
Bergeming seakan seluruh aliran darah dalam diriku tiba-tiba saja terhenti. Kurasakan kakiku gemetaran, ragaku terasa berat tak bisa menyeimbangi bobot tubuhku, hingga jatuh ke atas butala. Di sana, di depanku hanya tinggal puing-puing bangunan yang tidak utuh. Beberapa mayat juga berserakan di mana-mana.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Kukepal kedua tangan erat, menatap pemandangan pilu di depanku dengan kilat amarah. Seakan ribuan anak panah telah melesat cepat, menancap tepat ke ulu hatiku. Sakit. Apa yang sebenarnya orang-orang itu sudah lakukan?
"Apa ini ulah dari teman-temanmu?" Aku bertanya tanpa mengalihkan perhatian pada satu mayat yang wajahnya kini sudah hangus terbakar.
Dan lagi-lagi hanya angin lalu yang menjawab pertanyaanku, membuatku tengadah, menatapnya benci.
"Bukankah kau ingin pulang? Sekarang kau sudah pulang," sahutnya, sembari menatap ke arah depan.
“Ah.” Angguk-ku. “Benar, kau membawaku pulang hanya untuk memperlihatkan betapa bengisnya kalian. “ Tak sadar air mataku semakin merembes keluar dari lakrimalnya.” Aku lupa, jika penjajah tetaplah penjajah, mereka manusia berwujud iblis."
Pria itu mengangguk. Membuat kobaran api dalam dadaku semakin membara.
“Mengapa orang yang tidak berdosa yang harus mengalaminya? Mengapa bukan kalian saja, bedebah?” Dadaku terasa sesak, emosiku seakan meluap begitu saja.
"Akan ada saatnya." Setelah mengatakan tiga suku kata itu, pria keparat itu pun melenggang pergi begitu saja seakan tanpa beban dosa.
Apa sebutan yang pantas untuk seorang penjajah? Iblis? Aku rasa tidak, mereka--penjajah lebih kejam daripada itu. Mereka membunuh, menganiaya orang-orang lemah yang tak bersalah. Anak-anak, lansia dan wanita pun menjadi korban keserakahan para bedebah itu.
Jika dikutip dari rangkuman penelitian di situs web www.ind45-50.org. Akibat kekerasan tingkat tinggi yang berulang, perang kemerdekaan Indonesia tidak hanya menghasilkan korban luka dan kematian yang tak terhingga, tetapi juga korban kekerasan fisik di luar perang dalam jumlah besar, seperti penyiksaan, pemerkosaan, penahanan yang tak manusiawi.
Penelitian tersebut pun mengungkap berbagai bentuk intimidasi, seperti pembakaran kampung dan penghancuran pasokan makanan. Ada pula efek sosial ekonomi akibat blokade pelayaran yang berdampak pada melambatnya rekonstruksi Indonesia pasca kekalahan Jepang.
****
Duduk memeluk lutut. Mengingat setiap rangkaian kejadian—bagaimana darah pernah tumpah membasahi bumi pertiwi ini sambil memandangi bintang yang bertaburan di langit malam sana, membuatku hanya bisa menghela napas sembari mengiring doa untuk mereka yang telah berjuang hidup mati demi negara ini. Namun sayang, beberapa pejuang setelah merdeka justru terlupakan. Tidak semua diantara mereka hidup dengan layak dan dikenang namanya, setelah ia melayakkan kebebasan demi kehidupan penerusnya.
Apa sekarang aku ada di zaman mereka? Itulah pertanyaan teka-teki yang hingga kini tak kunjung terpecahkan.
“Ternyata kau ada di sini?” Suara berat Sander membuyarkan lamunanku. Pria itu menghenyakkan bokongnya di sampingku. “Ini…”
"Aku masih kenyang?" Gelengku saat ia menyodorkan buah nipah yang sudah ia kupas seraya mengalihkan perhatianku kembali ke arah langit.
Sesaat hening, tak ada sahutan apa pun yang terdengar, kecuali hembusan angin yang menerpa kulit wajah ditemani alunan suara binatang malam yang terdengar menyapa malam kelabu. Ilalang di depan sana pun, terlihat menari-nari mengikuti arah angin di bawah pancaran sinar bulan.
“Sebaiknya, kamu istirahat Laila,” ucap Sander memecahkan keheningan.
