Love In War

Love In War
ᨖᨗᨒᨂᨛ



"Faridah, Sintia, Aisyah, Tomi, Rashid, Haris."


Aku memanggil nama teman-temanku satu per satu tapi tak ada sahutan yang terdengar.


Berjalan menyusuri hutan seorang diri dengan debaran hati yang bertalu-talu, takut.


Langkah kakiku terhenti. Dari arah belakang gendang telingaku menangkap derap langkah kaki seseorang.


Kutelan kasar salivaku. Bayangan berita di internet yang pernah aku baca tentang pelaku pembunuhan sadis di kawasan hutan, yang menganiaya dengan menebas kaki korban, juga meracuni korbannya memenuhi memori dalam benakku.


Bagaimana jika yang mengikutiku sekarang adalah kelompok dari mereka? Dari derap langkahnya saja tidak terdengar seperti derap langkah kaki binatang buas, melainkan derap langkah kaki manusia.


Semakin cepat derap langkahku berjalan, semakin cepat juga derap langkah itu mengikuti.


Dengan sisa tenaga yang kumiliki. Aku berlari sekuat tenaga.


Tak memperdulikan rasa lelah dan haus yang sedari tadi menggerogoti, yang ada dalam benakku sekarang, aku harus selamat dan lepas dari orang yang mengejarku serta mendapat pertolongan dari siapa pun itu.


"TOLONG," jeritku. Berharap siapa pun bisa mendengarku. Tapi nihil.


Sosok itu semakin dekat. Mengejarku dari balik rimbunan pepohonan, bahkan raungan binatang buas bersahutan membuat bulu kudukku meremang.


Buliran demi buliran air bening dari sudut pelipis terus bercucuran .


"Awwww." Meringis saat ranting-ranting pohon serta benda tajam lainnya menggores kulitku.


Tubuhku terasa remuk dan sakit akibat tersandung akar pepohonan. Sesekali aku memanggil nama teman-temanku. Teganya mereka meninggalkanku di hutan ini seorang diri.


Aku menjerit kesakitan saat akar pohon itu tiba-tiba melilit kakiku, bunyi sesuatu dari balik semak-semak membuatku tidak bisa menahan tangis. Aku mencoba untuk lepas dari lilitan akar pohon ini, tapi susah.


"AISYAH, FARIDAH, SINTIA…." Aku kembali memanggil nama mereka satu per satu, berharap agar mereka segera datang menolongku. Tapi semua hanya sia-sia.


Tangisku pecah. Aku ketakutan, yang hanya bisa aku lakukan sekarang adalah pasrah. Aku pasrah apa pun yang akan terjadi padaku.


Hendak lari juga, sia-sia. Akar pohon ini terlalu kuat melilit kakiku. Membuatku terkurung tak berdaya di bawah pohon beringin ini.


Ya Allah, suara itu semakin dekat diiringi dengan suara derap langkah kaki seseorang.


Hamba mohon lindungi hamba, bantu hamba, ya Rabb. Hanya pada-Mu hamba berlindung.


Menangis sesegukan, bayangan wajah kedua orang tuaku dan teman-temanku memenuhi benakku.


Derap langkah kaki itu berhenti. Seseorang sekarang sedang berdiri di hadapanku.


Memberanikan diri untuk mendongak. Melihat siapa sosok tersebut. Siapa sosok yang mengejarku.


Mataku terbelalak. Napasku seakan tertahan. Melihat bentuk makhluk yang kini tengah menatapku dengan bola matanya yang tampak berwarna biru. Makhluk berbulu dengan tanduk kerbau di kepala juga gigi runcing nan tajamnya.


Aku langsung memejamkan mata saat makhluk itu lebih mendekat ke arahku.


Tubuhku gemetaran karena takut. Keringat dingin langsung keluar dari pori-pori kulitku.


Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, suaraku seakan tertahan di kerongkongan.


Siapa pun itu, aku mohon tolong aku! Sungguh makhluk ini sangat menyeramkan.


