Love In War

Love In War
ᨉᨙᨔᨄᨑᨀᨂᨛ



Kami pun memberi tahu pria muda tersebut maksud kedatangan kami ke kampung ini adalah dengan tujuan untuk melakukan penelitian dan observasi tempat sebagai bahan skripsi.


Pria itu menganggukkan kepalanya, memberi kami petunjuk agar terus berjalan lurus. "Dan jangan sekali-kali kalian menoleh ke belakang saat kalian nanti sudah melewati dua tembok di sana." Peringatan pria itu seraya melangkah masuk ke hutan arah barat.


Setelah cukup lama kami berjalan, akhirnya, kami menemukan jalan setapak yang becek dan berlumpur. Mungkin, kawasan ini habis diguyur hujan semalaman.


Tercengang. Di ujung jalan sana, ada dua tembok raksasa dengan kepala patung raksasa yang berada di puncaknya masing-masing. Sama seperti relief yang aku lihat di Monumen 40.000 jiwa, kepala raksasa dengan tanduk kerbau dan gigi runcing yang menonjol. Di atas tanduk itu terdapat tembok setengah lingkaran bertuliskan " DESA PARAKANG."


Nama desa yang cukup unik dibumbui seram. Bagaimana tidak? Parakang sendiri, dikenal sebagai makhluk jadi-jadian yang dapat berubah wujud menyerupai seekor binatang.


Konon orang yang menjadi parakang adalah mereka yang belajar ilmu hitam, tapi tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari atau gagal mempelajarinya. Namun wujud mereka dapat terbilang cukup aneh. Hasil jelmaannya berbeda dengan wujud asli yang mereka tiru. Misalnya, jika mereka berubah menjadi kucing, maka wujud mereka tidak mempunyai ekor atau kaki di bagian belakang mereka lebih tinggi.


Aku tersentak kaget saat mendengar sebuah suara aneh dari arah belakang.


"Jangan ada yang berbalik!" ucap Haris. "Kalian masih ingat peringatan pria tadi, ' kan?"


Menganggukkan kepala seraya meneruskan derap langkah tanpa memperdulikan sosok yang sedari tadi seakan tengah mengintai dari balik pepohonan.


Doa, istighfar, dan dzikir tak hentinya terucap. Rasa takut tiba-tiba menggelayuti hatiku saat kaki ini semakin melangkah masuk ke dalam kawasan tersebut. Dingin, mencekam, dan menakutkan itulah yang menggambarkan suasana saat ini.


"Laila." Derap langkahku terhenti. Suara itu seperti angin yang berhembus. Cepat namun jelas.


Hendak berbalik, tapi urung saat sebuah tangan memegang pergelangan tanganku. Menoleh. Mendapati Aisyah yang menggelengkan kepalanya, memberi sebuah peringatan. " Jangan berbalik!"


Malam pun semakin larut, kami menggunakan senter sebagai penerang, menyusuri jalan setapak tak tentu arah.


"Apa ini adalah jalannya?" tanya Sintia


Aisyah menggelengkan kepala." Nggak tahu."


Mataku menyipit saat melihat sebuah obor yang menyala.


"Bukankah itu rumah?" tanyaku menunjuk rumah kayu yang berdiri beberapa meter di depan.


Tak pikir panjang lagi, kami pun lekas berlari menuju rumah itu. Mengetuk pintunya sembari mengucap salam.


Tak berselang lama seorang wanita sepuh membukakan pintu. Menanyakan maksud kedatangan kami.


"Maaf, begini, Bu. Kami tersesat dan sejak tadi kami tidak menemukan rumah, penginapan atau villa di kawasan ini, yang ada hanya hutan belantara, hingga kami melihat rumah ibu. Kami juga tidak tahu sekarang kami sedang berada di daerah mana. Jika ibu izinkan, bisakah malam ini kami menginap di rumah ibu untuk semalam saja?" Pintaku dengan wajah memohon.


Kami benar-benar sudah hilang arah, ponsel mati dan jaringan sama sekali tidak ada di kawasan sini.


Wanita sepuh itu pun tanpa ragu mempersilahkan kami untuk masuk.


Menyuruh kami untuk duduk di kursi rotan yang berada di ruangan tamu berdiameter 2 x 2 meter itu.


