
Cahaya bulan purnama bersinar terang menghiasi malam pekat bertabur bintang di angkasa.
Raungan binatang buas dari arah hutan lebat terdengar hingga masuk ke penjuru kampung. Membuat bulu kuduk siapa pun meremang saat mendengar suara-suara tersebut.
Dari arah bawah rumah. Terdengar bunyi kentongan bambu menggema di seluruh penjuru kampung.
"Ada apa, ya?" tanya Faridah. Empat gadis itu pun bergegas keluar rumah.
Kuhentikan mencatat laporan seraya ikut bergabung dengan mereka. Keluar menuju 'lego-lego' melihat beberapa penduduk kampung yang berjalan beriringan sambil memukul-mukul kentongan bambu itu.
"Nek, ada apa?" Ku hampiri Nenek Base yang tengah mendongak, memperhatikan bulan purnama.
"Iyyena wettunna," gumam beliau.
Aku hendak bertanya, tapi urung mendengar titah beliau untuk tetap di rumah dan jangan ke mana-mana.
"Nenek mau ke sana sebentar."
Sebenarnya ini ada apa, sih? Apa ada acara kampung? Apa acara pesta pernikahan tadi belum selesai?
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam memoriku.
Malam semakin larut. Denting jam berbunyi di angka dua belas. Meringis saat rasa sakit mendera perutku. Mulas.
"Syah, bangun!" Wanita itu hanya menggeliat.
"Sintia, Faridah, Inayah. Bangun! Temani aku. Perutku sakit."
Aku mencoba berkali-kali membangunkan mereka, tapi mereka hanya bergumam. Tak ada yang membuka mata.
Dengan terpaksa aku harus pergi sendirian. Nasib tinggal di perkampungan yang tidak menyediakan fasilitas toilet umum. Setiap orang yang hendak membuang air besar harus pergi ke ****** atau menggali lubang sendiri.
Setelah menuntaskan hajat, dan membersihkan diri di sungai aku pun melangkah pergi. Belum ada beberapa meter kakiku berpijak, tiba-tiba terdengar suara dari dalam pohon nipah.
Dengan rasa penasaran yang teramat sangat, kuberanikan diri memasuki pohon nipah yang berada di pinggir sungai itu, menggunakan lampu senter sebagai penerang, menyoroti setiap pohon tersebut, tak ada apa-apa pun.
Namun saat hendak memutar tubuh untuk berbalik, tiba-tiba saja bunyi ranting pohon dari arah belakang masuk ke dalam membran timpani-ku. Menoleh kembali, menyigi pohon tersebut lebih dalam. Gerakan kaki reflek terhenti, dua meter dariku tampak sesosok dengan kepala kerbau tengah menyantap usus hewan seperti anjing itu layaknya memakan mie dengan gigi taringnya.
Aku menahan mulutku saat rasa mual mendera. Perlahan kakiku mundur. Hampir mengumpat saat kaki ini tanpa sengaja menginjak ranting pohon hingga menimbulkan suara.
Begitu mengangkat wajah, makhluk itu sudah berada di depan wajahku. Menelisik tubuhku dengan mata birunya, membuatku semakin dirundung ketakutan. Keringat dingin perlahan membasahi setiap inci tubuhku bahkan kakiku pun sulit untuk kugerakkan. Bibir terasa keluh untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Mataku reflek tertutup bersamaan dengan air bening yang berjatuhan saat makhluk itu mengusap wajahku dengan tangan berbulunya yang dipenuhi oleh darah.
"ARAYA."
Beberapa derap langkah terdengar menggema menuju kemari.
Seperti mendengar bisikan sebelum tubuhku ambruk di atas tanah.
"Astagfirullahaladzim, Ra." Kalimat itulah yang terakhir kudengar sebelum kegelapan menyerangku.
****
"Dimana ini?" Mengernyit saat melihat bahwa kini aku tengah berada di rumah, yang entah aku tidak tahu di mana.
Beberapa wanita tampak tengah sibuk di area perkebunan. Suara erangan pilu membuat langkahku menuju ke sumber suara.
Mataku terbelalak saat melihat seorang wanita mengalami penyiksaan oleh beberapa pria asing.