Deru napas makhluk itu menerpa kulit wajahku. Aku merasakan usapan tangan berbulu pada sudut mataku yang berair.


Makhluk itu pun membisikkan dan menempelkan bibirnya pada telingaku sembari tangan berbulunya merayap ke pergelangan kakiku. Membuka lilitan akar pohon tersebut.


Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim"


“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al Baqoroh: 255)


"ARAYA!" Mataku terbelalak, tubuhku reflek bangun dari pembaringan.


Aisyah langsung berhambur memelukku." Syukurlah, kamu sudah sadar."


Aku melepaskan pelukannya. Di sekelilingku terdapat beberapa bapak-bapak yang membentuk lingkaran yang mengelilingiku, di samping kananku seorang bapak yang terlihat tengah melantunkan ayat suci Al-Quran dengan memegang tasbih, di samping kiriku ada Aisyah dan teman-temanku yang melihatku dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Aku mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah aku tadi sendirian di hutan? Bertemu dengan makhluk menyeramkan itu? Mengapa aku bisa berada di sini?


Aku menoleh pada Aisyah. Mempertanyakan apa yang ada dalam pikiranku.


"Apa kamu tidak ingat?"


Aku menggeleng.


Aisyah menghela napas panjang seraya menceritakan kronologinya.


"Sewaktu kita sedang berjalan menelusuri hutan belantara itu. Aku merasa ada yang aneh, seperti ada seseorang yang terus mengikuti kita dari belakang. Rasyid yang juga merasakan hal yang sama pun melanggar peringatan pria yang kita temui waktu itu. Saat ia menoleh ke belakang, kamu sudah tidak ada di sana. " Aku mendengar dengan seksama penjelasan Aisyah.


"Kami tidak tahu berapa lama kami mencarimu, hingga kami berhasil menemukan tubuhmu yang tergeletak di bawah pohon beringin, " sambungnya.


"Awalnya kami pikir kamu pingsan. Kami terus mencoba membangunkanmu, tapi tidak berhasil."


"Akhirnya, Rasyid memberanikan diri untuk mencari pertolongan, berjalan sendirian menyusuri hutan, hingga dia menemukan kampung ini, " sambung wanita itu lagi.


"Tak berselang lama, beberapa warga pun


berdatang memberi bantuan. Membopong tubuhmu yang masih tak sadarkan diri."


"Terus apa yang terjadi?" tanyaku yang tengah diliputi rasa penasaran saat Aisyah menjeda ucapannya.


"Beliau bilang. " Aisyah menunjuk Bapak yang tengah membaca ayat-ayat suci itu dengan dagunya. "Bahwa kamu tidak pingsan. Kamu hanya sedang tertidur."


Aku mengernyitkan kening.


"Tertidur?" tanyaku memastikan.


Aisyah menganggukkan kepalanya.


"Beliau bilang tubuhmu terjebak oleh makhluk yang tak kasat mata, " imbuh Inayah, yang juga berada di sampingku.


"Maksudnya?" tanyaku yang masih belum mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi.


Bapak tersebut menghentikan bacaan Alqurannya.


"Apa sebelumnya kamu pernah melihat atau menemukan benda yang aneh?"


Aku mencoba mengingat-ingat, hingga…


"Ada, Pak, sebuah lukisan bergambar tentara kuno dan manusia setengah hewan dengan aksara lontaranya."


Bapak itu menganggukkan kepalanya." Pantas. Hanya kamu yang bisa melihat lukisan juga tulisan itu."


"Maksud bapak?"


Bapak itu menghela napas panjang." Tulisan kuno yang kamu lihat itu menceritakan kisah di balik lukisan itu."


Ia tampak tengah menerawang jauh dengan pandangan lurus ke depan.


"Belum ada satu pun orang yang pernah melihat lukisan itu."


"Menurut kisah turun-temurun, siapa pun yang bisa melihat lukisan itu, itu artinya dia adalah orang yang makhluk itu tunggu selama ini," imbuhnya.