
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam dua puluh menit, akhirnya kami tiba juga di tempat tujuan.
Angin segar berhembus pelan menyapa kala kaki ini menapaki tanah. Rasa rindu tiba-tiba berkelindan akan kampung halaman yang berjarak kurang lebih 180, 6 km dari bandara. Tempat dimana kala dahulu, aku pernah mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA sebelum Ayah dan Ibu hijrah ke kota Indonesia.
"Ra, ayo." Panggilan itu menyentak-ku dari lamunan.
Sebelum ke tempat tujuan kami meluangkan waktu untuk menelusuri tempat wisata yang menjadi spot daya tarik kota ini; Menikmati makanan khasnya.
Menjelang shalat dzuhur kami melangkahkan kaki menuju Masjid Muhammad Cheng Hoo yang terletak di Jalan Danau Tanjung Bunga.
Masjid yang memadukan nuansa Timur Tengah dan China seakan menjadi daya tarik bagi warga muslim untuk beribadah di tempat tersebut.
Ini pertama kalinya aku ke sini, walau aku asli penduduk sini, dilahirkan dan besar di kota ini, tapi tak pernah sampai menginjakkan kaki kemari.
"Lo, 'kan asli sini, Ra? Masa nggak pernah kemari?"
Tanya mereka dengan kening berkerut saat kukatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamaku ke tempat ini.
"Eeem, itu karena dulu gua nggak punya teman buat menelusuri tempat-tempat wisata di kota ini. Pas mau daftar kuliah, Ayah lewat sini. Nggak singgah, karena waktu itu Ayah buru-buru harus ke tempat kerja. Waktu mau ke sini lagi, ehhh, Ayah malah dimutasi ke Jakarta. "
Mereka manggut. Mengerti.
Handak melangkah pergi, kami tanpa diduga bertemu dengan salah satu pengurus masjid tersebut. Aku yang memiliki jiwa ke kepoan yang tingkat tinggi pun, tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada . Banyak hal yang aku pertanyakan.
Salah satunya asal usul masjid Cheng Hoo itu sendiri.
"Masjid ini didirikan sejak Oktober 2012 silam, nama Cheng Hoo diambil sebagai bentuk dan wujud penghargaan bagi Laksamana Cheng Hoo. Sosok bahariwan muslim Tionghoa yang tangguh dan berjasa besar terhadap pembauran, penyebaran, dan perkembangan Islam di nusantara, " ungkap pengurus yang bernama Bapak Badaruddin tersebut.
"Cheng Hoo sendiri itu siapa, Pak?" tanyaku penasaran.
Dalam sebuah sumber menyatakan bahwa Laksamana Cheng Ho adalah seorang penjelajah terkenal dari China yang mengembara antara 1405-1433. Selama kurang lebih 28 tahun, ia pernah melakukan ekspedisi ke berbagai negeri di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia.
Cheng Ho adalah seorang kasim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao, berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Cheng Ho adalah keturunan suku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han tetapi memeluk agama Islam.
Bukti Laksamana Cheng Ho beragama islam, ditemukan makamnya berada di kawasan Niu Shou Shan ( Gunung Niu Shou ) kota Nanjing Provinsi Jiangsu, dengan bukti ditemukan baju kebesaran laksamana Cheng Ho di makam tersebut, dan di atas makam tersebut bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim dalam bahasa arab.
Setelah banyak berbincang, kami pun mohon diri, tak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas waktu beliau.
Tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah Monumen Korban 40.000 jiwa sebuah tempat yang merupakan lokasi penguburan korban pembantaian penjajah Belanda yang dipimpin Kapten Raymond Westerling pada tahun 1946-1947.
Begitu masuk, suasana sepi langsung menyeruak. Tak ada pengunjung, kecuali kami yang datang. Memasuki pelataran kami langsung disuguhkan dengan beberapa patung relief raksasa yang terpampang.
