
Walau samar tapi pupil mataku dapat melihat senyum tipis yang terukir dari bibirnya. Tak menggubris pertanyaanku, pria itu menerobos masuk melewatiku begitu saja.
"Mau sampai kapan kamu berdiam di sana?"
"Hah." Aku yang bengong pun tersadar dari lamunan. Gegas, mendekati pria tersebut.
"Gaat u zitten." Pria yang tadi memegang parang itu kembali berucap.
Kugaruk dagu yang tak gatal. Tidak mengerti apa yang pria di depanku ini katakan.
"Duduklah!" sahut pria yang tengah duduk bersila itu.
"Hah. Ah, iya."
Kutatap daging yang terhidang di depanku. Ada rasa ngiler ingin menikmatinya. Tapi ragu. Apakah ini daging halal?
"Why don't you eat? Makanlah. Ini semua hasil buruanku, " sahut pria yang tampak lebih muda dariku itu sambil mengulas senyuman.
Kuulas senyum canggung. "Aku masih kenyang."
Aish. Ingin rasanya aku mengumpat saat para cacing penghuni perut ini tidak dapat diajak kompromi membuat pria muda itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Apa bunyi itu menandakan bahwa kamu benar-benar sudah kenyang?" ejek pria di sampingku.
Aku mendengus dengan wajah yang ditekuk.
"Makanlah! Perjalanan kita masih panjang," imbuhnya.
"Tapi, boleh saya tahu ini daging apa?"
Pria muda itu tersenyum. "Ini daging ayam hutan."
Ucapan hamdalah meluncur dari bibirku.
"Apa kamu memang makan serakus ini?" ketus pria di sampingku. Melihatku menghabiskan dua potong ayam.
"Bukankah kamu sendiri tadi yang menyuruhku untuk makan?"
"Aku menyuruhmu makan. Bukan menyuruhmu menghabiskan semuanya."
"Pling-plang."
"Apa?"
"Aku sedang dalam masa pertumbuhan, Tuan. Butuh banyak zat gizi."
"Enough! Saya masih bisa berburu di hutan lagi, Mayor." Lerai pria muda di depanku.
Kuangkat dua jempolku. Tersenyum. "Kamu memang bisa diandalkan. Beda dengan pria di sampingku," sinisku. Meliriknya dengan ujung mata. "Hm, siapa namamu?"
"Sander, Madam, " balasnya dengan nada gentle.
"Jangan memanggilku Madam. Aku nggak setua itu. Panggil saja Ar, maksudku Laila."
"Ja, Laila."
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Malam telah tiba. Bintang tampak bertaburan di atas sana. Berkelap-kelip, menyinari jumantara. Diiringi semilir angin yang berhembus pelan, masuk melalui pori-pori kulit.
Kuhabiskan malam ini dengan berbincang berbagai hal dengan Sander.
"Jadi, kamu adalah anak sulung dari tiga bersaudara?" tanyaku, saat ia menceritakan tentang keluarganya.
Dia mengangguk. "Iya, aku adalah tulang punggung keluarga. Ayahku sudah meninggal tiga tahun yang lalu, serta adik-adikku masih kecil. Ibuku juga sekarang sering sakit-sakitan. Saat ini aku hanya ingin fokus pada kesehatan ibu dan pendidikan bagi adik-adikku. Bagaimana denganmu, Laila?" Tolehnya padaku.
Kuhela napas panjang." Aku anak tunggal," jawabku singkat.
Berada di dunia antah berantah ini, bukan berarti aku harus menceritakan asal muasal ku, bukan?
"Benarkah?"
Mengapa matanya terlihat berbinar?
Ku anggukan kepala." Hm…"
"Apa kalian hanya akan terus mengobrol hingga pagi menjelang?" tukas pria yang belum aku ketahui namanya itu—sontak membuatku menoleh tajam ke arahnya.
"Jangan diambil hati, ya, Laila? Mayor Aldert memang seperti itu. Tapi sebenarnya hatinya sangat baik, " jelas Sander, saat setelah pria tersebut kembali masuk ke dalam gubuk.
"Aldert?"
"Nama pria tadi. Ya, sudah. Kita masuk."
memperhatikan sekitar, mencari keberadaan dua pria yang sudah tidak ada di tempat mereka masing-masing.
Kusibak jaket yang menyelimuti tubuhku. Tunggu. Jaket? Sejak kapan jaket ini ada padaku? Terus jaket siapa?
