
“Sejarah mencatat bahwa masyarakat Indonesia melakukan berbagai perlawanan untuk mengusir penjajahan. Namun, upaya ini selalu gagal, karena pihak penjajah selalu berhasil membendung perlawanan tersebut. Bangsa Eropa mulai datang ke Nusantara pada abad ke-16. Tujuan awalnya untuk berdagang rempah-rempah. Namun, secara perlahan tujuan utama ini berubah menjadi penerapan kolonialisme dan imperialisme.”
Aku menguap mengantuk mendengar penjelasan Pak Burhan di depan papan tulis sana. Entahlah, setiap pelajaran sejarah mataku rasanya seperti di usap-usap manja.
"Sedangkan pada abad ke-19...." Ia menghentikan penjelasannya kala bel nyaring terdengar berbunyi.
Pak Burhan berjalan mendekat ke arah mejanya, menumpuk buku pelajarannya menjadi satu.
"Baiklah, apa kalian sudah menemukan tempat untuk tugas observasi kalian?"
Tomi mengangkat telapak tangan kanannya. “Sudah Pak, kami berencana akan melakukan observasi di bagian selatan.”
”Baiklah, jaga kesehatan kalian. Ingat, hormati adat istiadat tempat yang akan kalian kunjungi. " Nasehatnya." Araya, Inayah?"
Panggilan tersebut membuatku sontak mengangkat wajah ke arahnya.
"Bapak minta tolong, bawakan buku ini ke ruangan saya, ya?"
Mengangguk, aku dan Inayah pun lantas ke ruangan beliau. Menyimpan tumpukan buku pelajaran tersebut ke atas mejanya.
Iris mataku yang tengah menelisik ruangan tersebut pun tak sengaja bertemu dengan sebuah tulisan abad ke-16 yang terpanjang dalam bingkai berukuran 10R.
"Lo tahu arti tulisan itu?"
Baik aku maupun Inayah sontak terperanjat kaget tatkala hembusan angin menerpa gorden jendela ruangan tersebut sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya.
"Ra, keluar yuk." Inayah menarik lengan atasku, membuatku mau tak mau mengikuti derap langkahnya–keluar menuju kantin.
"Lo ngerasain tadi nggak sih, Ra?"
Aku mengangkat wajah dari layar HP.
"Kaya ada seseorang yang tiba-tiba melintas waktu kita di ruangannya Pak Burhan. "
Aku mencoba mengingat lalu menggeleng.
"Nggak ada tuh."
"Waktu pas lo ngeliatin tulisan yang terpajang di ruangan beliau. Kok, aku ngerasain seperti seseorang yang melintas begitu saja."
Kuhela napas pelan. "Itu cuma perasaan Lo aja. Guru agama gua pernah bilang rasa takut itu ada, akibat Lo nya sendiri yang ciptain."
Inayah diam. Tampak berfikir.
"Tulisan apa, sih?"
Wanita berjilbab lebar di sampingku bertanya.
"Aksara lontara, " jawabku, fokus kembali pada layar HP.
"Sebentar, setahuku Pak Burhan bukan dari suku itu, deh."
"Terus apa salahnya? Iya, bagus dong hitung-hitung kita bisa memperkenalkan budaya daerah setempat. Jaman sekarang itu sudah banyak anak muda yang sudah lupa sama bahasa daerahnya sendiri."
"Emang Pak Burhan anak mudah?" sela Sintia.
Aku mendengus jengkel, menatap nyalang tiga wanita yang kini tengah tertawa lepas.
"Tubuh Pak Burhan mungkin sudah tua, tapi jiwanya, siapa yang tahu? Mungkin, lebih gaul daripada anak jaman sekarang. "
Mereka mengangguk bersamaan, membuatku mendengus jengkel.
Habis makan siang, kami bergegas kembali ke kelas, masih ada satu kelas lagi yang harus aku hadiri.
"Ra, Lo udah nyelesain rencana proposal yang kemarin, belum?"
Aku yang tengah memasukkan peralatan tulis ke dalam tas ransel pun mengangguk. Berbalik dan mengulurkan kertas berjilid itu pada Tomi kemudian ikut meninggalkan ruang kelas bersama mahasiswi lainnya pulang ke rumah.
