Love In War

Love In War
ᨉᨘᨊᨗᨕ ᨕᨔᨗᨂᨛ



Entah berapa lama kami berlabuh dalam perahu tersebut, hingga akhirnya, kami tiba di sebuah wilayah, yang sepertinya aku kenali.


Pria itu membawa wanita tersebut ke sebuah rumah yang berada di tengah hutan. Ia disambut oleh seorang wanita muda.


"I need your help?" Pinta pria itu memohon pada seseorang yang tengah berdiri menatap patung berkepala rusa sambil meletakkan tubuh si wanita di meja panjang yang berada tepat di hadapannya.


"Apa yang kau inginkan?" Mataku terbelalak saat pria itu membalikkan badannya. Otakku berputar pada memori di mana seorang Bapak-bapak yang mengantarku pulang saat tengah kesasar di hutan dan sekarang aku sadar bahwa kini aku sedang berada di rumah kosong itu.


Bapak itu menyeringai, menatapku. Perlahan wajahnya berubah menjadi menyeramkan, berwarna merah, matanya berubah menjadi warna hitam, di kepalanya terdapat dua tanduk serta tanduk-tanduk kecil pada sisi keningnya.


Dia menunjukku dengan jarinya yang hitam pekat, membuat pria yang menggendong wanita tadi juga ikut menoleh, perlahan wajah pria asing itu ikut berubah. Wajahnya dipenuhi oleh bulu, serta kepalanya ditumbuhi oleh dua tanduk kerbau.


Kuteguk kasar salivaku, perlahan mundur. Apa mereka bisa melihatku?


Makhluk berkepala kerbau itu mengulurkan tangannya padaku." Ikutlah denganku."


Sebelum tanganku berhasil menggapai tangan besar dan berbulu itu, sayup-sayup gendang telingaku menangkap ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh beberapa orang, hingga membuat setiap persediaan tubuhku terasa sakit semua. Bahkan aku tidak bisa menggerakkan otot-otot pada kakiku.


"Araya!"


Aku menoleh pada sumber suara. Mengulas senyum sakit saat Ayah, Ibu, dan teman-temanku berjalan mendekat.


Senyum yang semula merekah, tiba-tiba luntur, kala bayangan mereka satu per satu menghilang.


Aku mencoba berlari, menahan sakit, ke tempat mereka tadi. Mencarinya. Tapi mereka tak ada di sana.


"Ibu, Ayah."


Kemana mereka?


Air mata tak dapat kutahan. Aku ketakutan. Sendirian dalam ruangan gelap ini.


"Laila." Suara itu.


Aku menutup mata, saat sebuah bayangan menyilaukan mata, tiba-tiba muncul di hadapanku.


Sebuah lingkaran bercahaya. Seperti cermin. Aku tersentak kaget saat mendengar sebuah suara tebakan dari dalam cermin itu.


"Hallo. Apa ada orang?" Tak ada sahutan apa pun.


Tapi saat kakiku hendak melangkah menjauh dari cermin tersebut, tiba-tiba terdengar isakan tangis dari dalam sana.


Perlahan aku maju kembali. Menyentuh area depan permukaan cembung dari lingkaran itu. Seperti air.


Saat kakiku melangkah masuk, tiba-tiba saja cahaya terang menyeruak masuk ke dalam indera penglihatanku, sebelum cahaya itu meredup dan berubah menjadi gelap gulita.


Hal terakhir yang aku rasakan adalah desau angin yang menerpa kulit wajahku.


"Laila! Otono, mapajjennni!" (Laila! Bangun, sudah pagi)


Suara teriakan nyaring menggema masuk ke dalam indera pendengaranku.


Perlahan kelopak mataku terbuka. Berulang kali mengerjapkan mata guna menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk melalui celah-celah bilik bambu.


"Awwwww." Meringis, memegangi kepala saat rasa nyeri itu mendera.


Aku di mana? Itulah pertanyaan pertama yang terlontar saat aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa kini aku tengah berada di rumah orang lain.


Mencoba mengingat. Hal terakhir yang aku lihat adalah lingkaran cahaya berbentuk cermin. Semakin kucoba mengingat semakin sakit yang mendera kepalaku.


Apa aku sedang bermimpi?


Kutepuk, kucubit, pipi juga kulit tanganku berharap ini semua hanya mimpi. Tapi yang kurasa hanyalah sakit.


Apa ini nyata?


Menggeleng. Tidak. Ini pasti mimpi.


"Awwwww." Pipiku sakit, sudah berapa kali aku mencubit juga menamparnya? Pasti sudah merah.