Pelan. Kulangkahkan kakiku keluar gubuk begitu mendengar bunyi sesuatu.
"Kamu sudah bangun?" tanya Sander. Melihatku sembari mengasah pisaunya di atas batu berukuran sedang.
"Hm, Aldert kemana?"
"Mayor, mungkin sedang berburu di hutan."
Tak berselang lama, Aldert datang membawa seekor burung qotho dan satu sisir pisang di tangannya.
"MasyaAllah, cantiknya, " ucapku mengelus kepala burung itu. “Hai iring-iringan burung qotho, adakah yang mau meminjamkan sayapnya kepadaku agar aku dapat terbang menemui orang yang aku cintai. "
"Apa?"
Aku mendongak. Menatap mata biru Aldert.
"Itu syair cinta nukilan dari kitab nahwu fenomenal Alfiyah Ibni Malik karangan Syaikh Abdullah Muhammad bin Jamaludin bin Malik Al Andalusi melalui syarah Ibnu Aqil. Apa kamu tidak pernah dengar?"
"Apa itu penting?"
Aku mendengus. "Apa kau yakin akan memelihara burung ini?"
Aldert menyeringai. "Aku yakin akan menyembelihnya detik ini juga."
****
Dasar manusia tidak berperikehewanan. Bagaimana bisa ia menyantap daging hewan tak bersalah itu dengan begitu lahapnya?
Setelah melakukan perdebatan sengit dengannya, akhirnya aku kalah.
"Kalau kamu mau kelaparan, silahkan kelaparan sendiri, " ucapnya.
Dengan rasa tak ikhlas hati, aku merelakan makhluk lucu nan imut itu disembelih.
"Kamu yakin tidak ingin makan? Perjalanan kita akan sangat jauh nantinya, " jelas Sander.
"Aku lebih baik mati kelaparan daripada makan daging makhluk yang tidak bersalah," sugutku, melenggang keluar gubuk sambil membawa satu sisir pisang. Duduk di atas hamparan tanah. Menatap Cahaya merah swastamita yang sebentar lagi akan menghilang di bawah garis cakrawala sebelah barat.
Maha Suci Allah menciptakan segala keindahannya.
"Kamu suka melihat matahari terbenam?" Sander duduk di sampingku.
Kuanggukkan kepala. "Iya. Kata seseorang jika kita sedang merindukan orang lain, maka, tataplah mentari yang akan tenggelam di ufuk barat, kirimkan pesan rindumu untuknya lewat senja, ia akan merasakan hal yang sama denganmu."
"Apa kamu sedang merindukan seseorang?"
"Aku rindu kedua orang tuaku." Air bening meluncur dari pelupuk mata tanpa bisa kucegah.
"Kamu wanita kuat Laila. Aku yakin itu."
"Tidak ada orang yang akan kuat, saat kekuatannya tak bersamanya dan kekuatanku adalah kedua orang tuaku. Aku ingin bertemu dan berkumpul kembali dengan mereka, Sander."
"Maaa asaaba mim musii batin fil ardi wa laa fiii anfusikum illaa fii kitaabim min qabli an nabra ahaa; innaa zaalika 'alal laahi yasiir. "
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah."
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 22)
Aku tercengang, menoleh padanya. "Kamu tahu Ayat itu?"
"Meskipun aku bukan seorang muslim, tapi aku sering dengar ayat itu dibaca. Bukankah setiap kejadian adalah kehendak Tuhan? Senja yang terbenam juga atas kehendaknya, 'kan?"
Kuanggukkan kepala.
"Kalau kamu percaya terhadap ketetapan dan takdir Tuhan, sepatutnya kamu tidak menyerah, Laila."
Kuseka air mata yang berjatuhan dari pelupuk, mengulas senyuman manis. "Terima kasih, Sander. Ternyata selain tampan kamu juga bisa menenangkan hati orang lain."
"Aku memang sudah tampan sejak masih menjadi Embrio." Dia tersenyum bangga.
Kuputar bola mata, malas."Kepedean."
"Terima kasih. Meskipun aku tidak tahu artinya apa, tapi aku rasa itu bentuk pujian untukku."
Sander berdiri. "Ayo. Kita harus bersiap-siap. Sebentar lagi kita harus meninggalkan tempat ini." Dia mengulurkan tangannya padaku.