Yang paling menonjol adalah patung setinggi empat meter, seseorang dengan kaki-tangan buntung. Di samping patung tersebut terdapat relief dengan ukiran kerbau dan manusia. Di belakang relief dengan ukiran manusia itu terdapat sebuah rumah panggung. Seperti sebuah desa, yang aku lihat tersirat pancaran kemarahan dari ukiran manusia di sana.
Kepalaku lebih ke depan, mendekat. Mencoba menajamkan mata saat menyadari bahwa ada sebuah relief lainnya. Sebuah ukiran kuno bergambar seorang tentara jaman dulu. Tentara itu tampak tengah memeluk tubuh seorang wanita. Dia seperti sedang menangis. Kedua sudut matanya terdapat tetesan air mata. Di sekelilingnya terdapat beberapa ukiran dengan gambar tentara yang tengah memegang sebuah senapan dan senjata di tangan mereka masing-masing.
Tapi ada satu ukiran yang sangat berbeda dari ukiran lainnya. Di samping tentara pria yang tengah memeluk wanita itu ada sebuah ukiran kuno bergambar manusia setengah hewan. Pada bagian kepalanya berbentuk kepala kerbau dan badannya berbentuk seperti tubuh manusia.
Mataku menyipit saat melihat sebuah tulisan aksara lontara yang terletak di tengah ukiran tentara itu. Kucoba lebih dekat lagi, hingga aku bisa melihat dengan jelas tulisan aksara yang tertulis dibalik batu bundar bercat keemasan itu. ᨒᨕᨗᨒᨕ "LAILA."
Semakin sakit saat suara bariton itu masuk ke gendang telingaku dan menggema dalam kepalaku.
"Ra. Araya? Lo, nggak apa-apa?" Aisyah bertanya cemas.
Aku tidak bisa memberi sahutan apa pun. Kepalaku sangat sakit, seperti mau pecah.
"Dia kenapa?"
"Nggak tahu. Tiba-tiba dia menjerit kesakitan."
"Ra? Lo, nggak apa?" Pertanyaan-pertanyaan teman-temanku yang berulang-ulang kali.
"Bawa dia duduk dulu." Sintia dan Aisyah membawa tubuhku secara pelan duduk di pelataran Monumen itu.
Mereka terus menenangkan diriku yang semakin blingsatan karena sakit. Aisyah menyuruhku terus berucap istighfar sembari dirinya menggumamkan ayat-ayat suci di telingaku.
Tak berangsur lama, rasa sakit itu perlahan meredam.
"Ra, minum dulu." Aku langsung meneguk sebotol Aqua yang Farid berikan.
"Gimana udah baikan?" tanya mereka yang melihatku sudah mulai agak tenang.
Aku mengangguk.
"Kenapa?" tanyaku saat melihat mereka yang menatapku aneh.
"Hidung Lo berdarah."
Aku langsung meraba lubang hidungku, dan darah segar seketika menempel di jariku.
"Ini." Aisyah menyodorkan sebuah tisu padaku.
"Terima kasih." Wanita itu mengangguk, tersenyum.
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini." Haris melihat jam pada pergelangan tangannya. "Tiga puluh menit lagi menjelang petang, " sambungnya.
Kakiku yang hendak mengikuti langkah mereka seketika urung tatkala merasakan hembusan angin kencang dari balik punggungku. Kuputar balik arah tubuhku. Tak ada apapun, tapi saat hendak membalikan tubuh kembali, samar-samar mataku menangkap sebuah bayangan hitam.
Aku menunduk melihat bayanganku sendiri yang tengah berdiri di bawah terik matahari bersama dengan bayangan hitam itu.
Rasa takut menggelayuti rongga dadaku. Deru napas semakin membuncah diiringi dengan tetesan keringat dingin yang mengalir.
Tepukan pada pundakku, mengurungkan niatku untuk mendongak melihat siapa pemilik bayangan hitam itu.
"Ngapain, sih? Ayo! Yang lain sudah pada nungguin di luar."
Aisyah menggandeng tanganku keluar dari tempat sejarah itu. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang, walau aku merasakan seseorang tengah mengamatiku.