Habis makan malam, aku beranjak menuju tempat tidur, membuka salah satu aplikasi nonton drakor gratis melalui Hp. Hingga pukul dua belas malam, barulah memutuskan untuk tidur. Berkali-kali mencoba memejamkan mata, tapi sulit, malam semakin larut, sepi, sunyi, dan dingin membungkus malam, hanya terdengar bunyi denting jam yang mengalun merdu di telingaku sebelum alunan merdu itu berubah menjadi sebuah ringisan pilu.
"Laila!" Suara bariton itu menyentak-ku bangun dari pembaringan.
Astaghfirullahaladzim. Entah sudah berapa kali aku memimpikan hal yang sama. Seorang laki-laki dengan darah yang menutupi wajah dan matanya.
Gegas, ku melangkah menuju kamar mandi, mengambil wudhu seraya melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslimah.
"Loh, bukannya kamu bilang ada kelas jam 11, ya. Kok sudah siap, aja?" tanya Ibu saat melihatku tengah menarik kursi makan.
"Aku ada urusan mendadak di kampus, Bu." Duduk manis di kursi seraya meraih selembar roti tawar dan mengolesinya dengan susu kental manis.
"Ya sudah, Bu, Yah. Aku berangkat dulu." Kuciumi punggung tangan mereka, dan beringsut menjauh dari meja makan.
"Kamu nggak mau bawa bekal, Ra?" Teriak Ibu.
"Nggak usah, Bu. Aku makan di kantin kampus, aja."
Sekitar pukul delapan menit lima belas, gojek yang ku tumpangi pun tiba di kampus.
Dengan langkah lebar ku ayunkan langkah menuju perpustakaan, mengambil beberapa buku yang sekiranya aku butuhkan.
Menghela napas pasrah, sudah satu jam lebih mencari informasi yang bersangkut paut dengan mimpiku, tapi tak satu pun yang ada.
"Tumben Lo, datang lebih awal, Ra?"
Terlonjak kaget reflek beristighfar. Menoleh mendapati tubuh seorang wanita.
"Lo, ngagetin aja, deh."
Aisyah menarik kursi di sampingku."Maaf. Habisnya, Lo, tumbenan, aja, datang jam segini. Biasanya kan, Lo ngaret."
Aku mendengus. "Gua juga nggak tahu. Tiba-tiba ada inisiatif buat datang lebih awal."
Aisyah menggelengkan kepala sembari tersenyum.
Kuputar arah tubuhku ke arahnya. "Syah, Lo punya buku tafsir mimpi, nggak?"
Wanita itu menggeleng." Nggak ada. Kenapa? Lo mau menafsirkan mimpi Lo ketemu...sama itu, sama siapa, sih, namanya. Jongkok."
"Jongkok, jongkok, udelmu. Jungkook, Aisyah Maharani. ihhhh."
Enak saja nama biasku ditukar-tukar. Orang tuanya sudah kasih nama bagus-bagus juga.
"Iya, itu. Melilit lidah gue sebut namanya. "
"Nggak. Tapi.. Ya adalah."
Aisyah hanya menganggukkan kepalanya dengan mulut yang berbentuk huruf O.
Tepat setelah beberapa menit adzan dzuhur berkumandang, satu mata kuliah yang aku ikuti pun usai.
Kubereskan segala peralatan tulis di atas meja seraya memasukkannya ke dalam tas ransel.
Seperti biasa, Aisyah akan menghampiriku dan mengajakku shalat berjamaah di masjid.
Sehabis shalat barulah ke kantin. Mengisi perut yang sudah meminta jatah makannya.
"Tumben Lo, baca buku sejarah, Ra?" tanya wanita berambut kuncir kuda di depanku. Melihatku tengah membaca buku karya milik Susan Wise Bauer yang kupinjam di perpustakaan.
Kuangkat bahu tak acuh. Aku pun tak tahu jin apa yang telah merasukiku.
Habis makan siang, kami kembali menuju kelas, masih ada dua mata kuliah lagi.
"Baiklah! Teman-teman, dengarkan!"
Semua yang berada dalam ruang kelas itu memusatkan perhatian pada pria yang tengah berdiri di depan papan tulis.
"Rencana proposal kita sudah disahkan oleh pihak kampus, dan…." Tomi membuka bingkai ukuran 201 X 109 cm dan menempelkannya pada papan tulis.
"Kita akan melakukan penelitian di sini." Ia menunjuk bentuk 'K' pada peta tersebut.
"Bagaimana dengan biayanya? Bukankah itu terlalu jauh?"
"Kalian semua nggak usah khawatir, soal biaya akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak kampus."