Tangan wanita itu diikat dan digantung di atas tiang. Baju kebaya yang ia pakai pun terlihat acak-acakan dan sobek di beberapa bagian, bahkan wajahnya terdapat lebam, walau aku tidak bisa melihat jelas wajah asli wanita itu.
Melihat pemandangan itu membuat hatiku menjerit kesakitan. Tapi, anehnya aku tidak bisa membantu bahkan menyentuhnya.
Seorang pria asing berpakaian tentara, menghampiri dan membuka ikatan tali wanita yang tengah sekarat itu menggunakan pisau.
Pria itu mendekap tubuh si wanita." Kita akan pergi dari sini."
"Mereka akan menyakitimu jika mereka tahu."
"Aku tidak peduli."
Tanpa menunggu persetujuan dari sang wanita, pria itu bergegas menggendongnya dan melangkah pergi dari ruangan tersebut.
Wajah pria itu. Aku pernah melihatnya, tapi di mana? Siapa dia?
Hingga suara bom terdengar menggelegar di seluruh penjuru tempat, membuatku tersentak kaget.
Aku segera berlari keluar dari ruangan tersebut, semua orang tampak panik dengan berlarian ke sana kemari. Asap mengepul di udara. Beberapa pria dengan baret hijau terlihat baku tembak dengan beberapa orang yang bersembunyi dari balik pohon.
Ini ada apa sebenarnya? Dan mengapa aku bisa ada di sini? Kemana teman-temanku?
Belum sempat pertanyaan itu terjawab tiba-tiba terdengar suara teriakan dari balik pohon yang mengatakan 'serang'.
Aku yang masih bergeming di tempat segera melangkah menjauh dari sana.
Menutup mulutku dengan kedua tangan, mataku terbelalak, saat menuju halaman belakang, mayat manusia sudah berserakan di mana-mana.
Menoleh saat mendengar sebuah suara masuk ke dalam gendang telingaku.
Pria dengan seragam tentara itu tampak berjalan dengan tergesa-gesa. Aku yang sudah dirundung rasa penasaran pun bergegas mengikuti langkah mereka, hingga tiba di sebuah ruangan bawah tanah.
Seorang pria tua dengan kumis melengkung di atas bibirnya terlihat gelisah sambil mondar-mandir.
Wajahnya merah padam, menatap dua pria di depannya dengan bahasa yang aku sendiri pun tidak mengerti, apa yang sebenarnya sedang mereka katakan.
Pria tua itu mengobrak meja di hadapannya dengan pandangan menghunus ke depan.
Aku mencoba mencerna apa yang sedang mereka perbincangkan, walau aku sendiri tidak tahu mereka dari negara mana dan bahasa apa yang sedang mereka gunakan.
Aku mencoba mengingat-ingat apa aku melewatkan sebuah informasi. Apa ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu?
Jika, iya. Maka…
Apakah ini adalah zaman penjajahan? Tapi aku tidak pernah membaca ada kejadian ini di dalam sejarah.
Sebelum puzzle dalam otakku terpecahkan tiba-tiba suara tembakan itu kembali terdengar.
Aku segera pergi dari ruang bawah tanah itu. Aku harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa aku bisa berada di zaman ini?
Menerobos memasuki hutan belantara, mengingatkanku pada teman-temanku. Mereka di mana dan sedang apa? Apa mereka juga terjebak di zaman ini?
Langkahku terhenti, aku menajamkan mata saat melihat di atas rumput-rumput hijau itu terdapat ceceran darah. Darah siapa?
Aku segera berdiri dan berlari semakin memasuki hutan belantara itu saat mendengar suara.
Seorang pria terlihat tengah berlari dengan kaki terpincang-pincang sambil menggendong seorang wanita di tangannya. Tampaknya pria itu habis ditembak.
Aku mengikutinya sampai pria itu menaiki sebuah perahu nelayan. Ia dibantu oleh seorang Bapak tua, memasukkan wanita tersebut ke dalam perahu.
Tak ingin kehilangan jejak aku pun ikut di belakangnya. Pria itu dengan penuh kasih sayang terus bergumam menguatkan wanita dalam dekapannya.
"Aku mohon bertahanlah." Suaranya bergetar menahan tangis.