Love In War

Love In War
ᨀᨛᨔᨔᨑᨛ



Habis menunaikan shalat isya dan murojaah, aku pun bergegas naik ke atas tempat tidur. Membaringkan diri yang kelelahan.


"Ik wil voor altijd bij je zijn, " ucap pria itu di telinga si wanita. Membuatku reflek tersentak bangun dari tidur lelap. Astaghfirullahaladzim.


Mengapa sosok pria itu terus menghantui mimpiku?


Dari segala penjuru arah pun sayup-sayup terdengar muazin telah mengumandangkan adzan subuh. Gegas, ku melangkah menuju kamar mandi. Membangunkan mereka yang masih terbawa mimpi untuk menunaikan kewajibannya.


Sehabis sarapan dan check out hotel, kami pun melanjutkan perjalanan.


Taengkalingani Daengku..


Sa'danna ati maputeku..


Idi'miro urennuang


Usenge'esso wenni...


Aja'daeng musalaika


Mauni kasi'siesso bawang


De'ulleku uperrengi


Mauni cinampe'kasi'..


Musik Bugis Engkalingani daengku remix yang mengalun indah tengah diputar di radio bus yang kami sewa mememani perjalanan ini.


Rumah-rumah penduduk yang berjejer seakan ikut bergerak mengikuti laju bus yang kutumpangi. Burung-burung yang tengah beterbangan ria di angkasa tampak tengah berbahagia mengalunkan kicauannya.


"Welkom schat." Pria itu mengulurkan tangannya padaku, namun saat hendak kugapai tiba-tiba, aku merasakan guncangan pada tubuhku.


"Araya, Araya. Bangun!"


Tersentak kaget. Menoleh menepati Aisyah yang tengah menatapku.


"Kita sudah sampai?" Aisyah menggeleng dan memberitahuku bahwa bus yang kami tumpangi tiba-tiba mogok.


"Kok, bisa mogok, Pak?" Ku hampiri pria paruh baya yang tengah mengamati mesin bus sambil menghubungi seseorang.


"Kurang tahu, Mbak. Ini saya juga baru mau menelpon teman-teman di kantor, tapi sinyal sepertinya tidak ada di sini."


Kurogoh saku jaketku. Benar, tidak ada sinyal sama sekali di daerah ini dan aku baru menyadari bahwa sekarang kami sedang berada di dekat hutan belantara.


Entah mengapa, bulu kudukku langsung meremang menyadari akan hal tersebut.


Hampir setengah jam kami menunggu tapi tak membuahkan hasil apa pun, bahkan Pak sopir terlihat tengah mondar-mandir dengan gelisah, sambil terus menghubungi seseorang.


"Bagaimana kalau kita lanjut dengan berjalan kaki saja?" Usul Tomi.


Masing-masing terdiam, tampak berfikir menimbang usulan pria berambut ponytail itu sebelum menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.


"Pak!" Pak sopir menoleh seraya mematikan sambungan teleponnya.


"Kami berjalan kaki saja. Apa Bapak tidak apa-apa jika kami tinggal?" tanya Tomi.


"Tidak apa-apa, Mas. Maaf, Bapak sudah menyusahkan kalian."


"Tidak apa-apa, Pak. Lagian, ini juga di luar dari kemauan kita semua. Yasudah, Pak, kami berangkat sekarang saja, nanti keburu malam."


"Iya, Mas, Mbak. Saya minta maaf sekali lagi. Hati-hati di jalan."


Kami pun mulai melanjutkan perjalanan.


Aku mengernyit, heran saat menyadari bahwa kini, kami sudah berada di ujung jalan. Di depan sana hanya ada hutan lebat yang terpampang.


Berhenti sejenak untuk istirahat. Meluruskan kaki guna melenturkan otot-otot yang terasa kram.


"Tom, apa kamu yakin ini adalah jalannya?" Faridah bertanya dengan napas yang ngos-ngosan.


"Menurut kompas, sih sudah benar," jawab pria itu sambil memperhatikan jarum pada benda berbentuk bulat yang ia pegang.


Karena sepanjang jalan yang ada hanyalah pepohonan yang menjulang tinggi dengan hutan lebat di sisi kanan kiri jalan setapak.


"Nggak rusak, kok. Coba lihat! Jarum ini terus menunjuk arah depan."


