Love In War

Love In War
ᨅᨄᨀᨛ ᨆᨗᨔᨛᨈᨛᨑᨗᨕᨘᨔᨛ



Kicauan burung kedasih terdengar menggema di atas rimbunan pepohonan, menyambut pagi dengan melodi yang mengalun syahdu. Derap langkah kaki para penduduk juga terdengar bertalu-talu di atas tanah.


Mereka berjalan juga berlarian pergi mencari penyangga perut berupa pundi-pundi rupiah.


"Ra, Lo dah buat kerangkan proposal, nggak?" tanya wanita berambut panjang pirang kecoklatan yang dikuncir kuda itu sambil mengumpulkan beberapa kertas ke dalam map merah.


"Sudah. Ini juga gue mau sekalian ke sungai. Nanyain masalah rumput laut yang kemarin."


Sudah seminggu aku berada di desa ini. Desa yang dijuluki dengan nama Desa Parakang.


Tak ada siapa pun yang mengetahui, mengapa desa ini dijuluki dengan nama makhluk yang diyakini sebagai nama setan tersebut.


"Sudah dari kakek buyut nama desa ini dinamakan seperti itu," sahut mereka, saat aku mempertanyakan mengapa desa ini dinamai dengan Desa Parakang.


Aku tidak mempertanyakan panjang lebar mengenai nama desa ini, selain karena aku tidak meyakini adanya makhluk jadi-jadian yang bernama Parakang itu, aku juga mempercayai bahwa setiap desa atau kampung memiliki ciri khasnya masing-masing.


Misalnya, kampungku sendiri ' Desa Babana' jika dalam bahasa Makassar 'Baba' artinya mulut, dan dalam bahasa Turki 'Baba' artinya ayah. Untuk 'na-ya' sendiri aku tidak tahu artinya.


Penduduk Desa Parakang sejak dahulu dikenal sebagai pelaut dengan etos bahari yang tinggi. Mereka memelihara, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya hayati laut berdasarkan norma-norma dan nilai-nilai budaya yang diwarisi secara turun-temurun. Sehingga memunculkan pepatah Bugis yang mengatakan “Kualenggi Tallanga Natowalia”, artinya, Sekali layar berkembang pantang budik surut ke pantai.


Setelah melihat serangkaian kegiatan oleh para pelaut dan mencatatnya untuk dijadikan bahan penelitian, aku pun bergegas menaiki bebatuan agar mencapai puncak.


"Mau kemana, Nek?" tanyaku pada Nenek Base, yang menuruni anak tangga terakhir.


"Mau ke hutan. Cari kayu bakar."


"Nek, boleh saya ikut?"


Wanita lansia itu menggeleng." Ajanna, elonni manggaribi, pimmali anak cewek messu wenni." Yang membuatku seketika merenggut (Tidak perlu, sudah mau magrib pamali anak cewek/ gadis keluar malam)


"Nek, please!" Pintaku dengan nada memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangan di dada."Saya janji, kalau saya sudah dapat beberapa potong kayu, saya akan pulang."


"Nek….!" Rayuku, menja sambil menggoyangkan lengan kanannya.


Nenek Base menghembuskan napas seraya menganggukkan kepala pasrah.


"Yeah, terima kasih, Nek," uçapku memeluk tubuhnya.


Beliaulah yang menampung kami di rumahnya sejak kami datang ke desa ini. Menganggap dan memperlakukan kami layaknya anaknya sendiri.


"Araya, ayo pulang." Terdengar suara teriakan nenek dari balik pohon kelapa.


"Iya sebentar, Nek," balasku, masih mengambil beberapa batang ranting kayu.


"Nek, ayo." Perlahan senyumku memudar saat menyadari bahwa nenek Base sudah tidak ada di tempat.


"Nek…!" Berlari kecil menyusuri hutan belantara sambil meneriaki Nenek Base.


Jantungku berdegup kencang. Menyadari bahwa kini aku sudah kesasar.


Kabut malam semakin menyelimuti hutan belantara ini, aku gemetaran menahan takut, suara binatang buas pun sayup-sayup terdengar.


Ayat-ayat suci tak hentinya terucap dari bibirku, memohon pertolongan pada Allah. Air mata terus mengalir dari pelupuknya. Rasa takut semakin menjadi saat mendengar langkah kaki seseorang yang mengikutiku. Kupercepat derap langkahku, tak berani menoleh ke belakang.


