Love In War

Love In War
ᨉᨘᨊᨗᨕ ᨕᨔᨗᨂᨛ II



Malam semakin larut, tapi mataku sangat sulit tuk kupejamkan. Bunyi ilalang pun terdengar semakin nyaring, tanda angin semakin kuat menyapu malam kelabu.


Angin yang berhembus melalui celah-celah dinding bilik bambu menyapa kalbu yang tengah kalut diliputi rindu. Kuseka air mata yang berjatuhan, kala rindu itu semakin membuncah hati.


Ayah, Ibu. Araya rindu.


Entah jam berapa semalam kupejamkan mata. Hingga tanpa sadar Arunika telah bersinar terang memancarkan cahayanya di atas angkasa, masuk melalui celah-celah dinding yang bolong.


"Astaghfirullahaladzim. Gue belum shalat subuh."


Gegas, kusibakkan sarung yang masih menyelimuti tubuhku seraya melangkah menuju halaman belakang rumah.


Di dapur sudah ada Ibu yang tengah sibuk bergulat dengan tungku api di depannya.


Habis menunaikan kewajiban, kuhampiri beliau. Duduk berjongkok di sampingnya.


"Masak apa, Ma?"


"Mama mau menanak nasi, tapi kayu bakar habis." Beliau bangkit berdiri. Mengambil kain panjang yang ia gantung di belakang pintu.


"Kamu di rumah saja, ya? Beres-beres rumah. Jangan lupa sapu halaman depan rumah. Mama mau ke hutan cari kayu bakar dulu."


"Ma, boleh saya ikut?"


Beliau mengerutkan kening."Tumben."


***


Matahari semakin terik. Membakar setiap inci kulit tubuhku.


Kuseka keringat yang mengucur deras dari sudut pelipis seraya memungut rating-rating kayu untuk kubawa pulang.


Napasku ngos-ngosan menahan penat sekaligus lapar. Seumur-umur baru kali ini aku melewatkan sarapan pagi.


"Ma, kenapa tidak beli kompor, aja? Kan, nggak perlu capek-capek buat nyari kayu bakar kaya gini lagi?"


Senyum Ibu merekah. "Tidak ada yang memakai benda itu di sini. Kompor dipakai hanya untuk mereka kaum berada."


Kuhela napas panjang. Itu artinya setiap kayu bakar habis, Ibu harus ke hutan buat cari persediaan lagi.


"Itu sudah cukup, La. Ayo pulang."


Ku anggukkan kepala. Memungut satu batang ranting lagi seraya mengekori Ibu dari belakang.


"Kamu pulang duluan saja. Mama mau ke warung Pan Nia dulu."


"Iya, Ma."


Tertatih-tatih, aku berjalan di jalan yang penuh bebatuan sambil menggendong ranting pohon, sungguh luar biasa capeknya. Ditambah bunyi gedebuk-gedebuk para cacing perut yang meminta jatah makan mereka.


Membayangkan perjuangan hidup penduduk sini, patut diacungi jempol. Tak ada keluh kesah yang keluar dari bibir mereka, di tengah kehidupan yang serba kekurangan ini.


Berbeda denganku, yang walaupun hidup di tengah modernisasi dan berkecukupan, selalu saja ada rasa kurang bersyukur dan suka mengeluh.


"Roda kehidupan itu terus berputar, La. Jika kita menyerah sekarang, dampaknya juga akan dirasakan pada anak dan cucu cicit kita nanti. Cukuplah, Ayah dan Mamamu saja yang mengalami penderitanya, kamu jangan, " kata Ayah sewaktu malam.


Ia menghela napas berat, tampak di wajahnya yang sudah keriput itu diliputi raut cemas.


"Semoga generasi penerus nantinya bisa hidup dalam kenyamanan. Tanpa perlu takut apa pun."


Aku mengernyitkan kening. Bingung, maksud perkataan beliau.


"Maksud, Ayah?"


"Sudah, nggak usah dibahas. Sudah tengah malam. Sudah waktunya tidur. Masuk ke kamarmu, La, " sela Ibu.


Kuhembuskan napas berat. Ada banyak pertanyaan yang ingin kuutarakan. Tapi bingung harus memulainya dari mana.


"Laila!" Seorang laki-laki memanggil. Ia memelankan laju sepedanya. Aku tak menggurisnya sama sekali meski tahu pria itu


memanggilku. Tetap melanjutkan perjalanan tanpa ada niat untuk berhenti sedikit pun.