Dan arah depan itu adalah hutan lebat. Aku harap kompas ini tak seperti GPS yang kadang suka kasih salah jalan. Di share lock kemana di kasihnya kemana. Pengalaman pesan Go-Food kemarin malam.


Masing-masing hanya bisa menghela napas pasrah seraya meneruskan perjalanan kembali. Memasuki hutan belantara itu. Semakin dalam kami memasuki kawasan tersebut, semakin kami diliputi oleh kabut tebal yang membuat suasana menjadi dingin dan mencekam.


"Tom, kamu yakin ini jalannya?" Aku membuka suara, yang sedari tadi diam mengamati sekitar. Di saat yang lain pada protes, karena mungkin saja sekarang kami sedang tersesat di hutan belantara ini.


"Kalau kalian tidak percaya, ya sudah, kalian saja yang kasih penunjuk arah," sungut Tomi yang merasa sedari tadi tersudutkan seraya menyerahkan kompas juga peta.


Sekali lagi perdebatan tak terhindarkan.


"Aga nuala karemai?" Suara interupsi. Kami serempak menoleh pada sumber suara. Seorang bapak tua dengan balutan sarung yang yang digulung di pinggang dan songkok hitam yang melekat pada kepalanya tengah menatap kami dengan tatapan menyelidik.


Mereka menatapku, memberi kode untuk menjawab pertanyaan si bapak. Kucoba menelan ludah saat tatapanku bertemu dengan tatapan tajam si bapak.


"A-nu, Pak, pakkareddi, iya na silongku tabbeka, de kuissengi degaka'ie." ( Begini, Pak. Saya dan teman saya kesasar dan sekarang kami tidak tahu sedang berada di mana)


Aku menggaruk daguku yang tidak gatal, sejujurnya aku hanya tahu beberapa kosakata kalimat bahasa Bugis. Tidak sepenuhnya tahu, walau aku sendiri asli suku tersebut. Sejak kecil Ayah maupun Ibu hanya mengajariku bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Bugis aku belajarnya dari percakapan sehari-hari penduduk kampung halaman.


"Maaf, Pak, jika berkenan kami ingin tahu ini daerah mana?"


Aku mewanti-wanti, semoga saja beliau paham berbahasa Indonesia.


Bapak tersebut pun memberi kami arahan untuk terus berjalan lurus.


"Nanti jika kalian sudah menemukan dua tembok besar, itulah tempat yang sekarang kalian datangi."


Kami pun mengucapkan banyak terima kasih. Setidaknya ada satu penduduk yang kami temui.


Kembali meneruskan perjalanan, walau hembusan angin dingin pada tengkuk membuat bulu kudukku meremang.


"Sepertinya ada yang mengikuti kita?" Bisik Sintia. Aku pun merasakan hal yang sama. Seperti ada seseorang yang mengawasi gerak-gerik kami.


Memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, tapi tak ada siapa pun. Hanya pohon kelapa yang menjulang tinggi ditemani rumput semak belukar yang bergoyang diterpa angin.


Aku menggeleng. "Cuma perasaan kamu saja."


"Guys." Ku ikuti arah tunjuk Haris.


Rumput rimbun di depan kami bergoyang, hingga menimbulkan sebuah suara. Rasa takut menggerogoti seluruh persediaanku.


Faridah berteriak seraya melompat ke arahku. Reflek aku menggendongnya layaknya bayi.


"Fa, Lo berat. Turun, nggak?"


"Gue takut, Ra."


"Takut apaan, sih? Itu cuma tenggiling juga."


Kuhela napas lega saat wanita berbobot lima puluh lima kilogram itu turun dari gendonganku.


Cengar-cengir tak berdosa Ia berujar maaf.


"Berat tahu."


"Enak, aja, berat badan gua udah turun, kali."


Seketika semua jadi diam, tatkala ranting pohon dari arah belakang ikut berbunyi.


Tak ada yang berani untuk menoleh, sebelum sebuah pertanyaan meluncur dari bibir seseorang.


"Kalian siapa? Dan mau apa kemari?"


Kami serentak menoleh ke belakang.


Seorang pria muda dengan parang yang diikat tali rafia di pinggangnya, berjalan mendekat ke arah kami. Di tangannya terdapat tiga ayam hutan yang sudah tak bernyawa.