Ku gelengkan kepala. “Aku belum ngantuk.” Lalu menoleh padanya. “Kamu istirahatlah, bukankah beberapa hari ini kamu terus berjaga?”
Aku hanya kasihan pada pria muda ini, dia tanpa jenuh dan henti terus mengawas dan menjagaku seperti saudarinya, padahal jika dipikir kami berdua adalah musuh peperangan.
“Aku baik-baik saja.” Gelengnya. “Masuklah! Aku akan berjaga.”
Mengangguk lantas beranjak pelan masuk ke dalam rumah gubuk sederhana, yang entah siapa dan kemana pemiliknya itu. Ya Allah, semoga mereka baik-baik saja.
"Apa rencana kau yang selanjutnya? Apa kau akan membunuh semua pribumi di sini?" tanyaku saat tanpa sengaja berpapasan dengannya. Pria bermata biru itu menghentikan ayunan kakinya, menoleh, hingga sepekian detik kami saling berpandangan sebelum dia kembali mengayunkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaanku.
“Kau tahu? Kalian bukanlah manusia, kalian bedebah berwujud manusia,” teriakku. “Aku berjanji, aku sendirilah yang akan membunuh kalian dengan tanganku!"
Kuhentikan gerakan kakiku tatkala pria itu menghentikan ayunan kakinya. Aldert berbalik, dengan langkah lebar berjalan ke arahku. Melemparkan sebuah senjata api di hadapanku, yang reflek membuatku terperanjat kaget dan melebarkan mata.
"Do it!"
Bergeming. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa ini senjata benaran?
"You want to kill me, just do it."
Kuangkat wajahku dan untuk kesekian kalinya iris mataku bersitemu dengan iris mata birunya. Seperti biasa dia menatapku tanpa ekspresi, datar.
Mataku bergerak liar, mencari-cari ke dalam manik biru itu. Apa ini hanya sebuah gertakan? Tapi wajahnya tak mengisyaratkan lelucon di sana.
Aldert memperpendek jarak, meraih sesuatu dari balik punggungnya dan menaruh senjata laras pendek tersebut ke telapak tanganku.
“Pistol ini menggunakan peluru kaliber 44 dan dapat menempuh jarak tembakan sejauh 200 yards. Lebih baik daripada senjata laras panjang di depanmu. Sekali tembak kamu dapat menembus kepala keparat sepertiku.”
Ia membawa senjata dalam genggamanku ke kepalanya sambil memegang erat tanganku.
"Tarik pelatuknya!”
Apa maksudnya? Apa dia menyuruhku jadi pembunuh? Aku masih waras untuk itu, tentu saja aku menggeleng.
"What are you waiting for, tarik pelatuknya!" Ia berteriak. Mata birunya tampak memerah.
"AKU TIDAK BISA!" Aku balas tak kalah berteriak sembari terisak dalam tangis. Pria itu melepas tanganku, membuat tubuh yang sudah lelah dan lemah ini luruh ke atas tanah.
"Pembunuh tidak memiliki hati nurani. Jika kau ingin menjadi seorang pembunuh, kau harus hilangkan hati nuranimu itu."
Aku diam tak membalas. Menatap punggung lebarnya yang kian menjauh dari pandangan. Aku tahu ucapannya tadi untuk membalas ucapanku untuk membunuh para kawanannya.
Dasar penjajah!
Setelah merasa sedikit lebih tenang, kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah gubuk dan mengistirahatkan diri. Sungguh, aku benar-benar lelah.
Merasa terganggu dengan sentuhan sesuatu pada tubuhku, membuatku mau tak mau harus membuka kelopak mata, dan betapa terkejutnya aku saat pria itu kini sudah ada di atas tubuhku.
“Apa yang kau lakukan?” Dia menahan kedua pergelangan tanganku ke atas, membuatku semakin dirundung ketakutan tak ayal tangisku pun pecah. “Lepaskan aku! To—”
Oh, Allah lindungi hamba.
"Ussss, diamlah!" Aku semakin memberontak saat pria itu tiba-tiba membekap mulutku dengan satu tangannya yang bebas sedangkan yang satunya lagi masih menahan erat pergelangan tanganku.
“Aku akan melepasmu, jika kau berjanji untuk diam.”