Mataku menyipit saat melihat di depan sana ada sebuah rumah panggung.


Saat kuhampiri, rumah ini seperti rumah tak berpenghuni, pada bagian dindingnya sudah dipenuhi oleh rumput semak belukar.


"Assalamu'alaikum. Permisi, apa ada orang?" teriakku dari bawah tangga, saat mendengar suara dari atas rumah.


Terperanjat kaget, saat sebuah tangan memegang pergelangan tanganku, hingga membuat kaki ini terhenti saat hendak menaiki anak tangga rumah tersebut.


"Aganuala kereddi?" (Apa yang kamu lakukan di sini) tanya bapak berpakaian serba hitam itu.


Aku gelagapan. Menggaruk tengkuk.


Ia menelisik tubuhku dari atas ke bawah, membuatku semakin dirundung ketakutan.


Oh, Allah, hamba mohon jauhkan orang-orang yang hendak berniat jahat pada hamba.


Setelah menatapku, mata Bapak tersebut berpindah melihat jendela rumah tua itu.


Ia seperti sedang melihat sesuatu.


"Kau tinggal di mana?" tanyanya saat kepalaku hendak mendongak ke atas jendela.


"Saya tinggal di rumah Nenek Base, Pak."


Tak banyak tanya, bapak itu menyuruhku untuk mengikutinya. Walau, ragu aku tetap berjalan di belakangnya.


Ketakutan masih ku rasakan. Berdua berjalan bersama dengan orang asing di dalam hutan. Tak ingin suudzon tapi pikiranku terus saja membawaku ke dalam prasangka buruk.


"Awww." Beberapa kali aku menjerit kesakitan saat batu-batu kerikil dan benda-benda tajam lainnya menancap di sandal jepit yang kupakai.


Bagaimana bisa Bapak ini melihat di tengah kegelapan seperti ini? Tanpa senter. Ya, walaupun hutan sedang disinari cahaya rembulan, tapi tetap saja cahayanya tidak seterang lampu senter.


Berhenti sejenak untuk melepas kerikil yang masih menancap di sandal jepit.


"Ini." Mendongak. Bapak itu menyodorkan sebatang ranting kayu padaku.


Menyuruhku untuk memegang ujung ranting tersebut dan beliau memegang ujung yang satunya.


"Agar kamu tidak kehilangan jejakku," ujarnya.


Sepanjang jalan hanya suara-suara binatang yang bersahutan. Tak ada yang membuka suara baik aku maupun Bapak itu.


Hingga kami sampai di tempat tujuan.


Aku langsung berlari saat melihat Nenek Base serta teman-temanku yang tengah mondar-mandir di depan rumah. Wajah mereka menyiratkan kekhawatiran.


"Nenek!" Mereka menoleh. Aku langsung berhambur ke dalam pelukan wanita tua itu.


Nenek Base merenggangkan pelukannya. Ia menatapku berkaca-kaca.


"Kamu dari mana?" tanyanya, mengusap lembut kepalaku.


"Kami semua khawatir padamu," ucap Faridah


"Terutama Nenek, beliau bahkan tidak mau makan, sebelum kamu pulang," sambung Aisyah.


Aku menatap Nenek dengan air mata yang mengalir.


"Maaf, Nek. Tadi saya kesasar, dan tidak tahu jalan pulang. Untung ada Bapak it—" ucapanku terpotong saat menoleh sudah tidak menemukan si Bapak penolong tadi.


"Itu siapa?" tanya Rashid.


"Tadi aku diantar sama Bapak-bapak berpakaian hitam dan berkumis."


"Hah, kami tidak melihat ada Bapak-bapak bersamamu tadi."


Menggeleng." Tidak mungkin, aku tadi diantar sama Bapak-bapak. Dia tadi berdiri di sana." Tunjukku pada batang pohon kelapa yang berdiri tegak beberapa meter dariku.


"Kami tidak melihat ada orang yang mengantarmu, Ra. Kamu pulang sendiri," sahut Aisyah.


Aku tetap tidak mau kelah, jelas-jelas aku diantar sama bapak berkumis itu. Mana mungkin mereka tidak melihat, atau mereka tidak memperhatikan.


"Sudah. Sudah. Sekarang kita masuk. Nenek sudah lapar. " Nenek menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah.


Sedangkan kepalaku terus menoleh ke belakang. Memperhatikan hutan dalam kegelapan itu, berharap agar melihat bapak tersebut dan berterima kasih padanya.