"LAILA." Terdengar suara wanita yang memanggil dari arah luar.


Gegas, ku juntai kaki dari ranjang. Tapi saat hendak melangkah, kakiku tersandung oleh rok yang kukenakan.


Melongo. Sejak kapan aku memakai kebaya?


Gorden kamar terbuka menampilkan sosok seorang Ibu-ibu.


"Aganujama? Essunogatti." (Apa yang kamu lakukan? Cepat keluar)


Aku segera berdiri. Mengekori Ibu tersebut dari belakang. Hendak bertanya, tapi ku urungkan. Mungkin nanti saja, tunggu waktu yang agak tepat.


Ibu itu berhenti di depan tungku perapian.


Aku ikut berjongkok di sampingnya seraya memperhatikan beliau yang tengah memasak menggunakan tungku api sambil meniup-niup api tersebut menggunakan teropong bambu.


"Hah?"


"Itu sana cucian sudah menumpuk." Ia menunjuk keranjang anyaman yang berada di sudut bibir pintu belakang. Aku lekas berdiri. Mengambil cucian.


Menggaruk tengkuk bingung. Sekarang aku harus mencuci pakaian ini di mana?


Ibu itu berdecak." Kenapa cuma diam?"


"Saya tidak tahu harus mencuci pakaian ini di mana?"


Tampak kerutan di keningnya."Sekarang cuci mukamu dulu, sepertinya kamu masih mengantuk."


Ibu itu memberitahuku bahwa cucian tersebut harus di cuci di sungai.


"Mau kemana?" tanyanya saat melihatku hendak melangkah menuju ruang depan.


"Mau ambil kerudung dulu." Tidak mungkin, kan aku keluar rumah tanpa menutup aurat.


Berdecak. Geram. Saat memeriksa lemari pakaian dan tak menemukan jilbab di sana, yang ada hanya beberapa selendang panjang yang menjuntai.


"Bu, saya pergi mencuci dulu. Assalamu'alaikum." Tampak Ibu itu heran atas sikapku, ia mengikuti langkahku hingga ke pintu.


Ku ukir senyum ramah saat berpapasan oleh beberapa penduduk setempat. Sama seperti Ibu tadi wajahnya mengisyaratkan guratan tanda tanya.


Beberapa wanita yang tengah mencuci pun menatapku heran.


Aku menelisik penampilanku. Apa ada yang salah?


"Apa kamu akan mandi memakai kerudung?"


"Kamu bertanya padaku?" Wanita-wanita itu mengangguk.


Oh, sekarang aku mengerti, ternyata penampilanku yang membuat mereka tampak heran saat menatapku.


"Iya," jawabku singkat seraya memulai kegiatan mencuci pakaian. Menggosok pakaian dengan tangan yang sudah dilumuri sabun cuci.


"Sejak kapan kamu memakai kerudung? Kemarin-kemarin kamu tidak mengenakannya."


"Sejak hari ini."


"Tapi kenapa? Apa karena kamu putus cinta?"


Aku mengerutkan keningku. Putus cinta?


"Tidak, sejak kapan aku putus cinta?"


Mereka saling melempar pandangan.


"Bukankah kamu yang mengamuk di pernikahan Zainuddin dan Romlah kemarin dulu?"


Aku dibuat melongo. Kemarin? Kemarin aku masih ada di duniaku. Bukan di dunia yang antah berantah ini.


Entahlah, aku tidak mau pusing. Sekarang aku hanya ingin cari tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku dan mengapa aku bisa berada di sini?


****


"Laila, kamu sedang tidak sakit,' kan, Nak?" tanyanya sambil menyentuh dahiku.


Aku mengangguk dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja.


"Emang kenapa, Bu?"


Pria yang tengah duduk sambil minum kopi hitam itu tersedak oleh minumannya sendiri.


Ia menatapku heran." Sejak kapan panggilan Mama berubah menjadi Ibu?"


Kugaruk dagu yang tidak gatal. Saat hendak menjawab tiba-tiba terdengar suara gaduh dari halaman rumah.


"Kenapa, Bu, Ma?" tanyaku pada wanita yang tengah berdiri di depan pintu.


"Anak Bu Siti meninggal."


"Innalilahi wainnailaihi Rojiun."


Ibu itu menyuruhku untuk tetap di rumah, dan jangan berkeliaran ke mana-mana.


"Kunci pintu dan jangan buka, jika bukan Ayah atau Mama yang pulang."


Mengangguk patuh dan lekas kututup pintu rumah.


Sekarang apa yang harus aku lakukan? Dan bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke duniaku lagi?