Menolehkan kepala saat pria itu memegang lengan kiriku.


Ia menatapku dengan tatapan sendunya. "Bisa kita bicara sebentar?"


Kuangkat kedua alis seraya menepis kasar tangannya.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janjiku padamu."


Apa yang sebenarnya pria ini ingin katakan. Apa dia sedang ngelantur?


"Aku tidak bisa menentang maunya Ambo, saat dia menjodohkan aku dengan Romlah."


"Apa kamu orang yang bernama Zainuddin?"


Kening pria itu mengkerut. Ia menatapku dengan tatapan bingung.


"La, kamu tidak berniat untuk melupakan aku, kan?"


Aku mundur saat pria itu hendak memegang kembali tanganku.


Kuangkat bahu tak acuh." Aku tidak tahu."


"Laila, kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu, kan?"


Idih, emang aku pikirin. Pembual.


"Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu menikah dengan orang lain?"


Ia mengacak rambutnya. Tampak frustasi." Karena aku tidak bisa menentang maunya Ambo, La. Kamu tahu bagaimana kerasnya dia, ' kan?"


"Kalau kamu memang mencintaiku, sepatutnya kamu lebih berusaha lagi, Zainuddin."


"Aku sudah berusaha, Laila. Tapi aku tidak bisa."


"Itu artinya kamu tidak berusaha. Tidak ada usaha yang sia-sia jika kamu tidak menyerah menyakinkan dan mengambil hati orang tuamu."


Oh, maafkan aku Laila. Aku terpaksa menjadi dirimu. Tapi, aku janji aku akan membuat pria ini menyesal karena sudah menghianatimu.


Mataku terbelalak. Tidak percaya saat pria bernama Zainuddin itu berlutut di hadapanku.


Aku merasa seperti tengah berada dalam adegan drama Korea.


"Beri aku satu kesempatan. Aku berjanji akan meluluhkan hati kedua orang tuaku."


"Bagaimana dengan istrimu?"


Pria itu mendongak menatapku. Matanya tampak berkaca-kaca. Sebegitu cinta kah dia dengan wanita bernama Laila ini?


"Aku berjanji akan menceraikannya, begitu kita sudah menikah nanti."


Waw daebak. Senyum sinis tersungging dari bibirku.


"Zainuddin." Pria itu menatapku lekat. "Jika aku menjadi Romlah, dan Romlah menjadi aku, apakah kau juga akan melakukan hal yang sama?"


Belum sempat pria itu menjawab, terdengar suara menggelegar yang diluncurkan dari atas langit.


"Itu suara apa?" tanyaku, mendongak ke angkasa.


"Sebaiknya kamu sembunyi."


"Kenapa?"


"Jangan banyak tanya. Sembunyi saja!" Geramnya. Menyuruhku untuk sembunyi ke dalam hutan. Meski ragu, aku tetap mematuhinya.


Langkahku terhenti. Menoleh. Terlihat dari atas langit asap hitam mengepul.


Ini ada apa sebenarnya? Rasa takut tiba-tiba mendera rongga dadaku.


Aku hendak berlari pulang ke arah rumah, tapi urung saat mendengar suara pekikan seseorang. Perlahan, kudekati pohon besar yang dikelilingi oleh rumput semak belukar.


"Hello, apa ada orang?" Mataku terbelalak, kedua tanganku reflek terangkat saat pria itu menodongkan senjata apinya ke arahku.


Sesaat ia menatapku sebelum kembali meringis kesakitan.


Aku berlari menghampirinya. Pria itu sudah terduduk sambil bersandar pada pohon.


Ku bungkam mulutku dengan telapak tangan, begitu melihat darah yang mengucur pada pergelangan kaki sebelah kirinya.


Sepertinya laki-laki itu sangat kesakitan. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan?


"Wat ben je aan het doen?"


Aku tak menjawab lagian aku juga tidak tahu apa yang pria ini sedang katakan.


"Diamlah! Aku harus menghentikan pendarahan pada kakimu terlebih dahulu," sergahku, menepis tangannya yang mencoba menghentikan gerak tanganku pada kakinya.


"Why do you want to help me?"


Kuangkat wajahku, hingga mata kami saling bersitemu."Emangnya kenapa? Apa aku tidak boleh membantumu?"


Dia terdiam, jakunnya tampak naik turun.


"I'm a rebel. "