"Kau sudah bangun?" Suara sapaan itu reflek membuatku menoleh ke arah sumber suara seraya bangun bersandar pada batang pohon.


"Mengapa tidak membangunkanku?"


Sander mengulas senyuman, berjalan pelan mendekat ke arahku, dan menyodorkan buah di tangannya.


"Kamu terlihat lelap sekali." Dia menggeleng." Aku tidak tega membangunkanmu."


"Maaf," sesalku. Menundukkan kepala. Aku Merasa bersalah karena telah menjadi beban baginya.


"Maaf kenapa?"


"Karena aku sudah menyusahkanmu." Tolehku padanya. "Aku hanya menjadi beban bagi kalian."


Sander menggeleng." Tidak Laila. Kamu tidak menyusahkan sama sekali, apalagi menjadi beban."


"Ya…Tetap saja, aku tidak bisa melakukan apa pun untuk kalian."


"Kamu tidak perlu melakukan apa pun untuk kami." Sander tampak menghela napas berat dengan pandangan lurus ke depan." Kamilah yang sepatutnya meminta maaf padamu."


Aku mengernyitkan kening." Maaf untuk?"


Sander menolehkan kepala ke arahku. Satu, dua, tiga, empat, hingga lima menit, namun tak kunjung ia menjawab pertanyaanku.


"Bukan apa-apa." Gelengnya." Sebaiknya, habiskan buahnya." Rupanya ia enggan untuk menjawab.


"Emang ini buah apa?"


Untuk pertama kalinya, aku baru melihat buah seperti ini.


"Gooseberries," sahutnya." Aku bahkan harus memanjat ketinggian 1.000 Mdpl untuk mendapatkannya."


"Oh, benarkah?" Aku melongo tak percaya sedangkan Sander malah tergelak. Entah apa yang lucu baginya.


"Apa kamu percaya?"


Aku menggeleng.


"Baguslah!" Tak acuhnya seraya memasukkan buah merah berbentuk bulat itu ke dalam mulutnya.


"Oh, ayolah. Aku hanya bergurau," tuturnya tatkala melihatku masih merenggut jengkel.


"Tapi, itu sama sekali nggak lucu, Tuan."