"Dari Jakarta, Pak. Kebetulan kami sedang melakukan penelitian di salah satu desa nelayan terpencil di Bulukumba. Tapi di tengah jalan ban bus yang kami tumpangi tiba-tiba bocor, akhirnya kami mengambil jalan pintas, ehhhh, tahu-tahunya malah kesasar."


Aku sedikit nyengir, dan berdoa semoga si bapak mengerti dan paham berbahasa Indonesia.


Si bapak mengangguk, membuatku menghela napas lega.


"Ajanna nulao kodennuissengi degaro tujunna." ( Kalian tidak perlu pergi kalau kalian tidak tahu di mana tempatnya)


Keningku mengkerut, aku hendak bertanya, tapi urung saat ibu tadi keluar membawa nampan berisi cangkir dan cemilan.


"Diminum dulu."


Kami saling melempar pandangan. Rasa teh ini berbeda dengan teh yang biasa aku minum. Rasanya sedikit anyir tetapi berbau seperti bunga mawar. Begitu pun dengan makanan yang suami-istri itu suguhkan rasanya sedikit aneh, seperti rasa tanah tetapi berbau seperti bau pandan.


Setelah makan ibu tersebut membawa kami ke ruangan tengah.


"Kamar kalian di sini." Tunjuknya pada salah satu bilik bambu.


"Dan yang laki-laki akan tidur di kamar sana." Tunjuknya lagi pada bilik bambu yang berjarak satu meter dari bilik sebelumnya.


Kami mengucapkan banyak terima kasih karena sudah diizinkan untuk menginap dan permintaan maaf karena sudah merepotkan beliau.


Di dalam kamar tak ada yang bisa menutup matanya, walau malam, mungkin saja akan berganti dengan fajar shadiq.


"Apa kalian tidak merasa aneh?" tanya Sintia. Ia bangun seraya menyadarkan punggungnya pada dinding bambu.


"Iya, gue juga merasakan hal yang sama." Farida juga ikut bangun. Membetulkan posisi duduknya.


"Kalian sadar nggak, sih. Sejak kita masuk ke daerah ini, ada aja hal-hal aneh yang kita jumpai dan yang paling membuatku bingung adalah nama kampung juga simbol patung itu. Belum lagi hanya satu rumah yang kita temui dari sekian kilometer kita berjalan. Ditambah bunyi-bunyi aneh yang terus kita dengar sepanjang perjalanan."


"Aku pernah baca sebuah artikel yang mengatakan bahwa 'Parakang' adalah makhluk jadi-jadian yang bisa mengubah wujudnya dalam bentuk apa pun. Apa kalian tidak takut, kalau ibu dan bapak…"


"Nggak baik suudzon. Sepatutnya kita bersyukur karena beliau mau berbaik hati menampung kita di rumahnya," potongku. "Bagaimana kalau tidak? Kita mau tidur di mana? Di hutan?"


"Iya, tapi…."


"Tidak ada yang namanya Parakang, Faridah, Sintia. Itu semua hanya mitos. Sejak kecil nama itu sudah sering aku dengar, tapi hingga detik ini, aku sama sekali belum pernah melihat bagaimana wujud makhluk itu. Jangan pernah mempercayai sesuatu yang belum ada bukti konkretnya."


"Bagaimana denganmu, Syah. Kamu, kan orang Sulsel juga?" tanya Faridah yang merasa belum puas.


Aisyah mengedikkan bahunya." Daripada kalian meributkan makhluk tak berwujud itu, lebih baik sekarang kita tidur. Soalnya besok kita butuh banyak tenaga untuk keluar dari sini."


Sama-sama menghela napas panjang, kami pun membaringkan diri. Mengistirahatkan tubuh yang kelelahan. Detik menit terus berputar, berkali-kali kucoba memejamkan mata, tapi sulit. Dari arah luar suara-suara binatang malam terdengar mengalun merdu masuk ke dalam gendang telingaku seketika berubah menjadi suara bising manusia. Mata yang semula terpejam itu kini terbuka lebar, entah mengapa aku tiba-tiba berada di suatu tempat yang sama sekali tidak pernah aku datangi, tapi merasa tidak asing berada di sini.